<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>KafeGue.com</title>
	<atom:link href="http://kafegue.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kafegue.com</link>
	<description>Seputar Blogging - Tips Ngeblog - Tips Menulis - Tips SEO - Tips Wordpress</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Sep 2010 22:02:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Tentang Tulisan Berkualitas</title>
		<link>http://kafegue.com/tentang-tulisan-berkualitas/</link>
		<comments>http://kafegue.com/tentang-tulisan-berkualitas/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Sep 2010 00:24:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iskandaria</dc:creator>
				<category><![CDATA[tips menulis]]></category>
		<category><![CDATA[kiat menulis artikel]]></category>
		<category><![CDATA[konten blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kafegue.com/?p=2005</guid>
		<description><![CDATA[Ya, kita semua masih belajar menulis yang baik. Termasuk saya. Tapi bukan berarti keharusan meng-‘update’ blog membuat kita kurang memperhatikan kualitas tulisan. Hmm, kualitas? Bukankah itu relatif? Betul sekali. Tapi serelatif apa pun sifatnya, tetap ada ukuran universal untuk menilai kualitas sebuah tulisan atau posting. Kalau begitu, ada beban baru dong, yaitu beban harus memperhatikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ya, kita semua masih belajar menulis yang baik. Termasuk saya. Tapi bukan berarti keharusan meng-‘update’ blog membuat kita kurang memperhatikan kualitas tulisan. Hmm, kualitas? Bukankah itu relatif? Betul sekali. Tapi serelatif apa pun sifatnya, tetap ada <strong>ukuran universal</strong> untuk menilai kualitas sebuah tulisan atau posting.</p>
<p>Kalau begitu, ada beban baru dong, yaitu beban harus memperhatikan kualitas tulisan? Ya, memang tidak ada paksaan ataupun sanksi jika Anda mengabaikan atau tidak pernah mau peduli dengan apa yang disebut sebagai kualitas. <q><em>Peduli amat dengan kualitas? Yang penting gue happy dan enjoy</em></q>. Saya cukup setuju dengan pemikiran tersebut.<span id="more-2005"></span></p>
<p class="c10">Namun tentunya kita sepakat untuk menjadi lebh baik lagi, bukan? Ketiadaan niat untuk terus memperbaiki mutu tulisan menandakan ketiadaan semangat untuk terus meng-‘upgrade’ kapasitas diri. Jika demikian, tidak heran jika tidak ada perkembangan berarti yang bisa kita hasilkan, walau [mungkin] sudah ratusan kali menulis.</p>
<p>Ah, sepertinya bicara kualitas tulisan terkesan sebagai sesuatu yang terlalu idealis atau tinggi. Mungkin banyak di antara Anda berpikir demikian. Seringnya karena pemahaman ‘berkualitas’ yang terlalu sempurna. Padahal, makna berkualitas pada tulisan itu <strong>tidak setinggi yang kita bayangkan</strong>. Tak pula selalu berkaitan dengan subjektivitas pembaca.</p>
<p>Tulisan sudah layak dianggap berkualitas jika :</p>
<ol>
<li>Antar kalimat dalam satu paragraf terasa mengalir/nyambung.</li>
<li>Antar paragraf dalam satu posting terasa saling berkaitan.</li>
<li>Kata-kata dan gaya bahasa yang digunakan mudah dipahami target pembaca.</li>
<li>Fokus pada satu objek pembahasan (tidak bercabang atau meluas).</li>
</ol>
<h3>Lantas, apakah dengan demikian kita harus memikirkan masalah kualitas ketika menulis?</h3>
<p>Tentu saja tidak perlu. Yang terpenting, fokuskan saja pada pemilihan kata yang tepat, gaya bahasa yang sekiranya mudah dipahami target pembaca, dan yang tak kalah penting yaitu berusaha merangkai antar kalimat dan paragraf sebaik mungkin.</p>
<p>Sebisanya, jangan sampai ada kata atau kalimat yang terkesan mubazir. Makna mubazir di sini yaitu jika kata/kalimat tersebut dihilangkan, maka tidak akan mengurangi kejelasan pesan yang hendak kita sampaikan dalam tulisan.</p>
<p class="c10">Coba ingat kembali pelajaran bahasa Indonesia yang pernah kita pelajari di bangku sekolah. Ada ide pokok, ada ide tambahan. Ada <strong>kalimat utama</strong>, ada pula <strong>kalimat penjelas</strong>. Nah, yang sering kita lakukan [mungkin] terlalu banyak menulis kalimat penjelas. Hasilnya, kesan bertele-tele!</p>
<p>Namun, memangkas banyak kalimat penjelas juga berpotensi mengurangi mutu/nilai tulisan kita. Ada kalanya beberapa kalimat penjelas terasa sangat dibutuhkan untuk menerangkan (menguraikan lebih lanjut) sebuah kalimat utama atau ide pokok yang hendak kita sampaikan. Tanpanya, mungkin ide pokok atau kalimat utama tersebut akan terasa ‘menggantung’.</p>
<h3>Jadi sebaiknya bagaimana?</h3>
<p>Teruslah menulis dan berusaha membedakan antara kalimat utama dan kalimat penjelas. Kuncinya terletak di situ! Kalau sudah bisa membedakan keduanya, lanjutkan dengan terus berlatih menulis kalimat penjelas yang efektif. Akhirnya, tajamkanlah insting Anda dalam membedakan mana kalimat penjelas yang lebih penting dan mana yang kurang penting.</p>
<p>Ya, antar sesama kalimat penjelas pun masih ada kasta/tingkatan kepentingannya. Jika sudah mampu membedakannya, tulisan berkualitas pun tidak sulit untuk kita hasilkan.</p>
<p>Sederhana, bukan? Atau malah terkesan rumit? <img src='http://kafegue.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<h3>Referensi yang layak dibaca terkait tulisan berkualitas :</h3>
<ul>
<li><a href="http://kafe28.blogspot.com/2010/01/5-tips-membuat-artikel-anda-terasa-unik.html">Tips Membuat Artikel Anda Terasa Unik dan Mengesankan</a> (kafe28.blogspot.com)</li>
<li><a href="http://gnupi.com/cara-membuat-artikel-blog-berkualitas/">Cara Membuat Artikel Blog Berkualitas untuk Pemula</a> (gnupi.com)</li>
<li><a href="http://liudin.com/2010/07/12/bagaimana-menulis-artikel-berkualitas/">Bagaimana Menulis Artikel Berkualitas</a> (liudin.com)</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kafegue.com/tentang-tulisan-berkualitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>42</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyikapi Scam dan Fluff pada Kolom Komentar Blog</title>
		<link>http://kafegue.com/menyikapi-scam-dan-fluff-pada-kolom-komentar-blog/</link>
		<comments>http://kafegue.com/menyikapi-scam-dan-fluff-pada-kolom-komentar-blog/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Sep 2010 10:10:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iskandaria</dc:creator>
				<category><![CDATA[tips ngeblog]]></category>
		<category><![CDATA[fluff]]></category>
		<category><![CDATA[komentar blog]]></category>
		<category><![CDATA[permasalahan blog]]></category>
		<category><![CDATA[scam]]></category>
		<category><![CDATA[web usability]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kafegue.com/?p=1994</guid>
		<description><![CDATA[SCAM pada kolom komentar adalah muatan, materi, atau isi komentar yang cenderung menyesatkan. Penyebabnya karena kurang objektif, bertentangan dengan fakta yang ada, atau terkesan benar (padahal keliru). Intinya bisa menyesatkan pembaca. Contoh konkretnya, ada seseorang yang sudah merasa punya pengetahuan cukup mumpuni di bidang tertentu, lalu ia berbagi ilmunya tersebut lewat komentar pada posting yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SCAM pada kolom komentar adalah muatan, materi, atau isi komentar yang cenderung menyesatkan. Penyebabnya karena kurang objektif, bertentangan dengan fakta yang ada, atau terkesan benar (padahal keliru). Intinya bisa menyesatkan pembaca.<span id="more-1994"></span></p>
<p>Contoh konkretnya, ada seseorang yang sudah merasa punya pengetahuan cukup mumpuni di bidang tertentu, lalu ia berbagi ilmunya tersebut lewat komentar pada posting yang terkait bidang itu. Sayangnya, materi komentar yang ia tulis tersebut cenderung ‘berbau’ HOAX. Jadi bisa menyesatkan pembaca yang kurang jeli atau kurang kritis. Termasuk pembaca awam yang langsung saja ‘mengamininya’ (tanpa melalui proses bernalar atau cek &#38; ricek lebih lanjut).</p>
<p>Itu bisa digolongkan sebagai <strong>komentar SCAM</strong>. Bagaimana kita menyikapinya?</p>
<p>Sebagai pemilik blog tempat komentar tersebut masuk, setidaknya kita perlu sedikit ‘meluruskan’ muatan komentar bernada HOAX tersebut. Dengan catatan, jika kita punya pengetahuan yang lebih luas dan objektif terkait materinya. Jika tidak? Serahkan saja pada pengomentar lain untuk meluruskannya. Itulah fungsi kolom komentar pada blog!</p>
<p class="c10">Adanya kolom komentar juga memungkinkan pembaca mengoreksi, mengkritisi, mempertanyakan, menyetujui, menolak, serta melengkapi muatan posting. Kecuali posting tersebut memang sudah dirasa sempurna dan tidak membutuhkan respon atau tanggapan dari pembaca. Jika demikian kondisinya, silakan menutup kolom komentar! (pada posting tersebut).</p>
<p>Capek menanggapi komentar SCAM? Mengapa tidak berusaha menikmati saja aktivitas Anda dalam membalas/menanggapi komentar? Jadikan saja itu sebagai latihan mengasah otak dan keterampilan bernalar Anda. Mungkin dari situ Anda bisa menjadikannya sebagai ide untuk tulisan Anda berikutnya. Bahkan pengetahuan Anda jadi bisa lebih matang dan lebih mantap lewat aktivitas merespon komentar SCAM tersebut.</p>
<p><strong>Sambil menyelam minum air. Dobel manfaat!</strong></p>
<p>Atau mungkin karena merasa jenuh barangkali? Kalau itu alasannya, sangat manusiawi. Pada titik tertentu, ada kalanya narablog diserang rasa jenuh dalam menanggapi komentar-komentar yang masuk pada posting blognya.</p>
<p>Solusi terbaiknya menurut saya &#8212; tulis saja di akhir posting &#8212; bahwa <q>saya kemungkinan tidak akan menanggapi komentar yang masuk pada tulisan di atas</q>. Selesai masalahnya! Dengan demikian, pembaca yang ingin berkomentar bisa maklum nantinya jika komentar mereka tidak Anda tanggapi. Tidak ada pula beban bagi Anda sebagai pemilik blog atau penulis posting.</p>
<p>Atau tulis saja di atas kotak komentar &#8212; bahwa <q>silakan memberikan komentar, namun tidak semua komentar akan saya tanggapi</q> &#8212; atau <q>silakan berkomentar, namun mohon maaf karena saya tidak akan menanggapi komentar Anda</q>. Beres juga masalahnya!</p>
<h3>Lalu, bagaimana menyikapi FLUFF pada kolom komentar blog?</h3>
<p><a href="http://ardianzzz.com/fluff">&#8216;Fluff&#8217;</a> adalah sesuatu yang kurang penting, sia-sia, dan seharusnya tidak perlu ditulis (baik ketika menulis posting maupun komentar).</p>
<p>Jika &#8216;fluff&#8217; tersebut berada pada kolom komentar blog, bentuknya bisa beragam. Bisa berwujud komentar salam perkenalan belaka, saling menimpali antar pengomentar (yang tidak ada kaitannya dengan topik posting), basa-basi belaka, atau bahkan pertanyaan yang tidak pada tempatnya. Bisa pula berupa mengulangi yang sebenarnya sudah ada pada posting, sehingga terkesan sia-sia (tidak ada pengayaan baru). Pun bisa berbentuk pengayaan yang terlalu bertele-tele.</p>
<p>Masalahnya, kita hampir tidak bisa mencegah/mengurangi kemunculan bentuk-bentuk &#8216;fluff&#8217; tersebut. Bahkan bisa dibilang mustahil untuk menghapuskannya. Kecuali dengan menutup kolom komentar! Namun apakah itu solusi yang bijak dan menyelesaikan masalah?</p>
<p>Jika &#8216;fluff&#8217; tersebut dianggap mengurangi nilai (<em>value</em>) tulisan yang telah kita posting, saya kurang setuju. Kalaupun dirasa mengganggu, kita bisa menghapusnya. Tak perlu merasa sungkan jika memang ingin menegakkan aturan pada blog kita sendiri. <q>Ini blog saya, Anda harus tunduk pada aturan yang saya buat!</q> [Titik]. <strong>Selesai masalahnya!</strong></p>
<p>Hapus saja komentar bernada &#8216;fluff&#8217; yang derajatnya dirasa paling rendah dan memang sangat mengganggu kenyamanan pembaca komentar (maupun kenyamanan Anda sebagai pemilik blog). Dengan demikian, Anda sudah mengedukasi pembaca blog Anda agar bisa lebih baik lagi dalam berkomentar.</p>
<p class="c10">Saya pribadi pun mengakui pernah beberapa kali (atau bahkan mungkin cukup sering) memberikan komentar bernada &#8216;fluff&#8217;. Bahkan yang berbau SCAM juga! Kadang saya juga terkesan sok tahu dan bahkan kurang nyambung.</p>
<p>So, tulisan ini tidak semata bermaksud kontra terhadap tulisan Mas Ardian Trimurti tentang <a href="http://ardianzzz.com/membunuh-komentar-blog">Membunuh Komentar Blog</a>. &#8216;Peace&#8217; ya Mas! Silakan dilanjutkan eksperimennya. Sepertinya menarik juga memberikan <strong>pengalaman baru</strong> bagi pengguna <img src='http://kafegue.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Tulisan ini cuma wujud pemikiran seorang narablog yang merasa kehilangan salah satu saluran berdiskusinya. Jujur saja, saya kurang aktif di sosial media dan juga malas untuk berinteraksi melalui email (jika untuk mengomentari posting blog).</p>
<p>Bagi saya, cukuplah blog dan sosial media dengan keunikannya masing-masing. Jika sudah dicampuradukkan, ciri khasnya jadi hilang! <img src='http://kafegue.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kafegue.com/menyikapi-scam-dan-fluff-pada-kolom-komentar-blog/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>43</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konsep Desain Halaman Depan Blog</title>
		<link>http://kafegue.com/konsep-desain-halaman-depan-blog/</link>
		<comments>http://kafegue.com/konsep-desain-halaman-depan-blog/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Aug 2010 17:40:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iskandaria</dc:creator>
				<category><![CDATA[desain web]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen blog]]></category>
		<category><![CDATA[web usability]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kafegue.com/?p=1969</guid>
		<description><![CDATA[Desain standar halaman depan blog kebanyakan saya lihat menampilkan penggalan beberapa posting terbaru (yang umumnya disetel menggunakan read-more). Tidak ada yang salah dengan konsep desain tersebut. Namun masalahnya, seringkali terjadi redundansi (pengulangan) tautan yang sama, terutama pada theme/template yang terdiri dari 2 atau 3 kolom. Jika sudah ada penggalan tautan posting terbaru (beserta cuplikan paragraf [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Desain standar halaman depan blog kebanyakan saya lihat menampilkan penggalan beberapa posting terbaru (yang umumnya disetel menggunakan <em>read-more</em>). Tidak ada yang salah dengan konsep desain tersebut. Namun masalahnya, seringkali terjadi redundansi (pengulangan) tautan yang sama, terutama pada theme/template yang terdiri dari 2 atau 3 kolom.<span id="more-1969"></span></p>
<p>Jika sudah ada penggalan tautan posting terbaru (beserta cuplikan paragraf pertamanya), maka menu navigasi posting terbaru atau <em>recent post</em> yang terletak pada sidebar jadi terkesan mubazir. Jika ditinjau dari sisi kebergunaan (<em>usability</em>), mana yang lebih lebih berguna, apakah penggalan posting dengan <em>read-more</em> atau <a href="http://kafegue.com/meningkatkan-keterbacaan-list-link-pada-sidebar/">navigasi list posting</a> terbaru pada sidebar?</p>
<p>Bagaimana jika salah satu elemen tersebut dihilangkan saja agar tidak terjadi kesia-siaan? Apakah semua pengunjung punya kebiasaan menyimak cuplikan paragraf pertamanya dulu, baru kemudian memutuskan akan mengklik tautan posting terbaru tersebut atau tidak? Apakah cukup dengan menampilkan <strong>judul saja</strong> masih kurang berguna atau kurang menarik?</p>
<p>Mengutip salah satu tulisan di Dani Iswara .com tentang <a href="http://daniiswara.com/2010/06/pertanyaan-untuk-desain-blog-sederhana/">Pertanyaan untuk Desain Blog Sederhana</a> :</p>
<blockquote>
<p>Apakah akan menyajikan semuanya di laman? Mungkin akan memudahkan pengunjung untuk mengetahui keseluruhan konten. Memberi alternatif jalan masuk yang lebih beragam sesuai selera pengguna. Tapi berisiko pada ukuran berkas total yang harus diunduh.</p>
</blockquote>
<h3>Bagaimana konsep halaman depan (home) yang baik untuk blog?</h3>
<p>Menurut saya, setidaknya berpatokan pada 4 hal. Yakni :</p>
<ol>
<li>informatif,</li>
<li>efektif,</li>
<li>mudah diakses/dikenali, dan</li>
<li>memenuhi unsur kebergunaan.</li>
</ol>
<p>Silakan tafsirkan sendiri deskripsi masing-masing poin tersebut. Semoga tidak menjurus pada perdebatan tentang harus begini atau harus begitu. Setiap desain halaman depan pasti punya alasan tersendiri di sebaliknya.</p>
<h3>Bagaimana bagi narablog yang punya keterbatasan pengetahuan teknis untuk memodifikasi theme/template yang digunakannya?</h3>
<p>Tidak masalah. Solusi terbaiknya yaitu memilih theme/template dengan halaman depan yang paling sesuai selera masing-masing. Bisa juga dipilih yang paling unik (untuk tampilan halaman depannya). Cara lain, gunakan saja plugin yang bisa menampilkan widget/navigasi pada halaman tertentu saja (bagi pengguna WordPress).</p>
<p>Selalu ada jalan bagi yang memiliki keterbatasan teknis <img src='http://kafegue.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /></p>
<h3>Konsep halaman depan blog ini bagaimana?</h3>
<ul>
<li><strong>Untuk navigasi pada headernya</strong>, saya cuma menampilkan &#8216;jump-link&#8217; berupa skip to main content, skip to footer, dan tautan menuju daftar isi (arsip). Sedangkan tautan menuju halaman about dan kontak sengaja cuma saya tampilkan pada <em>single-post</em>. Alasannya, biarlah pengunjung membuka 2 menu tersebut karena penasaran/tertarik setelah membaca tulisan saya pada halaman <em>single-post</em>.</li>
<li><strong>Untuk navigasi lainnya</strong>, saya sengaja cuma menampilkan list 7 posting terbaru dan 7 posting acak pilihan. Biarlah dari situ pengunjung memutuskan akan menelusuri lebih lanjut atau tidak. Toh, jika tidak menemukan apa yang mereka cari, masih ada tautan daftar isi pada navigasi atas.</li>
<li><strong>Mengapa tidak ada kolom/kotak pencarian?</strong> Saya pikir, kotak pencarian umumnya dibutuhkan oleh pengunjung yang berasal dari mesin pencari. Dan umumnya mereka berada pada halaman posting (<em>single-post</em>). Jadi, kotak pencarian sengaja cuma saya tampilkan pada halaman posting untuk membantu menemukan konten.</li>
</ul>
<p>Efek dari <a href="http://kafegue.com/penyederhanaan-tampilan-blog-apa-dan-bagaimana/">penyederhanaan tampilan</a> halaman depan tersebut berimbas pada ukuran berkasnya yang cuma 5 Kb ketika saya akses dari ponsel (menggunakan Opera Mini dalam <em>full version</em> atau tampilan dekstop).</p>
<p>Kesimpulannya, konsep desain halaman depan blog tidak ada yang baku. Silakan disesuaikan dengan target pengunjung, tujuan utama ngeblog, serta kondisi mayoritas konten blog yang Anda miliki.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kafegue.com/konsep-desain-halaman-depan-blog/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>109</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Selalu Menyalahkan JavaScript!</title>
		<link>http://kafegue.com/jangan-selalu-menyalahkan-javascript/</link>
		<comments>http://kafegue.com/jangan-selalu-menyalahkan-javascript/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Aug 2010 15:22:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iskandaria</dc:creator>
				<category><![CDATA[seputar internet]]></category>
		<category><![CDATA[istilah web]]></category>
		<category><![CDATA[javascript]]></category>
		<category><![CDATA[loading blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kafegue.com/?p=1946</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini sebagai koreksi dan penjernih dari tulisan saya sebelumnya tentang blog yang sangat berat ketika digulung. Ya, jangan buru-buru menyalahkan banyaknya penggunaan script sebagai biang keladi atau tersangka utama. Terutama JavaScript. Bro Ganda Manurung berkata pada posting sebelumnya : @Zippy, Yakin? Saya belum yakin Javascript adalah masalah utamanya. Bisa jadi kecepatan inet pengguna, peramban [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan ini sebagai koreksi dan penjernih dari tulisan saya sebelumnya tentang <a href="http://kafegue.com/blog-ini-berat-sekali-dan-sudah-melampaui-batas/">blog yang sangat berat ketika digulung</a>. Ya, jangan buru-buru menyalahkan banyaknya penggunaan script sebagai biang keladi atau tersangka utama. Terutama JavaScript. Bro <a href="http://gandamanurung.com/">Ganda Manurung</a> berkata pada <a rel="nofollow" href="http://kafegue.com/blog-ini-berat-sekali-dan-sudah-melampaui-batas/comment-page-1/#comment-10284">posting sebelumnya</a> :<span id="more-1946"></span></p>
<blockquote><p>@Zippy, Yakin? Saya belum yakin Javascript adalah masalah utamanya. Bisa jadi kecepatan inet pengguna, peramban yang digunakan (udah buka berapa banyak tab?), kemampuan komputer yang digunakan, dan mungkin hosting blog tersebut memang ngadat <img src='http://kafegue.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Pliss.. Jangan salahkan si Javascript. Dia tak berdosa dan tak salah apa-apa. <img src='http://kafegue.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  Mungkin si Javascript sedih mendengar orang2 selalu mengeluhkan dirinya.</p></blockquote>
<p>Jika saya simpulkan, sebenarnya ada banyak faktor yang turut mempengaruhi proses pemuatan (<em>loading</em>) halaman situs ketika kita akses. Di antara faktor tersebut yaitu :</p>
<ol>
<li><strong>Jenis koneksi yang digunakan user</strong>.<br />
Apakah koneksi menggunakan kabel atau nirkabel? Jelas beda kecepatannya, bukan? (dengan kabel relatif jauh lebih cepat). Jika menggunakan modem wireless, jenis sinyal jaringan apa yang tertangkap? <abbr title="General Packet Radio Service">GPRS</abbr>, <abbr title="3rd Generation">3G</abbr>, <abbr title="3,5rd Generation">3,5G</abbr>, <abbr title="High-Speed Downlink Packet Access">HSDPA</abbr>, <abbr title="High-Speed Uplink Packet Access ">HSUPA</abbr>, <abbr title="Enhanced Data rates for GSM Evolution">EDGE</abbr>, atau <abbr title="Evolution, Data Only">EVDO</abbr>?</li>
<li><strong>Kondisi koneksi/jaringan saat user berselancar</strong>.<br />
Apakah pada jam-jam sibuk? Apakah pada saat trafik padat, sedang, atau sepi?</li>
<li><strong>Kondisi perangkat jaringan ketika sedang berselancar</strong>.<br />
Misalnya pemancar berupa <abbr title="Base Transceiver Station">BTS</abbr> (jika menggunakan koneksi &#8216;mobile broadband&#8217;) atau pemancar sinyal dari &#8216;access-point&#8217; (jika menggunakan koneksi wireless atau hot spot area). Berapa besar kapasitas &#8216;handle&#8217;-nya?</li>
<li><strong>Kualitas dan kondisi perangkat keras yang digunakan untuk berselancar</strong>.<br />
Misalnya spesifikasi komputer pengguna. Berapa Mb atau berapa Gb RAM-nya? (memori internal). Berapa space harddisk-nya? Apa merk dan versi prosesornya? Berapa kecepatannya dalam Mhz atau Ghz? Menggunakan modem merk apa dan berapa speed maksimal yang mampu disalurkannya?</li>
<li><strong>Kualitas dan kondisi server tujuan saat user berselancar</strong>.<br />
Apakah servernya merupakan server sendiri atau dipakai bersama-sama? Apa saja spesifikasi server tujuan? Apakah perangkat kerasnya sedang oke-oke saja atau sedang bermasalah? Apakah <em>request</em> yang diterimanya saat itu super padat, sedang, atau sepi?</li>
<li><strong>Kondisi perangkat lunak komputer user</strong>.<br />
Menggunakan peramban/browser apa? Versi terbaru atau lama? Apakah sistem operasi yang digunakan rajin di<em>maintenance</em> atau digunakan sembarangan begitu saja? Apakah rajin di<em>defrag</em> secara berkala atau malah tidak pernah? Berapa persen penggunaan space yang digunakan untuk aplikasi-aplikasinya? Berapa persen space yang masih tersisa? Banyak virus/spyware/worm/trojan-kah? <img src='http://kafegue.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </li>
<li><strong>Kondisi peramban yang digunakan saat berselancar</strong>.<br />
Berapa banyak tab yang terbuka/digunakan? Apakah ada halaman lain di saat bersamaan yang juga masih dalam proses pemuatan? Apakah tidak sedang mengunduh suatu berkas di saat bersamaan? (misalnya MP3, video, gambar, atau master file piranti lunak tertentu). Berapa banyak pula window yang terbuka? Apakah membuka beberapa aplikasi sekaligus saat sedang berselancar? (misalnya sambil memutar musik, video, atau membuka program yang agak berat).</li>
</ol>
<p>Nah, ketujuh faktor di atas sangat mempengaruhi kecepatan saat berselancar di dunia maya. Termasuk saat mengunduh halaman sebuah situs web. Jadi bukan semata persoalan script yang digunakan pada situs web yang berusaha dibuka. <strong>Bukan semata masalah JavaScript!</strong> Bukan pula (semata) persoalan <abbr title="Cascading Style Sheets">CSS</abbr> atau <abbr title="HyperText Markup Language">HTML</abbr>.</p>
<p class="c10">Namun bukan berarti kita sebagai pemilik situs/blog bisa semaunya saja menggunakan script. Jika memang bermaksud menargetkan pengunjung secara lebih luas, mengapa tidak berusaha mendesain situs Anda lebih ramah dan mudah diakses?</p>
<p>Terdengar sangat &#8216;de-javu&#8217; barangkali? <img src='http://kafegue.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Bagaimanapun juga, untuk situs/blog yang masih dihosting pada server bersama, persoalan klise seputar penggunaan JavaScript tak bisa disepelekan begitu saja. Mohon koreksi jika ada pendapat di atas yang keliru.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kafegue.com/jangan-selalu-menyalahkan-javascript/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>33</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Blog ini Berat Sekali dan Sudah Melampaui Batas</title>
		<link>http://kafegue.com/blog-ini-berat-sekali-dan-sudah-melampaui-batas/</link>
		<comments>http://kafegue.com/blog-ini-berat-sekali-dan-sudah-melampaui-batas/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Aug 2010 22:28:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iskandaria</dc:creator>
				<category><![CDATA[review blog]]></category>
		<category><![CDATA[aksesibilitas]]></category>
		<category><![CDATA[loading blog]]></category>
		<category><![CDATA[permasalahan blog]]></category>
		<category><![CDATA[web accessibilty]]></category>
		<category><![CDATA[web usability]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kafegue.com/?p=1931</guid>
		<description><![CDATA[Pernah beberapa kali saya mendapati sebuah situs/blog yang ketika halamannya sudah termuat tuntas, tiba-tiba untuk menggulung (scrolling) halaman ke bawah saja terasa sulit. Terasa agak tersendat atau tidak lancar. Begitulah kira-kira yang saya rasakan. Anda pernah mengalami yang seperti itu? Padahal, sebagian di antara situs/blog tersebut cukup cepat loadingnya. Halamannya termuat sempurna dengan cukup kilat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernah beberapa kali saya mendapati sebuah situs/blog yang ketika halamannya sudah termuat tuntas, tiba-tiba untuk menggulung (<em>scrolling</em>) halaman ke bawah saja terasa sulit. Terasa agak tersendat atau tidak lancar. Begitulah kira-kira yang saya rasakan. Anda pernah mengalami yang seperti itu?<span id="more-1931"></span></p>
<p>Padahal, sebagian di antara situs/blog tersebut cukup cepat loadingnya. Halamannya termuat sempurna dengan cukup kilat tanpa perlu menunggu sekian menit (dengan koneksi <em>mobile-broadband</em> <abbr title="3rd Generation">3G</abbr> dan memori notebook sebesar 2Gb yang saya gunakan).</p>
<p>Kejadian tersebut biasanya saya alami ketika membuka situs web (termasuk blog) melalui peramban rekonq pada Linux. Di peramban tersebutlah, beberapa situs/blog terasa bermasalah ketika saya menggulung halamannya. Yang biasanya terasa lancar ketika di peramban lain, menjadi berat ketika saya buka via rekonq (peramban WebKit KDE).</p>
<p>Tapi sekali lagi, itu untuk situs dan blog tertentu saja! Jadi saya yakin masalahnya bukan semata terletak pada peramban yang digunakan, melainkan juga pada <em>coding</em> web yang terasa memberatkan itu. Toh, terkadang pada peramban populer seperti Firefox dan Google Chrome pun, kejadian tersebut juga saya alami (susah menggulung halaman).</p>
<p>Tersangka yang bisa dijadikan biang keladi di balik beratnya menggulung halaman situs/blog tersebut yaitu :</p>
<ul>
<li>Menggunakan banyak javascript (termasuk jQuery)</li>
<li>Menggunakan banyak kode <abbr title="Cascading Style Sheets">CSS</abbr>3 !</li>
</ul>
<h3>Hati-hatilah menggunakan kode <abbr title="Cascading Style Sheets">CSS</abbr>3 untuk situs/blog Anda!</h3>
<p>Situs atau blog yang banyak menggunakan <abbr title="Cascading Style Sheets">CSS</abbr>3 untuk menata tampilan visualnya berpotensi menguras <em>resource</em> <abbr title="Central Processing Unit">CPU</abbr> atau memori komputer pengunjung. Termasuk memori ponsel. Pengalaman saya membuktikan hal tersebut. Bahkan situs/blog yang mengandung banyak gambar pada posting dan desainnya saja (seperti <a href="http://www.desaindigital.com/">desaindigital.com</a>) masih <strong>lebih ringan</strong> daripada yang banyak menggunakan <abbr title="Cascading Style Sheets">CSS</abbr>3 tersebut!</p>
<p>Solusi terbaiknya (bagi pengelola situs/blog), kurangilah penggunaan script yang berpotensi menguras memori perangkat <abbr title="Personal Computer">PC</abbr> atau ponsel.</p>
<p class="c10">Logikanya, jika untuk menggulung halaman situs Anda saja <em>user</em> sudah merasa kesulitan, bagaimana mereka bisa menikmati konten Anda? Bagaimana mereka bisa memperoleh informasi yang mereka butuhkan? Pikirkanlah hal ini baik-baik.</p>
<p>Jika ingin membuat tampilan situs/blog Anda terkesan unik dengan script tertentu, sebaiknya tetap mempertimbangkan pengaruhnya terhadap performa secara keseluruhan. Terutama terhadap kecepatan muat halaman dan keringanan untuk menggulungnya ketika proses pemuatan sudah tuntas.</p>
<p>Jika memungkinkan, coba tes hal tersebut dengan berbagai peramban web yang ada. Termasuk pada pelbagai ukuran memori <abbr title="Personal Computer">PC</abbr>. Termasuk pula pada perangkat mobile seperti ponsel (dengan <em>full version</em> alias tanpa mengaktifkan plugin untuk versi mobilenya).</p>
<p>Situs/blog dengan berat yang sudah <del>melampaui batas</del> biasanya ditandai dengan kesulitan pengguna untuk menggulung halamannya ketika diakses melalui ponsel (dengan tampilan <em>full version</em>) dan ketika dicoba via peramban dekstop tertentu.</p>
<p>Ada komentar soal ini?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kafegue.com/blog-ini-berat-sekali-dan-sudah-melampaui-batas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>73</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meningkatkan Keterbacaan List Link pada Sidebar</title>
		<link>http://kafegue.com/meningkatkan-keterbacaan-list-link-pada-sidebar/</link>
		<comments>http://kafegue.com/meningkatkan-keterbacaan-list-link-pada-sidebar/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Aug 2010 18:48:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iskandaria</dc:creator>
				<category><![CDATA[desain web]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen blog]]></category>
		<category><![CDATA[web readability]]></category>
		<category><![CDATA[web usability]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kafegue.com/?p=1870</guid>
		<description><![CDATA[Idealnya, list link (daftar link) yang terdapat pada sidebar haruslah mudah dibaca oleh pengunjung blog/situs. Bisa jadi pada list tersebut terdapat link-link penting yang mengandung informasi berguna bagi mereka. Oleh sebab itu, wajib bagi pemilik blog/situs memperhatikan keterbacaan list link tersebut. Jika diabaikan, kemungkinan pengunjung tidak akan mengkliknya (karena tingkat keterbacaan yang sangat buruk). Contoh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Idealnya, list link (daftar link) yang terdapat pada sidebar haruslah mudah dibaca oleh pengunjung blog/situs. Bisa jadi pada list tersebut terdapat link-link penting yang mengandung informasi berguna bagi mereka. Oleh sebab itu, wajib bagi pemilik blog/situs memperhatikan keterbacaan list link tersebut. Jika diabaikan, kemungkinan pengunjung tidak akan mengkliknya (karena tingkat keterbacaan yang sangat buruk).<span id="more-1870"></span></p>
<p>Contoh sidebar yang sangat buruk keterbacaannya bisa Anda lihat pada screenshot berikut ini.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-1903" title="sidebar4" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2010/08/sidebar9.jpg" alt="sidebar-tidak-rapi" width="305" height="181" /></p>
<p>Mengapa sidebar di atas kurang baik? Penyebabnya yaitu :</p>
<ul>
<li>jarak spasi antar list terlalu rapat,</li>
<li>menggunakan perataan justify,</li>
<li>tidak ada penanda di setiap awal list, dan</li>
<li>tidak ada pembatas antar setiap listnya.</li>
</ul>
<p>Cara memperbaikinya bisa Anda simak pada penjelasan di bawah ini.</p>
<h3>Ada 10 cara untuk meningkatkan keterbacaan list link pada sidebar, yaitu :</h3>
<ol>
<li>
<h4>Memilih kombinasi yang pas antara warna latar dan warna link.</h4>
<p>Dalam hal ini, sesuaikanlah dengan desain situs/blog Anda. Warna gelap di atas terang sepertinya lebih universal. Tidak mesti hitam ( <code>#000</code> ) di atas latar putih ( <code>#fff</code> ). Yang penting kontrasnya pas. Warna terang di atas gelap pun tidak masalah, sepanjang kombinasinya juga serasi.</li>
<li>
<h4>Memilih kombinasi yang pas antara warna latar dan warna link saat di<em>hover</em> (disorot oleh pointer).</h4>
<p>Untuk lebih meyakinkan pengunjung bahwa itu adalah sebuah link/tautan (yang bisa diklik), perubahan warna link dan latarnya saat di<em>hover</em> akan sangat membantu. Minimal berubah warna ketika linknya disorot oleh kursor/pointer. Sedangkan warna latarnya tidak harus berubah. Kecuali list linknya disetel berupa blok (dengan kode <abbr title="Cascading Style Sheets">CSS</abbr> <code>display:block</code> ).</p>
<p>Catatan : Jangan lupakan juga untuk memberi efek khusus pada saat <code>focus</code> (saat tabbing dengan ‘keyboard’), <code>active</code> (saat dieksekusi/diklik), dan <code>visited</code> (telah dikunjungi). Silakan baca <a href="http://daniiswara.com/2010/04/pakai-hover-jangan-lupa-focus/">Pakai Hover Jangan Lupa Focus</a> (di situs Dani Iswara.com)</li>
<li>
<h4>Menggunakan <code class="c88">list-style</code> untuk menandai setiap list.</h4>
<p>Gunanya yaitu untuk memperjelas setiap list atau setiap permulaan list. Ada kalanya list link yang terlalu rapat antar satu dengan lainnya jadi sulit dipindai atau sulit dikenali awal setiap listnya. Di situlah perlunya diberi penanda berupa (misalnya) bullet. Bisa disetel lewat penambahan property <abbr title="Cascading Style Sheets">CSS</abbr> berupa <code>list-style-type:square/circle/disc</code> pada <code>ul li</code> (pada kode <abbr title="Cascading Style Sheets">CSS</abbr> untuk sidebar atau list menu).</p>
<p>Bisa pula dengan menggunakan property <code>list-style-image</code> jika ingin memakai image/gambar sebagai penanda list (yang dipanggil dengan <abbr title="Uniform Resource Locator">url</abbr> sumbernya).</p>
<p>Contoh sidebar :</p>
<table>
<tbody>
<tr>
<td><img class="alignleft size-full wp-image-1884" title="sidebar2" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2010/08/sidebar8.jpg" alt="list-style-sidebar1" width="297" height="329" /></td>
<td><img class="alignleft size-full wp-image-1885" title="sidebar1" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2010/08/sidebar6.jpg" alt="list-style-sidebar2" width="206" height="342" /></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</li>
<li>
<h4>Menggunakan pembatas berupa garis atau dot antar setiap list.</h4>
<p>Ada kalanya garis pembatas ( <code>border</code> ) ini diperlukan untuk memisahkan antar list link, terutama jika linknya tidak disetel bergaris bawah dan tidak ditandai dengan bullet (<em>list-style-type</em>). Pada kondisi tersebut, fungsi garis pembatas yaitu untuk memperjelas/mempertegas antar list. Terlebih lagi jika &#8216;line-height&#8217; teksnya sangat rapat atau tidak menggunakan penanda pada awal setiap listnya.</p>
<p>Contoh sidebar yang menggunakan pembatas berupa garis antar setiap listnya.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-1900" title="sidebar3" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2010/08/sidebar5.jpg" alt="pembatas-list" width="207" height="396" /></li>
<li>
<h4>Merenggangkan <code class="c88">line-height</code> atau jarak spasi antar baris link.</h4>
<p>Cukup sering saya temukan tampilan sidebar situs/blog yang agak sulit dibaca oleh karena terlalu rapatnya jarak spasi antar baris linknya. Terutama ketika &#8216;anchor text&#8217; pada linknya agak panjang, sehingga satu list link bisa terdiri dari 2 atau 3 baris. Solusi terbaiknya yaitu dengan memperbesar ukuran <code>line-height</code>.</li>
<li>
<h4>Mengatur perataan teks link dengan <em>left-alignment</em>.</h4>
<p>Mengapa harus rata kiri? Biar terlihat lebih rapi saja, terutama jika teks linknya terdiri dari beberapa kata atau agak panjang. Jika dalam list mayoritas terdiri dari satu atau dua kata saja, penggunaan selain rata kiri (misalnya <em>justify-align</em>) tidak masalah.</li>
<li>
<h4>Menyesuaikan ukuran font yang pas dengan jenis font yang digunakan pada list.</h4>
<p>Untuk jenis font serif dan sans serif tertentu, ada yang agak rendah keterbacaannya jika berukuran 11px atau 12px. Oleh sebab itulah, perlu diperbesar ukurannya. Misalnya menjadi 13 – 18px. Tentunya dibarengi dengan mengatur <code>line-height</code> yang pas dan disesuaikan pula dengan desain situs/blog secara keseluruhan.</li>
<li>
<h4>Menyetel agar link pada list bergaris bawah (<em>underline</em>).</h4>
<p>Sudah jamak diketahui bahwa teks yang bergaris bawah itu menandakan sebuah tautan yang bisa diklik. Namun untuk link/tautan pada sidebar, menurut saya tidak wajib disetel bergaris bawah. Apalagi jika sudah diberi pembatas/penanda antar setiap listnya berupa bullet atau garis. Kadang pada kondisi sidebar tertentu, link yang bergaris bawah terkesan mengurangi nilai estetika.</li>
<li>
<h4>Memberikan efek bergaris-bawah saat link di<em>hover</em>.</h4>
<p>Terutama jika linknya tidak disetel bergaris-bawah sebelum di<em>hover</em>. Gunanya untuk mempertegas bahwa itu adalah sebuah tautan yang bisa diklik.</li>
<li>
<h4>Mengatur <code class="c88">padding</code> yang pas antara list link dengan pembatasnya.</h4>
<p>Poin ini berlaku jika antar setiap list link diberi garis pembatas, entah berupa garis <code>solid</code> , <code>dotted</code> , atau <code>dashed</code>. Padding artinya jarak antara list link dengan garis pembatasnya. Jika terlalu dekat/rapat, tentunya kurang baik dari sisi estetika tampilan. Selain juga bisa mengurangi keterbacaan. Jadi, berilah ukuran padding yang pas. Tidak terlalu rapat dan juga tidak terlalu renggang!</li>
</ol>
<p>Sepuluh cara di atas tidak harus diterapkan semuanya sekaligus. Cukup kombinasikan beberapa cara. Tidak wajib semuanya! Terlalu banyak efek justru kurang baik.</p>
<p class="c10">Jika link sudah disetel bergaris bawah, mungkin tidak diperlukan lagi garis pemisah/pembatas antar list link. Cukup gunakan property <strong><code>list-style-type</code></strong> sebagai penanda setiap listnya. Kecuali linknya sengaja tidak disetel bergaris bawah.</p>
<p>Untuk memodifikasi tampilan list link pada sidebar situs/blog Anda, tentunya Anda harus sedikit mengerti pemrograman website dengan menggunakan <abbr title="Cascading Style Sheets">CSS</abbr>. Sebab mayoritas cara-cara di atas memang menggunakan kode <abbr title="Cascading Style Sheets">CSS</abbr> agar efek yang diharapkan bisa tampil.</p>
<p>Di sini saya sengaja tidak memberikan tutorial modifikasi kode <abbr title="Cascading Style Sheets">CSS</abbr>-nya. Akan menjadi sangat panjang kalau juga saya jelaskan pada tulisan ini. Jadi, silakan cari dan pelajari tutorial-tutorial seputar <abbr title="Cascading Style Sheets">CSS</abbr> yang banyak bertebaran di internet.</p>
<p><a href="http://daniiswara.com/2010/06/maaf-silakan-googling/">Sebelum tanya, silakan googling dulu!</a> <img src='http://kafegue.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  (kecuali jika ingin bertanya pendapat saya tentang keterbacaan list link sidebar situs/blog Anda). Referensi terkait lainnya silakan baca <a href="http://kafegue.com/membuat-tampilan-sidebar-tampak-lebih-rapi/">merapikan tampilan sidebar</a> (kafegue.com).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kafegue.com/meningkatkan-keterbacaan-list-link-pada-sidebar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tidak Mesti Tutorial untuk Membuat Blog Anda Berguna</title>
		<link>http://kafegue.com/tidak-mesti-tutorial-untuk-membuat-blog-anda-berguna/</link>
		<comments>http://kafegue.com/tidak-mesti-tutorial-untuk-membuat-blog-anda-berguna/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Aug 2010 06:21:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iskandaria</dc:creator>
				<category><![CDATA[tips ngeblog]]></category>
		<category><![CDATA[kiat menulis artikel]]></category>
		<category><![CDATA[konten blog]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen blog]]></category>
		<category><![CDATA[web usability]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kafegue.com/?p=1859</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin ada sebagian narablog yang berpikir bahwa tulisan (posting) yang berguna itu hanya berupa tutorial. Selain itu dinilai kurang penting. Mungkin juga banyak yang mengira bahwa konten yang mampu mendatangkan banyak pengunjung itu umumnya juga tutorial. Melihat blog lain sukses dengan konten tutorial, banyak narablog jadi latah untuk membuat blog tutorial. Lihatlah berapa banyak yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mungkin ada sebagian narablog yang berpikir bahwa tulisan (posting) yang berguna itu hanya berupa tutorial. Selain itu dinilai kurang penting. Mungkin juga banyak yang mengira bahwa konten yang mampu mendatangkan banyak pengunjung itu umumnya juga tutorial.<span id="more-1859"></span></p>
<p>Melihat blog lain sukses dengan konten tutorial, banyak narablog jadi latah untuk membuat blog tutorial. Lihatlah berapa banyak yang terkesan ingin mengikuti kesuksesan duo master blogspot Indonesia, yaitu <a href="http://kolom-tutorial.blogspot.com/">Kang Rohman</a> dan <a href="http://www.o-om.com/">OOM</a>. Tutorial <abbr title="HyperText Markup Language">HTML</abbr> dan modifikasi template blogspot pun jadi menjamur di berbagai blog. Tapi berapa banyak yang benar-benar sukses dan bisa dipercaya kredibilitasnya?. Tak jauh berbeda dengan blog tentang tutorial seputar WordPress.</p>
<p class="c10">Benarkah hanya konten tutorial yang benar-benar berguna bagi pembaca? Benarkah hanya konten tutorial yang mampu mendatangkan banyak trafik? Benarkah hanya blog tutorial yang paling besar peluangnya untuk dimonetisasi?</p>
<h3>Berguna itu tergantung pada muatan materi.</h3>
<p>Jadi bukan pada <a href="http://kafe28.blogspot.com/2009/05/3-jenis-konten-yang-wajib-ada-di-blog.html">jenis konten</a>! Artinya, konten/posting non tutorial pun bisa sama bergunanya. Anda bisa menulis opini Anda mengenai sesuatu hal. Di dalam tulisan tersebut, Anda menulis  opini berdasarkan sudut pandang dan hasil pengamatan pribadi Anda. Bahkan Anda bisa menulis kritikan di dalamnya. Tak hanya mengkritik, Anda ternyata juga memberi solusi praktis yang konkret. Kebetulan ada seorang pembaca yang akhirnya merasa &#8216;tercerahkan&#8217; oleh tulisan opini Anda tersebut. Itu pun jadi berguna!</p>
<p class="c10">Di lain sisi, Anda bisa menuliskan pengalaman pribadi Anda yang unik dan mengandung sesuatu yang cukup berharga untuk dibagikan. Misalnya, pengalaman buruk Anda saat mengkonsumsi produk tertentu. Atau pengalaman kurang menyenangkan Anda saat menggunakan layanan/jasa tertentu. Berkat tulisan Anda tersebut, ternyata ada seorang pembaca merasa punya referensi bagus untuk memilih produk maupun jasa. Ia akhirnya tidak perlu mengalami <em>trial and error</em> dalam mencoba produk/jasa. Itu pun bisa berguna!</p>
<p>Bisa juga Anda menuliskan dan memposting informasi hangat yang Anda ketahui dari sebuah acara televisi. Misalnya siapa yang tersisih pada kontes <a href="http://kafe28.blogspot.com/2010/06/profil-titi-sjuman-juri-indonesia.html">Indonesia Mencari Bakat</a> episode Sabtu 21 Agustus 2010. Dan kebetulan, esok harinya ada seorang pengunjung yang menemukan posting blog Anda tentang informasi tersebut. Kebetulan ia memang sedang mencari informasinya (karena tidak menonton acaranya tadi malam). Itu pun berguna!</p>
<p>Pada sisi lain lagi, Anda bisa tuliskan opini pribadi Anda mengenai (misalnya) daftar <a href="http://kafe28.blogspot.com/2009/11/5-presenter-pria-terbaik-indonesia.html">presenter terbaik Indonesia</a> atau <a href="http://kafe28.blogspot.com/2009/06/rekayasa-termehek-mehek-trans-tv.html">rekayasa acara Termehek-Mehek Trans TV</a>. Dan kebetulan ada seorang mahasiswa yang sedang butuh opini masyarakat seputar itu untuk bahan penelitian skripsinya. Akhirnya ia menemukan posting blog Anda yang mengulas hal tersebut. Ternyata ia kemudian merasa tulisan Anda layak menjadi bahan skripsinya. Itu juga berguna!</p>
<p>Jadi? Tidak mesti tutorial untuk membuat blog Anda berguna bagi pembaca atau pengunjung. Tulislah sesuatu yang menjadi kesukaan Anda untuk ditulis. Tidak harus tips atau tutorial. Tidak harus berupa informasi aktual atau info terkini. Tidak harus berupa sesuatu yang &#8216;wah&#8217; atau terkesan sangat penting. Hal-hal kecil nan sepele yang sering diabaikan pun patut untuk ditulis. Siapa tahu dari situ banyak yang merasa berterima kasih atau merasa &#8216;tercerahkan&#8217;!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kafegue.com/tidak-mesti-tutorial-untuk-membuat-blog-anda-berguna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>53</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Feed Reader vs Desain Blog dan Monetisasi</title>
		<link>http://kafegue.com/feed-reader-vs-desain-blog-dan-monetisasi/</link>
		<comments>http://kafegue.com/feed-reader-vs-desain-blog-dan-monetisasi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Aug 2010 23:44:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iskandaria</dc:creator>
				<category><![CDATA[review blog]]></category>
		<category><![CDATA[feed reader]]></category>
		<category><![CDATA[konten blog]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen blog]]></category>
		<category><![CDATA[permasalahan blog]]></category>
		<category><![CDATA[web usability]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kafegue.com/?p=1835</guid>
		<description><![CDATA[Anda punya kebiasaan membaca konten blog melalui pembaca umpan alias feed reader? Alasan terbesar apa yang mendorong Anda lebih memilih membaca blog lewat aplikasi tersebut? Tak bisa dipungkiri, setiap aplikasi yang bertujuan mempermudah ternyata mengandung dua sisi efek. Positif dan negatif. Menguntungkan dan merugikan. Termasuk feed reader tentunya. Sebagai narablog yang menyediakan tautan untuk berlangganan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anda punya kebiasaan membaca konten blog melalui <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pembaca_umpan">pembaca umpan</a> alias <em>feed reader</em>? Alasan terbesar apa yang mendorong Anda lebih memilih membaca blog lewat aplikasi tersebut?</p>
<p>Tak bisa dipungkiri, setiap aplikasi yang bertujuan mempermudah ternyata mengandung dua sisi efek. Positif dan negatif. Menguntungkan dan merugikan. Termasuk <em>feed reader</em> tentunya. Sebagai narablog yang menyediakan tautan untuk berlangganan konten melalui aplikasi ini, berarti Anda harus rela jika blog Anda nantinya cuma dibaca via media tersebut. Termasuk via surel (surat elektronik) alias email.<span id="more-1835"></span></p>
<p>Salah satu parameter <a href="http://kafegue.com/antara-jumlah-komentar-pesona-dan-popularitas-sebuah-blog/">popularitas blog</a> yang saya ketahui yakni jumlah pelanggan <abbr title="Really Simple Syndication">RSS</abbr> feed. Banyak narablog yang menyuruh berlangganan konten blognya lewat surel atau <em>feed reader</em>. Bahkan dengan pemberian bonus-bonus perangsang. Terutama mereka yang ingin memonetisasi blognya. Harapan akhir mereka tentu saja agar blognya terkesan makin populer (berkat makin banyaknya jumlah pelanggan <abbr title="Really Simple Syndication">RSS</abbr> feed).</p>
<p class="c10">Kalau sudah begitu, masihkah berguna upaya-upaya optimasi kecepatan loading blog? Masihkah bermanfaat mendesain <a href="http://kafegue.com/penyederhanaan-tampilan-blog-apa-dan-bagaimana/">tampilan blog</a> seramah dan sebaik mungkin? Masihkah bernilai desain unik yang ingin ditonjolkan? Apakah tidak malah mubazir karena pembaca lebih memilih membaca lewat <em>feed reader</em>?</p>
<p>Pertanyaan selanjutnya, apakah nanti tidak akan mengurangi trafik harian blog tersebut? Apakah nanti tidak akan mengurangi penghasilan lewat iklan <abbr title="Pay Per Click">PPC</abbr> atau slot banner? Logikanya, jika lebih banyak pembaca menyimak lewat <em>feed reader</em> atau surel, maka iklan yang terpasang pada blog tersebut akan sia-sia atau makin sedikit yang melihatnya. Kecuali iklan yang terdapat di dalam posting.</p>
<p>Beberapa tujuan narablog menyuruh berlangganan blognya lewat <em>feed reader</em> atau surel :</p>
<ol>
<li>Ingin mengikat pembaca pertama menjadi pembaca setia.</li>
<li>Ingin memperbesar peluang monetisasi, terutama lewat <em>paid review</em>.</li>
<li>Ingin mempermudah pembaca pertama kembali menemukan blognya.</li>
<li>Ingin merangkul pembaca yang punya keterbatasan koneksi internet.</li>
<li>Ingin merangkul pembaca yang punya keterbatasan waktu browsing.</li>
<li>Ingin lebih memaksimalkan manfaat konten-konten blognya.</li>
</ol>
<p>Apa pun tujuannya, tidak ada yang salah dengan menyuruh pembaca berlangganan <a href="http://kafegue.com/konten-pilar-si-penjaga-aliran-trafik-blog/">konten blog</a> lewat <em>feed reader</em>. Silakan analisis efeknya terhadap kunjungan harian yang terjadi pada blog Anda. Silakan analisis pula pengaruhnya terhadap penghasilan blog Anda. Dari situlah, Anda bisa menilai secara lebih objektif.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kafegue.com/feed-reader-vs-desain-blog-dan-monetisasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>33</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dua Bahasa dalam Satu Blog, Mengapa?</title>
		<link>http://kafegue.com/dua-bahasa-dalam-satu-blog-why/</link>
		<comments>http://kafegue.com/dua-bahasa-dalam-satu-blog-why/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Aug 2010 06:19:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iskandaria</dc:creator>
				<category><![CDATA[tips ngeblog]]></category>
		<category><![CDATA[konten blog]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen blog]]></category>
		<category><![CDATA[permasalahan blog]]></category>
		<category><![CDATA[web usability]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kafegue.com/?p=1825</guid>
		<description><![CDATA[Pernah menemukan blog yang kontennya campur aduk antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris? Maksud saya, sebagian konten (posting) ditulis dengan menggunakan bahasa Inggris. Sebagian lagi menggunakan bahasa Indonesia. Terlebih, blog tersebut bukanlah blog yang dimonetisasi untuk meraup dolar. Buktinya, tidak ada iklan (adsense) dan posting berjenis &#8216;paid-review&#8217; di situ. Jika demikian, mengapa konten diisi dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernah menemukan blog yang kontennya campur aduk antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris? Maksud saya, sebagian konten (posting) ditulis dengan menggunakan bahasa Inggris. Sebagian lagi menggunakan bahasa Indonesia. Terlebih, blog tersebut bukanlah blog yang dimonetisasi untuk meraup dolar. Buktinya, tidak ada iklan (<em>adsense</em>) dan posting berjenis &#8216;paid-review&#8217; di situ.</p>
<p>Jika demikian, mengapa konten diisi dengan dua bahasa? Mengapa tidak dipisahkan saja? Bukankah lebih baik untuk konten berbahasa Inggris ditulis dalam satu blog khusus berbahasa Inggris? Begitu pula dengan konten berbahasa Indonesia.</p>
<p>Tidak bermaksud mendiskreditkan blog-blog tertentu yang punya tipe seperti itu. Pemilik blog yang bersangkutan pasti punya alasan logis. Namun bagi saya, jika memang ingin membidik pengunjung dari luar negeri (via konten berbahasa Inggris), alangkah lebih baik tidak ‘diganggu’ dengan konten berbahasa Indonesia. Begitu pula sebaliknya.</p>
<p class="c10">Jika sekadar ingin melatih kemampuan menulis dalam bahasa Inggris, mengapa harus di blog berbahasa Indonesia? Pun sebaliknya. Jika memang serius ingin melatih penulisan dengan bahasa negeri sendiri, lebih baik fokuskan dalam satu blog khusus berbahasa Indonesia. Dengan demikian, perkembangan kemampuan menulis Anda bisa lebih terlihat dan terasah. Semuanya berkat fokus.</p>
<p>Blog dengan konten satu bahasa saja cenderung lebih besar manfaatnya dibanding blog dengan bilingual. Pengunjung yang datang bisa lebih tertarget (terfokus). Plus lebih tertaut. Toh, tidak semua pengunjung punya kemampuan memahami bahasa asing dengan baik. Tidak semuanya juga mau atau terbiasa menggunakan fitur <em>translate</em>.</p>
<p>Kecuali sang narablog punya keterbatasan untuk mengelola dua buah blog dengan beda bahasa. Jadi, menggabungkan dua bahasa dalam satu blog mungkin pilihan yang tak terhindarkan baginya <img src='http://kafegue.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Atau mungkinkah ada alasan lain?</p>
<p>Sekali lagi, yang saya maksudkan bukan blog yang dimonetisasi dengan paid review atau adsense! Ini bicara tentang blog <em>non profit-oriented</em> dengan ‘bilingual’ di dalamnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kafegue.com/dua-bahasa-dalam-satu-blog-why/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>45</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Desain Ulang Area Komentar</title>
		<link>http://kafegue.com/desain-ulang-area-komentar/</link>
		<comments>http://kafegue.com/desain-ulang-area-komentar/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Aug 2010 07:30:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iskandaria</dc:creator>
				<category><![CDATA[review blog]]></category>
		<category><![CDATA[komentar blog]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen blog]]></category>
		<category><![CDATA[modifikasi theme wordpress]]></category>
		<category><![CDATA[web usability]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kafegue.com/?p=1814</guid>
		<description><![CDATA[Pembenahan tiada henti. Ini adalah perubahan ke sekian kalinya yang saya lakukan pada tampilan area komentar blog ini. Kalau saya bicara area komentar, yang saya maksudkan adalah tampilan deretan komentar yang telah masuk pada posting. Apa yang saya lakukan pada redesain kali ini? Menghilangkan garis tepi kanan-kiri. Menyeragamkan warna latar komentar (satu warna saja). Menghilangkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pembenahan tiada henti. Ini adalah perubahan ke sekian kalinya yang saya lakukan pada tampilan area komentar blog ini. Kalau saya bicara area komentar, yang saya maksudkan adalah tampilan deretan komentar yang telah masuk pada posting.</p>
<p>Apa yang saya lakukan pada redesain kali ini?</p>
<ul>
<li>Menghilangkan garis tepi kanan-kiri.</li>
<li>Menyeragamkan warna latar komentar (satu warna saja).</li>
<li>Menghilangkan efek menjorok ke dalam pada komentar <em>reply</em>.</li>
</ul>
<p>Alasan dan tujuan di balik perubahan di atas yaitu <a href="http://kafegue.com/penyederhanaan-tampilan-blog-apa-dan-bagaimana/">penyederhanaan tampilan</a>. Terlalu banyak detail berpotensi membuat pusing. Inilah alasan utama saya menghilangkan beberapa detail, seperti 3 poin di atas. Dengan tampilan yang lebih minimalis seperti sekarang, menurut saya terlihat lebih elegan dan nyaman untuk disimak.</p>
<p>Kekurangannya mungkin sedikit menyulitkan bagi yang ingin mengenali/mengikuti alur <a href="http://kafegue.com/mengapa-tidak-mengaktifkan-fitur-komentar-bersarang/">komentar bersarang</a> (<em>threaded-comment</em>). Ini memang sulit saya hindari ketika menghilangkan 3 detail di atas. Efeknya, alur komentar jadi terlihat flat. Seperti tidak menggunakan fitur berbalas komentar.</p>
<p>Sementara ini saya akan tetap mempertahankan tampilan demikian. Mudah-mudahan menjadi pengalaman baru bagi Anda <img src='http://kafegue.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kafegue.com/desain-ulang-area-komentar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>57</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
