Review Linux Mint Debian Edition (LMDE) 201109 Versi Gnome

webhosting Indonesia

Jujur saja, saya baru pertama kali mencoba Linux Mint. Sekali mencoba, saya langsung memilih versi Debian (‘Debian bassed’). Versi yang saya coba yaitu 2011.09 (dirilis secara resmi pada 16 September 2011). Jadi, masih cukup fresh sampai saat review ini saya posting.

aksesoris

Dengan mengandalkan koneksi yang lumayan cepat dari paket malam Telkomsel (rata-rata 100-an kBps hingga 200-an kBps), akhirnya saya berhasil merampungkan pengunduhan file .iso image-nya. Total ukuran file .isonya sekitar 1,2 GB. Lumayan besar juga. Sangat wajar, mengingat ia berupa Live DVD.

Saya pun kemudian mengeksplorasi Linux Mint Debian Edition 2011.09 ini melalui mesin virtual terlebih dahulu. Dalam hal ini, saya menggunakan VirtualBox OSE di Linux Ubuntu 11.04. Setelah merasa cukup mengeksplorasinya di mesin virtual, saya memutuskan untuk memasang/menginstalnya di ‘hard-disk’ laptop saya. Saya menggunakan media USB ‘flash-disk’ lewat bantuan aplikasi UNetbootin untuk membuat Live USB-nya. Semuanya berjalan lancar (tanpa masalah apa pun).

Tampilan menu instalasi cukup sederhana dan mudah dipahami. Semuanya sudah berbasis grafis (GUI). Proses instalasi pun berjalan mulus dan sangat cepat. Saya sengaja mencatat waktunya. Hasilnya, cuma memakan waktu 5 menit! Wow, terbilang sangat cepat jika dibandingkan dengan proses instalasi Ubuntu. Apalagi ini adalah versi Live DVD (yang tentu saja mengandung lebih banyak paket).

Apa saja fitur Linux Mint Debian Edition (LMDE) 2011.09 ini?

  • Semua fitur Linux Mint 11;
  • Perbaikan installer (varian keyboard, lokal, perbaikan bug, UUID di fstab);
  • Pembaruan repositori Update Manager berdedikasi dan bertahap;
  • Kompatibilitas tema GTK2/GTK3; dan
  • Pembaruan perangkat lunak serta paket-paket.

Dengan sistem pendistribusian ‘Rolling-Release’, Linux Mint Debian Edition (LMDE) 2011.09 ini juga dirancang agar dapat berjalan pada komputer-komputer tua/lawas (yang hanya memiliki satu core atau satu CPU). Default kernel yang disertakan dalam paketnya yaitu berupa kernel 486.

Di satu sisi, kernel 486 ini sangat ramah pada komputer tua/jadul. Namun di sisi lain, kernel ini kurang bersahabat bagi komputer modern karena tidak mampu mendeteksi CPU yang memiliki inti lebih dari satu. Jadi, jika kita menginstal dan menjalankan Linux Mint 2011.09 ini pada komputer yang (misalnya) memiliki 2 core CPU, seperti laptop saya yang bertipe Core 2 Duo, maka kernel 486 bawaan Mint Debian ini hanya mendeteksi satu inti/core. Buktinya bisa dilihat pada tampilan aplikasi ‘System Monitor’ berikut ini.

satu core cpu

Solusi masalah di atas yaitu dengan cara menginstal kernel 686-PAE. Mudah-mudahan nanti bisa saya bahas tipsnya.

Tampilan menu utama

Berbasiskan dekstop Gnome dan terletak pada sudut kiri bawah, tampilan menu utama Linux Mint Debian Edition 2011.09 cukup simpel dan mudah dipahami. Sisi aksesibilitas dan ‘usability’ sudah cukup terpenuhi. Tampilan menu utama ini sedikit dimodifikasi sehingga terlihat agak berbeda dengan model dekstop Gnome klasik. Ia tersusun dari 3 kolom utama.

menu utama

Selanjutnya, mari kita telusuri satu per satu kategori utama aplikasi yang ada pada sub menu ‘All applications’. Mulai dari kategori ‘Accessories’.

aksesoris

Oya, aplikasi ‘Shutter’ yang terdapat pada list di atas sebenarnya bukan default/bawaan LMDE 201109 ini, melainkan saya instal sendiri.

Lanjut ke kategori ‘Graphics’.

grafis

Lalu kategori ‘Internet’.

internet

Kemudian kategori ‘Office’.

office

Berlanjut ke kategori ‘Sound & Video’.

multimedia

Lanjut lagi ke kategori ‘System Tools’.

system-tools

Kemudian ke kategori ‘Administration’.

administrasi

Dan akhirnya ke kategori ‘Preferences’.

preferences

Anda kurang suka dengan tampilan default menu utama di atas? Tidak masalah. Anda bisa mengkustomisasinya dengan tema-tema lain yang telah disediakan. Cukup lakukan klik kanan pada icon menu utamanya yang berupa gerigi, lalu klik/plih ‘Preferences’ dan ‘Theme’. Kemudian Anda tinggal memilih berbagai tema yang disediakan pada menu dropdown-listnya.

Pengelolaan Aplikasi

Untuk mengelola aplikasi/software, kita bisa melakukannya melalui ‘Software Manager’ dan ‘Synaptic Package Manager’. Software Manager bisa diibaratkan sebagai gudang aplikasi siap install untuk pengguna Linux Mint Debian ini.

software manager

Mari kita lihat beberapa kategori utama softwarenya. Mulai dari kategori ‘Internet’.

aplikasi internet

Lanjut ke ‘Sound and Video’.

aplikasi multimedia

Lalu ‘Graphics’

aplikasi grafis

Kemudian ‘Font’.

aplikasi font

Dan ‘Games’.

aplikasi permainan

Saya rasa cukup 5 kategori saja yang saya tampilkan screenshotnya.

Utilitas lain untuk mengelola paket-paket aplikasi yaitu ‘Synaptic Package Manager’. Tampilannya tak jauh berbeda dengan utilitas serupa di Linux Ubuntu.

Synaptic Package Manager

Utilitas ini lebih ditujukan untuk pengguna yang sudah agak ‘advanced’. Untuk pemula, lebih enak menggunakan ‘Software Manager’ saja, walaupun daftar paket aplikasinya tidak selengkap yang terdapat pada ‘Synaptic Package Manager’.

Untuk memperbarui paket-paket aplikasi, software, serta sistem keamanan, kita bisa melakukannya melalui utilitas ‘Update Manager’. Cara menggunakannya sangat mudah. Tinggal mengklik icon menunya, maka paket-paket akan diperbarui secara otomatis. Lalu kita tinggal mengklik menu untuk menginstall semua paket aplikasi yang telah diperbarui.

Update Manager

Utilitas/menu ini bisa kita temukan pada panel bawah, tepatnya di sisi kanan (berupa icon kecil seperti perisai/tameng).

Kustomisasi Tema, Jendela, dan Icon

Cukup membuka menu utama, lalu memilih kategori ‘Preferences’ > ‘Appearance’. Maka akan terbuka sebuah jendela untuk melakukan pengaturan tampilan atau tema. Tersedia 16 tema default yang siap kita pilih sesuai selera.

appearance

Jika ingin melakukan kustomisasi lebih lanjut, kita tinggal mengklik tombol . Maka akan terbuka jendela baru seperti berikut ini.

control

colors

window border

icon

Beberapa kekurangan Linux Mint Debian Edition 201109

Setelah mencobanya selama hampir seminggu (sampai saat postingan ini saya publish), ada sejumlah kekurangan yang saya temukan pada Linux Mint edisi Debian 2011.09 ini. Di antaranya:

  1. Pengkategorian software menjadi sub-sub kategori pada kategori-kategori utama di menu ‘Software Manager’ masih kurang lengkap. Selain kategori Internet, Grafis, dan Games, saya lihat kategori software lainnya tidak dipecah-pecah menjadi sub kategori. Padahal beberapa kategori (seperti Sound & Video, Programming, Systems Tools, Accessories, Fonts, dan Science & Education) bisa dipecah-pecah lagi ke dalam sub kategori. Hal ini demi mempermudah pengguna dalam memilah sub-sub kategori software yang akan ia cari. Untuk poin ini, saya melihat ‘Ubuntu Software Center’ milik Linux Ubuntu masih jauh lebih baik.
  2. Untuk kelengkapan software, menu ‘Software Manager’ masih belum mengandung beberapa aplikasi yang saya butuhkan. Misalnya saja Netbeans IDE (untuk membangun aplikasi berbasis Java) dan Quanta Plus (untuk pemrograman website). Padahal kedua aplikasi tersebut sudah ada pada ‘Ubuntu Software Center’ di Linux Ubuntu. Lagi-lagi dalam hal ini Ubuntu lebih baik. Plus lebih lengkap juga aplikasi-aplikasi yang disediakannya. Toh, Ubuntu juga sama-sama turunan Debian. Tapi mengapa dalam hal ini Ubuntu lebih lengkap dalam menyediakan repositori aplikasi-aplikasinya?
  3. Delay atau jeda waktu usai mengklik kategori, sub kategori, maupun nama aplikasi-aplikasi di menu ‘Software Manager’ agak lama. Dalam arti, akses ke sub-sub menunya memerlukan delay. Begitu pula usai mengetikkan keyword atau kata kunci nama aplikasi yang hendak dicari via kotak pencarian. Ada delay beberapa saat. Tak secepat pengaksesan sub-sub menu maupun kemunculan hasil pencarian di ‘Ubuntu Software Center’. Lagi-lagi dalam hal ini Ubuntu lebih baik.
  4. Usai proses instalasi software/aplikasi pada ‘Software Manager’, keterangan ‘Not installed’ tidak langsung berubah menjadi ‘Installed’, kecuali setelah kita mengklik induk kategorinya dan mengklik nama aplikasi tersebut kembali. Begitu pula tombol yang tidak langsung berubah menjadi . Hal ini mungkin akan membingungkan pengguna pemula. Bisa jadi ia akan mengira bahwa proses instalasi softwarenya belum tuntas atau gagal, padahal sudah berhasil. Pada poin ini, lagi-lagi ‘Ubuntu Software Center’-nya Ubuntu masih jauh lebih baik (karena lebih responsif).
  5. Kernel default (bawaan) yang berupa kernel 468 kurang bersahabat dengan komputer-komputer modern yang umumnya sudah memiliki core CPU lebih dari satu. Walaupun hal ini bisa disiasati dengan menginstal kernel 686-PAE, ia memerlukan pengetahuan dan pemahaman khusus (dalam proses instalasinya). Jadi tidak bisa sembarangan dan juga tidak bisa dibilang praktis. Namun saya sendiri sudah berhasil menginstal kernel 686-PAE tersebut. Nanti akan saya posting triknya.
  6. Default ‘web browser’ (peramban web) yang disediakan agak ketinggalan zaman menurut saya, yaitu Firefox versi 5.0. Begitu pula versi Chromium (13.0.782.127) dan Opera (10.62). Padahal saat rilis resmi Linux Mint Debian Edition ini (16 September 2011 lalu), versi beberapa browser ternama sudah mengalami perkembangan. Sayangnya, saya tidak menemukan cara untuk memperbarui versi browser-browser yang terdapat pada repositori LMDE 2011.09 ini. Mungkin hal ini ada hubungannya dengan sistem ‘Rolling-Release’ yang diterapkan pada pendistribusian LMDE ini. Jadi, pihak pengembang lebih memilih versi peramban web (‘web browser’) yang dianggap lebih stabil.
  7. Eksekusi navigasi menu atau tautan melalui ‘Touchpad’ (pada laptop saya) sempat tidak berfungsi. Terutama untuk menggantikan ‘single-clicks’ & ‘double-clicks’ ketika menggunakan mouse/tetikus. Jadi hanya bisa digeser-geser (tanpa bisa mengklik melaluinya). Ternyata untuk mengaktifkannya harus melalui menu ‘Preferences’ > ‘Mouse’ > ‘Touchpad’ dan lalu mencentang opsi Enable mouse clicks with touchpad. Hmm, kenapa tidak tersetting otomatis dicentang ya? Saya pikir ini cukup merepotkan dan membingungkan pengguna pemula yang terbiasa menggunakan ‘touchpad’ untuk menavigasi.
  8. Sub menu pada aplikasi ‘Shutter’ yang sudah saya instal ternyata tidak aktif, padahal ia sangat penting bagi saya untuk mengedit hasil tangkapan layar (‘screenshot’). Ternyata untuk mengaktifkannya harus dengan cara menginstal library/module tertentu. Sialnya, library tersebut tidak tersedia di ‘Software Manager’. Satu-satunya jalan yaitu dengan menginstalnya melalui terminal.

Kesimpulan

Linux Mint Debian Edition 2011.09 ini kurang cocok untuk pengguna pemula. Sebagian penyebabnya ada pada poin kekurangan yang telah saya paparkan di atas, terutama masalah kernel bawaan dan trik menyiasatinya. Selain itu, masalah keharusan mengubah beberapa repositori sebelum mengunduh ‘Update Pack 3′ juga agak menyulitkan pengguna pemula. Di sisi lain, pengguna yang sudah cukup memahami Linux relatif tidak ada masalah sebenarnya.

Bagi saya sendiri, Linux Mint Debian Edition 2011.09 ini menjadi salah satu sistem operasi alternatif yang belakangan ini lebih sering saya gunakan. Tidak ada masalah sama sekali begitu ia saya install di laptop saya yang sudah terlebih dahulu terdapat 2 sistem opreasi lain, yaitu Windows XP dan Linux Ubuntu. ‘Boot loader’ bawaan LMDE ini berjalan mulus (dengan isi list berupa semua OS yang terinstall pada laptop saya).

Untuk memainkan file-file MP3 maupun video juga tidak membutuhkan ‘codec’ multimedia lagi, sebab ia sudah termasuk dalam paket instalasi. Enaknya, aplikasi GIMP juga sudah ‘built-in’. Begitu pula ‘Pidgin’ (untuk chatting), ‘Bittorent Transmissons’ (untuk mengunduh file torrent), dan bahkan ‘VLC media player’ (untuk memutar berbagai jenis format video).

Referensi terkait, silakan telusuri 2 tautan berikut ini:

Maaf, karena alasan tertentu, kotak komentar ditutup!

  1. zholieh
    Firefox 10.0 | Windows 7

    Linux yah, nyoba sekali punya temen [gak tau versinya apa] terus kebingungan melanda, sama sekali belum terbiasa pake linux ya cuma mesam-mesem plonga-plongo aja :D

  2. galuh
    Google Chrome 9.0.587.0 | Windows 7

    iskandaria, mas saya memakai linux mint 12 tapi pas abis masuk taskbar nya ga ada itu gimana mas supaya taksbarnya ada lagi ane ampe bingung banget nih mas

    iskandaria
    Firefox 9.0.1 | Ubuntu

    galuh, task-bar nggak ada? Kok aneh ya. Harusnya kan ada. Nggak tau juga nih saya solusinya.

  3. kaboel
    Google Chrome 13.0.782.112 | Windows XP

    tulisan anda sungguh menarik. saya juga pemakai linuxmint tapi masih yang ubuntu based yang versi isadora (LTS) saya juga pernah mencoba mint yang debian ini bagus, lebih cepat dan ringan daripada yang debian based. mengenai firefox mungkin untuk debian menggunakan iceweasel. lebih lanjut di http://mozilla.debian.net/. itu cuma setahu saya lho karena say juga masih newbie di dunia linux. terima kasih tulisan anda sungguh memberi pencerahan dan gambaran tentang linuxmint debian.

    kaboel
    Google Chrome 14.0.835.202 | GNU/Linux

    kaboel, maaf itu tadi saya kirim komen pake PC di tempat kerja, nah yang ini make leptop sendiri hehe. tulisan Anda bagus-bagus.

    iskandaria
    Chromium 14.0.835.202 | Ubuntu 11.10

    kaboel, wah, ternyata pengguna Linux Mint juga. Sip lah kalau begitu. Saya senang jika pengguna Linux semakin banyak (apa pun distro yang ia gunakan). Oya, terima kasih atas informasi dan link mengenai Iceweasel-nya. Nanti saya coba install di LMDE.

  4. die
    Firefox 7.0.1 | GNU/Linux

    Sempat tertarik dengan si Mint ini, tapi kemudian terasa lebih afdol dengan si Buntu 10.04 (longterm) biar gak boros bandwith, tiap 6 bulan kudu ikutan upgrade.

    iskandaria
    Chromium 14.0.835.202 | Ubuntu 11.10

    die, nanti ada LTS versi baru Pak, yaitu 12.04. Kira-kira bulan April 2012. Sebaiknya diupgrade saja ke versi 12.04 kalau nanti udah keluar.

    kaboel
    Chromium 15.0.874.106 | Ubuntu 10.04

    iskandaria, saya juga masih menggunakan linuxmint 9 isadora yang LTS nih Pak.

    kaboel
    Firefox 7.0.1 | GNU/Linux

    kaboel, linuxmint 9 “isadora” yang saya pake juga menggunakan basis ubuntu 10.04 jadi juga LTS

    iskandaria
    Konqueror 4.7 | Fedora 16

    kaboel, sebentar lagi malah akan dirilis Linux Mint 12. Bulan November ini beberapa distro utama terkesan saling bersaing mengeluarkan rilis teranyar mereka.

  5. Rudy Azhar
    Google Chrome 14.0.835.202 | Windows XP

    Sampai sekarang kok saya masih kurang tertarik menggunakan linux, apa karena tampilannya masih lebih baik OS Windows ya?…he…he…he…

    iskandaria
    Chromium 14.0.835.202 | Ubuntu 11.10

    Rudy Azhar, kalau masalah tampilan, sebenarnya Linux sangat mudah dikustomisasi bang. Kalau kurang tertarik dengan tampilan default, mudah banget mengubahnya menjadi yang kita suka. Tersedia banyak sekali tema menarik yang bisa kita pilih sesuai selera. Hampir setiap jengkal area di Linux bisa kita kustom malahan. Mungkin tampilan default Linux Mint di atas kurang menarik atau terlalu sederhana. Tapi saya bisa mengubahnya menjadi menarik :)

    iskandaria
    Chromium 14.0.835.202 | Ubuntu 11.10

    Rudy Azhar, satu lagi. Di Linux, kita bisa menggunakan efek animasi 3D dengan plugin Compiz. Keren banget lah pokoknya. Tapi sayang banget, berhubung VGA card laptop saya tidak mendukung, saya tidak bisa menikmati efek 3D tersebut :(

  6. gadgetboi
    BlackBerry 8310 | BlackBerry

    kuat engga yah kompi yg pentium 3 :D … tadinya saya mau coba install di lapotop core2duo tapi ternyata memang masih jadul sekali kernelnya … ada opsi untuk mengganti dengan kernel terbaru enggak yah? kan ini rolling release

    iskandaria
    Midori 0.4 | Mac OS X

    gadgetboi, kalau pentium 3 kayaknya nggak ada masalah sih mas. Kan LMDE ini emang didevelop agar bisa berjalan pada kompi butut bin jadul..hehehe. Soal mengganti kernel dengan yang terbaru, sebenarnya bisa sih. Nanti saya posting triknya, soalnya mesti sedikit hati-hati pas mau install kernel terbaru.

  7. tonykoes
    Firefox 7.0.1 | Windows 7

    Mas Iskandar ini cocoknya jadi guru TE apa IT namanya. Kalo bikin tutorial pasti detail. Tampilan blog juga makin ngejreng aja kayak ex__a J__z..
    Buatku yang gaptek cuma bisa bilang “Mantaf Mas Is” Kalau punya 10 tombol “Like” pasti deh aku klik semua.. Salam jumpa lama gak mai sini.. :D

    iskandaria
    Chromium 15.0.871.0 | Ubuntu 11.04

    tonykoes, terus-terang aja, saya kurang cocok jadi guru mas. Dalam artian, guru formal kayak yang ngajar di kelas-kelas. Nah, kalau situasinya tidak formal atau ngajarnya lewat blog, baru saya cocok :-D

  8. Endy
    Firefox 7.0.1 | Windows 7

    Mas neh distro bersahabat tidak dengan network driver merek broadcom, soalnya di beberapa distro, wireless network saya tidak terdeteksi…

    Jadi kadang mau coba distro, malah susah buat jelajahi web…

    iskandaria
    Google Chrome 13.0.782.107 | GNU/Linux

    Endy, kebetulan saya belum mencoba untuk ngenet pakai wireless dengan distro ini mas. Sementara ini baru pakai modem USB saja. Nanti saya beritahu jika sudah saya tes di wilayah yang ada jaringan wirelessnya.

    gadgetboi
    BlackBerry 8310 | BlackBerry

    Endy, mas Endy, saya menggunakan Broadcom di salah satu laptop saya. Distro yang paling nyaman untuk Broadcom sepengetahuan saya selama ini kalau enggak PCLINUXOS yah Linux Mint ini! langsung Out Of The Box semua :D … BTW untuk informasi saja kalau Broadcom sudah merilis drivernya menjadi opensource semenjak tahun lalu. Jadi kemungkinan distro yang lain pun sekarang sudah ada driver broadcom di kernel terbaru.

    iskandaria
    Midori 0.4 | Mac OS X

    gadgetboi, makasih banyak nih atas tambahannya mas Rangga. Saya baru tau soal info tersebut.

    Endy
    Firefox 7.0.1 | Windows 7

    gadgetboi, memang benar mas, saya dulu pakai pclinux os dan sangat cocok sekali dengan si broadcom..namun namanya penasaran, tiap ada distro baru, kemungkinan saya akan mencobanya…

    sekarang yang sangat mantab bagi saya itu BT5..top markotob deh pokoknya :D

    Hidup Open Source..

    iskandaria
    Chromium 14.0.835.202 | Ubuntu 11.10

    Endy, BT5 itu backtrack 5 kan maksudnya mas? Itu setau saya khusus buat penetrasi ke jaringan.

  9. Cahya
    Opera 11.51 | Windows 7

    Biasanya terbentur masalah dependencies, jadi kalau sudah paketan tapi kebetulan ada yang kurang lengkap, nah itu dia malasnya :(.

    Tapi secara keseluruhan saya suka Mint :).

    iskandaria
    Google Chrome 14.0.835.202 | GNU/Linux

    Cahya, sebenarnya saya masih belum begitu paham tentang ‘dependencies’ itu mas :) Oya, suka mint apa salah satunya karena mengusung warna hijau juga kayak openSUSE? hehehe. Tapi Mint sebenarnya tidak murni mengusung warna utama hijau sih. Ada abu-abu juga yang malah dijadikan warna utama latar dekstop bawaan dan juga tema jendela aplikasinya.

  10. Nurul Imam
    Firefox 6.0 | Windows XP

    Jujur saya pingin banget nyobain nih. Rasanya adem banget, Tapi filenya gede banget tuh 1.2 gb ? HSDPA sih cuma udah over quota. Oia mas is pake yang GNOME yah ? Klo Xfce itu gimana ? filenya agak lebih kecil nih.

    Link download Server Indonesia cuma bisa di akses 1 doank yah

    Download Linux Mint Xfce

    iskandaria
    Google Chrome 14.0.835.202 | GNU/Linux

    Nurul Imam, kalau yang versi Xfce, ukuran file .isonya juga gak beda jauh dengan yang versi Gnome, yaitu 1,1 GB. Bedanya cuma pada tampilan navigasi menu-menunya dan juga sistem manajemen aplikasinya saja. Masalah server, saya juga kurang tahu sih. Saya pakai Torrent sih pas ngedonlot iso-nya.

  11. pri crimbun
    Firefox 3.6.23 | Windows 7

    :) blum pernah coba linux mas… pengen coba juga si.. tapi koneksi internet ane lemot, kelamaan klo ndonlod file iso segede itu ..

    iskandaria
    Google Chrome 14.0.835.202 | GNU/Linux

    @pri crimbun, kalau bermasalah dengan koneksi yang lemot, kan bisa beli/pesan CD installernya mas. Bisa pesan di http://toko.baliwae.com/

  12. Agus Siswoyo
    Google Chrome 14.0.835.202 | Windows XP

    Cuma bisa kasih +1 aja deh gan…. :)

    *senyum-senyum karena nggak ngerti*

    iskandaria
    Google Chrome 14.0.835.202 | GNU/Linux

    Agus Siswoyo, makasih aja gan. Semoga rejeki agan lancar dan barokah ^^

  13. Padly
    Google Chrome 14.0.835.202 | GNU/Linux

    Idem sama Mas Adi Wibowo :D

    Ketimbang Mint, Aku lebih sreg dengan openSUSE -meski cuma sempat ngtes versi Gnome aja-

    iskandaria
    Google Chrome 14.0.835.202 | GNU/Linux

    Padly, saya penasaran juga mau nyobain openSUSE. Ntar deh, saya nunggu rilis terbarunya. Kayaknya nggak lama lagi deh.

    agung
    Google Chrome 15.0.839.0 | openSUSE

    iskandaria, ayo Mas Is coba zypper dup dengan Green Gecko. :D

    iskandaria
    Google Chrome 14.0.835.202 | GNU/Linux

    agung, nantang sih mas? wkwkwkwk. Iya deh, saya PASTI bakalan nyoba si SUSE. Liat aja ntar :)

  14. Adi Wibowo
    Google Chrome 14.0.835.202 | Windows XP

    Weh lama ga posting ternyata sedang mengekaplorasi linux mint ya mas?
    Saya dulu pernah coba juga sih, tapi masih sreg dengan ubuntu.
    Ini sedang nunggu ubuntu 11.10

    iskandaria
    Google Chrome 14.0.835.202 | GNU/Linux

    Adi Wibowo, Ubuntu 11.10 Kamis besok udah rilis ya mas. Saya besok juga mau upgrade dari 11.04. Kalo masalah lama gak posting, salah satunya emang karena pengen eksplorasi Mint dulu sebelum nulis review ini. Biar reviewnya komplit & detail :)

Blogroll :