Studi Kasus Postingan Blogazine yang Membingungkan
Di postingan sebelumnya tentang tantangan dan resiko blogazine, saya sudah sedikit menyinggung masalah kemungkinan pengunjung merasa bingung ketika dihadapkan dengan lay-out yang tidak lazim di ranah web. Khususnya lay-out yang berupa grid atau multi-kolom.
Nah, sehubungan dengan hal itu, baru saja saya kembali memperoleh respon tentang kebingungan tersebut dari salah seorang pengomentar di postingan tentang Seandainya Youtube Ditutup. Sejujurnya saya agak kaget, mengingat saya sendiri cukup yakin kalau desain yang saya sajikan di postingan tersebut bisa diikuti dengan baik alurnya. Saya sudah menyetting warna latar berbeda pada beberapa kolom, dengan harapan agar pembaca tahu alur paragraf atau alur tulisannya.
Selain itu, saya juga mengakalinya dengan pemberian sub judul pada beberapa kolom. Namun saya baru sadar, pembaca kemungkinan berpikir bahwa ketika ada dua kolom berdampingan (satu di kiri dan satu di kanan), maka ia bisa berasumsi bahwa alur tulisan adalah dari atas ke bawah, lalu baru ke kanan.
Kalau masih bingung, berikut ini saya sajikan screenshot desain postingan yang membuat bingung tersebut. Saya mulai dari bagian awal postingan. Di sini, saya yakin alur tulisan masih bisa ditangkap/diikuti dengan baik oleh pembaca (sesuai dengan maksud/harapan saya).

Alurnya masih bisa dicerna dengan baik
Nah, masalah ternyata muncul ketika sampai di bagian pertengahan posting, tepatnya pada bagian seperti tampak pada gambar berikut ini.

?

Pola pertama (asumsi pertama)
atau

Pola kedua (asumsi kedua)
Faktanya, ternyata masih ada pembaca yang merasa alurnya tidak jelas. Bahkan ia kemungkinan akan menggunakan pola pertama untuk melanjutkan bacaan, padahal alur yang sebenarnya adalah menggunakan pola kedua, yaitu dari kiri ke kanan. Bukan dari atas ke bawah, lalu baru ke kanan.
Jadi, pola/alur yang benar yaitu yang seperti tampak pada layar monitor Anda. Saya tidak mungkin memaksakan agar Anda melanjutkan pembacaan ke bagian bawah (pada bagian yang tidak tampak di monitor), lalu memaksa Anda harus menggulung halaman ke atas lagi terlalu jauh untuk melanjutkan alur tulisan ke sisi kanan. Jadi, ikutilah apa yang tersaji pada layar monitor. Jika ada 2 buah kolom yang berdampingan pada monitor Anda, pola/alurnya yaitu dari kiri ke kanan. Tentunya Anda harus menyelesaikan pembacaan paragraf demi paragraf dalam satu kolom, baru pindah ke kolom di sebelah kanannya.
Di luar itu, tentu saja saya sangat menghargai adanya komentar/respon yang menyatakan kebingungan membaca alur tulisan. Ini menandakan bahwa lay-out yang saya sajikan masih menyimpan masalah. Maklum, saya masih terus bereksperimen menuju kesempurnaan (walaupun mungkin sulit mencapai kesempurnaan itu sendiri).
Sebenarnya saya tidak akan menggunakan konsep desain grid atau multi-kolom pada semua halaman kustom. Dalam arti, saya akan tetap menggunakan lay-out satu kolom seperti yang sudah lazim diterima. Konsep grid atau multi-kolom hanya akan saya terapkan pada postingan yang kira-kira agak panjang isinya atau memang perlu disajikan dengan tata letak demikian menurut hemat saya.
Bagi saya sendiri, penggunaan lay-out berupa grid atau multi-kolom sebenarnya bisa menghemat panjang halaman posting. Jadi, pengguna/pengunjung tak perlu menggulung halaman terlalu sering untuk melanjutkan pembacaan konten. Konsep tata letak begini tentunya menjadi solusi yang cukup baik untuk itu, terutama untuk menyajikan posting yang agak panjang. Tentunya perlu diupayakan agar apa yang tersaji di layar monitor tidak tampak terlalu penuh atau sesak. Oleh sebab itu, white-space (ruang kosong) dan juga unsur visual/grafis (seperti gambar) tetap perlu digunakan sebagai penyeimbang.
Itu sudah saya lakukan pada sejumlah posting, misalnya pada posting yang membahas masalah Tren Boyband Girlband di Indonesia. Postingan tersebut tergolong cukup panjang (lebih dari 1000 kata). Namun untuk memberi keseimbangan dan sedikit sentuhan grafis agar mata pengunjung tidak terlalu lelah dengan sajian teks, saya sengaja menyisipkan beberapa buah gambar/foto dan juga mengggunakan latar utama berupa gambar yang relevan dengan topiknya. Selain itu, saya sengaja memberi warna latar berbeda pada beberapa kolom. Selain untuk mempermudah pembacaan alur, juga sekaligus untuk memberi keseimbangan antara teks dan unsur grafis.
Bayangkan jika saya sama sekali tidak menyisipkan gambar, tidak memberi warna latar berbeda pada sejumlah kolom, dan tidak memberi sub judul pada sebagian kolom. Tidakkah postingan tersebut akan menjadi sangat hambar dan membosankan? Belum lagi kemungkinan cepat melelahkan ketika dibaca. Memang benar jika ada sebuah opini yang menyatakan bahwa keberhasilan sebuah desain bukan ditentukan oleh masalah membosankan atau tidak, melainkan oleh kemampuannya dalam menyampaikan pesan
. Namun sebagai desainer, kita juga perlu mengupayakan agar ada keseimbangan antara unsur teks dan grafis. Tak cuma pada halaman web, namun juga pada media cetak (walaupun tidak mesti dalam persentase 50:50).
Kecuali kalau kita benar-benar yakin dengan kualitas maupun kekuatan tulisan kita, sehingga bisa mengikat/menghipnotis pembaca untuk terus melanjutkan bacaan tanpa merasa cepat lelah atau jenuh (seperti halnya kasus desain novel yang membosankan itu, namun tetap saja banyak diminati). Mengapa novel tetap banyak diminati walaupun desain grafis halaman-halamannya cenderung membosankan/hambar? Pertama, itu karena faktor penulisnya yang sudah punya karakter atau popularitas tersendiri. Kedua, itu berkat kekuatan cerita dan rangkaian kalimat-kalimat yang tersaji di dalamnya.
Namun bukan berarti kita harus apatis/cuek dengan teknik penyajian konten website, hanya gara-gara mengacu pada kasus novel tersebut.
Punya pendapat lain? Jangan sungkan beropini.
Tautan Cepat »» Beri Komentar | Baca Ulang Posting
Baca Komentar | Daftar Posting Terbaru
Tambah KafeGue di Facebook
Ikuti KafeGue di Twitter
Menu Lainnya »» Atas » Beranda » Arsip » Profil » Kontak » Bawah
Langganan KafeGue.com melalui Email
Langganan melalui Pembaca RSS



Google Chrome 17.0.963.56 | Windows 7
setiap kali saya membaca artikel dengan konsep blogazine, saya cenderung tidak mengikuti aturan alur pembacaan.. saya biasanya membaca dari atas, lalu ketika dihadapkan dengan kolom yang berbeda, saya selalu melihat paragraf yang berhubungan dengan paragraf sebelumnya, jadi tidak masalah si pembuat artikel mau alur yang seperti apa, saya bisa beradaptasi..
untuk membaca artikel yang panjang, pasti juga lelah dan terasa malas,, saya setuju dengan bung iskandaria, kita tambahkan beberapa gambar dan objek2 pendukung agar tidak terasa hambar..
Google Chrome 17.0.963.56 | GNU/Linux
Dery, syukurlah kalau tidak ada masalah bagi kamu Der.
Firefox 10.0.2 | Windows XP
Kalau Mas Is butuh bantuan untuk membuatkan petanya agar pembaca tidak bingung rute bacanya, sy siap membantu. Sy sarjana di bidang pembuatan peta. :)
Firefox 10.0.2 | Ubuntu
febriosw map, gimana kalau saya minta dibuatkan software GIS aja mas (yang berbasis bahasa pemrograman tertentu)? hehehe. Gak nyambung yach ^^ (tapi kebetulan aja saya pernah belajar mata kuliah GIS dan masih bingung bikin aplikasinya sampai sekarang…hiiiks).
Google Chrome 17.0.963.56 | Windows 7
Ada beberapa hal yang menurut saya perlu dicermati. Salah satunya adalah multi kolom di web tidak bisa disamakan dengan di koran atau buku. Web dan kertas adalah dua media yang berbeda. Di kertas, tidak ada above the fold –kecuali di koran. Kedua, dengan media berbasis kertas ada lebih banyak parameter yang bisa diperhitungkan pembaca. Misalnya, hanya dengan melihat ketebalan buku pembaca sudah bisa menilai kemampuannya dalam membaca buku tersebut.
Saya kita tidak juga pak. Penulis baru yang tidak berkualitas pun menggunakan layout yang sama dengan ukuran yang sama pula. Tapi, yang jelas desain novel sangat berhasil. Seluruh dunia sepertinya telah sepakat untuk menerimanya. Baru-baru ini saya membeli novel dengan ukuran A5. Rasanya aneh karena terasa seperti buku pelajaran. Selain itu ada banyak faktor lain pak. Misalnya margin yang lebar karena pembaca novel biasanya melipat buku dan menyimpan ibu jari di dalam halaman. Ini tidak terasa mengganggu untuk buku lain tapi sangat berpengaruh untuk novel. Desain novel menurut saya adalah salah satu contoh desain yang berhasil dan sudah tidak mungkin –atau sulit sekali– berubah.
Dalam desain web, kita masih sulit melihat padanan desain berhasil semacam ini karena bidang ini relatif masih baru. Tapi, ada beberapa desain yang memang sudah diakui berhasil. Misalnya desain blog yang dua kolom dengan sidebar di kiri. Tentu saja, tidak berarti desain jenis lain tidak dianjurkan tapi desain ini sudah teruji keberhasilannya sehingga akan lebih aman bagi kedua pihak, bagi pengunjung maupun pemilik situs. Jangan dikatakan buruk atau membosankan karena faktanya desain itu berhasil.
Sama halnya dengan novel. Misalnya, silakan saja jika ingin membuat desain novel berukuran A4 atau dengan tampilan seperti majalah. Tapi ingat bahwa resikonya akan lebih besar. Pembaca belum tentu terbiasa dengan itu. Ongkos bisa jadi lebih mahal karena perlu mencetak gambar yang penuh warna. Biaya desainnya bisa jadi lebih rumit karena tidak biasa.
Sama juga ingin menambahkan pada desainer-desainer yang terlalu menitikberatkan sisi desain saja. Sering kali desain tidak penting. Sering kali desain standar saja sudah cukup. Sering kali desain blog biasa dua kolom sudah cukup. Tidak perlu sewot ketika ada situs yang desainnya biasa-biasa saja. Ini bukan masalah hidup mati. :)
Mudah-mudahan saya punya waktu untuk nulis artikel tentang ini pak. :)
Google Chrome 17.0.963.56 | GNU/Linux
Jeprie, pada dasarnya saya setuju dengan pendapat Mas Jeprie di atas. Namun khusus untuk jenis buku cetak selain novel, saya lihat rata-rata sudah dikemas dengan tampilan grafis yang lebih menarik dan tidak kaku lagi. Misalnya dengan menambahkan banyak ilutrasi, foto, kartun, variasi jenis/ukuran font, kutipan, dan beberapa tambahan lagi. Buku cetak tak lagi monoton atau kaku seperti dulu. Saya kira tujuannya ialah agar mereka yang kurang suka membaca atau kurang betah membaca dalam waktu lama bisa lebih tertarik membaca atau setidaknya lebih betah dan mudah menyerap apa yang tersaji di buku bacaan/cetak tersebut.
Namun untuk kasus novel, mungkin memang sudah dianggap pakem yang berhasil dan tidak bermasalah bagi mayoritas target pembaca/penikmatnya. Ya, tidak apa-apa kalau tetap dibiarkan begitu desainnya. Masalah perbedaan media cetak dan halaman web, sudah sedikit saya singgung di tulisan sebelumnya. Intinya memang berbeda dan penanganannya pun sedikit berbeda.
Masalah desain situs yang “biasa-biasa” saja, bagi saya yang penting ada ‘whitespace’ yang cukup dan kontennya mudah terbaca saja sudah cukup baik. Tapi kalau kita punya kemampuan lebih dari yang lain, saya rasa malah bagus jika dikembangkan, misalnya dengan fokus menyajikan konsep kustom post. Tentunya prinsip dasar desain yang baik tidak boleh dilupakan begitu saja. Jadi tetap berjalan beriringan.
Firefox 10.0.2 | Windows 7
Xixix.. jadi pingin pindah ke blogazine :D sepertinya menyenangkan.. tapi ilmunya ga kesampean :(
Opera 11.61 | GNU/Linux
Mas Is,
Saya suka baca komik, kalau pengarangnya pintar, grid-nya akan jelas, baik manhwa ataupun manga, tapi kalau gagal ya sudah pasti bingung membacanya.
Jadi, ya, sebenarnya kembali pada penyajian itu sendiri sih, bahkan yang blog biasa saja masih banyak yang bingung :D.
Google Chrome 17.0.963.56 | GNU/Linux
Cahya, oh, ternyata desain alur komik pun bisa membingungkan juga ya :)
Google Chrome 17.0.963.56 | Windows XP
Yups.. seperti Ayas dulu yang pertama kali liat postingan Grid Multi kolom ginian. Mesti pola bacanya dari kiri atas sampai kiri bawah.. baru lanjut ke kanan gitu deh Bang!!
Jiaah.. maalah bikin bingung plus gak nyambung banget sama maksud artikelnya, pantes aja kan Ayas pola bacanya Keliru gitu…
Yach maklumlah.. masih Awam dulu tuh!!
Hwehehee…
Itulah masalah yg kerap terjadi pada jenis artikel panjang jika dibuat konsep multi kolom gitu Bang!
Mesti pake bekgron yg jelas dan jarak yg pas tuh Bang.. bila perlu dikasi tanda arah panah gitu deh Bang… ^_^
Tapi kalo gini Ayas yg blum bisa Bang Is!!
Wkwkwkwk…
Google Chrome 17.0.963.56 | GNU/Linux
BagiBagiBlog, nah, Ayas sebenernya juga pengen ngasih tanda panah, tapi belon tau gimana bikinnya pakai cSS…wkwkwkw
Firefox 10.0.1 | Windows XP
Wah, menarik nih..emang bener sih, sebaiknya klo mau nerapin grid dibagi dengan row mentahan dan warna background seperti list.
Misal dulu ane bikin the art HTML5 canvas, nah itu kita bagi dengan background. Kalo masalah white space banyak yang ga paham pembagian teori grid presentase dalam wadah.
Sebenarnya ane dah ngasih titik balik di artikel dari kiri ke kanan.
Uang penying kita tau ukuran deskyop tingginya itu paling 700px ke atas. Nah klo ane kan punya tablet nih jadi biasanya tablet 600px ke atas.
Jadi masing2 grid klo tinggi sudah 900px ke atas ini jadi malapetaka bagi keterbacaan. Klo masih di bawah itu masih wajar.
Google Chrome 17.0.963.56 | GNU/Linux
amdhas, yups. Patokannya sudah jelas kalau begitu bang, yaitu tinggi maksimal layar monitor yang ada saat ini. Tapi pada post tertentu, grid yang saya buat malah melebihi itu…hehehe. Tapi nggak lebih-lebih amat sih. Dikit aja. Jadi pembaca nggak perlu terlalu jauh menggulung kalaupun lebih dikit dari tinggi maksimal layar monitor.
Firefox 8.0 | Windows 7
iya.. kadang bingung juga . tapi sip banget tampilan
Firefox 10.0.2 | Ubuntu
dulu pun saya bingung membaca post di blogzine, tapi setelah tahu triknya ternyata blogzine sedikit membantu pergantian suasana. Apalagi setelah BW sana sini yang isi post-nya monoton terus :D
Google Chrome 17.0.963.56 | GNU/Linux
Kaget, syukurlah kalau dirasa demikian mas. Saya senang mendengarnya ^^
Firefox 10.0.2 | Windows 7
Iya, membingungkan banget pastinya…
Saya juga sering menemukan blog yang seperti itu, terutama yang memakai kolom dan grid seperti itu….
:D
Google Chrome 17.0.963.56 | GNU/Linux
masyhury, apa kabar blogazine di masyhury.web.id? hehehe. Lagi sibuk berat ya kayaknya mas. Mudah-mudahan bisa posting pakai konsep custom-post lagi suatu saat nanti.
Chromium 18.0.997.0 | Ubuntu 11.10
Hemmm, nampaknya konsep multi kolom pada blogazine banyak yg membuat bingung pembaca juga ya? hehehe… mungkin karena belum tebiasa saja, itu menuru saya sih, tapi kalau yg sudah terbiasa pasti paham akan alur bacaanya, sama dengan membaca koran atau sebuah majalah, pasati alurnya akan sama,
Opera 11.61 | Linux Mint
dhenycahyoe, begitulah mas. Tugas kitalah membuatnya jadi hal yang biasa. Pokoknya jangan takut aja mencoba bereksperimen dengan berbagai lay-out grid atau multi-kolom. Nanti lama-lama juga bakalan ketemu alur yang kira-kira nggak membingungkan.
Opera 11.61 | GNU/Linux
iskandaria, hehe… iya mas is, saya juga bereksperimen terus menggunakan gird atau multi kolom, semoga saja pembaca gak kebingungan saat membaca tulisan-nya.
Mobile Safari 4.0 | Android
Jika menggunakan layar kecil masih geser kiri kanan mas Is :-).
Google Chrome 17.0.963.56 | GNU/Linux
agung, di hape saya juga masih timbul scroll di bawah, padahal sudah saya setting agar bisa responsive Mas. Kalau dites menggunakan peramban di PC atau laptop, lebar peramban sesempit apa pun nggak akan timbul scroll di bawah. Nah, yang saya belum tahu solusinya yaitu di perangkat mobile.
Google Chrome 17.0.963.56 | Windows 7
Saya sewaktu baca artikel itu pakai asumsi Mas Is yang pertama. Lari ke bawah kemudian ke kanan atas. Bukan apa-apa, karena jarak pandangnya lebih dekat ke bawah, jadi otomatis saya melihat ke bawah lebih cepat ketimbang harus lari ke kanan atas.
Saran saya sih, beri marka (tanda) tambahan yang ‘blended’ (menyatu) dgn desainnya. Jadi pembaca yang bener2 awam dgn konsep blogazine seperti saya ngga bingung lagi :)
Karena jujur aja, sampe sekarang saya masih belum adaptif tuk membaca posting model blogazine hehe :D
Opera 11.61 | Linux Mint
Darin, yups. Mas Darin benar sekali. Saya baru menyadari hal itu. Harusnya saya juga memberi margin yang cukup jauh antara akhir kolom di atasnya dan di bawahnya. Yang ada malah cukup mepet ya mas, sehingga pembaca mengira kolom di bawahnya adalah sambungannya. Trims buat masukannya Mas. Saya tampung.
Firefox 4.0 | Windows XP
jujur saya juga bingung dengan posting youtube kemarin itu … :D .. posting tersebut mengharuskan saya membaca duakali agar saya tidak salah baca :D …
Opera 11.61 | Linux Mint
gadgetboi, wah, kok nggak ngomong kemaren mas? :) Kalau postingan ini tentunya nggak bikin bingung dong?
Firefox 10.0.2 | Windows 7
Pengen bgt bisa buat sebuah Blogazine, tp sejujurnya saya sangat gk berbakat suka mentok dikode-kodeannya, Masih sebatas penikmat keindahan Blogazine yang penuh kejutan dari pembuatnya.
Opera 11.61 | Linux Mint
Dadang Herdiana, kalau begitu memang cukup jadi penikmat dulu mas. Tapi nanti siapa tahu bisa jadi pelakunya. Saya sendiri sebenarnya sekalian untuk belajar HTML + CSS lebih dalam saja. Dengan mempraktekkan blogazine, saya jadi lebih sering terlibat dengan berbagai selector CSS dan berbagai property + valuenya.