Menyikapi Scam dan Fluff pada Kolom Komentar Blog
SCAM pada kolom komentar adalah muatan, materi, atau isi komentar yang cenderung menyesatkan. Penyebabnya karena kurang objektif, bertentangan dengan fakta yang ada, atau terkesan benar (padahal keliru). Intinya bisa menyesatkan pembaca.
Contoh konkretnya, ada seseorang yang sudah merasa punya pengetahuan cukup mumpuni di bidang tertentu, lalu ia berbagi ilmunya tersebut lewat komentar pada posting yang terkait bidang itu. Sayangnya, materi komentar yang ia tulis tersebut cenderung ‘berbau’ HOAX. Jadi bisa menyesatkan pembaca yang kurang jeli atau kurang kritis. Termasuk pembaca awam yang langsung saja ‘mengamininya’ (tanpa melalui proses bernalar atau cek & ricek lebih lanjut).
Itu bisa digolongkan sebagai komentar SCAM. Bagaimana kita menyikapinya?
Sebagai pemilik blog tempat komentar tersebut masuk, setidaknya kita perlu sedikit ‘meluruskan’ muatan komentar bernada HOAX tersebut. Dengan catatan, jika kita punya pengetahuan yang lebih luas dan objektif terkait materinya. Jika tidak? Serahkan saja pada pengomentar lain untuk meluruskannya. Itulah fungsi kolom komentar pada blog!
Adanya kolom komentar juga memungkinkan pembaca mengoreksi, mengkritisi, mempertanyakan, menyetujui, menolak, serta melengkapi muatan posting. Kecuali posting tersebut memang sudah dirasa sempurna dan tidak membutuhkan respon atau tanggapan dari pembaca. Jika demikian kondisinya, silakan menutup kolom komentar! (pada posting tersebut).
Capek menanggapi komentar SCAM? Mengapa tidak berusaha menikmati saja aktivitas Anda dalam membalas/menanggapi komentar? Jadikan saja itu sebagai latihan mengasah otak dan keterampilan bernalar Anda. Mungkin dari situ Anda bisa menjadikannya sebagai ide untuk tulisan Anda berikutnya. Bahkan pengetahuan Anda jadi bisa lebih matang dan lebih mantap lewat aktivitas merespon komentar SCAM tersebut.
Sambil menyelam minum air. Dobel manfaat!
Atau mungkin karena merasa jenuh barangkali? Kalau itu alasannya, sangat manusiawi. Pada titik tertentu, ada kalanya narablog diserang rasa jenuh dalam menanggapi komentar-komentar yang masuk pada posting blognya.
Solusi terbaiknya menurut saya — tulis saja di akhir posting — bahwa saya kemungkinan tidak akan menanggapi komentar yang masuk pada tulisan di atas
. Selesai masalahnya! Dengan demikian, pembaca yang ingin berkomentar bisa maklum nantinya jika komentar mereka tidak Anda tanggapi. Tidak ada pula beban bagi Anda sebagai pemilik blog atau penulis posting.
Atau tulis saja di atas kotak komentar — bahwa silakan memberikan komentar, namun tidak semua komentar akan saya tanggapi
— atau silakan berkomentar, namun mohon maaf karena saya tidak akan menanggapi komentar Anda
. Beres juga masalahnya!
Lalu, bagaimana menyikapi FLUFF pada kolom komentar blog?
‘Fluff’ adalah sesuatu yang kurang penting, sia-sia, dan seharusnya tidak perlu ditulis (baik ketika menulis posting maupun komentar).
Jika ‘fluff’ tersebut berada pada kolom komentar blog, bentuknya bisa beragam. Bisa berwujud komentar salam perkenalan belaka, saling menimpali antar pengomentar (yang tidak ada kaitannya dengan topik posting), basa-basi belaka, atau bahkan pertanyaan yang tidak pada tempatnya. Bisa pula berupa mengulangi yang sebenarnya sudah ada pada posting, sehingga terkesan sia-sia (tidak ada pengayaan baru). Pun bisa berbentuk pengayaan yang terlalu bertele-tele.
Masalahnya, kita hampir tidak bisa mencegah/mengurangi kemunculan bentuk-bentuk ‘fluff’ tersebut. Bahkan bisa dibilang mustahil untuk menghapuskannya. Kecuali dengan menutup kolom komentar! Namun apakah itu solusi yang bijak dan menyelesaikan masalah?
Jika ‘fluff’ tersebut dianggap mengurangi nilai (value) tulisan yang telah kita posting, saya kurang setuju. Kalaupun dirasa mengganggu, kita bisa menghapusnya. Tak perlu merasa sungkan jika memang ingin menegakkan aturan pada blog kita sendiri. Ini blog saya, Anda harus tunduk pada aturan yang saya buat!
[Titik]. Selesai masalahnya!
Hapus saja komentar bernada ‘fluff’ yang derajatnya dirasa paling rendah dan memang sangat mengganggu kenyamanan pembaca komentar (maupun kenyamanan Anda sebagai pemilik blog). Dengan demikian, Anda sudah mengedukasi pembaca blog Anda agar bisa lebih baik lagi dalam berkomentar.
Saya pribadi pun mengakui pernah beberapa kali (atau bahkan mungkin cukup sering) memberikan komentar bernada ‘fluff’. Bahkan yang berbau SCAM juga! Kadang saya juga terkesan sok tahu dan bahkan kurang nyambung.
So, tulisan ini tidak semata bermaksud kontra terhadap tulisan Mas Ardian Trimurti tentang Membunuh Komentar Blog. ‘Peace’ ya Mas! Silakan dilanjutkan eksperimennya. Sepertinya menarik juga memberikan pengalaman baru bagi pengguna :)
Tulisan ini cuma wujud pemikiran seorang narablog yang merasa kehilangan salah satu saluran berdiskusinya. Jujur saja, saya kurang aktif di sosial media dan juga malas untuk berinteraksi melalui email (jika untuk mengomentari posting blog).
Bagi saya, cukuplah blog dan sosial media dengan keunikannya masing-masing. Jika sudah dicampuradukkan, ciri khasnya jadi hilang! :(
Tautan Cepat »» Beri Komentar | Baca Ulang Posting
Baca Komentar | Daftar Posting Terbaru
Tambah KafeGue di Facebook
Ikuti KafeGue di Twitter
Menu Lainnya »» Atas » Beranda » Arsip » Profil » Kontak » Bawah
Langganan KafeGue.com melalui Email
Langganan melalui Pembaca RSS



Google Chrome 6.0.472.62 | Windows XP
terkadang memang komentar scam atau fluff bisa menjadi pembelajaran bagi kita mas hehehe :D
Firefox 3.6.8 | Windows XP
saya sendiri berusaha sebisa mungkin untuk menanggapi setiap komentar yang masuk ke blog saya, tanggapannya pun tergantung dari komentarnya, kalau serius ya ditanggapi serius, kalau cuma say hello, ya dibalas say hello juga
Google Chrome 6.0.472.53 | Windows XP
@imadewira, kadang jika semua jenis komentar kita balas, itu bisa menyebabkan ukuran berkas halaman posting tersebut menjadi besar. Imbasnya bisa memperberat loading. Jadi sebisa mungkin, kita lebih selektif dalam membalas komentar yang masuk :)
Firefox 3.6.7 | Windows 7
Masalah komentar blog, saya sering menyamakannya dengan dunia nyata, mas. Pada saat kita membuka kotak komentar, berarti kita memang siap berinteraksi. Dan dalam berinteraksi, tidak semua yg berbicara sesuai keinginan kita.
Saya malah menjadikannya ajang latihan menghadapi berbagai macam sifat dan karakter, yang akan meningkatkan kemampuan interpersonal relationship kita.
Google Chrome 6.0.472.53 | Windows XP
@suarakelana, komentar yang sangat bagus Pak. Saya setuju. Anggap saja latihan menghadapi berbagai karakter ya kalau begitu. Dari situ, kemampuan diri kita dalam merespon berbagai kondisi bisa terlatih dengan baik.
Google Chrome Frame 4.0 | Windows XP
Bro Aldy,
Tapi kerjaan saya bukan hanya ‘itu’. :D
Opera Mini 4.2.14912 | J2ME/MIDP Device
Iskandaria,
saya masih bingung, mau pasang gravatar seperti apa. Untuk sementara nggak pa pa jadi MONSTER, G :(
Firefox 3.6.8 | Windows 7
Mas Iskandar, Fluff atau scam dalam komentar menurut saya wajar saja. Kita tidak bisa mendikte pengomentar, karena mereka memiliki otoritas, sama seperti admin memiliki otoritas untuk tidak menyetujui komentar yang masuk.
Google Chrome 6.0.408.1 | Windows XP
@Aldy, iya Pak Aldy. Saya juga menganggap keduanya sebagai sesuatu yang wajar saja. Kalau semua komentar berbobot atau sempurna, kita sebagai pemilik blog bakalan pusing kayaknya :)
Google Chrome 6.0.472.53 | Windows XP
@Aldy, Fluff cukup sulit didefinisikan. Kalau scam/spam jelas dapat merugikan. Itu saja.
Firefox 4.0b4 | Windows XP
@ardianzzz, soalnya untuk mengukur fluff lebih banyak menggunakan parameter kualitatif kan?
Firefox 3.0.19 | Windows XP
hahahahaaa gravatarku monster :(
Google Chrome 6.0.408.1 | Windows XP
@indam, makanya, bikin dong avatar pribadi di gravatar, biar gambarnya nggak muncul monster lagi. Atau kayaknya suka yang default monster nih (*keren juga sih*).
Google Chrome 6.0.472.53 | Windows XP
@iskandaria, tes reply anyone wp thread comment.
Firefox 3.0.19 | Windows XP
nggak bisa berkomentar apa-apa.
semoga pilihan ardianzzz, yang terbaik baginya dan kita semua.
Firefox 3.6.8 | Windows 7
@indam, Sabar dulu bro, kita lihat hasilnya.
Google Chrome 6.0.472.53 | Windows XP
Oh ya, sebagai catatan. Pemindahan kolom komentar tersebut hanya sekedar eksperimen. Jadi ada kemungkinan saya membuak lagi kolom komentar. :)
Firefox 3.6 | Windows XP
@ardianzzz, eksperimen juga dengan facebook
Google Chrome 6.0.472.53 | Windows XP
@Gus Ikhwan, Tidak perlu, karena yang disediakan oleh facebook memeng telah berupa kotak komentar, kurang menarik saya rasa.
Internet Explorer 9.0 | Windows 7
@ardianzzz, Ach…ternyata aku juga dijadikan kelinci percobaan :(
Google Chrome 6.0.472.53 | Windows XP
@aldy~PF, Hahaha, maaf pak Aldy. Saya biasa “menggunakan” manusia sebagai kelinci percobaan dalam beberapa materi kuliah.
Mungkin Pak Aldy pernah mendengar istilah 7 tools, uji sensoris dsb?
Firefox 3.6.8 | Windows 7
@ardianzzz, Hahahaaa…. jadi masuk dalam kategori itu juga? nggak apa deh, asal tidak dimasukan dalam kategori Fluff-per aja.
Google Chrome 6.0.408.1 | Windows XP
@ardianzzz, sepertinya nggak bakalan lama tuh eksperimennya kalo boleh saya tebak :lol:
Google Chrome 5.0.375.127 | Windows XP
Saya menjadikan kolom komentar sebagai tolak ukur seberapa menarik tulisan saya untuk dibaca, tanpa memperhatikan hal – hal yang dianggap ‘merugikan’ diatas. Tapi kadang – kadang saya perhatikan juga. :)
Firefox 3.6.6 | Windows XP
saya juga begitu Mas, apalagi komentar saya diblog ArdianZzZ via @twitter tidak masuk-masuk.
Google Chrome 6.0.401.1 | Windows XP
Thanks tanggapannya :)
Begini pendapat saya, ketika kita memberikan komentar yang bagus pada sebuah blog — kontribusi konten — kira-kira siapa yang berhak atas komentar tersebut? Yup, benar! pemilik bloglah yang memiliki kuasa penuh atasnya. Pemilik blog berhak menyunting atau bahakan menghapusnya sesuka hati.
Jika bertanya kenapa, jawabannya adalah karena komentar anda begitu berharga. Anda berhak atas tulisan anda. Dengan memberikan komentar via media sosial, kita memiliki beberapa keuntungan yang tidak bisa diberikan oleh media blog biasa. Antara lain:
1. Tidak ada komentar yang bersifat anonim, dan pemberi komentar dipastikan adalah manusia.
2. Penggunaan media sosial yang populer seperti twitter & facebook cukup potensial, dan mudah digunakan. Dengan asumsi sebagian besar netizen pasti memilikinya di era web 2.0 ini.
3. Pemberi komentar memiliki hak atas komentarnya, tentu saja tergantung dari term of service dari media sosial yang digunakan.
4. dsb
Memang masih banyak kelemahannya, tetapi melihat dari perkembangan media sosial dan teknologi web saat ini saya rasa cukup baik diimplementasikan.
Meskipun tidak tertampil di blog, tetapi diskusi via twitter tentang tulisan tersebut sebenarnya sudah cukup panjang. Tentu saja bersifat lebih personal dengan komunikasi dan penyampaian informasi yang lebih baik. :)
Google Chrome 6.0.401.1 | Windows XP
@ardianzzz, Tenang, saya bukan pembajak konten, saya juga akan bertanggunjawab terhadap komentar yang telah masuk terdahulu. :)
Internet Explorer 8.0 | Windows XP
@ardianzzz, Mengenai scam ini, gimana memfilternya ya, kalau komentarnya menggunakan twitter? :razz: :mrgreen:
Google Chrome 6.0.472.41 | Windows XP
@ganda, Tidak ada filter, ambil asumsi saja tidak ada yang mau memfollow spammer/scammer.
Dengan Twitter identitas pengomentar terjamin keasliannya, disini etika menjadi scam filter terbaik yang pernah ada. :D
Internet Explorer 8.0 | Windows XP
@ardianzzz, Di dunia programming, assumption is really prohibited. :D
Klo masalah etika, kembali ke nurani masing-masing. :D
Google Chrome 5.0.375.125 | GNU/Linux
@ganda, hehe. Asumsi tidak berlaku ya di dunia pemrograman. Wong main algoritma (urutan logis untuk menyelesaikan masalah). Kasarnya, bahasa program tidak mengenal asumsi. Maaf kalau analogi saya keliru. (*tapi asumsi kan juga menggunakan logika ya*)
Internet Explorer 8.0 | Windows XP
@iskandaria, Hohoho… only a bad/newbie programmer thinking an assumption. :D In this real world, don’t ever make any arbitrarily assumption, especially a bad assumption. If you work under a software company, and you do it, be prepared to get fired.
Internet Explorer 9.0 | Windows 7
@ganda, jika sampai pada taraf itu, masalahnya, masukan saja komentarnya kedalam kerangkeng spam. Bila perlu tandai semua komentar melalui jejaring sosial sebagai spam :D
Internet Explorer 8.0 | Windows XP
@aldy~PF, Harus ada algoritma khusus lagi.
Firefox 3.6.8 | Windows 7
@ganda, You can do that, just a simple script :D
Google Chrome 5.0.375.127 | Windows 7
@ardianzzz, Satu hal menarik dari komentar via twitter atau FB, komentator bisa menghapus komentarnya. Semua netizen pasti punya dosa mengeluarkan komentar-komentar buruk, menyenangkan sekali jika itu semua bisa di-undo.
Internet Explorer 9.0 | Windows 7
@Jeprie, Mas Japri, pada dasarnya komentar melalui twitter atau jaringan sosial lanya hanyalah tautan. Pemilik blog bila melongo jika suatu komentar melalui jejaring sosial ditanggapai.
Google Chrome 6.0.472.53 | Windows XP
@ardianzzz, Aku mau comment blog Mas ardian koq ga bisa2 ya? Memang account twitter ku aku proteksi, tapi setelah aku buka juga tetap ga’ bisa! Apa harus follow dulu ya?
*Maaf Mas Is… OOT, Jadi kalau ada SATPAM. Aku ga’ ditegur lagi :D
Firefox 3.6.9 | Arch Linux
@Padly,
[Di luar topik] Satpam itu juga pekerjaan mulia. Kalau diketik SATPAM berarti dibaca ‘s a t p a m’ atau memang bermaksud meneriaki seseorang!? :P :D
Ardianzzz,
Twitter sedang memperbarui otentifikasi aplikasi pihak ketiga. Itu salah satu alasan ‘dibekukannya’ komentar via Twitter itu?
Google Chrome 6.0.472.53 | Windows XP
@dani, saya berharap bukan karena itu alasan mas Ardian membekukan komentar via Twitter :lol:
Google Chrome 5.0.375.125 | GNU/Linux
@ardianzzz, kalau alasannya 3 poin itu, saya cukup setuju. Namun terkait kuotasi berikut ini :
Lebih personal maksudnya lebih bebas berkicau/berceloteh ya? Soalnya ada kata ‘komunikasi’ pada lanjutannya :) Masalah penyampaian informasi yang lebih baik, saya masih kurang begitu jelas maksudnya. Apa itu artinya muatan komentar via twitter tersebut lebih berbobot daripada jika via media kolom komentar blog? Atau bagaimana ya? Kalau informasinya (muatan komentarnya) lebih baik karena disaring/dimoderasi dulu, saya tidak heran sih.
Google Chrome 6.0.472.53 | Windows XP
@iskandaria, Ya, komunikasi menjadi lebih bebas itu maksudnya.
@Mas Jeprie, forgiving adalah salah satu unsur dari UX desain yang baik. hal ini dapat terjadi karena pengomentar memiliki hak penuh atas komentarnya.
@Padly, Tidak harus follow. Saya menampilkan feed pencarian dengan parameter ShortURL, mungkin ada yang kurang lengkap.
Saya tetap memilih twitter dan bukan Facebook. ;)
Opera 10.61 | Windows XP
Jadi ngeri nih mo komentar di sini. Jadi SCAM ato fluff entar ya :D
Google Chrome 5.0.375.125 | GNU/Linux
@Erdien, jangan ngeri dong Pak. Tulisan di atas sama sekali TIDAK menyiratkan bahwa saya anti komentar scam dan fluff :)
Firefox 3.6.8 | Windows Vista
saat seseorang menulis komentar, faktor emosi berperan sangat penting, kalau lagi emosi kurang baik, mungkin isi komentar jadi kurang bagus.
Firefox 3.6.8 | Windows XP
kalu untuk menanggapi komentar tidak semua saya tanggapi, apalagi yang hanya lewat saja, tapi pertanyaan bisa membuat saya terpacu untuk menjawab, yang terpenting bagi blog saya jangan beriklan dan jangan menautkan link yang menuju.
Firefox 3.6.8 | Windows XP
Yah, mungkin memang karena itu pula Mas ardi menutup komentarnya. Kata beliau juga, malas memerangi spam :D
Tapi siapa tahu mas Is, suatu hari nanti eksperimen mas ardi bisa jdi sebuah Trend di kalangan narablog dan mas Is pun jadi lebih aktif di social media, social media cukup seru koq mas, banyak ilmu juga di social media itu :mrgreen:
Kalau untuk scam dan fluff, rasanya sangat tidak mungkin bisa dihindari y mas.
Bahkan mungkin komentar satrya skr juga bisa dianggap Fluff :D
Google Chrome 5.0.375.125 | GNU/Linux
@satrya, positifnya, siapa tahu jadi mendorong saya untuk aktif di sosial media ya kalau begitu. Penasaran juga ingin menjajal twitter. Sebenarnya saya sudah punya akun sih di twitter, cuma belum ada dorongan saja untuk aktif di situ.
Firefox 3.6 | Windows XP
@iskandaria, saya pikir textpattern sangat sulit sekali ditembus oleh Robot Spam, namun bisa ditembus oleh manusia yang nyepam, soal twitter sebenarnya itu ide yang uniqe dan original, tapi bagaimana menyikapi dengan 140 karakter. Saya masih jarang juga aktif di sosial media takutnya ntar malah keasyikan di sosial media dan menganak tirikan blog
mungkin kalau blognya masih baru dan belum punya banyak komentar di setiap entry postnya kita sebaiknya merespon semua, bagaimanapun komentar adalah nafas seorang narablog guna memacu untuk tetap semangat ngeblog
kalau menanggapi komentar seputar tutorial, seperti di blognya pak aldy saya sering menimbrung komentar yangb telah ada, takutnya ntar dikira OOT