Review Ubuntu 11.10 Oneiric Ocelot Final Release

webhosting Indonesia

Akhirnya pada tanggal 13 Oktober 2011 (atau 14 Oktober 2011 waktu Indonesia) kemarin, pihak Canonical merilis Ubuntu 11.10 secara resmi. Rilis terbaru ini diberi nama kode berupa “Oneiric Ocelot”. Rilis kali ini membawa beberapa perubahan yang cukup mencolok dari rilis sebelumnya (Ubuntu 11.04 Natty Narwhal).

Saya sendiri akhirnya memutuskan untuk menginstal Ubuntu versi terbaru ini secara ‘fresh-install’ atau ‘clean-install’ (setelah sebelumnya mengalami masalah yang cukup mengesalkan ketika berhasil melakukan ‘upgrade’ secara online). Apa masalahnya? Salah satunya yaitu tidak bisa dibukanya direktori home melalui Nautilus. Begitu pula direktori/folder lainnya. Satu-satunya jalan untuk bisa membukanya yaitu melalui aplikasi File Manager. Namun tetap saja jadi agak repot (kurang praktis), sehingga saya putuskan untuk men-’delete’ partisi Ubuntu hasil ‘upgrade’ yang bermasalah tersebut.

Mulai dari nol kembali akhirnya. Tapi saya bersyukur juga. Dengan demikian, saya bisa menjajal Ubuntu 11.10 secara bersih tanpa “kontaminasi” hasil upgrade dari versi sebelumnya. Saya pun menginstal Ubuntu 11.10 Oneiric Ocelot melalui ‘USB flashdisk’ (dengan bantuan aplikasi ‘Universal-USB-Installer‘) untuk membuat Live USB-nya. Pembuatan Live USB saya lakukan di sistem operasi Windows XP.

Instalasi pun berjalan mulus dan tidak begitu lama. Saya menginstal Ubuntu 11.10 ini di bekas partisi milik Ubuntu 11.04 yang telah saya hapus. Ukuran partisinya lebih dari cukup, yakni sebesar 21,9 GB. Usai berhasil menginstalnya, ukuran total partisi berkurang sekitar 2,2 GB.

Lalu, apa saja yang berbeda di Ubuntu 11.10 ini?

  • Kernel baru (versi 3.0.0-12-generic) dan juga dukungan dekstop Gnome terbaru (versi 3.2.0).

    system

    gambar 1 (keterangan sistem)

  • Tampilan menu utama.

    launcher

    gambar 2 (menu utama)

    Sebenarnya tidak banyak berubah, kecuali adanya tambahan 4 icon kecil di bagian bawah. Namun sayangnya, ketika icon-icon tersebut disorot via ‘pointer‘ menggunakan ‘mouse’/tetikus, tidak ada keterangan sedikit pun tentang apa yang bisa menggambarkannya jika diklik.

    icon kecil

    gambar 3 (mini icon menu)

    Jadi dalam hal ini, pengguna disuruh menerka-nerka atau melakukan eksplorasi lebih lanjut agar mengetahui fungsi icon navigasi tersebut. Mungkin desainer icon menu tersebut berpikir bahwa pengguna sudah cukup paham makna gambar-gambar yang dijadikan icon menunya.

  • Perubahan selanjutnya terletak pada desain tampilan sub-sub menu yang ada di sisi kanan. Jika di Ubuntu 11.04 menggunakan list penanda berupa kotak ‘checkbox’, maka di Ubuntu 11.10 ini, tampilan list penanda sub-sub menu (tipe) softwarenya berupa ’rounded-box’ yang mengelilinginya. Namun sayang sekali, ketika sub menu atau sub kategori software tersebut disorot menggunakan pointer, tidak ada efek ‘hover’ sama sekali, padahal efek ‘hover’ saat sebuah menu navigasi disorot adalah salah satu pendukung aksesibilitas yang cukup penting.

    tanpa hover

    gambar 4 (sub kategori tanpa efek ‘hover’)

    Kenyataannya, yang ada cuma efek ‘focus’ (efek tampilan usai menu tersebut diklik).

    focus

    gambar 5 (efek focus sub kategori)

  • Perubahan lain yang terlihat cukup mencolok yaitu pada tampilan menu ‘System Settings’ yang tampak disederhanakan. Tidak ada lagi pemisahan berdasarkan kategori. Semua menu untuk melakukan kustomisasi digabungkan menjadi satu (tanpa pembatas/penanda berdasarkan kategorinya).

    Namun sayangnya (lagi-lagi) tidak ada efek apapun saat pengguna mengarahkan pointer komputernya di atas icon-icon menu yang tersaji.

    system settings

    gambar 6 (icon menu system settings)

    Hal sepele seperti ini sebenarnya cukup penting dan tidak bisa diabaikan begitu saja. Setidaknya berupa perubahan warna latar icon ketika ia disorot menggunakan pointer. Atau bisa juga cukup dengan efek kursor berupa tangan yang akan mengklik icon tersebut (saat pengguna mengarahkan pointer di atas icon menu). Kenyataannya, salah satu dari kedua efek pendukung aksesibilitas tersebut sama sekali tidak saya temukan. Bukan cuma pada menu ‘System Settings’, namun juga pada menu utama (gambar 2).

  • Kita lanjut ke tampilan jendela kumpulan folder/direktori. Saya lihat juga berubah cukup drastis.

    folder home

    gambar 7 (jendela file/folder)

    Apa yang baru pada tampilan jendela folder (nautilus) di atas? Yang paling kentara yaitu adanya pemisahan antara partisi milik sistem operasi yang sedang aktif (ditandai dengan keterangan berupa kategori ‘Computer’) dan partisi lain yang bukan menjadi bagian sistem operasi yang sedang aktif tersebut (keterangan berupa ‘Devices’).

    Pada gambar di atas (bagian ‘Devices’), JANGKRIK, DODOL, Chakra, dan LinuxMint adalah partisi-partisi di luar sistem Ubuntu, sedangkan Home, Dekstop, Documents, Music, Pictures, Videos, File System dan Trash adalah direktori yang berada pada partisi Ubuntu 11.10. Pemisahan ini cukup positif dalam membantu pengguna untuk membedakan keduanya.

  • Lanjut lagi ke menu ‘Appearance‘ (menu untuk melakukan perubahan tampilan dekstop dan tema). Saya lihat berubah sangat drastis.

    Appearance

    gambar 8 (menu appearance)

    Sayangnya, saya tidak menemukan sub menu atau tombol untuk melakukan kustomisasi lebih lanjut jika pengguna kurang suka dengan tampilan default tema yang disediakan. Tidak ada pula tombol/menu untuk menginstal tema-tema lain di luar tema yang ada. Hmm, mengapa pengembang Ubuntu justru membatasi/menghambat pengguna untuk melakukan kustomisasi lebih jauh lagi? Apalagi tema bawaan yang disediakan cuma ada 4 buah, yaitu Ambiance (‘default-theme’), Radiance, HighContras, dan HighContrasInverse.

    Jujur saya, hal ini membuat saya sedikit kesal karena tidak bebas lagi mengutak-atik tampilan Ubuntu. Tidak ada lagi pula pilihan untuk mengkustomisasi tampilan kontrol jendela, warnanya, ‘window border’, serta ‘icon’ dan ‘pointer’. Apakah ini berarti bahwa pengembang Ubuntu cenderung memaksa pengguna agar hanya menggunakan tema default atau tema yang sudah disediakan? Khawatir jika Ubuntu akan kehilangan ciri khas temanya jika memberikan keleluasan lebih bagi pengguna untuk mengkustomisasi tampilan?

  • Mari kita beralih ke tampilan jendela aplikasi ‘LibreOffice‘. Ternyata global menu khas Unity (seperti pada Ubuntu 11.04) sudah tidak ‘built-in’ lagi dengan aplikasi LibreOffice. Bar navigasi bagian atas LibreOffice sudah menyatu kembali dengan jendela aplikasinya. Tidak lagi terpisah atau berada pada sudut kiri atas seperti pada Ubuntu Natty Narwhal.

    libreoffice

    gambar 9 (aplikasi LibreOffice)

    Saya pribadi cukup senang dengan perubahan kembali ke asal ini, soalnya saya kurang suka dengan model ‘global menu’ ala Mac OS itu. Bagi saya, ‘global menu’ kurang mendukung aksesibilitas dan berpotensi membingungkan pengguna pemula. Inilah alasan mengapa ada sebagian pengguna Linux berbasis Ubuntu yang lebih suka dengan model dekstop klasik daripada dekstop Unity bawaan Ubuntu yang mulai diperkenalkan sejak Ubuntu 11.04 lalu tersebut.

  • Lalu, perubahan mencolok lainnya saya temukan pada aplikasi ‘Ubuntu Software Center‘ yang tersusun dari 3 menu utama, yaitu ‘What’s News’, ‘Top Rated’, dan list kategori software. Ukuran dimensi jendelanya juga jauh lebih besar dari sebelumnya, yaitu 1090 x 710.

    software center

    gambar 10 (Ubuntu Software Center)

    Nah, di aplikasi inilah saya baru menemukan efek ‘hover’ saat pengguna mengarahkan pointer komputernya di atas icon menu maupun list navigasi yang ada. Efek ‘hover’ tersebut berupa perubahan pointer menjadi kursor berupa tangan saat pengguna menyorot salah satu icon menu atau list navigasi.

    kursor tangan

    gambar 11 (efek hand-cursor)

    kursor tangan

    gambar 12 (efek hand-cursor)

    Sebenarnya saya berharap tidak sekadar efek kursor berupa tangan, namun ada baiknya juga berupa perubahan warna latar. Tapi efek kursor tangan saja sudah cukup membantu aksesibilitas.

    Masih tentang aplikasi ‘Ubuntu Software Center’. Ketika masuk/mengklik salah satu kategori software (misalnya ‘Developer Tools’), kita akan disuguhkan menu ‘Top Rated’ pada bagian bawahnya. Cukup membantu pengguna dalam memberi gambaran/informasi tentang software apa saja yang banyak disukai oleh pengguna lainnya. Pengklasifikasian kategori ‘Developer Tools’ menjadi sub-sub kategori yang lebih kecil juga sangat membantu pengguna dalam memilah-milah aplikasi sesuai bidangnya. Begitu pula pada beberapa kategori utama lainnya.

    kategori internet

    gambar 13 (kategori Internet)

Satu Hal yang Cukup Mengejutkan

Tidak biasanya pihak Canonical selaku pengembang Ubuntu mencopot aplikasi ‘Synaptic Package Manager’ dalam paket rilis Ubuntu. Ya, saya cukup kaget dalam hal ini. Saya tidak menemukan ‘Synaptic Package Manager’ dalam daftar aplikasi/utilitas yang ‘built-in’ pada Ubuntu 11.10. Padahal sudah lumrah diketahui bahwa ‘Synaptic Package Manager’ adalah bagian tak terpisahkan dari trionya dengan aplikasi ‘Update Manager’ dan ‘Ubuntu Software Center’.

Atas dasar pertimbangan apa pihak pengembang Ubuntu “menendang” aplikasi ‘Synaptic Package Manager’ dari bundel paket rilis Ubuntu 11.10?

Saya pun lalu coba menginstalnya. Namun lagi-lagi hal aneh terjadi. Saya tidak bisa membuka aplikasi tersebut, padahal password root sudah saya masukkan. Jendela aplikasi ‘Synaptic Package Manager’ cuma muncul sekitar setengah detik, lalu tertutup kembali secara otomatis. Apakah itu pertanda bahwa aplikasi tersebut tidak lagi dianjurkan untuk dipakai? Siapa tahu pihak pengembang sudah memaksimalkan 2 aplikasi serupa lainnya untuk menggantikan fungsi ‘Synaptic Package Manager’. Ya, ada kemungkinan ‘Update Manager’ dan terutama ‘Ubuntu Software Center’ sudah dirancang/disempurnakan sebagai pengelola segala aplikasi untuk pengguna Ubuntu 11.10.

Masalah klasik seputar aplikasi Multimedia

Seperti biasanya (usai saya menginstal Ubuntu versi terbaru), hampir selalu ada masalah saat hendak memutar file MP3 maupun video. Misalnya saat saya hendak memutar MP3 melalui aplikasi Banshe (pemutar ‘sound’ default bawaan Ubuntu 11.10), ternyata membutuhkan plugin/ekstensi tambahan lagi, yaitu ‘gstreamer0.10-fluendo-mp3′ dan ‘gstreamer0.10-plugins-ugly’. Untuk menginstalnya, tentu saja komputer kita harus terkoneksi dengan jaringan Internet.

Begitu pula ketika saya hendak memutar file video melalui aplikasi Movie Player. Ternyata harus menginstal plugin ‘gstreamer0.10-ffmpeg’ terlebih dahulu. Sebelumnya, muncul kotak dialog seperti di bawah ini.

plugin gstreamer

gambar 14 (kotak dialog pencarian plugin)

Wah, cukup merepotkan kalau begitu. Harusnya sih sudah ‘built-in’ (agar pengguna tinggal menggunakan aplikasi multimedia yang sudah terinstal). Mengapa pengembang Ubuntu mengabaikan hal ini?

Di luar beberapa kekurangan yang saya temui di atas, Ubuntu 11.10 pada dasarnya membawa sejumlah perubahan yang cukup drastis dari versi sebelumnya. Tentu saja belum bisa saya katakan memuaskan. Untuk masalah driver VGA SiS 671 saja, saya belum menemukannya dalam bundel paket Ubuntu 11.10 ini, sehingga pengguna harus berjuang lagi untuk menginstal driver tersebut (agar resolusi layar monitor komputer mereka benar-benar sesuai aslinya).

Bagi Anda yang sudah mencoba Ubuntu 11.10, apa pendapat Anda mengenainya?

Maaf, karena alasan tertentu, kotak komentar ditutup!

  1. togartb
    Firefox 7.0.1 | GNU/Linux

    bagus reviewnya mas…sy juga lg coba2 ne pake ubuntu 11.10, synaptic packet manager install dr ubuntu software center…utk modifikasi dekstop nya msh ragu2, soalnya dr googling katanya klo pake compizconfigmanager bs bermasalah dengan systemnya…ditunggu tutorial selanjtnya ya mas…

  2. andy
    Firefox 9.0.1 | Windows XP

    ternyata gak begitu bagus juga ya..masih bagusan ubuntu 10.10..

  3. tito
    Firefox 8.0.1 | Windows XP

    wah bagus reviewnya, mantap…bnyk info dari sini mas
    btw mo tny ubntu 12 LTS kpn release y?
    kayaknya yg 11.10 agk krg mmuaskan dari review mase
    hehe

    iskandaria
    Google Chrome 16.0.912.63 | GNU/Linux

    tito, Ubuntu 12 LTS dirilis bulan April 2012.

  4. aram
    Firefox 3.0.19 | Windows XP

    sy baru belajar otodidak pake linux, sy download ubuntu 11.10.. eh rupanya banyak yang kurang puas dengan versi ini… migrasi akhirnya batal az lah..

    iskandaria
    Google Chrome 16.0.912.63 | GNU/Linux

    aram, kan bisa pilih Linux yang lain? Linux itu banyak banget pilihannya. Bukan cuma Ubuntu.

    aram
    Firefox 3.0.19 | Windows XP

    iskandaria, saya sudah coba mas, mulai 10.11, 10.04 (LTS) ,10.10 tapi masalahnya semua hang pada saat dijalankan..
    kira-kira 3 menit dipakai lagsung hang.. kira-kira ngatasinya gimana mas…?

    iskandaria
    Firefox 9.0.1 | Ubuntu

    aram, spesifikasi komputernya kali yang kurang mendukung. Berapa ukuran RAM-nya? Menggunakan prosesor apa? Kalau masih suka hang, coba pakai Linux lain saja (selain Ubuntu). Linux kan bukan cuma Ubuntu.

  5. fahrezamn
    Chromium 15.0.874.106 | Ubuntu 11.10

    Terima kasih tutorialnya. Saya sdh install 11.10,masalah yang saya alami: banshee yg tidak stabil (akhirnya kembali pake rhythmbox) dan yang paling kesal adalah animasi pada compizconfig. Saya sudah install compizconfig extra plugin, tapi efek burn,domino,airplane,dll nggak jalan namun efek paint fire on the screen,wobbly windows,dan water efek lancar di 11.10,padahal di 10.10 lancar jaya.Untuk compabilitas graphics udah saya cek dgn “/usr/lib/nux/unity_support_test -p” support semua. Kira-kira ada solusi tidak mas?
    thanks in advance…

    iskandaria
    Google Chrome 16.0.912.63 | GNU/Linux

    fahrezamn, kalau soal Compiz, mohon maaf aja nih, saya kurang tahu juga, soalnya laptop saya nggak bisa menjalankan COmpiz (berhubung VGA card yang tidak support).

  6. Bengbenk
    Firefox 3.6.13 | Windows XP

    kira2 kalo pake codec multimedia untuk Ubuntu 10.10 Maverick bisa gak,gan ?

    iskandaria
    Google Chrome 15.0.874.121 | GNU/Linux

    Bengbenk, maksudnya codec Ubuntu 10.10 dipakai untuk 11.10 ya? Gak tau juga ya gan. Belum pernah coba sih. Kenapa nggak install ‘Ubuntu Restricted Extras’ aja melalui Ubuntu Software Center di 11.10? Semua paket codec multimedia-nya udah lengkap di situ.

    Bengbenk
    Firefox 3.6.13 | Windows XP

    iskandaria,
    bkan,mas. mksudnya paketan codec multimedia kyak gstreamer yang biasa dipakai pada ubuntu 10.10. tapi soal driver ubuntu 11.10 ini gmana,mas ?

    iskandaria
    Google Chrome 16.0.912.63 | GNU/Linux

    Bengbenk, driver untuk apa nih maksudnya? Kan banyak tuh jenis driver.

  7. danang dk
    Firefox 8.0 | GNU/Linux

    nice review. Kalo masalah multimedia, soalnya mp3 dan beberapa kodec bukanlah program terbuka, makanya tidak diikutkan karena komitmen ubuntu untuk hanya mengisi paket2 OSS dalam berkas binari yang dirilis.

    mampir2lah ke blog saya kalo ada waktu
    http://danangdk.blog.uns.ac.id/category/sistem-operasi-gnulinux/

    iskandaria
    Google Chrome 15.0.874.121 | GNU/Linux

    danang dk, oh, begitu ya ternyata alasan pengembang Ubuntu tidak menyertakan paket codec multimedia. Makasih banyak atas informasinya.

  8. adieen
    Firefox 7.0.1 | GNU/Linux

    HArus BAnyak Belajar neh…
    masih awam banget…
    tapi lumayan udah berhasil di instal N hasilnya lumayan..memuaskan

  9. AIni Sastra
    Google Chrome 9.0.566.0 | Windows XP

    saya bisanya cuma wondows aja, mas, ga ada waktu sama ga ada teman buat belajar ubuntu sama linux atau yg lainnya.. heheh

    iskandaria
    Google Chrome 15.0.874.106 | GNU/Linux

    AIni Sastra, yang penting punya niat belajar aja deh mas. Kan bisa belajar mandiri lewat mbah google :) (tapi resikonya ya harus melalui trial and error sih).

  10. agung
    Firefox 7.0.1 | GNU/Linux

    Mas Is, saya memasangkan Ubuntu Oneiric pada netbook teman (Hp mini note) tapi kinerja VGA Cardnya belum bisa maksimal. :(

    iskandaria
    Opera 11.52 | Linux Mint

    agung, apa jenis/merek VGA card-nya?

    agung
    Firefox 7.0.1 | GNU/Linux

    iskandaria, hasil lspci Intel Corporation N10 Family Integrated Graphics Controller.

    iskandaria
    Opera 11.52 | Linux Mint

    agung, wah, kalau VGA Intel saya kurang tahu juga solusinya mas. Tapi Pak Aldy pernah punya pengalaman yang hampir sama kayaknya. Oya, kinerja yang kurang maksimal itu maksudnya bagaimana Mas? Apakah dari sisi resolusi, rendering efek 3D, atau mungkin yang lainnya.

    agung
    Firefox 7.0.1 | GNU/Linux

    iskandaria, untuk resolusi sudah berjalan dengan baik (1024×600) tapi gambar masih rada-rada kotak gitu. Saya coba menggunakan aplikasi Additional driver juga tidak menumukan driver vga-nya padahal dulu di Lucid bisa terdeteksi dengan baik termasuk bisa menggunkan compiz.

    iskandaria
    Opera 11.52 | Linux Mint

    agung, kasusnya sedikit mirip dengan kondisi display laptop saya yang menggunakan VGA SiS usai diinstal dengan driver yang menyertakan file xorg.conf (cara pertama pada postingan terkait yang pernah saya bahas). Tampilannya masih kurang memuaskan jika terdapat warna berupa gradasi. Warna gradasinya kurang halus (tampak bergaris-garis dan tak jarang berupa kotak-kotak juga).

    Untungnya, ada alternatif driver lain untuk mengatasinya. Nah, kalau alternatif driver VGA Intel, saya juga kurang tahu sih Mas.

  11. wawan
    Firefox 7.0.1 | GNU/Linux

    Ass.Wr.Wb., salam kenal makasih u/ infonya mas,

    setting brightnessnya tidak permanen ya ?, harus selalu diubah setiap kali mulai, coba install gconf-editor tapi nggk jalan,….., mungkin saya salah install

    wass.

    iskandaria
    Google Chrome 15.0.874.106 | GNU/Linux

    wawan, kalau masalah kontras layar, coba lakukan cara ini:

    ketik sudo nautilus di terminal (diikuti enter), lalu masukkan password dan enter lagi). Lalu, pada jendela yang terbuka, coba masuk ke direktori/folder /boot/grub/grub.cfg. Lalu coba masukkan kode berupa nomodeset acpi_backlight=vendor setelah kode “quit splash” pada bagian “menuentry “Ubuntu, with Linux 3.0.0-12-generic”.

  12. kaboel
    Firefox 7.0.1 | GNU/Linux

    launcher defaultnya masih yang unity ya Pak?

    iskandaria
    Google Chrome 15.0.874.106 | GNU/Linux

    kaboel, iya. Masih Unity. Tapi kalau nggak suka, kita bisa login dengan opsi Gnome Classic pada screen-login.

  13. Graha Nurdian
    Firefox 7.0.1 | GNU/Linux

    Saya bertahan di 10.04 saja :) soalnya selain takut beberapa kompatibilitas driver yang tidak cocok, saya juga sudah sreg sama yang seri ini, meski tidak termasuk varian yg LTE. Apalagi setelah melihat review sampean masih terdapat beberapa bug yang menurut saya Major bug dari segi design interface. Cuman ya gitu start menu yg di 10.04 bikin jengkel berasa kurang sreg gitu tapi masih bisa diakali efisiensinya dengan menggunakan fitur search yg ada. Lagi pula searchnya jg cepat :)

    iskandaria
    Google Chrome 15.0.874.106 | GNU/Linux

    Graha Nurdian, driver wireless saya di Ubuntu 11.10 ini malah nggak berfungsi mas (setelah saya tes ke daerah yang ada jaringan wireless-nya). Poin yang satu ini cukup menyebalkan juga. Padahal saya sudah install Broadcom dan juga b43.

  14. die
    Firefox 7.0.1 | GNU/Linux

    Synaptic Package Manager kembali setelah saya menggunakan classic menu.
    Mungkin bisa dicoba dengan tips ini

    iskandaria
    Google Chrome 13.0.782.107 | GNU/Linux

    die, sudah saya coba sih Pak. Tapi belum ngecek apakah Synaptic-nya bisa kembali. Ntar saya cek lagi deh.

  15. jarwadi
    Google Chrome 14.0.835.202 | GNU/Linux x64

    bagiku tetep tidak suka banshee yang default pada ocelot, hehehe

    iskandaria
    IceWeasel 7.0.1 | GNU/Linux

    jarwadi, kenapa tidak suka Banshe mas? Banshe menurut saya cukup bagus dan lengkap fiturnya. Apalagi Banshe mampu mengambil cover album dan menyimpannya. Jadi, semakin menambah atraktif saat kita memutar file MP3. Mungkinkah karena kualitas audio yang dihasilkannya? Untuk hal ini, masih bisa disiasati dengan menyetting ‘Equalizer’-nya. Ada berbagai pilihan di situ.

    die
    Firefox 7.0.1 | GNU/Linux

    iskandaria, Setuju, kualitas suaranya Banshe cenderung cempreng, apalagi jika hanya mengandalkan speaker dari laptop (kualitas suara VLC-pun gak bagus amat).

    die
    Firefox 7.0.1 | GNU/Linux

    jarwadi, kayaknya sama mas, saya lebih senang menggunakan VLC, bisa one fo all.

    iskandaria
    Google Chrome 15.0.874.106 | GNU/Linux

    die, kalau VLC kan lebih untuk mutar video Pak. Nah, kalau Banshe khusus untuk audio saja. Tapi VLC juga bisa mutar file MP3 kalo nggak salah. Saya belum pernah nyoba sih mutar MP3 pakai VLC.

  16. Kaget
    Firefox 6.0.2 | GNU/Linux

    Ini yang ngga kusuka, lagi2 harus menunggu akhir bulan. Perlu extra bandwith :(

    iskandaria
    Opera 11.52 | Linux Mint

    Kaget, kirain nunggu awal bulan :D

  17. Cahya
    Opera 11.52 | Windows 7

    Saya belum coba, malas banget :D.

    iskandaria
    Chromium 14.0.835.202 | Ubuntu 11.10

    Cahya, hayaah. Apakah karena lagi asyik jalan-jalan atau karena serba mendadak? :D

    Cahya
    Firefox 7.0.1 | GNU/Linux

    iskandaria, karena ndak ada mood mengutak-atik saja kemarin Mas :D.

  18. nurfaisyah
    Firefox 6.0.2 | Windows XP

    ehmmm…masalah apa yang sering muncul utk pengguna dgan vga sis selain dengan itw ?

    iskandaria
    Chromium 14.0.835.202 | Ubuntu 11.10

    nurfaisyah, kalau vga sis, selain bermasalah dengan resolusi monitor, biasanya juga dengan efek 3D mbak. Selain itu sih nggak ada masalah berarti.

  19. mbahsomo
    Chromium 14.0.835.202 | Ubuntu 11.10

    Keren, apalagi di gnome shell nya

    iskandaria
    Chromium 14.0.835.202 | Ubuntu 11.10

    mbahsomo, saya masih gagal menampilkan Gnome Shell, walaupun sudah saya install. Padahal saat mau login, saya sudah memilih opsi Gnome pada list-nya.

  20. indometal
    Firefox 3.6.13 | Windows XP

    Makasih kang.. sempurna banget… :)

    iskandaria
    Opera 11.52 | GNU/Linux

    indometal, apanya yang sempurna?

  21. dhenycahyoe
    Firefox 7.0.1 | Windows XP

    Wah udah keluar ya mas is yang 11.10?saya saja masih menggunakan yang 11.04! harus cepat di upgrade nih,tapi kok kayaknya tampilan desktopnya sama saja ya sepeti 11.04 tidak banyak perubahan yang berarti,tapi yang penting I Like Ubuntu :D

    iskandaria
    Google Chrome 13.0.782.107 | GNU/Linux

    dhenycahyoe, secara umum tampilan kumpulan menu utamanya tidak banyak berubah sih. Cuma sedikit perubahan pada list sub kategorinya saja (yang ada di sisi kanan). Ngomong-ngomong, masih ngenet pakai si XP nih kayaknya :-D

    dhenycahyoe
    Firefox 7.0.1 | GNU/Linux

    iskandaria, ini sekarang baru upgrade ubuntu 11.10 iya memang aneh mas is Synaptic Package Manager tidak disertakan juga padahal saya dari versi ubuntu 8.04 sudah menggunakanya,terasa janggal juga kalau tidak ada Synaptic Package Manager.
    satu lagi saya memang pengguna XP sebagai system utama,sedangkan ubuntu sebagai system kedua karena dikampus saya praktikum jaringannya menggunakan ubuntu :D

    iskandaria
    Opera 11.52 | GNU/Linux

    dhenycahyoe, sebagai pengganti synaptic, bisa juga install Aptitude Package Manager mas. Namun perlu sedikit adaptasi untuk menggunakannya.

    dhenycahyoe
    Chromium 14.0.835.202 | Ubuntu 11.10

    iskandaria, ok terimakasih mas is, saya akan mencari di repository-nya

  22. Adi Wibowo
    Google Chrome 14.0.835.202 | Windows XP

    Saya belum install mas.
    Baru selesai download, sekarang lagi mau nata file2 dan partisi buat ubuntunya.he…

    iskandaria
    Google Chrome 13.0.782.107 | GNU/Linux

    Adi Wibowo, kalau sudah instal, bikin postingan reviewnya ya mas. Siapa tau punya penilaian berbeda dari saya ^6^

  23. dafhy
    Google Chrome 14.0.835.202 | Windows 7

    dan saya masih tetap setia dengan 11.04 mas :-)

    iskandaria
    Chromium 14.0.835.202 | Ubuntu 11.10

    dafhy, boleh saya tau alasannya? Tapi kok lagi pakai Windows 7 tuh pas komen di sini?

    dafhy
    Google Chrome 14.0.835.202 | Windows 7

    iskandaria, karena masih nyaman dengan 11.04 mas :-) saya bikin dualboot karena terkendala pekerjaa :-)

    dafhy
    Google Chrome 14.0.835.202 | Windows 7

    iskandaria, dan saya masih belum terlalu paham dengan linux :$

    iskandaria
    Konqueror 4.7 | GNU/Linux

    dafhy, kalau gitu terus belajar aja mas ^^

  24. hanif
    IceWeasel 3.0.6 | Debian GNU/Linux

    masalah multimedia nih yg trouble mulu… jadi masih harus menguninstal program yg lama dengan mengganti yg lebih cocok. benar kan? trus apa yg cocok?

    iskandaria
    Chromium 14.0.835.202 | Ubuntu 11.10

    hanif, kalau pengalaman saya sih, trouble tersebut biasanya bisa diatasi dengan mengubah settingan ‘audio output’ & ‘video output’ pada bagian preferences mas. Biasanya saya memilih ALSA untuk ‘audio output’ dan X11 untuk ‘video output’-nya. Masalah harus uninstall yang lama, biasanya itu otomatis ketika kita melakukan upgrade. Maksud saya, otomatis ter-remove saat proses upgrade. Tapi yang saya alami bukan pada program multimedia sih, melainkan pada program developer/IDE berupa Netbeans.

    Kalau ditanya apa yang cocok? Menurut saya yang menjadi bawaan/default yang paling cocok. Dalam hal ini yaitu Banshe (untuk mutar MP3) dan Movie Player (untuk mutar video). Tapi saya juga instal VLC dan SMPlayer pada Ubuntu 11.10 ini. Cocok juga (bisa berjalan dengan baik, setelah disetting dulu pada bagian ‘audio output’ & ‘video output’-nya.

  25. Endy
    Firefox 4.0.1 | GNU/Linux

    wah mas harusnya ada infomarmasi ketika icon pada desktop itu di hover…supaya lebih memudahkan untuk mengetahui icon tersebut…..

    nanti saya usahakan coba juga mas…

    makasih infonya..

  26. agung
    Firefox 4.0.1 | Windows XP

    Yeah, memang beberapa distro utama tidak menyertakan ‘codec’ multimedia karena memiliki paten untuk lisensi yang harus dipatuhi. Kalau tidak salah di negara sana perangkat lunak pemutar multimedia memiliki paten, sedangkan di negara kita belum ada paten tersebut sehingga tidak sedikit berkas-berkas MP3 bertebaran dimana-mana yang dapat diunduh dengan grentongan (‘ilegal’) hehe. :D

    iskandaria
    Chromium 14.0.835.202 | Ubuntu 11.10

    agung, ternyata itu ya alasannya mas. Tapi mengapa pada Linux Mint (Debian Editon) saya tidak menemukan hal itu ya? Maksud saya, pada Linux Mint edisi Debian, codec multimedia sudah ‘built-in’ dalam paket ISO-nya.

    agung
    Internet Explorer 7.0 | Windows XP

    iskandaria, Hampir semua distro utama/major seperti openSUSE, Fedora, Ubuntu, Debian tidak menyertakan paket perangkat lunak yang mengandung kekayaan intelektual dilindungi oleh undang-undang paten. Alasan tersebut juga mengapa paket-paket tertentu (multimedia misalnya) tidak dimasukkan dalam media instalasi bawaannya. Pada distro Ubuntu ada RestrictedFormats.
    Bukankah Linux Mint memang sudah ‘out-of-the-box’ sejak dulu Mas Is? Serupa seperti Blankon, PCLinuxOS, Sabayon, yang memang didevelop sebagai distro siap pakai. :D

    iskandaria
    Chromium 14.0.835.202 | Ubuntu 11.10

    agung, pertanyaan selanjutnya, mengapa distro turunan yang justru menyertakannya? Mungkinkah karena berpikir penggunanya tidak begitu banyak, sehingga tidak khawatir mengenai masalah paten hak cipta? Atau apakah distro turunan bebas dari masalah kekayaan intelektual atau hak paten tersebut? (sehingga mereka menyertakan ‘codec’ multimedia dalam paket rilis instalasi). Jujur saja, dalam hal ini saya masih bingung mas.

    agung
    Internet Explorer 7.0 | Windows XP

    iskandaria, mengenai pengguna yang tidak begitu banyak, jelas tidak mungkin Mas Is karena Linux Mint sendiri masih menduduki peringkat 2 di distrowatch. Menurut saya untuk distro turunan yang menyertakan codec tersebut karena mereka keluar dari ‘box’ itu Mas Is, koreksi saya jika salah.

    iskandaria
    Google Chrome 13.0.782.107 | GNU/Linux

    agung, nah, karena ingin keluar dari ‘box’ tersebut tentu tidak begitu saja muncul, bukan? Pasti atas dasar pertimbangan yang matang atau yang kira-kira tidak membuat masalah baru nantinya. Seperti yang saya katakan, bahwa apakah distro turunan itu sama sekali tidak ada masalah dengan paten atau kekayaan intelektual sehingga mereka berani keluar dari kotak itu. Atau apakah regulasinya memang memungkinkan mereka untuk menyertakan ‘codec’ multimedia dalam paket Linux mereka. Ini yang saya masih belum begitu paham.

    agung
    Internet Explorer 7.0 | Windows XP

    iskandaria, mungkin tautan ini bisa membantu menjawab Mas Is Fluendo MP3 Decoder, sehingga distro-distro besar tetep ‘kekeh’ tidak menyertakan codec tersebut. Pemahaman saya mengenai filosofi GNU/Linux juga masih newbie Mas Is–maaf jika tidak bisa menjawab dengan tepat. :)

    agung
    Firefox 7.0.1 | GNU/Linux

    iskandaria, jawaban saya yang masuk ke moderasi nyampe ga Mas Is?

    iskandaria
    Chromium 14.0.835.202 | Ubuntu 11.10

    agung, nyampai mas. Masalahnya, baru saya approve. Maklum, baru login ke dashboard. Kalau komentar berisi tautan lebih dari satu (termasuk tautan reply), maka akan masuk moderasi otomatis dulu mas. Makasih atas tautannya.

    kaboel
    Chromium 15.0.874.106 | Ubuntu 10.04

    agung, setahu saya distro yang dikembangkan oleh komunitas kebanyakan menyertakan codec multimedia. namun distro yang dikembangkan oleh perusahaan atau berbadan hukum memang kebanyakan tidak menyertakan codec multimedia sebagai defaultnya karena menghindari kesalahan dari aspek hukum. itu cuma pemahaman saya lho.

    iskandaria
    Google Chrome 15.0.874.106 | GNU/Linux

    kaboel, makasih atas tambahan opininya mas. Namun saya belum terlalu banyak mengetahui, distro mana saja yang dikembangkan oleh komunitas dan distro mana yang dikembangkan oleh perusahaan. Mungkin mas Kaboel bisa menyebutkannya?

    kaboel
    Firefox 7.0.1 | GNU/Linux

    iskandaria, setahu saya ubuntu dikembangkan oleh perusahaan Canonical Ltd. openSuse oleh perusahaan Novell. terus yang dikembangkan komunitas Linux Blankon, LinuxMint. biasanya yg komunitas ini yang lang langsung terpaket dengan codec multimedia sebagai bawaanya

    iskandaria
    Firefox 7.0.1 | GNU/Linux

    kaboel, makasih atas informasinya mas. Memperkaya wawasan saya soal Linux.

    kaboel
    Chromium 15.0.874.106 | Ubuntu 10.04

    iskandaria, sebagai tambahan mengutip dari blognya mas vavai di http://ubuntulinuxmint.wordpress.com/2009/02/05/migrasi-ke-gnulinux-cobalah-linux-mint/ disitu beliau mengungkapkan “Tak ada yang salah dengan pilihan openSUSE, Ubuntu, Fedora dan beberapa distro utama lainnya yang tidak secara default menyertakan aplikasi multimedia. Hal ini disebabkan format lisensi aplikasi tersebut tidak sesuai dengan lisensi GPL.”

    iskandaria
    Chromium 15.0.874.106 | Ubuntu 10.04

    kaboel, postingannya sudah cukup lama ya ternyata :)

    agung
    Google Chrome 15.0.874.106 | Windows 7

    kaboel, bukankah tautan diatas weblognya Rusman R. Manik. :D

  27. Masyhury
    Firefox 7.0 | Windows 7

    Hem, keren reviewnya mas…
    Themesnya masi sama benar dengan Ubuntu biasa, ah gak seru dong.. dan dari riveiw di atas, kelihatannya membuat saya tidak menarik untuk mencobanya.. :D

    iskandaria
    Chromium 14.0.835.202 | Ubuntu 11.10

    Masyhury, tema defaultnya emang gak berubah mas. Masih ambiance. Begitu pula gambar background/latar dekstopnya (yang masih merupakan warna khas Ubuntu). Kalau masalah gambar latar dekstop sih saya nggak masalah, soalnya masih bisa dengan mudah diubah. Nah, yang terasa menghambat pada Ubuntu 11.10 ini yaitu untuk mengkustom tampilan kontrol window aplikasi, warnanya, window bordernya, icon-nya, serta tampilan pointer. Nggak lagi sebebas pada Ubuntu versi-versi sebelumnya :(

    Satu-satunya jalan mungkin lewat masuk sebagai root ke direktori theme-nya (untuk nambahin tema baru).

Blogroll :