Lucu banget! Menulis Tips Meningkatkan Keterbacaan Web, Tapi Webnya Sendiri Amburadul

webhosting Indonesia

Apa jadinya kalau kita cuma bisa menulis tanpa berusaha mempraktekkan sendiri saran yang kita tulis? Orang lain pun akan menilai kita bisanya cuma ngomong. Bisanya cuma pamer pengetahuan. Bisanya cuma ngasih tips. Bisanya cuma ngasih motivasi. Bisanya cuma memberi anjuran, tapi diri sendiri tidak melakukan.

Sebagai contoh, saya baru saja menemukan sebuah website yang berisi tulisan tentang tips meningkatkan keterbacaan website. Berikut ini cuplikan screenshot isi tulisannya.

cuplikan konten

contoh tampilan konten yang buruk

Lalu, apa sih yang salah atau kurang dari cuplikan postingan di atas?

  • Tidak ada spasi atau pemisah yang jelas antar paragrafnya.
    Ini penting agar tulisan tidak terkesan menumpuk dan melelahkan untuk dibaca.
  • Tidak memberi cetak tebal atau sekedar ukuran yang lebih besar pada font sub judul (sebenarnya cukup dengan menyettingnya sebagai heading 2 atau 3).
    Ini juga penting untuk memberi penegasan pada sub judul dan mempermudah scanning (pemindaian) oleh pembaca.
  • Tidak menandai awal setiap list sub judul sebagai ‘numbering’.
    Soalnya judul tulisan menggunakan angka. Maka sebaiknya di awal setiap sub judul juga menggunakan angka. Sebenarnya cukup disetting sebagai ‘list-numbering’ (dikombinasikan dengan pemakaian h2 atau h3 ).

Ups. Ternyata setelah saya teliti, situs/website yang memuat tulisan di atas sepertinya tergolong situs agregator yang memuat konten otomatis dari sumber lain. Melihat tata bahasanya, tulisan di atas adalah hasil translate (terjemahan) dari bahasa Inggris. Pantas saja agak aneh tata bahasanya ;)

Pertanyaannya, apakah pemilik situs-situs yang memuat konten otomatis tidak pernah memikirkan keterbacaan situs mereka? Ah, lagi-lagi trafik lebih diutamakan ketimbang masalah tipografi dan readability.

Kalau sudah begitu, jangan harap pengunjung bisa betah berlama-lama di situs Anda. Untungnya saya terbiasa memanfaatkan ekstensi readability untuk membunuh desain web yang ‘acak-kadut’ (walaupun masih tidak bisa memecah tampilan paragraf yang menumpuk).

Oya, mohon maaf. Kolom komentar sengaja saya tutup untuk tulisan ini karena menurut saya tidak perlu dikomentari.

Maaf, karena alasan tertentu, kotak komentar ditutup!

  1. [...] ada yang terkesan mubazir? Padahal ‘whitespace’ yang cukup di kiri-kanan konten bisa meningkatkan keterbacaan, terutama pada konten yang mayoritas berupa teks atau kumpulan blok [...]

  2. [...] rasanya tidak bisa dihindari. Terlebih lagi jika menyangkut topik seputar tipografi, readability (keterbacaan web), dan kebergunaan web secara umum. Persentase bahasan mengenai topik tersebut rasa-rasanya masih [...]

  3. [...] Lucu banget! Menulis Tips Meningkatkan Keterbacaan Web, Tapi Webnya Sendiri Amburadul [...]

  4. [...] yang ke sekian kalinya saya menulis tentang masalah keterbacaan web, terutama yang berkaitan dengan tipografi. Mungkin terasa ‘de javu’ (klise) dan sudah [...]

Blogroll :