Saya Kesetanan Berkomentar di Blog Setan bin Sesat Itu
Kesetanan berkomentar seperti apa maksudnya? Pada dasarnya saya suka menulis. Kalau tidak di blog sendiri, ya di blog orang. Nah, ketika ide menulis di blog sendiri lagi buntu, saya masih punya saluran untuk menyalurkan hobi menulis saya. Tak lain tak bukan dengan cara mengomentari posting-posting blog lain.
Terima kasih untuk rekan-rekan sesama narablog yang telah memberikan ruang bagi saya untuk menulis, walau itu cuma berupa komentar. Komentar pun tetap merupakan sebuah tulisan (kumpulan kata tertulis yang dibungkus menjadi ide atau gagasan).
Mungkin bakat saya memang cukup baik sebagai pengomentar atau komentator blog. Tanpa bermaksud membanggakan diri, beberapa kali saya pernah diberikan predikat sebagai komentator terbaik (pada beberapa blog). Beberapa kali pula ada yang menyanjung saya sebagai pemberi komentar yang berbobot. Boleh-lah saya sedikit berbangga. Toh, rasa bangga itu sangat manusiawi. Bangga pun belum tentu identik dengan sombong, bukan?
Saya tetap berpikir, bahwa sebagian dari komentar yang pernah saya berikan terkesan sok tahu. Masih ‘cetek’ atau kurang objektif gitu deh.
Komentar melulu, blog sendiri jadi terlupakan dong?
Sebenarnya bukan karena keasyikan berkomentar sih. Seringnya memang karena saya lagi mengalami kebuntuan ide menulis saja. Jadi sebagai pelarian hasrat menulis, saya butuh pancingan atau pembangkit gairah. Salah satunya berupa posting-posting blog lain. Daripada saya ‘manyun’ memandangi blog sendiri yang kosong-melompong dengan postingan baru, lebih baik saya ngacir ke blog lain.
Apa tipe posting yang saya sukai untuk dikomentari?
Umumnya berupa tulisan opini. Ya, opini! Tulisan jenis begitu lebih menggairahkan bagi saya (untuk dikomentari). Lebih merangsang otak untuk berpikir secara kritis. Klop deh kalau begitu. Apalagi jika disajikan dengan penalaran yang kuat atau mendalam.
Bukan berarti tipe jenis tulisan lainnnya kurang menarik bagi saya lho. Saya tidak pernah mengatakan begitu. Tulisan ringan siap santap bagi saya tetap bagus untuk dibaca secara cepat dan dikomentari secara ringan.
Blog mana saja yang biasa saya komentari secara kesetanan?
Salah satunya blogernas (blog orang ‘sesat’, ‘sinting’ bin ‘gendeng’). Jangan salah, saya tidak bermaksud menyuruh Anda ke sana. Apalagi jika tidak siap mental dengan judul-judul posting yang ditulis dan cara penyajiannya yang tajam menghujam.

Jangan paksakan pula diri Anda untuk mengomentari posting-posting di blog tersebut jika hati dan otak Anda sedang ‘meleleh’ oleh api amarah. Apalagi jika Anda hanya membaca judul, tapi sudah berani mengambil kesimpulan umum (tanpa menyimak isinya secara seksama atau mendalam).
Slogan jangan cuma menilai sebuah buku dari sampulnya
masih relevan untuk kita pegang.
Ups, jangan memaknai secara negatif dulu sebutan sesat, sinting atau gendeng yang saya sematkan pada pemilik blog tersebut. Yang pasti, saya kagum dengan kecepatan menulis sang pemilik blog. Menulis kesetanan. Itulah resep ampuhnya yang bisa kita tiru jika ingin blog kita ramai pengunjung dan semakin matang dalam menulis.
Di blogernas-lah saya biasa mengasah nalar dan berbagi pemahaman/pendapat mengenai topik-topik kontroversial (terutama masalah pemahaman agama, ajarannya, serta Tuhan). Akhirnya, seringkali saya jadi malu sendiri. Sering berkomentar di blog tersebut, tapi blog sendiri seperti tak terurus. Frekuensi update blog sendiri seperti merangkak :P
Ah, yang penting saya masih bisa tetap menulis, walau di blog orang.
Tapi jangan salah pula. Di blogernas saya juga terbiasa ngakak saat membaca tulisan-tulisannya dan memberikan komentar. Kenapa bisa begitu? Anda pasti sudah tahu jawabannya.
Blog lain ada nggak yang biasa saya jadikan ajang berkomentar secara kesetanan?

Sejauh ini, cuma di blogernas saya terlihat ‘kesurupan berkomentar’. Maklum, jarang sekali saya menemukan blog dengan frekuensi update yang begitu cepat selain blogernas. Namun jika ada posting yang menarik untuk saya komentari pada blog lain, saya pasti akan berkomentar.
Saya akan berkomentar pada topik atau materi yang sekiranya menjadi ‘passion’ (minat) dan juga penguasaan saya. Di luar itu, kemungkinan cuma akan saya komentari secara ringan atau bahkan berbasa-basi. Ya, tidak ada yang salah dari basa-basi.
Yang jelas, saya akan memberikan komentar terbaik jika penyajiannya merangsang pikiran atau nalar saya. Hitung-hitung, saya tetap bisa menajamkan insting menulis dari diri saya.
Nah, bagaimana dengan Anda? Sudahkah menjadikan kolom komentar blog sebagai lahan berlatih menulis?
Tautan Cepat »» Beri Komentar | Baca Ulang Posting
Baca Komentar | Daftar Posting Terbaru
Tambah KafeGue di Facebook
Ikuti KafeGue di Twitter
Menu Lainnya »» Atas » Beranda » Arsip » Profil » Kontak » Bawah
Langganan KafeGue.com melalui Email
Langganan melalui Pembaca RSS



WordPress 3.0.4
[...] Saya Kesetanan Berkomentar di Blog Setan bin Sesat Itu [...]
Firefox 3.6.12 | Windows XP
saya juga pernah mengikuti blog dengan topik “pedas” seperti ini, memang mengasikkan dan bisa membuka pikiran kita.
Firefox 3.6.12 | Ubuntu 10.10
erianto anas ini blogger yg membuat saya resah karena menjual islam dgn cara yg salah, saya sebagai muslim merasa dipermainkan, demi trafik menjual kata2 provokatif guna memancing trafik umat beragama…… benar2 keterlaluan
saya benar2 trauma dgn diskusi dgn atheis dan pembenci islam, mengingatkan saya pada board ISAGALA di myquran.org yang mana orang2 pembenci Islam menyerang islam di kandangnya sendiri akibatnya myquran.org dihujat sama kaum muslimin, kenapa di kandang Islam sendiri Islam bebas dihujat?
Inilah salah satu alasan mengapa Myquran.org sekarang menjadi myquran.com, board ISAGALA diganti dgn ILKA yg hanya menerima diskusi umat non muslim secara lebih islami
Dan dari sinilah saya trauma dgn Erianto Anas yang “menjual Islam” dgn “mengaku-ngaku atheis” entah atheis beneran atau tidak
Google Chrome 8.0.552.210 | Windows XP
@Myq, saya berharap Anda tidak terlalu mudah menggeneralisir atau mengambil kesimpulan bahwa semua itu cuma demi trafik. Kita tidak bisa begitu saja menduga-duga hanya karena ia sering menulis tentang trafik atau jumlah pengunjung. Bagi saya, tulisan-tulisannya didasari oleh niat yang baik untuk memberi pemahaman baru dalam ajaran Islam.
Saya justru menilai tulisan-tulisannya sangat mencerahkan dan membangun. Kita harus menilai esensinya ketimbang cara penyampaian atau semata dugaan demi trafik.
Google Chrome 7.0.517.44 | Windows XP
geleng geleng ajalah (bahasa Medan)
ngangguk2 waelah…
hehehe
salam hangat dari blogger Medan mas
Firefox 3.6.12 | Windows XP
dari tadi siang setelah baca postingan ini saya langsung tertarik main ke blogernas dan apa yang terjadi? sungguh benar-benar ekstrim dan sangat membutuhkan pemahaman di setiap membaca postingannya.. hehe.. bolak-balik saya..
Google Chrome 8.0.552.210 | Windows XP
@blogoholic.web.id, saya kadang juga agak mengernyitkan dahi pas baca-baca tulisan di sana. Tapi kalo saya nggak ngerti tulisannya, saya nggak ngasih komentar. Cuma baca udah cukup.
Firefox 3.6.12 | Windows XP
Hehe, saya juga sering main ke sana Mas, tapi langsung pusing baca-baca artikelnya dan saya langsung mundur ketimbang fikiran saya ditambahi hal2 yg ngga jelas.
Tapi seperti yang Mas Is tulis, berkomentar juga bagus tuk mengasah nalar dan tentunya artikel ber-genre opini lah yg sering jadi bahan latihan yg ajib, dan tak jarang dari situ bisa muncul diskusi2 yg menarik.
Akhirnya ya kembali pada selera blogger masing2. Take it, or leave it.. easy :)
Chromium 7.0.517.44 | Ubuntu 10.10
@Darin, hehehe. Kadang saya juga pusing sih. Tapi saya berusaha memahami apa yang tersirat. Sebagian tulisan di situ memang cenderung rada filosofis atau melompat-lompat. Pokoknya tidak umum lah.
Tapi berhubung saya punya sedikit pengetahuan di bidang yang sering dijadikan topik, jadi saya bisa sedikit memahami gaya dan makna tulisannya.
Firefox 3.6.12 | Windows 7
Cuma bisa geleng2 kepala…. ck.ck.ck..
Google Chrome 8.0.552.18 | Windows XP
@OrangBiasa, mau ikutan jadi sesat nggak kayak saya mas? hihihi.
Firefox 3.6.12 | Windows Vista
Sempat kaget juga pas membaca artikel blogernas. Tapi menurut saya isi tetap masuk akal koq.
Membuat saya terus membaca tapi tidak berkomentar, soalnya belum nyampe pemahaman mengenai agama secara mendalam. Hehe
Tapi dengan adanya blogernas, kita jadi ingat slogan yang diatas.
“jangan lihat buku dari sampulnya”.
Chromium 7.0.517.44 | Ubuntu 10.10
@Agung Prasetyo, sejauh yang pernah saya baca sih, tulisan-tulisan di blogernas memang dibangun/didasari oleh penalaran yang baik dan kuat. Jadi tidak asal tulis atau asal nyerocos dalam mengemukakan argumentasi.
Syukurlah jika mas Agung bisa menilai secara lebih objektif. Itu membutuhkan keterbukaan hati dan pikiran. Tidak semua orang bisa seperti itu.
Firefox 3.5.15 | Windows XP
wah seru juga euy.. mudah2an ga da hantunya.. hehe
Google Chrome 7.0.517.44 | Windows 7
jadi penasaran dengan blogernas….. Cek TKP dulu
Firefox 3.5.15 | Windows XP
Jadi penasaran neh :lol:
Google Chrome 8.0.552.18 | Windows XP
@Erdien, hati-hati Pak. Ntar jadi ikutan sesat kayak saya…hahahaaaaa
Firefox 3.6.10 | Windows XP
saya mau cek ke blognya dulu deh baru komentar
Firefox 3.6.10 | Windows XP
@Abdul Hakim, lumayan kritis juga, bagus untuk menjadi bahan bacaan bukan bahan anutan bagi anda yang beragama Islam, lakum dinukum waliyadiin
Chromium 7.0.517.44 | Ubuntu 10.10
@Abdul Hakim, saya bukan menjadikannya bahan anutan sih mas. Tapi lebih kepada bahan pembelajaran. Banyak tulisannya yang mencerahkan kok (walaupun secara harfiah mungkin terlalu tajam atau menyayat).
Balik lagi pada semangat untuk tidak hanya menilai sesuatu dari luarnya saja.
Firefox 3.6.10 | Windows XP
Menurutku, blog gendheng binti uedan nggak waras pemiliknya itu jangan dikasih linkback mas,diemin ajah. Saya juga pernah kok waktu masuk ke yang wordpressnya.
Jadi usulku, link back di postingan ini mendingan di hapus deh, jangan dikasih link mas, keenaken, karena itu hanya sebuah triks ngeblog.
Semakin banyak yang menghujat, semakin banyak yang menulis, akhirnya nggak sadar dia menaruh link ke blog itu, betul nggak? :roll: :lol:
Google Chrome 8.0.552.18 | Windows XP
@BuABe, nggak saya kasih link pun blognya tetep rame kok Bu. Saya ikhlas aja kalo mau ngasih link. Yang penting bagi saya, pembaca blog ini punya referensi blog yang saya anggap positif tulisan-tulisannya.
TRik ngeblog itu sah-sah saja. Saya malah salut. Saya kira niat utamanya bukan buat nyari trafik, walaupun kita nggak perlu munafik juga butuh trafik/pengunjung.
Kenapa tidak kita jadikan inspirasi saja Bu. Sebaiknya kita juga nggak terlalu mudah menilai atau mengambil kesimpulan bahwa si A cuma mau cari sensasi atau cari popularitas dengan gaya menulisnya yang ‘kesetanan’.
Kita nggak tahu niat dan hati orang yang sebenarnya. Salah menduga kan termasuk prasangka buruk yang dilarang oleh agama. Malah berdosa nantinya kalo dugaan kita ternyata keliru.
Opera 10.62 | Windows XP
Menulis memang sebuah bakat yang akan terus berkembang jika diasah dan dilatih terus. Dengan adanya komentar dari sesama narablog baik yang ringan maupun yang berbobot tentunya akan sangat memacu untuk menulis lagi dengan tulisan yang lebih baik pula. Saat ini saya juga masih sedang belajar gimana sih cara menulis yang baik.
Mas Agus Siswoyo kayaknya juga suka banget tuh makanan kayak gini.
Terima kasih mas Is untuk infonya saya malah belum pernah maen ke blogernas. Langsung TKP dah…
Firefox 3.6.12 | Windows 7
Wah blognya aneh mas dan punya karakter, saya barusan lihat. tajam dan nyentil sana sini
Firefox 3.6.12 | Ubuntu 10.10
Ah ya saya baru ingat, Blogernas menggunakan teknik flaming, memprovokasi pengunjung dengan judul yang berani. Dan sepertinya cara ini cukup berhasil memancing pengunjung, termasuk saya :)
Firefox 3.6.12 | Windows XP
Prof.Dr.Erianto Anas. Rektor Universitas Blogernas itu Dajjal di internet hehehe, saya bilang begitu bukan karena judul postnya yang sesat’, ‘sinting’ bin ‘gendeng’ tapi karena dianya sendiri yang ngaku sebagai dajjal. :D
Walaupun begitu saya salut dengannya karena kecepatan menulisnya seolah-olah idenya gak abis2 buat bikin orang geram dengan postingannya. wkwkwk
Google Chrome 8.0.552.18 | Windows XP
@Menjadi Blogger Yang Bahagia, dajjal internet? hahahaaa..
Soal kecepatan menulisnya, saya sempat berpikir, ni orang apa kerjaannya cuma nulis ya sehari-harinya. Tapi kita berprasangka positif saja. Mungkin Profesor Anas memaksimalkan waktu luangnya secara optimal untuk menulis. Nah, kalo kita? Mungkin masih suka melakukan hal-hal yang kurang produktif di waktu luang.
Firefox 3.6.12 | Windows XP
menulis di kolom koemnra juga salah satu hobby saya mas is, selain menulis postingan, karena buat saya dengan menulis komentar mengasah kemampuan berfikir saya dalam menanggapi sesuatu, apalagi kalau topiknya cocok dengan pemikiran saya, pasti panjang lebar komentar saya, serasa nulis postingan “Komentar Rasa Postingan” gt, kadang komentar juga saya jadikan ajang buat curhat.
>> Bloggernas >>
Butih kemampuan tingkat tinggi u/ memahami pestingan beliau, g bisa asal baca judul lalu ambil kesimpulan, saya juga salah satu pengunjungnya meski g pernah komentar, takut salah memahami gt, tapi buat saya mas anas termasuk blogger yang sangat luar biasa hebat, salut sama beliau
Chromium 7.0.517.44 | Ubuntu 10.10
@Rizky2009, kita sama deh kalo gitu. Saya juga terbiasa berkomentar panjang lebar jika topik atau materi postingnya menarik bagi saya.
Soal tulisan-tulisan blogernas, memang saya akui begitu. Sepintas, mungkin tulisan-tulisannya asal nyeplos aja atau banyak yang terkesan marah-marah. Tapi di balik itu, sebenarnya ada kecerdasan yang luar biasa dalam menyampaikan gagasan/ide.
Saya belum pernah menemukan kreativitas dan gaya menulis yang mengagumkan seperti di blogernas. Pesan serius sekalipun mampu dikemas dalam balutan humor. Anehnya, masih ada yang menilai sang penulis cuma bisa menyindir atau mengolok-olok.
Bagi saya, itu sebuah seni menulis. Yang penting esensinya positif dan mencerahkan. Yang penting itu semua didasari oleh penalaran yang kuat serta mendalam. Jadi tidak asal kritis tapi ngawur.
Firefox 3.6.12 | Windows XP
Penulisnya pake jampi-jampi :lol: BTW enak juga tu, mukin ada tutorial nulis sambil kesetanan :P
Google Chrome 8.0.552.18 | Windows XP
@Fadel, hahahaaa…
Firefox 3.6.12 | Ubuntu 10.10
Tulisan-tulisan di Blogernas memang gendheng, tapi asyik kok dibaca. Jujur saja saya baru tahu dari tulisan ini :). Blogernas mengingatkan saya pada blog lawas milik Mas Danalingga yang sayang sekali sekarang sudah tidak pernah di-update.
Google Chrome 8.0.552.18 | Windows XP
@Aris FM, wah. Soal Mas Danalingga itu saya baru tau juga. Mungkin pemilik blog tersebut sudah jenuh atau punya kesibukan offline yang tidak bisa diabaikan. Yups, blogernas memang gila. Judul-judul postingnya nggak nahan untuk nggak kita klik :lol:
Firefox 3.6.12 | Ubuntu 10.10
@iskandaria, Mas Danalingga sekarang lebih memilih untuk fokus mencari uang di internet di blognya yang baru http://letupdate.com/. Sayang sekali sih blog sebagus itu tidak diteruskan lagi.
Google Chrome 8.0.552.18 | Windows XP
@Aris FM, berubah haluan dong kalo gitu ya.
Firefox 3.6.12 | Ubuntu 10.10
@iskandaria, ups komentar saya dimoderasi, sepertinya link reply-nya juga dihitung oleh WordPress :D
Firefox 3.6.12 | Windows XP
#untuk poin pertama tentang buntu ide,saya setuju dan pernah mengalami,bahkan keseringan buntu ide..ha..ha..maklum basic saya bukan seorang writer,berangkat dari operator lapangan yang banyak menemukan ide di jalan tapi sulit untuk menjabarkan menjadi sebuah tulisan…
akhirnya yang terjadi ya sama seprti yang Mas Is alami,bw sambil ninggalin jejak di beberapa blog sekalian mencuri ide…
#untuk point kedua tentang opini sepertinya masih asyik untuk di jadikan bahan olahan otak,saya juga lebih senang membaca artikel yang berangkat dari opini sang author…
jika artikelnya sama seperti yang ada di portal berita,seperti kata sobat TriZ,mending lihat TV,nggak usah capek2 membaca…
seperti menemukan keasyikan tersendiri jika membaca artikel yang berangkat dari opini sang author,dan lebih nikmat lagi jika berkempatan bertengkar dengan sang author untuk memberikan sanggahan atas opini author….
#untuk point yang ketiga,lagi-lagi saya harus setuju dengan mas Is,saya juga hanya akan berkomentar ketika “passion” dan libido menulis sedang on fire,tidak perlu semua artikel harus saya komentari walaupun setiap hari berkunjung ke blog teman-teman…
jika memang artikel sudah di luar pemahaman saya tidak perlu saya meninggalkan komentar,daripada saya meninggalkan komentar pada artikel yg tidak saya pahami kemudian saya tampak bodoh,mending saya diam hanya mengamati..saya sudah cukup bodoh dan tidak perlu membodohi diri saya lagi dengan meninggalkan komentar pada artikel yg tidak saya kuasai..
#wahhh..baru kali ini setelah sekian lama mengunjungi dan kasih jejak di sini saya harus setuju dengan Mas Is dan dengan terpaksa pula saya harus setuju dengan ide anda mas..ha..ha..ha….”Kesetanan Berkomentar di Blog Setan”
Chromium 7.0.517.44 | Ubuntu 10.10
@agoest, hahaha. Kalimat terakhir mas agoest kayaknya bagus juga untuk dijadikan judul pengganti untuk postingan ini. Blogernas memang blog setan. Dalam arti, blog yang punya gaya menulis seperti setan dan berani mendobrak pakem/kebiasaan umum menulis selama ini.
Oya, berarti sebelumnya mas Agoest tidak begitu setuju ya dengan tulisan-tulisan saya di blog ini? :)
No problem deh. Asyik-asyik aja. Toh saya pun tidak mungkin akan memaksakan pendapat saya pada pembaca. Yang penting saya sudah berusaha membangun argumen dengan baik, walau masih sering gagal.
Soal berkomentar, yach, saya juga nggak akan ninggalin komentar pada semua posting yang saya buka/baca. Sudah pernah saya tulisan soal itu (dalam posting berjudul Alasan Saya Tidak Berkomentar pada Posting Blog.
Saya juga cenderung lebih suka membaca opini dari sang pemilik blog ketimbang yang cuma ngopas dari portal berita. Lebih asyik aja rasanya memahami dan menyimak opini pribadi sang penulis.
Tapi kalo bertengkar, kadang asyik juga sih. Bertengkar di situ maksudnya adu argumen atau adu pendapat. Jadi bukan debat ngawur yang melenceng dari konteks..hehehe
Google Chrome 8.0.552.200 | Windows XP
Ciri khas orang-orang Liberal.
Chromium 7.0.517.44 | Ubuntu 10.10
@Padly, maksudnya Jaringan Islam Liberal ya? hahaha. Terserah deh mau menilai seperti apa. Tapi saya kurang setuju sih jika yang punya pemikiran seperti Prof Anas selalu dikaitkan dengan JIL. Saya sendiri bukan termasuk anggota JIL. Tapi mayoritas pandangan saya sejalan dengan pandangan-pandangan JIL.
Bagi saya, mau dia orang Liberal atau bukan kek, yang penting dia menjalankan nilai-nilai universal agama. Urusan dia berdosa, sesat, atau kafir bin murtad, itu urusan dengan Tuhan. Saya tidak akan menghakimi terlalu mudah. Toh belum tentu akhir hidup saya akan baik nantinya.
Google Chrome 8.0.552.210 | Windows XP
@iskandaria
Aha… JIL memang pintar dalam beragumentasi, Sampai orang-orang yang menelan mentah-mentah pemikiran mereka beranggapan bahwa Al Quran sudah tidak relevan lagi dengan tuntutan zaman sekarang.
Masya Allah, kenapa mereka tidak keluar saja dari Islam kalau mereka beranggapan begitu? Kan tidak masuk akal, orang yang mengaku muslim… tetapi mereka meragukan kitab sucinya sendiri.
Sungguh… Islam tidak membutuhkan orang-orang seperti itu. Islam butuh pembela-pembela yang bersedia mengorbankan jiwa dan harta-nya untuk tegaknya dien ini dari konspirasi-konspirasi musuh.
Afwan… kalau ada kata-kata yang menyinggung perasaan, mohon dimaafkan.
Google Chrome 8.0.552.18 | Windows XP
@Padly, yang tidak relevan itu bukan semua ayat Al Quran lho, tapi sebagian saja, terutama yang sering dinilai mengandung permusuhan dan memang sudah tidak relevan untuk kita jalankan di zaman sekarang ini. Ini bukan masalah meragukan. Toh, ayat-ayat Al Quran itu banyak unsur simbolisnya. Jadi tidak bisa kita tafsirkan/terjemahkan secara harfiah begitu saja.
Tegaknya Islam itu jika kita mengamalkan nilai-nilai universal yang terkandung di dalamnya. Nilai-nilai universal itu di antaranya kasih sayang dan kemanusiaan. Bukan semata perkara membela atau berjihad.
Kalaupun mau berjihad, jihad yang paling dibutuhkan sekarang ialah memberantas kemiskinan dan kebodohan. Itulah 2 faktor yang menyebabkan sebagian umat Islam ketinggalan dari umat lainnya. Kita harus jujur mengakui soal itu sebagai muslim.
Jangan cuma sibuk mengobarkan api permusuhan dengan umat/kaum lainnya.
Saya sudah kenyang dengan nasehat seputar jihad atau menegakkan agama Islam. Bagi saya, menegakkan Islam ialah dengan berusaha menyempurnakan akhlak dan berusaha menjadi manusia yang penuh manfaat/berkah bagi lingkungan.
Google Chrome 8.0.552.210 | Windows XP
@iskandaria
Dalam injil juga terdapat ayat-ayat perang, tapi mereka yang mengimaninya tidak pernah bilang bahwa injil sudah tidak relevan lagi.
Menurutku… kemunduran umat Islam adalah karena kurangnya kesadaran kita dalam membela agama ini. Kita umat Islam terus saja dicuci otaknya dengan slogan-slogan kasih sayang, kemanusiaan, toleransi, dls.
Mereka (Barat) menyuruh kita menerapkan slogan2 tersebut. Sementara mereka asyik menyalakan api kerusakan di dunia ini dan menyebarkan huru-hara.
Satu hal yang harus kita ketahui… Tujuan utama mereka adalah untuk menguasai umat manusia (terutama negara-negara Islam).
Mereka mencoba mengeruk perbendaharaan kita dan menghisap manfaat serta mengekalkan penjajahan dan penindasan terhadap negara-negara yang lemah dan tertindas (Negara yang mayoritas muslim identik dengan kemiskinan -sengaja dimiskinkan?-) di bawah kekuasaan ekonomi mereka.
Chromium 7.0.517.44 | Ubuntu 10.10
@Padly, ya. Saya sudah sangat sering mendengar argumentasi seperti itu. Kenapa sih selalu dikaitkan dengan Barat? Terutama yang berkaitan dengan anjuran (bukan slogan) kasih sayang, kemanusiaan, dsb. Saya justru merasa bahwa itulah salah satu esensi/hakikat ajaran Islam yang mungkin sudah banyak terlupakan.
Saya jadi ingat dengan salah satu hadits. “Manusia yang paling mulia ialah yang paling bermanfaat bagi sesamanya”. Kemudian: “manusia yang paling mulia di muka bumi ialah yang paling mulia akhlaknya”.
Dari dua hadits itu saja, sudah lebih dari cukup bagi seorang muslim untuk menegakkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan ini.
Masalah negara Islam terkesan mundur atau dijajah oleh negara Barat, itu karena sebagian umat Islam terlalu sibuk dengan masalah ritual, iman, jihad, dan sebagainya yang sepertinya terlalu mengejar sorga atau pahala.
Jihad terbaik saat ini ialah membangun ekonomi dan pendidikan. Dari situ, kita bisa bangkit menjadi bangsa yang kaya secara materi dan cerdas secara akal. Nah, kalau sudah begitu, kita tidak akan terlalu tergantung pada bangsa lain.
Faktanya, berapa sih utang bangsa kita? Setiap masa jabatan presiden kita masih selalu bergantung pada utang luar negeri untuk membangun bangsa ini. Faktanya, kita ini negara miskin. Selain karena korupsi yang merajalela juga sih.
Pertanyaan selanjutnya, apa agama mayoritas para pejabat/aparat pemerintah? Mengapa mereka korupsi, padahal mengaku beragama Islam? Itu salah satu jihad terbaik juga saat ini, yaitu mengendalikan nafsu untuk tidak mengambil yang bukan haknya.
Soal kekayaan negara kita yang dikeruk oleh negara asing, salah satunya karena pemerintah kita LEMAH. Itu tidak selalu berkaitan dengan Islam atau masalah Barat.
Kenapa pemerintah kita terkesan lemah? Balik lagi deh. Kita belum bisa menjadi bangsa yang mandiri secara ekonomi, sehingga investasi asing masih belum bisa kita tolak.
Lalu ada perkara nasionalisme di situ. Berapa banyak yang sudi membeli/menyelamatkan aset-aset negara kita agar tidak dikuasai oleh asing?
Balik lagi ke pemerintah dan pihak-pihak yang terlibat dalam perekonomian. Jadi kita tidak bisa menyalahkan Barat atau asing begitu saja. Kalau kita kuat, tentunya kita tidak akan mudah dikuasai.
Google Chrome 8.0.552.210 | Windows XP
@iskandaria
Haha… Sesungguhnya mereka adalah kaum hipokrit (bermuka dua/munafik), seperti dibilang dalam Al Baqarah 8 s/d 20.
Orang-orang seperti ini yang sangat sangat berbahaya bagi perkembangan Islam.
Chromium 7.0.517.44 | Ubuntu 10.10
@Padly, saya setuju jika dikatakan bahwa orang-orang seperti itu sangat berbahaya bagi perkembangan Islam itu sendiri. Dengan kata lain, itulah musuh bersama. Labelnya saja Islam, tapi perbuatannya tidak Islami.
Yang salah tentunya bukan Islamnya, tapi orang/oknum yang mengaku beragama Islam tersebut. Kalau saja para pejabat/aparat pemerintah tidak ada yang berani korupsi dan lebih memperhatikan rakyatnya, saya yakin kita akan lebih mudah untuk membangun negara ini.
Makasih atas diskusinya mas.
Firefox 3.6.10 | Windows XP
@iskandaria, mungkin bukan idak relevan kali mas, tapi tidak di pahami dengan baik, masa sih Allah memurunkan Al-Qur`an tidak relevan, kalo begitu pasti sudah ditarik dari peredaran dan dunia kiamat….
Chromium 7.0.517.44 | Ubuntu 10.10
@Abdul Hakim, sebenarnya makna tidak relevan itu memang lebih kepada pemahaman/penafsiran sih mas. Faktanya, tidak relevan lebih sering diartikan secara harfiah semata. Dari situlah banyak tudingan sesat, kafir atau murtad untuk yang berpendapat seperti itu.
Padahal esensinya bukan pada makna harfiahnya.
Sebagian ayat Al Quran tidak relevan lagi jika pemahaman/penafsirannya berpotensi membuat dunia ini jadi kacau, menimbulkan permusuhan tiada akhir, memprovokasi berbuat kekerasan (atas nama jihad), serta membuat umat Islam tidak bisa maju dan berkembang di bidang ekonomi & pendidikan (plus teknologi).
Google Chrome 7.0.517.5 | Windows 7
Hahaha…
saya sering membaca artikel di blogernas termasuk komentar mas Is, cuma saya jarang berkomentar disana.
Cara beropininya agak nyeleneh, gendeng dan dikit edan :D, kritikannya pedas tetapi renyah dikunyah (dibaca).
Google Chrome 8.0.552.18 | Windows XP
@aldy, wah, ternyata Pak Aldy diam-diam jadi fans-nya blogernas. Iya tuh, kritikannya memang pedas, tapi enak untuk dikunyah. Pahit, tapi bisa menyembuhkan. Tajam, tapi bisa menghidupkan dan membangkitkan (tidak melukai, kecuali bagi yang terlalu sensitif dan egonya masih tinggi).