Mitos Seputar Theme Berlatar Putih
Theme dengan latar putih yang dominan sepertinya masih menjadi primadona atau pilihan mayoritas narablog saat ini. Saya sendiri masih menggunakannya untuk blogspot saya di kafe28, walaupun tidak 100 % berlatar putih. Di balik fenomena banyaknya narablog/blogger yang memilih theme putih, ternyata saya menemukan beberapa mitos seputar theme putih tersebut.
-
Theme putih = ringan?
Konon, salah satu mitos yang berkembang pesat di dunia blogging menyatakan bahwa theme yang ringan itu identik dengan theme yang dominan berwarna putih. Benarkah demikian? Benarkah pula theme yang berwarna-warni itu identik dengan loading yang berat?
Saya sendiri tidak setuju jika theme dengan whitespace yang dominan itu identik dengan loading yang ringan. Ringan beratnya waktu muat halaman (page loading time) tidak ditentukan oleh kombinasi warna yang digunakan dalam coding suatu theme/template, melainkan lebih ditentukan oleh banyaknya file/berkas yang diunduh oleh halaman web/blog tersebut.
Lebih tepatnya, ringan-berat atau cepat-lamanya waktu muat halaman lebih ditentukan oleh http-request. Apa itu http-request? Silakan baca artikel HTTP Request, Penentu Paling Utama Performa Web (di rismaka.net)
-
Theme putih = bersih?
Theme yang dominan berlatar putih juga acapkali dinilai sebagai theme yang bersih. Why? Saya sendiri masih bingung dengan makna ‘bersih’ yang sering dikatakan tersebut. Apa dengan begitu, theme yang tidak berlatar putih itu identik dengan theme yang ‘kotor’?
Contohnya theme yang saya gunakan pada blog ini. Sengaja saya gunakan latar selain warna putih (pada latar utama, header, area posting, sidebar, area komentar, serta footernya). Alasannya? Silakan baca postingan blog ini tentang latar pastel.Salah satu rekomendasi (bukan aturan yang mengikat) W3C di Web Content Accessibility Guideline (WCAG) 2.0 menyebutkan:
Using a light pastel background rather than a white background behind black text.
Sumber: Understanding WCAG 2.0.
Memang, putih itu identik dengan suci atau lambang kesucian. Tapi apakah juga berlaku untuk dunia web, khususnya pada warna latar theme?
-
Theme putih = lebih bersahabat untuk mata?
Benarkah warna latar putih memang lebih aman untuk kesehatan mata? Jika ingin mengetesnya, silakan Anda coba menyimak artikel-artikel blog berlatar putih pada malam hari dengan kondisi kontras layar PC yang tidak diredupkan (atau setengah redup). Plus di bawah penerangan lampu. Tidakkah Anda merasa cepat lelah?
-
Theme putih = elegan?
Dari manakah kesan elegan terpancar pada suatu theme? Apa memang dari latar putih yang digunakan secara dominan? Kalau menurut saya, kesan elegan lebih ditentukan oleh desain dan layout secara keseluruhan. Plus keserasian kombinasi warna yang dipilih. Ditambah dengan proporsionalitas antara konten dan widget yang terpasang. Jadi bukan ditentukan oleh warna latar utama.
Elegan juga lebih ditentukan oleh desain tipografi yang digunakan, baik itu pada header, area posting, sidebar, kolom komentar, maupun footer.
Nah, keempat mitos di atas sebenarnya lebih dipengaruhi oleh pandangan/kesan yang masih kurang obyektif kalau boleh saya nilai. Tulisan ini tidak bermaksud menyatakan bahwa theme dengan latar putih dominan itu kurang baik. Toh bagaimanapun juga, warna latar putih sepertinya masih dianggap lebih universal. Atau mungkin dinilai lebih diterima mayoritas?
Source image : www.whitespace.com
Quick Link >>> Beri Komentar | Baca Ulang Posting
Putih = Ringan = Bohong,
Putih = Bersih = Hanya kesan,
Putih = Bersahabat untuk mata = perlu gradasi warna yang pas, nggak kebayang kalau latarnya #FFF trus Hurufnya #000 (**????**)
Putih = Elegan = Heeeh ?
Saya sendiri termasuk penganut latar “gak putih-putih amat”, apa karena elegan, ringan, bersih dan bersahabat ? TIDAK.
Karena saya nggak pintar memainkan gradasi warna dan cenderung kolot ( yakin, ini jawaban yang sebenar-benarnya )
@aldy, Bro. Latar belakang warna blog saya adalah
Masih cukup enak di baca kan? Hehheehehe… Smashing magazine juga menggunakan latar putih dan teks hitam(
#fffdan warna tulisannya#000loh.#1D1D1D) untuk bagian kontennya. Menurut saya, pemilihan font, spasi, pengaturan margin jarak juga berpengaruh terhadap keterbacaan.@ganda, Iya juga sih.
, bagaimana dengan artikel yang panjang ?
Tapi blog bro gandakan tulisan dibuat sehemat mungkin
Tidak dipungkiri pengaturan spasi, penentuan jenis huruf juga berpengaruh
@aldy, Yup. Saya meniru Google dalam penggunaan huruf arial dan jarak antar spasinya. Dan selama ini saya nyaman membaca di Google code, Google API, Google Chrome, GWT dan beberapa web google lainnya. Asal pemilihan font, pengaturan spasi dilakukan dengan benar, tulisan hitam diatas latar putih cukup terbaca kok. Sebaiknya settingan monitor disesuaikan terhadap mata penggunanya. Oh ya, gak tahu deh kalau di Warnet. Biasanya monitornya ada udah kuning, hijau, merah, biru. Hehehehe…
@ganda, sebenarnya tidak semata masalah keterbacaan sih bro Ganda. Saya bermaksud mengaitkannya lebih lanjut dengan kesehatan mata, tingkat ketahanan baca dalam waktu yang agak lama, serta radiasi yang dipancarkan oleh whitespace yang dominan tersebut.
Lain soal memang jika warna monitor udah kayak pelangi
@iskandaria, Setahu saya whitespace yang cukup lebar membuat mata diberi kesempatan untuk beristirahat.
@iskandaria,
jika ‘whitespace’ itu ada di ruang kanan-kiri situs, maka ‘non-maximized window’ akan membantu. Itu salah satu alasan saya sering ‘browsing’ tidak ‘fullscreen’. Karena ‘whitespace’ berlebihan itu cukup menimbulkan distraksi di mata saya.
@dani,
Distraksi = silau kan? Lagi-lagi ini pengaruh kontras/radiasi layar monitor. Solusi paling jitu menurut saya satu-satunya yaitu dengan menurunkan tingkat kontras layar ke titik paling rendah. Tepatnya, satu titik sebelum titik terendah
@iskandaria, btw seputar whitespace jadi ingat whitehatseo,
mungkin kita perlu melakukan kombinasi warna latar belakang yang cocok dengan soft mungkin akan mengurangi warna kontras dan nampak ngejreng
@iskandaria, ya, silau dan pemusatan perhatian (‘focus attention’) terganggu. Ini mungkin juga masalah ‘usability’ (kebiasaan).
@dani, Whitespace berlebihan itu contohnya blog saya ya?
@isnuansa,
saya lebih sering memakai jendela peramban Web yang non-’maximized’. Jadi, menurut saya, ‘no problem’, Mbak Nunik.
@Ganda,
Mengenai mitos.. , oh iya Mas Ganda. Menyebut smashing magazine ya, Smashing magazine adalah salah satu situs besar dengan desain yang “tidak baik” cekidot: Smashing Magazine Realigned hehe…
@Mas Dani
Kalau capek membaca boleh kok menggunakan Screen reader hehe…
@Mas Is
Karena mudah. Sebenarnya bukan pada penggunaan latar putihnya, tetapi pada minimasi penggunaan warna. Bagi saya bukan masalah kita menggunakan warna apa untuk whitespace, yang penting adalah proporsinya.
Saya suka menggunakan “White Whitespace”
@ardianzzzz,
[semoga saya & rekan narablog lain tidak menjadi penyandang disabilitas penglihatan...] sebenarnya saya ingin mencobanya. Sayang, kebanyakan ‘screen reader’ untuk Windows dan komersial. Selama ini hanya memakai ekstensi Fangs–emulator ‘screen reader’–di Firefox.
@ardianzzzz, Saya hanya menggaris bawahi warna latar belakang untuk konten dan warna tulisannya. Tidak keseluruhan desain.
@ganda,
haha, Setubuh Gan
@ardianzzzz, loh? maksudnya?
@aldy, Setuju mas. Saya juga penganut salah satu paham itu. Karena saya tidak pandai dalam memainkan warna. Bisanya cuma hitam-putih dan kombinasi keduanya
Ada lagi. Orang teknik/fisika/elektronika menyebut theme putih dianggap lebih boros energi. Karena memancarkan lebih banyak cahaya. Sehingga mereka memilih latar gelap. Ini mitos, bukan ya?
@dani, karena “warna putih terdiri dari berbagai warna”?
@dani, Bukan mitos, tapi itu beneran, terkait daya (energi) yang dibutuhkan.
@rismaka, bukan karena “warna putih terdiri dari berbagai warna”?
@ganda, yup betul,,
Dilihat dari sisi ilmiah, kita bisa melakukan praktek, dengan menggunakan lingkaran warna yang bermacam-macam dan urut juga atau yang bisa di sebut juga dengan spektrum warna, lalu diputar secara kencang, maka warna-warna tersebut akan pudar dan akan menjadi terlihat warna putih
Dilihat dari sisi coding, warna yang digunakan biasanya adalah RGB atau “Red Green Blue”, dengan urutan 0,1,2,..,9,A,B,..,F semakin ke kiri, maka warnanya semakin lemah sedangkan semakin ke kanan warnanya semakin kuat..
Putih #FFFFFF, Red=FF Green=FF Blue=FF,, ini berarti semua warna-warna dasar yang sama kuatnya akan berkombinasi menjadi warna putih..
Nah yang jadi pertanyaan saya adalah,, mengapa warna putih cenderung dikatakan lebih ringan? dilihat dari RGB, justru menurut saya warna putih adalah warna yang paling berat..
@dery, lebih baik di definisikan dulu maksud ringan dan berat ini apa. Tergantung dari settingan monitor, apakah menggunakan 16 bit atau 24 bit atau 32 bit. Untuk 16 bit, hanya terdapat 65.536 warna, untuk 24 bit dan 32 bit, terdapat 16,777,216 warna. Jangan lihat dari kode 00-FF nya, karena di komputer kode 00 sampai FF disimpan disatu alokasi memori. Baik 00 maupun FF disimpan di dengan jumlah alokasi memori yang sama, yakni 8 bit(untuk kedalaman warna 24 bit atau 32 bit). Sedangkan untuk kedalaman warna 16 bit, Merah sebanyak 6 bit, Hijau 8 bit dan biru 6 bit. Baik warna merah, hitam, putih atau warna apa saja, tetap akan dilokasikan ke sebuah block memori yang ukurannya selalu sama, tergantung berapa bit kedalaman warna yang kita gunakan.
Tapi jika dilihat dari segi pemborosan energi, Ya. Warna putih lebih boros energi daripada warna hitam. Warna putih pada web page menggunakan 74 watt untuk menampilkannya, sedangkan warna hitam menggunakan 59 watt. Jika ditilik lagi terhadap bagaimana monitor bekerja, tentu untuk menampilkan warna lebih terang, lebih cerah, dibutuhkan energy yang lebih banyak. Senter adalah contohnya, semakin sedikit energy dari baterai, semakin redup cahanya. Putih tidak berat, tidak juga ringan. Tapi lebih tepat, boros energi.
@ganda,
Wah, saya dapat pengetahuan baru yang cukup berharga nih dari bro Ganda. Thx berat sudah banyak menanggapi komentar yang masuk atas postingan ini. Jujur masih banyak yang belum saya ketahui soal seluk-beluk dunia web desain.
Komentar-komentar bro Ganda di sini banyak memberikan input bagi saya :beer:
@iskandaria, Sama-sama bro Is.
Saya hanya berniat meluruskan aja.
Hehehe..
@ganda, waduh pusing mbacannya,, bener juga, tadi lampu kamar saya tak matiin, dan gorden tak tutup semua, trus browsing sambil membandingkan website background hitam dan background putih, ternyata yang putih lebih seperti senter dibanding yang hitam..
oke, thanks for sharing
@dery, testingnya pas banget der. Pada kondisi minim cahaya, latar yang agak gelap atau selain putih lebih bersahabat buat mata.
@dery, karena itulah putih lebih boros cahaya. Seperti kata “cahaya putih terdiri atas berbagai warna”, memaksa monitor(CRT) akan menembakkan cahaya lebih kuat untuk menghasilkan warna putih. Semakin dipaksa, semakin banyak energi yang dibutuhkan. Ye tak ye?
@dery,
kalau kondisinya seperti itu, mending mata diistirahatkan saja!
@ganda, wow teknis banget… mantaf mas
@dani, selain boros energi, whitespace yang dominan juga menguras energi mata kita
@iskandaria, :cd pantesan pada jarang ke blog saya lagi. Matanya pada cape ya? :maho
@isnuansa, ah. Saya masih rajin kok main ke rumah mbak ninuk. Tapi saya cukup menyiasatinya dengan meredupkan kontras layar notebook saya. Itu sudah cukup meminimalisir pengaruh radiasi latar putih
saya cenderung menyukai warna putih pada latar belakang blog, kesannya simple aja… nah yang menjadi penentu adalah kombinasi warna yang cocok untuk latar belakang putih tersebut.
jadi menurut saya latar belakang itu berkesan simple dan minimalist. (bukan berarti warna lain tidak simple dan minimalist)…. tapi ini pendapat pada umumnya…he..he..he…
@Rudy Azhar, wah, ternyata bertambah lagi nih mitosnya (theme putih = simple dan minimalist) hahaha
Saya tidak kepikiran ke arah situ Bang. Seandainya terpikir, pasti akan saya tambahkan pada list dalam posting di atas
@iskandaria, Yap, itu alasan saya
@Rudy Azhar, komeng yang ini masuk di blog saya
…
Secara default, setiap web browser memiliki CSS yang default. CSS yang akan digunakan jika tidak menspesifikasikan file CSS mana yang akan kita gunakan. Dan bukankah warna putih itu warna default? Disemua web browser berlaku juga demikian bukan? Warna font default juga hitam. Dulu saya pernah baca, penggunaan warna terlalu banyak bisa mempengaruhi kecepatan menampilkan web(bukan loadingnya), dan pernah saya liat demo test scriptnya untuk menampilkan banyak warna dengan javascript. Walau waktunya tetap saja cukup cepat bagi manusia, tapi kelihatan jarak waktu web dengan tampilan sedikit warna lebih cepat di tampilkan daripada web dengan banyak warna. Hal ini disebabkan oleh engine dari web browser itu sendiri, yang bekerja ekstra untuk mengisi warna-warna huruf, blocks, dan lain lain.
Buku-buku pun kebanyakan yang menggunakan latar hitam dan warna teks putih. Bagi saya, mata saya justru lebih lelah membaca teks putih diatas hitam(jika saya membaca buku). Radiasi monitor sebenarnya berpengaruh dalam hal ini, yang membuat mata cepat lelah.
@ganda, aha. Saya suka komentar mas Ganda ini. Semula saya sempat berpikir begitu, terutama poin tentang banyak sedikitnya penggunaan warna dalam mempengaruhi kecepatan tampil web. Logikanya sangat masuk akal jika engine web browser memang harus bekerja lebih keras untuk menerjemahkan kode warna dari bahasa HTML, sehingga ikut mempengaruhi waktu muat (termasuk waktu tampil).
Namun jika kita bandingkan antara web berlatar putih dominan yang berisi banyak script (file http request) dengan web/blog yang terdiri dari beberapa kombinasi warna, tapi dengan sedikit saja script, maka akan lebih cepat web kedua dalam hal waktu muatnya.
Namun jika dibandingkan dengan kondisi sama-sama minim script, saya rasa sangat masuk akal kalau web dengan warna minimalis (putih dominan) lebih cepat tampil daripada web dengan beberapa kombinasi warna.
Mengenai membaca buku, saya setuju jika teks hitam di atas putih lebih nyaman daripada teks putih di atas hitam. Namun fokus saya dalam artikel di atas adalah penggunaan latar pastel sebagai pengganti putih untuk konten web (pada poin bersahabat dengan mata). Saya tidak sedang membandingkan latar putih dan latar gelap pada konten lho
Jadi menurut saya, masih lebih tidak melelahkan ketika menyimak konten web yang berlatar pastel dan berhuruf hitam (ketimbang ketika menyimak dengan latar putih). Terutama di malam hari atau minim pencahayaan.
Makasih banyak atas koreksi dan pengayaannya mas :thumbup:
@iskandaria, Yah. Itu disebabkan radiasi monitor lagi mas. Saya berharap semakin lama radiasi monitor semakin kecil. Default kontras monitor memang tidak cocok untuk ruangan minim cahaya.
Anyway, saya lebih suka tampilan kombinasi hitam atau putih sebagai warna dasar, karena biasanya warna-warna lain akan mudah/cocok disandingkan dengan warna hitam/putih tersebut.
Dan sebaiknya menggunakan warna yang lembut.
@ganda, default kontras layar saya amati agak berbeda antar satu produk dengan lainnya. Contohnya notebook salah satu teman saya. Layarnya terlihat agak redup. Padahak tidak disetel olehnya. Untuk menyimak konten dengan latar selain putih pada notebooknya terasa agak melelahkan menurut saya.
Ya, warna hitam-putih memang warna paling netral. Mungkin oleh sebab itulah ia banyak digunakan dalam dunia web
@iskandaria, Untunglah desainer dan pembuat monitor sudah memikirkannya. Dengan adanya tombol untuk mengatur kontras, kita akan dimudahkan.
@ganda, betul sekali. Cukup tekan tombol Fn + F8/F9 (kalau di notebook Zyrex saya).
@iskandaria, kalau di laptop saya F7/F8 mas
@Octa Dwinanda, wah ternyata beda merek, beda pula tombol yang digunakan yach.
@ganda, Semua notebook ? beberapa hari yang lalu saya mereparasi notebook MSI, sudah cukup umur juga sih
, saya tidak menemukan untuk menaikan/menurunkan kontras warna pada hardware notebook tersebut. Gampangnya saya install Win7 made by Jangkrik, dus settingan kontras warna melalui software
@PF, mungkin lebih tepatnya bukan kontras warna Pak Aldy. Tapi kontras layar. Istilahnya mungkin brightness (maaf kalau saya keliru). Jadi kontras di sini maksudnya tingkat terang-gelapnya atau kuat-lemahnya pancaran monitor. Ibarat lampu senter pada saat baterainya full, setengah drop, dan saat hampir drop.
@PF, Gak tahu kalau di netbook atau notebook Bro. Tapi paling tidak selalu ada alternativenya kan?
satu lagi kang… theme potih=seo friendly
(katanya….)
@Dapor Hosting Hemat, sama sekali tak ada hubungannya.
@ganda, betul betul betul (niru gaya bahasa upin ipin). Maksud saya, memang tidak ada hubungannya antara SEO dan theme putih. Tapi kalau sistem pemeringkatan SERP mengacu pada kecepatan muat suatu halaman, maka penggunaan warna yang minim (cuma putih) bisa mendukung juga sih, sebab loadingnya akan lebih cepat. Dengan catatan, tidak banyak menggunakan plugin atau script.
@iskandaria, Saya juga sudah pernah menulis tentang tema minimalis dan keterhubungannya terhadap SEO. Bisa di baca di sini mas.
@ganda, sudah saya baca mas. Menarik juga pembahasannya.
Mungkin keempat yang disebutkan di atas hanyalah berupa “kesan” saja ya mas is.
Untuk theme putih = ringan, sedikit ada benarnya. Hal ini terkait seperti yang the gandz (ganda manurung) bilang, kalau warna putih adalah warna default. Sehingga bila ada halaman dengan ukuran yang sama, coding yang sama, semua sama (dalam berbagai aspek), kecuali warna, maka warna putih sedikit lebih ringan dibanding dengan warna lain (terkait penulisan kode warna).
Theme putih = bersih, menurut saya hanya kesan. Tapi kesan di sini adalah kesan universal, dan diakui hampir semua kalangan. Kebanyakan orang lebih suka lantai yang putih dibanding lantai yang gelap, bukan?
Theme putih = lebih bersahabat untuk mata, menurut saya ada benarnya, Tapi harus diiringi dengan kombinasi warna huruf, besar huruf, jenis font yang digunakan, white space, dll.
Kebanyakan orang lebih suka latar terang dengan tulisan gelap dibanding latar gelap tulisan terang. Latar gelap juga bisa mengganggu pengguna/pembaca dengan kemampuan terbatas.
Well, saya setuju jika disebutkan latar terang lebih boros energi, hal ini terkait daya yang dibutuhkan oleh sebuah perangkat untuk memberi cahaya (penerangan) yang lebih banyak dibanding dengan latar putih. Semua mempunyai kelebihan/kekurangannya sendiri.
Theme putih = lebih elegant, ah ini siy sangat subyektif. Banyak kok theme putih yang norak di luar sana. Contohnya yang digunakan rismaka.net :ngakak
@rismaka, Hahaha… Ya. Mungkin ada benarnya elegan Bang Ris. Tapi setelah dipakai oleh blogger, elegan itu bisa berubah jadi hancur. Widget disana-sini. Pasang plugin tak ketulungan. Mengganti font dan warna tanpa memikirkan kebaikan dan kekurangannya. Belum lagi glitter2 yang semakin membuat mata berair.
@ganda,
Marquee dan gambar gif.. hehe memangnya ini tahun 90an? era geocities? :p
@ardianzzzz, kenapa tidak? masih ada kok web yang seperti itu.
@rismaka, sebentar. Terkait lantai putih lebih banyak disukai, itu memang benar. Tapi jika lantainya berwarna pastel yang lembut, saya rasa juga akan tetap disukai kok mas. Fakta yang sering saya temukan sekarang, banyak orang lebih memilih ubin berwarna pastel ketimbang putih. Dulu ubin berwarna putih sempat jadi pilihan utama. Karena mungkin belum ada produksi warna pastel. Tapi sekarang? Sudah jarang sekali saya lihat pemilik rumah menggunakan ubin berwarna putih
Selebihnya saya setuju dengan opini mas Adi.
@rismaka, :alay Banyak kok theme putih yang norak di luar sana. ==> saya juga ngerasa.
Saya merenung terlebih dahulu mengenai apa itu arti kata mitos. Menurut KBBI, mitos adalah cerita suatu bangsa ttg dewa dan pahlawan zaman dahulu, mengandung penafsiran tt asal-usul semesta alam, manusia, dan bangsa tsb mengandung arti mendalam yg diungkapkan dng cara gaib;
Sementara memitoskan adalah mengeramatkan, mengagungkan secara berlebih-lebihan tt pahlawan, benda, dsb; menjadikan mitos; mendewakan.
Berangkat dari definisi di atas, siapakah yang mendewakan warna putih dalam blognya? Siapakah yang menyuruh-nyuruh orang untuk menggunakan latar putih dalam blognya? Saya pikir tidak ada.
Jadi, penggunaan kata mitos di postingan ini adalah tidak tepat. Menurut saya, 4 poin di atas bukan mitos, namun kesan. Oleh karena itu, tidak ada yang salah (sah-sah saja) dengan kesan karena bersifat subjektif.
Blogger A menyukai warna putih mungkin karena menurut dia yang terbaik bagi blognya. Blogger B menyukai warna pastel mungkin karena menurut dia itu yang terbaik baginya.
Saya sendiri menyukai warna latar putih karena kesan saya terhadap warna itu adalah bersih dan mudah dipadukan dengan gambar dan warna lain.
@Kang Yudiono,
WCAG 1.0 dulu pernah lebih merekomendasikan latar terang/putih. Sehingga sekarang (lebih?) banyak situs Web/blog yang memiliki/mencantumkan ‘accessibility policy’ memakai teks gelap/hitam di atas latar terang/putih.
Di WCAG 2.0, lebih direkomendasikan latar pastel. Terutama untuk mengakomodasi penyandang hendaya kognitif (misal autisme dan disleksia).
Semoga ini bukan komentar dejavu saya lagi.
@Kang Yudiono, mengenai penggunaan kata ‘mitos’, saya kesulitan mencari penggantinya dengan kata lain. Saya tidak punya pilihan lain, sebab makna mitos juga berarti sesuatu yang banyak diyakini, tapi belum bisa terbukti kebenarannya secara ilmiah. Nah, salah satu yang banyak diyakini itu ialah menyangkut soal kesan kecepatan loading, bersih, elegan, dan nyaman di mata (berkaitan dengan warna latar theme). Plus kesan simpel dan minimalis.
Saya berpendapat bahwa mitos itu berangkat dari sebuah kesan yang karena seolah mendapat banyak ‘dukungan’, akhirnya berkembang menjadi sebuah mitos. Saya pikir ‘mitos’ atau katakanlah keyakinan tersebut perlu sedikit diluruskan, tentunya dengan alasan-alasan serta argumen-argumen yang logis plus ilmiah. Sudah saya paparkan pada setiap poin di atas.
Jadi saya rasa makna mitos tidak semata berhubungan dengan mengeramatkan atau mendewakan, tapi lebih kepada kepercayaan terhadap sesuatu tanpa punya dasar yang logis dan ilmiah.
Silakan ditanggapi kembali Kang jika masih ada celah yang perlu didiskusikan
mungkin semua mitos itu lebih dikaitkan dengan kehidupan nyata dimana pada umumnya background tulisan lebih banyak berwarna putih dengan teks berwarna hitam.
@imadewira, bisa jadi begitu bli. Kebiasaan membaca media cetak sepertinya memang sangat berpengaruh.
Sampai dengan saat ini, latar putih itu ‘usable’ berdasar preferensi masing-masing pengguna (karena banyak yang pakai, kebanyakan merasa nyaman, pengaruh kebiasaan membaca media cetak). Tapi latar putih belum tentu aksesibel.
Sedangkan latar pastel, belum tentu ‘usable’ saat ini. Tapi lebih direkomendasikan untuk menjadi aksesibel menurut ‘Web Content Accessibility Guidelines’ versi 2.0.
Jadi, jika Mas Iskandaria merujuk ke latar pastel, seharusnya menyebut juga butir rekomendasi WCAG 2.0 yang menyarankan latar pastel. Sehingga infonya lebih valid.
Menurut saya, ini salah satu contoh ‘usability’ vs aksesibilitas Web [titik]
@dani, langsung saya tambahkan di dalam posting bli (saya kutip langsung dari komentar bli dani di posting tentang latar pastel). Makasih masukannya.
Mengenai latar putih belum tentu aksesibel, sepertinya saya perlu penjelasan lebih lanjut nih. Mungkin bli Dani bisa tulis menjadi posting khusus. Atau langsung saja ditulis di balasan komentar ini
@iskandaria,
jika pranala WCAG di atas itu ditelusuri, ada jawaban lebih panjangnya kok. Intinya, ada proposal/usulan dari anggota/ahli yang diundang/konsultan/perwakilan pengembang peramban Web W3C terkait masalah aksesibilitas kontras warna itu. Lengkapnya silakan baca di respon tentang Content and controls must be understandable (w3.org) [koma eh titik lagi...]
@dani, gimana kalau bli Dani tulis saja di blognya tentang itu, biar pembaca kalangan Indonesia bisa lebih paham. Tapi saya sudah simak kok pranala tersebut (tanpa bantuan tools translate).
saya sih ikut ‘simbah’ Google aja, 90% ke atas full putih latar webnya
@Ahmad IM-bisnis, kalau untuk mesin pencarian sih tidak masalah menurut saya jika dominan berlatar putih. Lain soal untuk konten web/blog yang terdiri dari banyak teks/paragraf. Mau tak mau pengunjungnya kan harus sedikit lebih lama menyimak ketimbang saat googling
Yang pasti, putih adalah sunnah Nabi. hehehe…
@Agus Siswoyo, weleh, itu sih pakaian kali ya mas. Tapi ada hubungannya juga dengan theme kok. Sebab theme itu ibarat pakaian blog kita
Hantu juga berbaju putih kabarnya. Malah menakutkan banyak orang tuh kelihatannya hahaha…. :ngakak
==
Makasih sajiannya Mas Is, seru juga ditambah dialog di komentarnya
@Erdien, kuntilanak dong kalo gitu…hahaha
saya pilih bukan warna putih karena lebih nyaman buat mata saya yg sudah mulai payah
mengapa saya memilih latar putih?
dilihat dari kesehariannya, sebagian orang membaca buku, novel, sampai dengan membaca koran yang menjadi kebiasaan sehari-hari mereka.. bacaan-bacaan tersebut cenderung memiliki warna background putih dengan kombinasi huruf hitam,, mungkin alasan seperti ini yang tepat untuk menjawab, “Theme putih = lebih bersahabat untuk mata?”
@dery, ini kan untuk dunia web yang agak berbeda kondisinya dengan ketika kita membaca pada media cetak? Membaca konten web akan sangat dipengaruhi oleh radiasi layar monitor. Nah, warna latar putih akan memancarkan energi radiasi yang jauh lebih besar ketimbang warna latar lainnya. Ini akan membuat mata mudah lelah.
Lain soal kalau latarnya bukan putih, misalnya pastel atau gelap. Tapi untuk keterbacaan, latar putih dan pastel lebih baik daripada latar gelap. Asalkan diimbangi dengan ukuran font, spasi, serta kombinasi warna dengan latar yang pas.
Blog saya berlatar putih, tapi tidak menganut mitos di atas. Tapi postingannya menambah pengetahuan saya tentang theme yang berlatar putih
Kalau menurut saya itu tergantung dari sudut pandang orang yang menilainya. Kalau menurut saya jika putih di padukan dengan abu-abu dan sedikit warna merah maka akan sangat siiiipppp
@Jamal, berarti tergantung selera ya…
Masa sih mas Is? Hehe
Saya baru tahu tentang mitos ini. Tapi yang penting enak dipandang mata aja apapun tampilannya :cendol .
@Agung Prasetyo, :thanks2
maaf, kalau OOT dulu, bagaimana caranya saya bisa menghubungi mas Iskandaria ya, buat seri wawancara pada seri berikutnya?
kalau bisa send message via kontak saya [blog saya mas is..
nuhun??
akhirnya saya sadar juga, dengan latar warna kontras bikin mata cepat lelah, hal ini saya buktikan sndiri pada suatu malam saya sekitar jam 1pagi saya mencoba membuka handphone dan ketika saya cek saya langsung silau karena warna putih ngejreng sekali dan saya sadar semenjak itu, lalu saya coba buka laptop dan mencoba online ternyata benar mata cepat lelah, seperti postingan dari mas iskandaria tempo dulu
saya juga sependapat dengan mas iskandaria kalau tipografi juga sangat membantu, terutama pada jarak antar baris dan spasi yang acap kali masih banyak kita jumpai dengan font size kecil.
@Gus Ikhwan, makasih atas sharingnya Gus. Sangat melengkapi dan memberikan input berharga atas ulasan saya di atas. Sebab pendapat dan pengalaman pengguna web juga patut untuk dipertimbangkan/didengar. Bukan semata pandangan para web desainer.
Masalah wawancara, kirim saja email ke iskandarias [at] gmail.com
@iskandaria,
mas is, apa sebaiknya alamat emailnya disamarkan saja menjadi iskandaria [at] gmail.com dan apa tidak takut ke crawl ama spam boot..
coba cek dulu emailnya
@Gus Ikhwan, sudah saya ubah Gus. Makasih buat masukannya. Sabar ya. Saya belakangan ini lagi sibuk berat. Jadi emailnya mungkin agak telat saya balas.
terus terang saya belum menggunakan theme berlatar putih, sebab saya lebih suka yg berbau-bau hitam dan gelap, ngga tau kenapa, udah bawaan kali….
tapi masa sih mitos2 tersebut benar adanya?? baru tau…
Saya yang mana saja oke – sementara ini tidak akan protes dulu deh dengan latar
@Cahya, kenapa Bli pilih hitam?
Mas Is kmna aja nih, gk pernah berkunjung ke blog ku :cendol
Oia mas Is waktu itu ada email ke email satrya atas nama satrya lewat kursus website itu, tapi gk jelas isinya. Itu mas Is yang kirim atau gmn ? soalnya ada beberapa orang juga ngirim email yg aneh lewat kursus website itu.
Maaf OOT tapi aneh aja mas Is. :cd
@satrya, saya masih rajin kok main ke blog satrya. Cuman belum sempat komen aja..hehe. Soal email, bisa jadi itu kesalahan sistem pada kursus website. Soalnya Pak Dendy pernah bilang begitu ke saya.
TYrips here for the first time!!!
Temen2 blogger TYrips juga penganut mitos putih = Ringan.., Padahal??
Namanya juga mitos, kadang betul kadang juga kurang betul..,wkwkwkwkwk
Pendapat saya gini mas is, sebagian besar situs2 besar, situs2 yang sering bgt dikunjungi orang, mayoritas berlatar putih. ini artinya, banyak orang yang sudah terbiasa dengan latar putih. nah, mungkin krn ingin membuat pembacanya/pengunjungnya tidak melakukan suatu proses yg namanya adaptasi lagi waktu mengunjungi sebuah situs. mungkin krn alasan ini banyak theme designer yg memilik latar putih. CMIIWW
@Juragan, alasannya masuk akal sih Gan. Pengaruh dominasi mayoritas ternyata masih kuat dalam dunia web desainer ya kalo gitu.
saya ngikut mitosnya mas hehehe…
ringan ya sebenarnya gak juga ,, tp memang keliatan bersih dan elegant.. entah kenapa kalau pake themes selaen putih rasanya gimana gitu
I too have watched and read his work. Great stuff, should check out his comparisons to Native American Myths and Legions.
sori baru mampir nih mas is.
saya hanya ingin mengomentari soal putih.
menurut saya sih ini hanya kesan dari dunia nyata, bahwa putiih itu cenderung bersih.
ini hanya pilihan saja sih mas..
@Fadly Muin, jika mengacu pada dunia nyata memang begitulah mas. Faktanya buku-buku memang mayoritas menggunakan latar putih dengan teks hitam. Tapi untuk dunia web/blog, menurut saya warna putih yang dominan justru menambah kuat radiasi layar monitor. Ini berefek pada tingkat ketahanan baca dan kesehatan mata.
Silakan simak beberapa komentar berbobot di atas yang mengkritisi masalah pengaruh latar putih mas. Makasih.
wah saya telat dateng nih, sekedar informasi aja, sekarang blog saya tidak menggunakan latar putih… *penting ga ya* hehe
@Abdul Hakim, selamat ya mas kalau gitu. Anda sudah berani keluar dari jalur
emmm..kalau aku ga bisa ngomong apa2 karena masih belajar yang penting validasi di w3c lulus sampai sekarang saja belum lulus,, widget ga terima dia
sebenarnya tantangan adalah jomla dan blogspot..
untuk laporan statistiknya…salut mas dan sukses ya
walo paruh waktu, ini merupakan prestasi yang patut disyukuri
@Catatan Blogger Amphibi, wah. Dikomentari di sini ternyata. Laporan itu sebenarnya sebatas dokumentasi bulanan untuk saya pribadi saja. Biar lebih mudah mengecek sewaktu-waktu tanpa saya perlu utak-atik akun stat counter. Makasih atas atensinya mas Ahmad.
@iskandaria, sama-sama mas
sukses mas ya
kembali mas ^_^
Artikel yang menarik sekali, semoga sukses selalu..thx,slm kenal
@Yohan Wibisono,
salam kenal juga mas. Makasih sudah berkunjung.
mas is, draftnya sudah masukkan
Maaf ya Gus. Agak telat nih. Maklum, belakangan saya sibuk banget. Buat online aja kurang. Tapi pasti bakalan saya balas emailnya. Ditunggu saja deh.
wah ketahuan neh pake browser apa saya? pake software apaan mas?
Pake plugin browser sniff mas. Masih ujicoba aja. Warna latar komentar juga saya ubah nih, biar nggak terlalu rame.
@iskandaria,
plugin Browser Sniff-nya Mas Priyadi.net sekarang diperbarui oleh orang lain. Tapi menurut saya, data peramban Webnya masih kurang lengkap dibanding WP-UserAgent yang saya dan Cahya pakai. Bisa saja sih diperbarui manual.
@dani, iya nih. Kayaknya emang masih kurang lengkap. Mungkin nanti saya mau coba yang user agent itu bli. Tapi masih harus menyesuaikan dengan settingan area komentar blog ini, biar tidak merusak tampilan
@dani, tuh. Buktinya emang bener bli. Saat membalas komentar ini, saya menggunakan peramban Midori. Ternyata tidak dikenali oleh kode plugin browser sniff buatan mas Priyadi itu…hehe. Masih lebih hebat WP-UserAgent.
theme dengan background putih terkesan clean dan clear…saya juga suka.
blognya mau dirubah jadi sati kolom ya Mas?
Iya Bang. Lebih lengkapnya silakan simak posting terbaru saya
Jujur ya warna putih bagi saya, ‘pedih dimata’ karena saya terhitung kelelawar dunia maya yang suka online dimalam hari
@Graha Nurdian,
Hahaa. Sama dong kalo gituh
seperti yg dikatakan om admin, saya juga kurang setuju mengenai putih == bersih && elegan..
buktinya banyak blog2 bertebaran dengan theme putih tapi dikotori oleh iklan-iklan tidak jelas..
mnurut saya justru theme hitam dengan tuisan putih yang lebih elegan dibanding yg lain karena mengurangi kontras warna yang berlebihan terutama bagi blogger yg sering surfing dimalam hari..
ndk percaya..??
cek sendiri pada blog saya.
@m-iccank,
Tapi kayaknya latar gelap pada konten yang mengandung banyak teks/paragraf kurang cocok deh menurut saya. Lain soal kalo berupa situs donlot, yang cuma terdiri dari sedikit teks pada bagian postingnya.
@iskandaria, makasi banyak atas sarannya om, sangat berguna bagi blogger baru seperti saya..
mohon bimbingan untuk kedepannya..
Themes putih lebih enak klo di liat, :thumbup
Seru juga komentarnya di sini, kl sy pribadi suka themes yg putih seperti komen2 diatas Enak di Lihat.
Tapi memang umumnya orang kita suka yang putih2 mas. Berbeda dengan orang bule yang sudah putih, malah cenderung menyenangi yang hitam2. Begitu kata, seorang wanita di Bali.
Eh gak nyambung yah… maap2…
salam kenal bos…
@Kurtubi,
Hehe. Bule suka yang berkulit hitam ya maksudnya? Salam kenal kembali ya mas. Makasih.