Mengenali Kalimat Opini pada Tulisan Blog
Blog sebagai media penyampaian informasi tentunya tidak bisa lepas dari unsur opini. Walau sering dikaitkan dengan kesan personal dan subjektif, tidak semua kalimat dalam tulisan blog tergolong sebagai opini. Ada kalanya juga berupa fakta atau sesuatu yang mengandung kebenaran mutlak.
Nah, sebagai pembaca, kita harus jeli dalam membedakan mana muatan opini dan mana yang bukan. Tujuannya apa? Tak lain agar kita tidak menelan mentah-mentah begitu saja apa yang tertulis. Menganggap sebuah kalimat sebagai kebenaran — padahal cuma opini — bisa berakibat fatal.
Bagaimana mengenali kalimat opini dalam tulisan blog?
Kalimat bermuatan opini biasanya mengandung kata-kata yang menekankan bahwa pernyataan tersebut bukanlah kebenaran mutlak. Bingung? Baiklah, berikut ini beberapa contoh kata atau gabungan kata yang biasanya digunakan untuk memberi muatan opini pada sebuah kalimat :
- Sepertinya.
- Mungkin.
- Menurut saya.
- Bagi saya.
- Hemat saya.
- Bisa jadi.
- Kira-kira.
- Hampir bisa dipastikan.
- Kelihatannya.
- … dan lain sebagainya (silakan Anda tambahkan sendiri).
Sejauh apa sebuah opini bisa dijadikan rujukan atau acuan?
Saya berpendapat — sepanjang opini tersebut dibangun/disusun berdasarkan hasil pengamatan, pertimbangan, dan atau penelitian yang matang — ia layak menjadi acuan. Opini yang seperti itu bisa dianggap sudah mendekati kebenaran mutlak.
Di dalam dunia akademis — kita tahu bahwa untuk membuat sebuah kesimpulan, tesis, dan sejenisnya — harus melalui serangkaian metodologi ilmiah. Jadi tidak sembarangan beropini atau mengambil kesimpulan begitu saja.
Syarat lain agar sebuah opini layak dijadikan acuan yakni memenuhi unsur kelogisan. Dalam arti, opini tersebut lahir dari serangkaian proses berpikir logis yang mengandung hubungan sebab-akibat (klausal). Syarat berikutnya yaitu didasarkan atas fakta yang akurat. Jadi, pendapat atau kesimpulan yang diambil tidak terkesan sembarangan atau tanpa dasar yang kuat.
Akhirnya, bisa saya simpulkan bahwa kita masih tetap bisa menjadikan opini dalam tulisan blog sebagai rujukan/acuan. Dengan catatan, ia mengandung salah satu dari beberapa syarat yang telah saya uraikan di atas.
Bagaimana menurut Anda?
Tautan Cepat »» Beri Komentar | Baca Ulang Posting
Baca Komentar | Daftar Posting Terbaru
Tambah KafeGue di Facebook
Ikuti KafeGue di Twitter
Menu Lainnya »» Atas » Beranda » Arsip » Profil » Kontak » Bawah
Langganan KafeGue.com melalui Email
Langganan melalui Pembaca RSS



Opera Mini 4.2.14912 | J2ME/MIDP Device
Mas is…
Kok saya gk bisa komen dari ponsel sih…
Google Chrome 5.0.375.99 | GNU/Linux
@Sandro, emang suka gitu mas. Gak tau kenapa. Mungkin karena IP-nya pernah dipakai spammer :(
Firefox 3.0.19 | Windows XP
percaya 100 % kepada opini adalah kesalahan besar, dalam hal apapun itu
yang terbaik adalah mengumpulkan banyak opini untuk membuat summary yang mendekati benar
sepakat gak?
jadi, jangan jadikan referensi saatu opini. tapi bacalah 100 opini, maka kesimpulan terbaiklah yang akan didapat
salam akrab dari burung hantu.
Google Chrome 5.0.375.99 | GNU/Linux
@Denuzz BURUNG HANTU,
Yups! Sepakat banget mas. Lebih banyak sumber opini lebih bagus untuk menarik kesimpulan yang mendekati kebenaran. Salam akrab kembali untuk si burung hantu.
Firefox 3.6.8 | Windows XP
Postingan kali ini seru buanget nih :)
Blog dan Opini memang soulmate kali ya. Di tulisan Mas Is yang ini juga banyak opininya, Misal kalimat :
Opini memang tak baik diterima begitu aza tanpa filter. Walaupun dalam sekejap mata, otak kita tentu berpikir merespon opini tersebut. Misalnya ketika mendapati ide yang dilontarkan seseorang, otak kita merespon “Bagus juga ni idenya”, atau “Ah idenya kurang greget”. Nah di situ keputusan mencaplok ato melempar sebuah opini akan terjadi. Tapi tentunya pemikiran yang lebih cermat lagi itu yang lebih baik :D
Google Chrome 5.0.375.99 | GNU/Linux
@Erdien,
Mantap deh komentar Pak Erdien. Saya nggak ada komen selain mengamini ^_^
Google Chrome 5.0.375.99 | GNU/Linux
@Fadly Muin,
Komentar mas Faldy ternyata bisa memberikan sudut pandang baru bagi tulisan singkat saya di atas. Kuncinya memang pada bagaimana opini tersebut dibangun dan apakah ia mampu memperkaya serta mempertajam sudut pandang kita (terhadap suatu persoalan).
@suarakelana,
Wah, kebiasaan Pak Hery agak beda ternyata. Tapi bagus juga jika begitu. Dengan demikian, kita jadi tidak mudah menelan begitu saja apa-apa yang kita baca pada posting blog. Makasih pendapatnya Pak.
Firefox 3.6.7 | Windows 7
pada saat saya membaca tulisan di blog, saya sadar betul bahwa saya bukan sedang membaca jurnal ilmiah. Kecuali jika blog tsb memang memuat jurnal ilmiah hasil penelitian.
Jika sudah demikian, maka gak penting lagi apakah itu opini atau bukan, karena tingkat kepercayaannya terserah saya dan dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan yg saya miliki.
Suatu opini pribadi bisa saja saya anggap benar atau rujukan pakar bisa saya abaikan (bahkan pernyataan pakar pun dibatasi kondisi tertentu yg menjadi asumsi2nya).
Google Chrome 5.0.375.126 | Windows 7
saya suka dengan tulisan Opini mas. sebabnya?
tulisan opini itu mengandung unsur “merangkum” secara menyeluruh data-data yang mendukung pendapatnya. semakin kuat, semakin jelas dan semakin obyektif unsur yg di petik, maka semakin tajam pendapat yang diajukan.
walau memang, unsur subyektif dari penggagas opini patut di kritisi.artinya kita juga harus jeli melihatnya.
tulisan opini selain bernuansa subyektif, ada sisi positifnya. yaitu memperkaya dan mempertajam cara pandang kita terhadap suatu persoalan.
tulisan opini biasanya ada kepentingan yang memang ingin di capai. positif atau negatif, tergantung pada opini apa yang sedang di tajamkan.
Firefox 3.6.8 | Windows XP
Kisi-kisi ini juga bisa dipakai untuk melihat apakah artikel tertentu dari sebuah blog, mengandung kutipan, full kopi-paste atau bukan. Termasuk postingan berita yang diformat menjadi seolah-olah artikel original.
Lazimnya ada kata pengantar dan tambahan kesimpulan. Bagi saya sih oke, tapi kalau unsur kutipannya terlalu dominan, misalnya kutipan 5 alinea dan kalimat pengantar serta penutup hanya se-iprit qe3 kok sayang banget, melewatkan kesempatan berlatih menulis dengan gaya bahasa dan sudut pandang sendiri via blog. :)
Belum lagi kalau terbawa ego sehingga tidak mencantumkan link dan sumber artikel/kutipan. Di karya tulis akademik, beginian bisa jadi masalah besar qe3 Wuadhuh…
Google Chrome 5.0.375.99 | GNU/Linux
@inung gunarba,
Hehe. Memang sayang banget kalo punya blog, tapi nggak dimanfaatin buat berlatih menulis dan cuma jadi ajang nulis contekan. Semoga kita nggak begitu ya.
Firefox 3.6.8 | Windows XP
Saya mungkin salah satu blogger yang sering menggunakan kalimat opini seperti diatas. Lihat saja komentar saya ini, kata kedua adalah “mungkin”.
Saya memang lebih suka “main aman” dengan menggunakan kata-kata seperti diatas.
Google Chrome 5.0.375.99 | GNU/Linux
@imadewira,
Saya juga sering coba main aman kok bli. Biar tulisan kita tidak mudah untuk disangkal..hehe
Google Chrome 5.0.375.126 | Windows XP
Blogging Essentials: Why Do People Care What You Have To Say? — Brian Cray
Google Chrome 5.0.375.99 | GNU/Linux
@ArdianZzZ,
Maksudnya apa nih? Kayaknya nyindir tulisan saya di atas yang masih agak bertele-tele kan? :D Saya sudah baca referensiya. Thx. Langsung saya edit deh tulisan di atas.
Google Chrome 5.0.375.126 | Windows XP
@iskandaria, Menyindir bagian mana Mas Is?
Mengenai kalimat opini mungkin bisa dipastikan bahwa sebagian besar blog berisi tulisan yang sifatnya opini & — kita tahu, blog adalah media yang cukup ideal untuk menulis opini.
Melihat tulisan Brian Cray tersebut mungkin banyak yang bisa diambil manfaatnya. Kita tahu, semua orang dapat menulis blog dengan mudah. Dari sisi user, mungkin kita berpikir mengapa peduli? mengapa percaya dengan opini orang?
Pengelola blog tentu berpikir, bagaimana agar dipedulikan, bagaimana agar dipercaya oleh pembaca. Sepertinya akan lahir interaksi yang berkualitas di sana… :)
Oh ya, saya tidak suka menyindir Mas Is. Jangan salah sangka. :)
Google Chrome 5.0.375.99 | GNU/Linux
@ArdianZzZ,
Mengapa peduli? Mengapa percaya dengan opini orang? Salah satunya bisa jadi karena kekuatan sang penulis dalam menuangkan/menguraikan opininya. Penyebab lain, mungkin seringkali malah karena kharisma + popularitas sang penulis. Kayak kita yang suka mengidolakan para blogger bule itu..hehehe.
Kirain nyindir. Soalnya dalam tulisan Brian Cray tersebut ada yang berisi jumlah kata dalam satu kalimat ^_^
Opera Mini 4.2.13918 | J2ME/MIDP Device
Mas Is..
Sekedar pemberitahuan,kemarin kira2 jam 22.30 WIB blognya mas sempat error.
Google Chrome 5.0.375.99 | GNU/Linux
@Sandro Yosua,
Error dalam bentuk bagaimana ya kalo boleh saya tahu mas?
Safari 5.0.1 | Windows Vista
Sebenarnya opini juga akan melibatkan tesa dan antitesa-nya masing-masing, seperti sebuah hipotesa, maka opini-opini yang saling mendukung biasanya banyak mendapatkan perhatian.
IceWeasel 3.5.8 | GNU/Linux
@Cahya,
Sepertinya yang baku itu tesis, antitesis, hipotesis.
@Iskandaria,
Menurut saya, sederhana saja, lebih baik tetap membiasakan kritis, 'lateral thinking', berpikir terbuka, bukan menjurus paranoid, dan sejenisnya. Hasil riset pun masih bisa dibantah.
Google Chrome 5.0.375.126 | Windows 7
@Cahya, nah, iya.
saya setuju sama pendapat ini mas.
bahkan sintesis-pun, masih membuka peluang untuk menciptakan anti tesis baru. begitu seterusnya…
Google Chrome 5.0.375.99 | GNU/Linux
@Cahya,
Ya, antitesis bisa saja lahir dari sebuah tesis. Terutama jika ada kondisi yang berbeda atau tidak bisa terikat pada suatu kesimpulan yang kaku.
@Dani,
Hasil riset pun masih bisa dibantah dengan hasil riset lain atau dengan menyodorkan fakta yang bertolak belakang.
@Fadly Muin,
Setuju banget mas. Anti tesis bisa lahir jika tesis yang ada masih terbuka untuk dicari kelemahannya.
Firefox 3.6.8 | Windows 7
Menurut saya itu sebuah resiko. Salah sendiri percaya dengan opini :lol:.
Saya menempatkannya pada tempat yang berbeda, jika hasil riset atau hasil ujicoba saya cenderung percaya atau bila saya mampu, saya akan mencobanya sendiri.
Jika opini, saya akan melihatnya dari sudut pandang saya sendiri dan mencoba mencari tahu dari sumber lain.
Google Chrome 5.0.375.126 | Windows 7
@Aldy, tetap mas Aldy, opini itu bersifat longgar. masih banyak ruang untuk membantah atau menolak pendapat yang cenderung menggiring pembaca kearah “setuju danmanggut-manggut”
(*sori nyerobot..:D )
Google Chrome 5.0.375.99 | GNU/Linux
@Fadly Muin dan Aldy,
Intinya harus senantiasa tetap kritis kan ketika menyimak opini? Manggut-manggut bisa saja terjadi ketika kita merasa tulisan tersebut bikin speechless (bener nggak ya istilahnya) :lol:
Google Chrome 5.0.375.99 | GNU/Linux
@Agus Siswoyo,
Mungkin karena kharisma sang blogger senior dan juga popularitasnya ya mas. Itu memang bisa menghalangi berpikir kritis ketika membaca tulisan maupun komentar mereka. Saya setuju dengan solusi yang mas Agus berikan itu. Menulislah selugas mungkin agar tidak menimbulkan interpretasi ganda. Dan akan lebih baik lagi jika didukung oleh fakta yang akurat atau disusun berdasarkan alur berpikir yang logis plus sistematis. Nah, jadi pusing kan? hehehe
Opera 10.60 | Windows XP
Celakanya, banyak newbie (meski tidak semuanya) menelan mentah-mentah komentar blogger senior. Sehingga apapun yang dikatakan tak ubahnya sebuah dogma yang membutakan mata hati mereka.
Saya setuju jika komentar rujukan harus logis. Tapi batas antara logis dan non logis jadi semakin kabur akibat tersilaukan kharisma seseorang.
Langkah paling bijak adalah dengan berhati-hati mengeluarkan pernyataan yang berpotensi menimbulkan miskomunikasi dan misinterpretasi dengan blogger lainnya. Posting yang bagus mas, patut dilanjutkan di artikel berikutnya.
Google Chrome 5.0.375.126 | Windows 7
@Agus Siswoyo, Kalau saya lebih suka menelan mentah-mentah pendapat blogger senior yang memang berreputasi tinggi. Pendapatnya pasti lebih bagus dari pendapat saya yang baru mulai ngeblog. Saya tidak begitu suka berpikir panjang apalagi harus menganalisa setiap pendapat.
Prinsip saya sederhana, meniru yang sudah sukses.
Google Chrome 5.0.375.126 | Windows 7
@Jeprie, ciri-ciri pembelajar mas :)
Google Chrome 5.0.375.126 | Windows 7
@Agus Siswoyo, teliti sebelum membeli, berlaku juga di ranah blogging. “cermati sebelum mengamini”
Google Chrome 5.0.375.99 | GNU/Linux
@Jeprie,
Kerendahan hati seperti itu memang bagus sih untuk perkembangan diri kita. Kalau hakikatnya pada “meniru yang sudah sukses”, saya juga setuju mas.
@Fadly Muin,
Salah satu ciri pembelajar yaitu rendah hati dan kemauan untuk belajar pada yang sudah lebih dahulu. Makasih sudah menambahkan mas. Saya suka dengan istilah ‘cermat sebelum mengamini’ :)