Review Sabayon Linux 7 LXDE
Bulan November 2011 ini seakan menjadi ajang ‘perang’ antar berbagai distributor Linux ternama. Masing-masing mengeluarkan rilis terbaru mereka. Sebagai pencinta Linux, saya tak mau ketinggalan mengikuti perkembangan ini. Rasanya sangat mengasyikkan bisa ‘mencicipi’ berbagai distro Linux dengan masing-masing keunikannya.
Nah, berhubung saya belum pernah mencoba Sabayon dan kebetulan ada rilis terbarunya di bulan November 2011 ini, saya pun mengunduh paket ISO-nya. Rilis Sabayon Linux di bulan ini tergolong rilis ‘experimental’. Saya menafsirkannya sebagai rilis terbaru dari sisi ‘Desktop Environment’ yang digunakan (setelah sebelumnya pihak pengembang merilis Sabayon Linux 7 edisi KDE dan Gnome).
Pada rilis lanjutan Sabayon Linux 7 ini, pengembang menyertakan 3 paket desktop yang berbeda, yaitu Enlightenment, LXDE, dan Awesome. Dua di antaranya sudah saya unduh file ISO-nya. Namun sayangnya, saya mengalami kegagalan saat hendak menginstalnya via ‘Live USB’. Bagaimana mau menginstalnya, menu instalasi saja gagal/tidak tampil. Saya malah cuma disuguhkan tampilan terminal virtual usai proses ‘booting’ via kernelnya. Saya sudah coba ‘googling’ sana-sini mencari solusinya. Ternyata banyak juga yang mengalami hal serupa. Apakah ini sebuah ‘bug’ serius? Kemungkinan besar iya.
Sampai review ini saya tulis pun, saya belum menemukan solusi yang pas mengenai ‘bug’ tersebut. Ya sudah. Sementara ini saya cuma bisa menjalankan Sabayon Linux 7 ini melalui mesin virtual, tepatnya menggunakan aplikasi VirtualBox pada Linux Mint Debian Edition (LMDE) 2011.09. Aneh juga, pada saat dijalankan via VirtualBox, Sabayon Linux 7 ini berjalan mulus tanpa masalah sedikit pun.
Baiklah, saya mulai saya tinjauan/review seputar Sabayon Linux 7 versi LXDE.
Saya mulai dari tampilan ‘boot-menu’ usai proses ‘booting’ dijalankan. Saya memilih list teratas untuk menjalankan Sabayon Linux 7 LXDE ini secara live melalui mesin virtual.

Proses selanjutnya adalah ‘booting’ ke sistem utama untuk memasuki mode grafis. Waktu yang dibutuhkan cukup lama menurut saya. Kira-kira sekitar 1-2 menitan. Poin ini merupakan salah satu nilai minus dari Sabayon Linux 7 edisi LXDE ini. Sebelum mencoba di mesin virtual, saya sudah mencobanya via Live USB. Ternyata waktu ‘booting’-nya juga cukup lama (usai memilih opsi ‘Start Sabayon 7 LXDE’).
Selanjutnya, ketika proses ‘booting’ tuntas, akan tersaji mode grafis berupa tampilan dekstop utamanya. Dengan walpaper berwarna biru segar (plus efek sorotan lampu), dekstop Sabayon Linux 7 LXDE ini cukup cantik.

Terlihat cukup simpel karena cuma ada sebuah panel (di bagian bawah) dan beberapa ‘icon-shortcuts menu’. Plus keberadaaan menu utama (‘launcher’) yang akan muncul ketika kita mengklik icon di sudut kiri bawah panelnya.
Mari kita telusuri/lihat satu per satu sub menu pada ‘launcher’ atau menu utama Sabayon Linux 7 LXDE ini.
Accessories

Sound & Video

Internet

Office

System-tools

Preferences

Adapaun fungsi sub menu “Run” di bawahnya yaitu sebagai kotak pencarian aplikasi yang hendak dibuka. Mirip seperti menu serupa di Windows.
Default Aplikasi Office
Pada salah satu ‘screenshot’ di atas, Anda tentu sudah melihat daftar aplikasi office yang sudah ‘built-in’ pada Sabayon Linux 7 LXDE ini. Masing-masing adalah:
- Abiword (identik dengan Microsoft Word dan OpenOffice/LibreOffice),
- Gnumeric (tak jauh beda dengan Microsoft Exel), dan
- ePDFViewer (serupa dengan Adobe Reader).
Mari kita lihat tampilan AbiWord dan Gnumeric.

aplikasi AbiWord

aplikasi Gnumeric
Fitur Kustomisasi
Sabayon Linux 7 LXDE ini ternyata menggunakan ‘Openbox’ sebagai window managernya dan ‘PCManFM’ sebagai file manager. Ada sejumlah fitur yang bisa Anda manfaatkan untuk mengustomisasi tampilan Sabayon ini, di antaranya:
Openbox Configuration Manager.

Desktop Preferences.

Walpaper-list.

Tampilan File Manager
Menggunakan PCManFM, tampilan file manager pada Sabayon Linux 7 LXDE ini tampak cukup elegan dan mendukung aksesibilitas dengan baik. Namun yang menarik yaitu tampilan icon foldernya yang sama persis dengan icon folder di Windows 7 ^_^

Apakah ini pertanda bahwa pengembang Sabayon Linux 7 LXDE ingin merangkul pengguna Windows agar mudah beradaptasi dengan Linux? Bisa jadi.
Pengelolaan dan Pembaruan Paket
Untuk memperbarui sistem dan memasang paket-paket software aplikasi, Anda bisa melakukannya lewat menu ‘Entropy Store’. Mungkin bisa saya samakan dengan utilitas ‘Update Manager’ (pada Ubuntu dan Linux Mint). Cara menggunakannya juga tidak sulit. Anda tinggal mengklik tombol dan .
Contoh tampilan ‘Entropy Store’ bisa Anda lihat pada dua ‘screenshot’ berikut.


Screenshot kedua adalah opsi ‘advanced’, di mana akan ditampilkan tombol-tombol & fitur tambahan untuk pengguna yang sudah agak berpengalaman.
Tampilan Terminal
Saya coba melakukan pembaruan paket/sistem melalui LXTerminal pada Sabayon Linux 7 LXDE ini. Perintahnya agak berbeda dengan yang biasa saya lakukan pada Linux berbasis Debian. Lihat perbedaannya pada gambar terminal di bawah ini.

Ya. Ternyata perintah pembaruannya yaitu berupa sudo equo update.
Beberapa Kelebihan Sabayon Linux 7 LXDE
-
Hemat ‘resource’ memori.
Hal ini sudah saya buktikan ketika coba membuka 4 buah aplikasi secara bersamaan (yaitu File Manager, Midori Web-browser, xnoise Media Player, dan AbiWord). Penggunaan total memorinya cuma sekitar 197 MB. Padahal jika dilakukan pada dekstop berbasis Gnome, hampir mustahil rasanya bisa mencapai pemakaian memori sekecil itu.
-
Sudah ‘built-in’ dengan Microsoft TTF Corefonts.
Saya sengaja mengecek direktori lokasi font yang terinstall secara default. Ternyata hasilnya seperti ‘screenhot’ berikut ini.

-
Sudah menggenerate file
xorg.confsecara otomatis.Berbeda dengan beberapa distro Linux yang pernah saya coba, ternyata Sabayon Linux 7 LXDE ini sudah menggenerate file
xorg.confdan langsung ditempatkan pada lokasi/direktori /etc/X11.
Apa manfaat file
xorg.conf? Mungkin ada yang bertanya demikian. Di antara manfaat filexorg.confini yaitu untuk pengenalan hardware komputer tempat Sabayon Linux 7 ini terpasang atau berjalan. Lebih tepatnya yaitu sebagai perantara/media antara driver dan hardware komputer kita. -
Sudah mendukung resolusi 1280×800 ketika berjalan di VirtualBox.
Buktinya yaitu ketika saya memilih opsi ‘switch to fullscreen’ ketika menjalankan Sabayon Linux 7 ini melalui VirtualBox, ternyata memang benar-benar bisa tampil ‘fullscreen’ sesuai resolusi asli laptop saya (yang berukuran 1280×800). Lihat screenshot ini sebagai buktinya.

-
Sudah mampu mendeteksi chipset VGA SiS.
Ini kabar gembira bagi para pengguna VGA SiS yang hampir selalu bermasalah dengan resolusi layar monitor mereka (yang tidak maksimal) begitu menjalankan Linux. Ketika saya menjalankan melalui Live USB, ternyata tampilan Sabayon Linux 7 LXDE ini sangat tajam (dari sisi resolusi di monitor). Menandakan bahwa resolusi asli laptop saya sudah terdeteksi dengan baik.
~ Kesimpulan ~
Jika Anda lebih menginginkan distro Linux yang ringan, dengan tampilan yang cukup elegan & paket-paket aplikasi standar yang tidak terlalu mengecewakan — maka Sabayon Linux 7 edisi LXDE ini adalah pilihan yang cukup baik.
Tentu saja saya tidak bisa menjamin Anda akan berhasil menjalankannya via Live USB. Entahlah jika menggunakan media Live CD.
Tautan cepat & Menu Utama:
Daftar Referensi & Link Download
- Distribution Release: Sabayon Linux 7 “Experimental” (distrowatch.com)
- Press Release: Sabayon Linux 7 Experimental Releases (sabayon.org)
- Daftar paket aplikasi siap download (packages.sabayon.org)
Menu Lainnya »» Atas » Depan » Arsip » Profil » Kontak » Bawah
Tambah KafeGue di Facebook
Ikuti KafeGue di Twitter
Langganan KafeGue.com via Email
Langganan via RSS Reader
Tautan Cepat »» Beri Komentar | Baca Ulang Posting
Baca Komentar | Menuju Posting Terbaru

Firefox 8.0.1 | Windows XP
Kayaknya lebih bagus jika tanpa panelbar yang di bawah itu. jadi di hilangin aja
Firefox 7.0.1 | GNU/Linux
Nurul Imam, oh kalau itu kan bisa di-’autohide’-kan.
Firefox 7.0.1 | Windows XP
Dari kemaren-kemaren “always linux”, mas. Dan tampilannya pun tambah semarak, jadi rindu dengan postingan tentang yang tidak bersifat teknik di kafe gue. :)
Firefox 7.0.1 | GNU/Linux
Aris Asmara, ini juga dalam rangka sosialisasi perangkat lunak ‘open-source’ mas. Selain sebagai dokumentasi pribadi bagi saya, juga sekaligus untuk memberikan informasi berbagai varian Linux bagi calon pengguna. Hmm, postingan yang tidak bersifat teknik akan tetap ada nantinya. Cuma kebetulan belakangan ini saya lebih mood menulis seputar teknologi informasi. Sesuai juga dengan salah satu tema utama blog ini :)
Firefox 8.0 | Windows Vista
lengkap-kap, saya kok jadi pengen nyoba ya
Google Chrome 15.0.874.121 | GNU/Linux
pututik, kalau belum pernah pakai Linux, sebaiknya coba Linux Mint aja dulu. Kalau yang ini jika sudah cukup paham dengan Linux saja.
Opera 11.52 | Windows XP
mas iskandaria,
saya boleh request engga? tolong cobain/review goboLinux dong. penasaran saya dengan gobo linux yang katanya “bukan linux biasa!” bagaimana? :mrgreen:
IceWeasel 8.0 | GNU/Linux
gadgetboi, haha. Ntar deh saya cobain Mas. Tapi saya malah baru dengar tuh nama distro itu :lol: Nyari tau dulu deh.
Opera 11.52 | Windows XP
iskandaria, saya juga tahunya dari mas adinoto.org … katanya sangat beda dengan linux pada umumnya … semoga nanti direview … saya tunggu :mrgreen:
Firefox 8.0 | Windows 7
wah, saya baru tau. linux sudah versi 7 aja. saya aja ga ngerti mas linux. hehehhe maklum bukan di bidangnya. tapi gapapa. menambah informasi di dunia maya. sambilan silaturahmi, di tunggu kunjungannya
Konqueror 4.7.2 | GNU/Linux
Me Chat, sebenarnya bukan Linuxnya yang versi 7, melainkan salah satu variannya. Linux itu punya banyak sekali varian (sampai ratusan).
Firefox 8.0 | Windows 7
iskandaria,wah keren banget penjelasanya. tapi rata rata programmer memakai linux ya buat billing?
Firefox 7.0.1 | GNU/Linux
Me Chat, maksudnya buat billing apa ya? Kan billing itu banyak macamnya.
Opera 11.52 | Windows XP
masalah pada sebayon-nya yah mas? bukan pada virtualbox-nya? emang sih sebayon kurang bersahabat di USB apa karena babehnya Gentoo yah? yang rolling release itu …
IceWeasel 8.0 | GNU/Linux
gadgetboi, pada Sabayon-nya sih mas. Bukan pada VirtualBox. Kalau di VirtualBox malah nggak ada masalah sama sekali tuh. Mode grafis dekstopnya bisa muncul tanpa masalah. Nggak kayak waktu dijalanin via Live USB (yang berhenti sampai tahap sebelum masuk ke dsktopnya). Gentoo kurang bersahabat di USB ya? Saya juga nggak tau sih, abisnya belum pernah nyobain Gentoo.
Firefox 8.0 | Windows XP
Buktinya yaitu ketika saya memilih opsi ‘switch to fullscreen’ ketika menjalankan Sabayon Linux 7 ini melalui VirtualBox, ternyata memang benar-benar bisa tampil ‘fullscreen’ sesuai resolusi asli laptop saya (yang berukuran 1280×800). Lihat screenshot ini sebagai buktinya.
Apa itu artinya Linux versi ini tidak perlu menginstal VGA?
Firefox 5.0 | GNU/Linux
Taufik Nurrohman, iya, memang tidak perlu lagi menginstall driver untuk VGA-nya karena sudah terdeteksi dengan baik dan benar.
Opera 11.52 | Windows 7
He he…, ini sepertinya berburu distro yang ramah VGA SIS :D.
IceWeasel 8.0 | GNU/Linux
Cahya, tapi tetap saja belum bisa saya install Mas. Sementara ini cuma bisa saya jalankan di VirtualBox :( Saya sudah coba membuat Live USB-nya dengan 3 buah aplikasi berbeda (UNetBootin, Universal USB Installer, dan Linux Live USB Installer), tapi hasilnya sama saja. Saya tidak bisa masuk ke mode grafis ke desktopnya. Mirip kondisi ketika X service distop.
Safari 4.0.5 | Windows XP
di safari terlihat rapi juga mas is….
IceWeasel 8.0 | GNU/Linux
andre pandet, soalnya Safari juga berbasis WebKit kayak Chrome. Jadi kemunginan renderingnya juga sama.
Google Chrome 13.0.782.215 | Windows XP
saya sudah mulai amnesia sama linux mas, gara2 modem gk pernah konek pake ubuntu jadi setiap hari saya pake windows, kalo belajar PHP juga sekarang di windows, nah loh…
Google Chrome 15.0.874.120 | GNU/Linux
arif, kan bisa nyobain distro Linux yang lain (selain ubuntu). Siapa tau ada yang cocok dengan modemnya. Kalau bisa sih coba yang bukan berbasis Debian. Kalau modem saya hampir selalu terdeteksi dengan baik pada sejumlah distro Linux yang pernah saya coba.
Saya sendiri mulai berusaha mengurangi ketergantungan pada Windows dengan menginstal aplikasi/software yang berfungsi sama pada Windows. Untuk belajar PHP, kan bisa install XAMPP di Linux. Saya pernah menulis tutorialnya di blog ini.
Firefox 7.0.1 | GNU/Linux
Kayaknya saya harus ‘destroy’ salah satu distro. selain partisi, virtual saya juga ngga begitu mulus di PC tua. Kalau distro perang nih, malah bingung mau milih yang mana. Yang pasti ringan, dan ngga bikin masalah di PC tua saya.
Mantep Mas, riview terus distronya. Jadi saya ngga susah nyobain satu persatu, tinggal pilih :D
Google Chrome 15.0.874.120 | GNU/Linux
Kaget, masih ada sejumlah distro Linux lagi yang mudah-mudahan akan saya review. So, pantengin aja di sini Mas :) Untuk PC tua, sebaiknya memilih distro Linux yang menggunakan dekstop LXDE atau Xfce. Dijamin ringan deh.
Firefox 7.0.1 | GNU/Linux
iskandaria, Hehehe,.. pastinya Mas. Kalau perlu, pasti tetap di nanti :D
Chromium 14.0.835.202 | Ubuntu 11.10
Kaget, tapi saya mesti ngumpulin energi dulu buat ngereviewnya :))
Google Chrome 17.0.922.0 | openSUSE
Interface-nya sama dengan desktop LXDE openSUSE saya. :D
Google Chrome 15.0.874.120 | GNU/Linux
agung, biasanya yang sama-sama berbasis LXDE tidak akan banyak berbeda antarmukanya Mas. Oh, ternyata openSUSE ada yang pakai LXDE juga toh.
Internet Explorer 7.0 | Windows XP
iskandaria, saya pasang openbox juga di openSUSE Mas Is. :D
IceWeasel 8.0 | GNU/Linux
agung, biasanya kan openbox hampir selalu bergandengan tangan dengan LXDE :)