Mengapa Tidak Mengaktifkan Fitur Komentar Bersarang?
Pertanyaan di atas kadang menghinggapi benak saya ketika menemukan blog yang tidak terdapat fitur berbalas komentar (bahasa populernya reply). Pada mesin blog WordPress, fitur ini seringkali disebut sebagai threaded-comment atau nested-comment. Ada pula yang menyebutnya sebagai komentar berulir atau komentar bergalur.
Untuk platform blogspot, saya bisa memaklumi jika tidak ada fitur ini. Jadi, mari kita lupakan sejenak blogspot jika berbicara masalah komentar bersarang ini!
Ada beberapa hal yang membuat pemilik blog tidak mengaktifkan sistem komentar bersarang pada blognya. Di antaranya :
- Blognya tidak dimaksudkan sebagai ajang bersosialisasi maupun ajang diskusi. Jadi fitur komentar bersarang tentunya kurang berguna.
- Blognya lebih membidik pengunjung dari mesin pencari, yang notabene kebanyakan bukan blogger dan tidak ada motif bersosialisasi atau berdiskusi via komentar. Jadi buat apa mengaktifkan fitur yang mubazir?
- Blognya dihosting dengan kapasitas penyimpanan (disk-space) yang terbatas, sehingga mau tak mau pemilik blog harus membatasi kemungkinan masuknya komentar. Bukankah jumlah komentar ikut berperan dalam menyita ruang penyimpanan di server? So, dengan tidak adanya fitur reply, komentar yang masuk bisa dikurangi.
- Pemilik blog ingin lebih meminimalisir kemungkinan masuknya komentar asal lewat atau SPAM. Mengapa? Sistem komentar bersarang acapkali menimbulkan peluang untuk timbulnya komentar yang mungkin dianggap tidak penting (bagi pemilik blog).
- Pemilik blog ingin lebih mempercepat loading blognya. Tak bisa dipungkiri, sistem komentar bersarang (yang umumnya menggunakan javascript) ikut berperan dalam memperlama loading halaman blog, walau tidak begitu signifikan.
- Pemilik blog adalah seorang fakir-bandwidth, sehingga dengan sedikit terpaksa harus memangkas fitur-fitur yang kurang penting (demi lebih mudah mengakses blognya sendiri). Dengan mengurangi fitur yang terpasang, tentunya ukuran berkas halaman yang dimuat akan ikut berkurang. Efeknya, volume data yang diunduh pun jadi lebih kecil. Penghematan bandwidth bukan?
- Pemilik blog beranggapan bahwa sistem komentar bersarang berpotensi membuat alur komentar menjadi tidak logis, terutama dari sisi urutan komentar berdasarkan waktu pensubmitan. Komentar terbaru bisa saja muncul di urutan atas oleh karenanya. Jadi terkesan campur-aduk. Tapi apakah ini cukup mengganggu?
Dari beberapa alasan di atas, poin terakhir sepertinya sering dijadikan argumen untuk menonaktifkan fitur komentar bersarang. Benar sekali. Dengan tidak adanya fitur reply (berbalas komentar), maka alur komentar akan lebih teratur dan logis urutannya.
Kekurangannya, saya seringkali merasa kesulitan ketika ingin merespon/menanggapi komentar yang telah masuk. Terlebih lagi ketika harus menggulung halaman agak tinggi untuk menyimak isi komentar yang akan saya tanggapi. Belum lagi ketika menyimak tanggapan pemilik blog maupun pengunjung yang merespon beberapa komentar di atasnya. Harus scroll bolak-balik! (agar bisa memahami tanggapan tersebut untuk isi komentar yang seperti apa).
Jadi sebaiknya bagaimana?
Kita kembalikan saja fungsi utama fitur komentar bersarang. Pilihan untuk menggunakannya atau tidak, silakan pertimbangkan dari berbagai sisi.
Anda punya pendapat lain soal ini?
Menu Lainnya »» Atas » Depan » Arsip » Kontak » Bawah
Add KafeGue di Facebook
Follow KafeGue di Twitter
Tautan Cepat »» Beri Komentar | Baca Ulang Posting
Baca Komentar | Menuju Posting Terbaru
Posting Terkait :
- Kenapa Harus Takut Kehilangan Pembaca Blog Anda?
- Maaf, Saya Bukan Master, Blogger Terkenal atau Gila Trafik
- Di Balik Larangan Penggunaan Floating Script pada TOS IdBlogNetwork
- 3 Kriteria Penilaian Saya untuk Merekomendasikan Blog yang Layak Jadi Publisher IBN
- Facebook Jadi Penyumbang Trafik Terbesar Blog Ini untuk Referrer Site


WordPress 3.0.2
[...] lebih kurang 3 bulanan menghilangkan ciri khas komentar bersarang di blog ini, saya putuskan untuk kembali menampilkannya. Ciri tersebut adalah efek menjorok ke [...]
Opera 10.60 | Windows XP
Kalo saya sendiri pindah ke blog dengan falafform WP pada awalnya justru karena ketertarikan terhadap sistem komenter bersarang itu, tampak lebih komunikatif :D
Google Chrome 6.0.408.1 | Windows XP
@Erdien, betul Pak. Sangat mendukung interaksi antara pembaca dan penulis. Bahkan dengan sesama pembaca ^_^
Firefox 3.6.8 | Ubuntu 10.04
Yang saya tidak suka dari fitur komentar bersarang: kalau terlalu banyak orang yang me-reply suatu komentar, kemudian me-reply komentar lagi di bawahnya, dst, bikin kotaknya jadi tambah tipis aja mas, hehe, tapi kalau saya sih tetep pake aja deh :p
Firefox 4.0b1 | Windows XP
@afriandi, tambah menciut ya ukuran kotaknya..haha. Saya ngalamin yang kayak gitu sebelum menghilangkan garis tepi pada tampilan komentar blog ini.
Firefox 3.6.8 | Windows XP
Saya merasa agak aneh jika ada blogger yang sengaja membatasi jumlah komentar di blognya, tapi ya itu adalah hak pemilik blog sendiri.
Firefox 4.0b1 | Windows XP
@belajar investasi,
Lama gak nongol nih mas Amsi? Ke mana aja?
@Fadly Muin,
Syukurlah jika tidak bermasalah mas.
@ismail,
Jangan berlebihan memuji mas. Biasa saja ^_^
WordPress 3.0.1
[...] mungkin sedikit menyulitkan bagi yang ingin mengenali/mengikuti alur komentar bersarang (threaded-comment). Ini memang sulit saya hindari ketika menghilangkan 3 detail di atas. Efeknya, [...]
Firefox 3.6.8 | Windows XP
Luaarrr biasa blog mas is ini, selalu membuat perbedaan yang mencolok dengan blogger2 lainnya.
Salut dah
Google Chrome 5.0.375.126 | Windows 7
hmm, mas is…
diskusinya sudah lebih dari cukup untuk memahami maksud artikel ini.
saya sendiri merasa nyaman dan terbantu dengan sistem balas komentar .
Opera 10.60 | Windows XP
Interaksi dengan pembaca bagi saya adalah sebuah kewajiban. So, nested comment adalah syarat utama blog saya. Dari acara becanda ringan akan membentuk komunitas yang berpeluang membangun teamwork bagus di masa depan. Itulah yang membedakan mesin dengan manusia.
Saya pernah sengaja nggak balas comment selama seminggu (dengan thread comment tetap diaktifkan) hasilnya sungguh mengecewakan. Merasa bukan blogger beneran. Hehehe…
Firefox 3.6.8 | Arch Linux
@Agus Siswoyo,
Halo Mas Agus. Saya mungkin salah satu yang bukan narablog beneran. :)
Firefox 4.0b1 | Windows XP
@Agus Siswoyo,
Blog mas Agus kan tipikal blog sosialisasi dan diskusi. Jadi sepertinya fitur nested-comment wajib ada. Merasa bukan blogger beneran karena cuek dengan komentar yang masuk? hehe. Yang jelas ada rasa nggak enak yach.
@dani,
Ah, bli Dani rada sensitif nih ^_^
Firefox 3.6.8 | Arch Linux
@iskandaria,
Tidak sedang datang bulan kok. Jadi, tidak sensitif. Saya hampir memercayai pendapat bahwa blog harus punya kolom komentar untuk penanda interaktivitas. :D
Firefox 3.6.6 | Windows XP
@dani, narabolog jadi-jadian kah?…he..he..hee…
Firefox 3.6.3 | Windows XP
@Agus Siswoyo, yup, saya sepakat dengan Mas Agus, karena alasan itu pula saya migrasi ke WordPress setelah lama di Blogger. atas saran kang Khalid Abdullah yang merasa nyaman untuk dapat saling membalas komentar. tentunya nest nya harus dibatasi agar tak terlalu ngelantur…
salam
Firefox 3.6.8 | Windows XP
ikut nimbrung saja mas Is,
akhir-akhir ini saya kurang begitu menyukai fitur komentar berulir, tentu saja bukan berarti setelan seperti itu terus ‘kurang bagus’.
Penyajian kuotasi mungkin bisa disederhanakan dengan meringkas pertanyaan dari si-penanya, Lost time untuk naik turun halaman oleh pembaca (bukan dari sisi admin tentunya) demi memahami alur diskusi. Megenai Aksesibilitas, Mas Dani lebih paham dan sering berkomentar dejavu hehe :D.
Soal DISQUS dan JS (JavaScript), belum ada komentar ah, belum punya ilmunya.
Tambah lagi ketika mengakses web/blog dengan peramban ponsel, komentar bersarang terkadang sering merepotkan, terakhir dengan peramban purba — IE6, layout hasil modifikasi tema yang sampai ‘habis-habisan’, komentar berulir akan terlihat acak-acakan. ah sudah lah, ini hanya celoteh dari saya. Kembalikan pada narablog masing-masing.
Tanya jawab pelajaran bahasa Indonesia saat Sekolah Dasar dulu sepertinya menarik :D.
Opera 10.61 | Windows Vista
@agung,
Oh … iya, saya lupa IE6 masih belum sepenuhnya RIP.
Ya, peramban telepon adalah kendala besar bagi sistem komentar yang terlalu banyak script tambahannya.
Firefox 4.0b1 | Windows XP
@agung,
Celotehannya sangat berharga kok bagi saya mas. Salah satu kekurangan fitur reply yaitu sulit digunakan pada peramban ponsel. Saya juga merasakan. IE6? Saya sudah lama meninggalkannya mas. Mungkin sudah sejak 3 tahun silam.
@Cahya,
Saya mendoakan agar IE6 segera wafat dan beristirahat dengan tenang di alam sana :lol:
Firefox 3.6.8 | Windows XP
benar banget tuh mas, komentar bersarang hanya akan memboroskan bandwith dan memberikan ruang yg lebih besar untuk para spammer di blog kita mas :)
Firefox 3.6.7 | Windows 7
Kalau untuk tujuan diskusi, point no. 7 saya kira tidak menjadi masalah. Pembaca lain menjadi lebih mudah mengikuti materi diskusi, karena komentar berkelompok sesuai topik.
Kalau masalah loading blog, saya memang merasakan beratnya pengaruh komentar di blog saya. Mungkin karena theme arjuna itu. Ada terpikir untuk ganti theme, barangkali saja lebih ringan.
Firefox 4.0b1 | Windows XP
@suarakelana,
Soal komentar berkelompok sesuai topik, memang mempermudah mengikuti alur diskusi. Itu juga saya rasakan. Namun jia levelnya terlalu banyak, kadang bikin pusing juga sih Pak. Tapi level maksimal di blog ini masih saya toleransi sampai 7 ^_^
Firefox 3.6.8 | Ubuntu 10.04
Menggunakan komentar bersarang, memang harus konsisten, jika mau menggunakannya harus digunakan terus menerus, kalau mengunakan sistem copot pasang, urutannya menjadi tidak logis.
Ada yang menyarankan sebaiknya nested tidak lebih dari 3, karena setelah itu terkesan kurang baik.
Back to admin, bagusnya bagaimana.
sebelum memutuskan menggunakan komentar bersarang, tentu sudah dipertimbangkan baik buruknya, tidak ada alasan mempersoalnyakan dibelakang hari :D
Firefox 3.6.8 | Arch Linux
Pak Aldy, Mas Jeprie,
Senada dengan komentar Mas Ardianzzz di atas. Disqus bisa mengelompokkan/mengurutkan komentar lebih baik. Tidak perlu terbatas 3 level yang makin menjorok ke dalam.
Selebihnya Disqus & IntenseDebate s*cks!
Firefox 4.0b1 | Windows XP
@aldy,
Soal konsisten, saya setuju. Harusnya memang dipertimbangkan matang-matang sejak awal ingin memasang atau tidak. Saya sejak masih di blogspot suka ngiri dengan blog wordpress karena adanya fitur reply ini. Jadi semenjak mencoba WP, saya langsung mencobanya. Sejauh ini belum ada pikiran untuk menonaktifkannya. Kecuali kalau mengurangi jumlah level maksimalnya. Sementara ini saya batasi maksimal 7 level. Bisa saja nanti saya kurangi.
@dani,
Saya masih kurang begitu menyukai tampilan Disqus. Kecuali kalau bisa disetting via CSS ^_^
Opera 10.61 | Windows Vista
@dani,
Duh yang alergi belum sembuh-sembuh, awas pilek terus tiap malam :p.
Firefox 3.6.8 | Arch Linux
@Cahya,
ya Disqus memang s*cks. Situ sudah lihat sendiri buktinya kan? :P
Firefox 3.6.8 | openSUSE
@dani, kita #merdeka dengan pilihan kita, right or wrong is my country, ha ha ha… :D.
Firefox 3.6.8 | Ubuntu 10.04
@dani, Hahaha…kayaknya bli Dani sedikit alergi dengan disqus, mungkin bisa disarankan kepada pembuat disqus, agar setelannya bisa via CSS untuk memberikan sedikit kebebasan kepada pengguna.
Google Chrome 5.0.375.126 | Windows 7
Setahu saya, fitur reply memang maksimal 3. Lebih dari itu memusingkan.
Harus diketahui pemilik blog bahwa sekali mengaktifkan fitur reply, kita harus konsisten. Kalau balik ke normal nanti kacau semuanya.
Firefox 4.0b1 | Windows XP
@Jeprie,
Insya Allah saya akan konsisten mempertahankan fitur reply mas. Soal jumlah level maksimal, sejauh ini saya masih menyetelnya hingga 7 level. Masih ingin merangkul/mempermudah mereka yang ingin saling berbalas komentar soalnya.
Firefox 3.5.7 | Windows XP
@iskandaria, 7 level!!!, apa nggak kebanyakan Mas?
Firefox 4.0b1 | Windows XP
@Rudy Azhar, memang rada kebanyakan sih. Namun pada kondisi tertentu (jika isi diskusi berkualitas), level sampai 7 ini sangat membantu bagi saya.
Firefox 3.6.8 | Arch Linux
@iskandaria,
Saya setuju Mas Jeprie, kalau level bergalurnya agak dibatasi. Tapi, jika garis tepi kanan kiri disamarkan/dihilangkan, aneh ngga ya?
Google Chrome 5.0.375.99 | GNU/Linux
@dani, sekarang sudah saya hilangkan garis tepinya. Apa kelihatan aneh gak ya? (malah balik nanya).
Google Chrome 5.0.375.126 | Windows 7
@iskandaria, kalau saya suka desain komentar di Psdtuts.
Garis tipis di sebelah komentar menuntun mata dalam mencari alur komentar.
Firefox 4.0b1 | Windows XP
@Jeprie, maksudnya garis pada tepi ya mas? Saya malah menghapusnya sekarang. Alasannya bisa dibaca pada posting terbaru saya.
Firefox 3.6.6 | Windows XP
@iskandaria, jadi nggak kelihatan komentar mana yang direply Mas. Sebaiknya dibuat sedikit efek biar jelas kalau itu adalah reply.
Opera 10.61 | GNU/Linux
@Rudy Azhar, sebenarnya masih ada efek menjorok sedikit sih Bang. Jadi masih bisa diraba reply-nya. Tapi kalau terlalu menjorok, bagi saya akan mengurangi estetika tampilan secara keseluruhan.
Firefox 3.6.8 | Ubuntu 10.04
@Rudy Azhar, Nggak mas, di personfield.web.id malah saya buat 10, jarang juga yang menggunakanya sampai sebanyak itu, paling-paling PHP Ninja saja :D
Safari 5.0 | Windows XP
Kalau menurut saya, kalau alasannya adalah poin satu sampai poin 6, saya lebih memilih menonaktifkan komentar.
Firefox 4.0b1 | Windows XP
@ganda,
Poin 1 sampai 6 memang terkesan tidak butuh interaksi. Namun jika masih ada hasrat untuk menerima respon atas tulisan, membuka kolom komentar tanpa fitur reply/bersarang masih jadi pilihan cukup bijak. Kecuali blognya memang murni sekadar untuk dibaca ^_^
Internet Explorer 8.0 | Windows XP
@iskandaria, Bisa pakai halaman contact seperti milik Bli Dani. Hehehehe.. Bli Dani inspired everyone. Bisa dibuat tuh bukunya. Hahahaha…
Opera 10.61 | Windows Vista
@ganda,
launching soon, “
Dani - the shadow blogger" - Best Seller. Ha ha... *kabur*.Internet Explorer 8.0 | Windows XP
@Cahya, Klo udah jadi best seller, bisa di jadikan film tuh. Siapa tahu bisa mengalahkan filmnya si Raditya Dika. :D
Firefox 3.6.8 | openSUSE
@ganda, Mas Ganda, tergantung juga sih, mungkin Bli Dani akan bersedia kalau filmnya bisa diakses melalui screen reader dan valid XHTML 1.0 strict, ha ha… *kabur* :D.
Safari 5.0 | Windows XP
@Cahya, Hahahaha… Hebat dong. Film Avatar saja belum bisa diakses dari screen reader. :D Bisa jadi pelopor. :D
Firefox 3.6.8 | Arch Linux
@ganda,
Jangan percayai/contoh saya [serius]! Saya munafik kok! :P
Internet Explorer 8.0 | Windows XP
@dani, Jangan-jangan komentar ini pun munafik? Jadi kebalikannya. Hahahahaha…
Google Chrome 5.0.375.99 | GNU/Linux
@cahya dan ganda, waduh..bapak-bapak pada ngegosip semua (saya ikutan denger aja ya).
Safari 5.0 | Windows XP
@iskandaria, Aih. Masih anak muda begini, dikatain Bapak2. Hufft…
Opera 10.61 | Windows Vista
@ganda, @Mas Is,
Kalau saya sih sudah beruban, walau sampai sekarang masih suka baca komik dan nonton anime :D.
(Maaf ngegosip). Btw, saya pingin WordPress dengan sistem defaultnya setidaknya mengadaptasi ECHO atau DISQUS :D.
Safari 5.0 | Windows XP
@iskandaria & Bli Cahya,
Saya juga suka baca manga dan nonton anime.
Kalau bisa lebih baik dari pada itu. :D
Firefox 3.6.6 | Windows XP
alasan utama saya migrasi ke wordpress ya karena di wp ada fitur ini, kalau nggak diaktifkan ya, sebaiknya saya tetap di blogspot aja…he..he..he…
Firefox 4.0b1 | Windows XP
@Rudy Azhar,
Hehe. Alasan yang bagus Bang. Saya juga mulai mencintai WordPress karena ada fitur reply ini. Jadi nggak repot-repot lagi kalau mau balas komentar.
Firefox 3.6.8 | Arch Linux
@Rudy Azhar,
Blogspot kan bisa pakai Disqus, Bang. Hanya saja jika skrip Disqus nonaktif, sistem komentar bawaan Blogspot juga mati. Tidak seperti di WordPress.
Firefox 3.6.6 | Windows XP
@dani, betul Bli, dulu sempat saya gunakan layanan disqus untuk blogspot saya tapi karena dulu masih berpikiran tentang SEO-SEO-an maka Disqus saya lepas kembali karena menurut para pakar SEO (katanya…) tidak baik menggunakan layanan pihak ketiga.
Firefox 3.6.8 | Windows 7
Kalau saya lebh suka mengaktifkan fitur Reply. Alasannya karena artikel di blog saya kebanyakan bersifat tutorial. Kemungkinan ada pertanyaan yang muncul dari pembaca. Jadi lebih memudahkan untuk berdiskusi, tanpa harus scroll untuk melihat komentar sebelumnya.
Firefox 3.6.8 | Arch Linux
@Dunia Komputer,
Fitur ‘reply’ memang memudahkan untuk tidak menggulung ke atas melihat komentar sebelumnya. Tapi ada cara lain yang lebih sederhana & aksesibel untuk juga tidak repot menggulung ke atas saat berdiskusi.
Menurut saya, tetap saja, komentar bersarang atau tidak, pengguna berikutnya sebaiknya tetap bisa mengikuti alur diskusi.
Di WordPress.com (saya tahu dari Cahya & sudah mencobanya sendiri saat diskusi di tulisan Mas agung48.wordpress.com), tanggapan via surel otomatis akan menyertakan cuplikan konten atau kuotasi pertanyaan sebelumnya. Sehingga mudah memahami alur diskusi via surel. Tapi, di kolom komentar blog, kuotasi itu tidak dimunculkan.
[dejavu; saran saya untuk jadi pengomentar yang aksesibel sesuai yang pernah saya tulis itu] Jadi, sebaiknya cara menjawab pertanyaan dengan sedikit mengulang bagian yang ditanyakan akan lebih penting. Sehingga sama-sama tidak perlu melihat komentar sebelum/di atasnya. Tanpa memandang memakai komentar bergalur atau tidak. Kembalikan ke pelajaran dasar bahasa Indonesia (cara menjawab yang baik). :)
Firefox 4.0b1 | Windows XP
@dani,
Kalau begitu, jika ingin merespon komentar sebelumnya (terutama yang agak jauh di atas) sepertinya kita wajib mengutip isi komentar yang akan kita tanggapi tersebut. Itu solusi yang paling pas menurut saya. Di blog mas Ardian yang tidak mendukung komentar bersarang, sebenarnya ada fitur ‘quote’ kan? Jadi sangat membantu bagi yang ingin berbalas komentar di sana.
Firefox 3.6.8 | Arch Linux
@iskandaria,
Tidak harus membalas menyertakan kuotasi. Karena tidak semua kolom komentar mengizinkan pemakaian tag (X)HTML. Dengan kata-kata sendiri kan bisa diringkas.
Opera 10.61 | Windows Vista
@dani,
Bli Dani, rasanya kuotasi hanya disertakan dalam notifikasi jika threaded comment di WordPress.com diaktifkan. Jika tidak, maka kuotasi yang disertakan adalah kuotasi dari konten blog, karena tanpa ada fitur reply, maka yang dianggap dikomentari adalah konten utama blog.
Firefox 3.6.8 | Arch Linux
@Cahya,
Ah ya, itu kelemahannya. Mestinya penggunanya tahu itu. Fitur kuotasi komentar sebelumnya hanya berfungsi jika sistem komentar bergalur aktif. Jadi, tetap lebih aman mengutip manual kan? :D
Firefox 3.6.8 | openSUSE
@dani, mengutip manual memang aman, tapi tidak ramah ruang di database, sepertinya semua ada harganya Bli.
WordPress.com mempertimbangkan sistem ini pasti karena karena habit mengutip manual bisa mengancam ruang server mereka :lol:.
Google Chrome 6.0.472.33 | Windows XP
Textapattern tidak mendukung komentar bersarang…
Tidak selamanya komentar bersarang bagus. Saya melihat, fitur tersebut hanya bagus sampai level 2 saja. Lebih dari itu justru membingungkan.
Mengenai scroll to top/bottom sama saja. Bahkan sistem yang biasa lebih nyama digunakan karena kita cenderung menggulung ke bawah saja.
Salah satu susunan komentar yang baik adalah DISQUS.
Firefox 3.6.2 | Windows 7
@ardianzzz, @iskandaria,
Sepertinya pengguna blogspot sebaiknya minggir dulu nih :) haha.
Tapi soal DISQUS, wajib gelar tikar ;)
Google Chrome 6.0.472.33 | Windows XP
@Blog Juragan, Ikut minggir…
hehe… tidak ada salahnya kotak komentar “dibunuh” saja… :F
Firefox 3.6.8 | Ubuntu 10.04
@ardianzzz, Apa dosanya si kotak komentar?
Internet Explorer 8.0 | Windows XP
@aldy, Setuju. Sekalian aja bunuh blognya, terus pindah ke twitter. :D
Google Chrome 5.0.375.126 | Windows XP
@ganda, 140 karakter? oh tidak! tumblr mungkin lebih baik :D
Opera 10.61 | Windows Vista
@ArdianZzZ,
tumblr…? Oh no… :D
Internet Explorer 8.0 | Windows XP
@Cahya, Blog. Oh yess.. Hahahaha…
Internet Explorer 8.0 | Windows XP
@ArdianZzZ, Hemat-hematlah anak muda. Hahahahahaha… :))
Google Chrome 5.0.375.126 | Windows XP
@ganda, Oh ya bro, sebenarnya ada rencana buat mindahin blog ke feedburner sekalian :D
Safari 5.0 | Windows XP
@ArdianZzZ, berarti blog sekarang di mati suri kan? :D
Firefox 3.5.3 | Windows XP
@ardianzzz, memiliki format komentar yang bisa nested/threaded? Karena dengan format komentar tersebut dimana setiap pengunjung bisa menempatkan komentar tepat dibawah komentar pada siapa komentar tersebut ditujukan, potensi untuk membuat suasana diskusi yang hidup jadi lebih mudah. Disqus lebih unggul dibanding IntenseDebate terutama karena hal Email replies-nya karena setiap ada komentar baru di blogmu, maka Disqus akan mengirimkan email notifikasi ke alamat email yang terdaftar di Disqus.
Firefox 4.0b1 | Windows XP
@Gus Ikhwan,
Makasih tambahan opininya Gus. Masih kangen dengan dunia blog nih kayaknya..
Google Chrome 6.0.472.33 | Windows XP
@ardianzzz, JS KIT juga bagus.
Firefox 4.0b1 | Windows XP
@dani,
Yang jadi kelebihan sistem komentar biasa (tanpa fitur reply) yaitu kemudahan tahu komentar terbaru. Itu jika malas login ke dashboard. Jelas saja, soalnya komentar terbaru pasti terletak paling bawah (atau paling atas pada setelan tertentu). Jika nonaktif javascript, kebanyakan sistem komentar bersarang memang jadi tidak berfungsi. Itu jika ingin menggunakannya. Namun kalau sebatas menampilkan yang sudah masuk, saat JS dimatikan pun tetap bisa tampil. Hari gini masih suka nonaktif JS? ^_^
@ardianzzz,
Blog mas Ardian kan ada fitur ‘quote’. Jadi masih bisa mengikuti/memahami isi komentar balasan untuk komentar yang bagaimana isinya. Dengan catatan, pembalas/penanggap mengutip isi komentar yang akan ditanggapi/dibalasnya ^_^
Saya baru sadar kalau saya belum pernah memanfaatkan fitur ‘quote’ itu untuk menimpali komentar narablog lainnya :lol:
Soal hanya bagus sampai 2 level saja, masuk akal sih. Terutama jika fungsinya hanya diinginkan untuk mempermudah merespon komentar yang masuk (selaku pemilik blog atau pada sisi admin). Namun jika ingin mempermudah narablog lain atau pengguna non admin yang ingin saling berbalas komentar, ada baiknya sedikit menambah level.
Soal DISQUS, kadang malah bikin berat loading.
Opera 10.61 | Windows Vista
@iskandaria,
Disqus memang berat, tapi ndak berat-berat amat kan. Tergantung setelannya.
Saya menyetel dengan unlimited threaded comment deep, jadi bisa di-reply sepuasnya sampai batas tak terbatas (enak kan). Dan agar urutan waktunya logis, saya atur sedemikian hingga tampilannya tetap flat, jadi seolah-olah tidak bersarang. Dan balasan komentar baru tetap ada di atas, terus disertakan script menuju komentar yang sebelumnya, sehingga bisa dilacak diskusinya dengan alur yang jelas, walau di situ nantinya ada ratusan atau ribuan komentar.
Karena itu saya memilih disqus, karena rapi, memungkinkan diskusi tak terbatas, menganut urutan waktu yang logis, dan dokumentasi yang jelas. Plus tentunya moderasi di mana saja, selama ada push email di tangan, sehingga diskusi tidak terputus.
Ini tidak dimiliki oleh sistem komentar bawaan WordPress.
Tapi yang memang, keunggulan ini harus dibayar dengan beban loading yang lebih lama.
Firefox 3.6.8 | Arch Linux
@iskandaria,
Masih. Saya masih suka menonaktifkan beberapa javascript. Minoritas memang.
Google Chrome 5.0.375.99 | GNU/Linux
@Cahya,
Simpulannya, masih sulit ya mencari sistem komentar yang benar-benar berpihak pada aksesibilitas dan usabilty sekaligus. Makasih atas sharingnya mas. Menambah wawasan saya soal Discus.
@dani,
Kasihan juga ya kaum minoritas. Seringkali kurang diperhatikan :)
Firefox 3.6.8 | openSUSE
@iskandaria, kurang lebihnya demikian Mas Is, hanya saja tiada gading yang tak retak, kini kembali kepada masing-masing narablog saja.
Firefox 3.6.8 | openSUSE
@dani, Tidak ada tirani mayoritas ataupun dominasi minoritas (apa kebalik ya?) … nah, pokoknya begitulah :P
Firefox 3.0.15 | Windows XP
@iskandaria, bukannya di wordpress juga sudah ada plugin yang menampilkan ‘quote’
Firefox 4.0b1 | Windows XP
@Gus Ikhwan, ada ya ternyata Gus. Saya gak tau sih.
Firefox 3.6.8 | Arch Linux
Mas Iskandaria,
Bisa dilihat dari banyak sisi untuk menilainya. Dari sisi: jika admin, pengunjung biasa, membalas satu komentar, membalas sekalian beberapa komentar, javascript nonaktif, langganan/tidak komentar terbaru via surel, kemudahan tahu komentar terbaru, … :)