Diskusi via Kolom Komentar Blog, Sudahkah Membudaya di Indonesia?
Ini bukan idealisme kaku yang harus dijadikan beban. Sejatinya, kolom komentar pada blog adalah sarana sumbang pemikiran yang berasal dari pembaca atau pengunjung. Bisa juga menjadi ajang berkomunikasi dua arah. Dijadikan ajang ‘chit-chat’ pun tidak mengapa. Toh, tidak ada yang salah dengan itu.
Bagaimana kalau dijadikan sebagai ajang berdiskusi?
Sejauh yang saya amati, tidak begitu banyak terjadi diskusi pada kolom komentar blog. Dalam arti, saling bertukar pikiran, saling sharing, dan bahkan saling berdialog secara intens. Saya fokuskan pada blog-blog berbahasa Indonesia saja. Bukan blog bule.
Ah, tergantung dong. Kalau postingnya berjenis tutorial, rasanya mustahil bisa terjadi diskusi pada kolom komentar
. Okelah kalau begitu. Dalil tersebut cukup bisa saya terima, walaupun sebenarnya tidak menutup kemungkinan akan terjadi diskusi, sekalipun topiknya tentang tutorial atau tips.
Ah, ngapain terlalu serius berkomentar atau repot-repot berdiskusi segala. Hidup ini udah susah. Tekanan pekerjaan sehari-hari sudah cukup membuat stress. Jadi, ngeblog ya dibikin enjoy aja. Dibuat ‘fun’ dan ketawa-ketiwi sambil ‘ngerumpi’ di kolom komentar. Nggak peduli tulisannya seserius apapun. Nggak peduli walau dalam tulisannya ada permohonan untuk meminta opini atau pengalaman pembaca
.
Bagaimana menurut Anda?
Dari saya sendiri, sebenarnya banyak manfaat yang bisa kita peroleh dengan membudayakan berdiskusi via kolom komentar blog. Tujuan berdiskusi pada hakikatnya adalah saling mengutarakan pendapat maupun pengalaman masing-masing. Dari situ, kita bisa mengasah nalar atau logika berpikir kita.
Yang menarik, diskusi yang intensif akan membuka jalur-jalur pemahaman baru, pengetahuan baru, dan bahkan kemampuan baru dari diri kita sendiri. Kita jadi bisa lebih mengenal sejauh mana kapasitas kita dalam mengutarakan pendapat maupun pengalaman pribadi. Serunya adalah ketika orang yang kita ajak berdiskusi ternyata mulai melakukan penggalian dan pendalaman topik.
Syukur-syukur jika ia melakukan penajaman analisis masalah terkait topik. Dari diskusi pula, kita lebih bisa memahami opini orang lain secara lebih detail. Kalau sudah begitu, peluang untuk salah tafsir atau salah paham akan kecil resikonya.
Itulah esensi berdiskusi. Mempertemukan gagasan-gagasan yang sebelumnya tampak saling berlawanan atau tidak sinkron. Untuk kemudian menjadi saling bersinergi dan harmonis. Akhirnya akan terjadi titik temu yang bisa mendorong lahirnya pencerahan baru.
Terima kasih kepada para rekan narablog yang beberapa kali terlibat diskusi intens dengan saya via kolom komentar blog ini.
Bagaimana dengan blog Anda sendiri? Sudah pernahkah terjadi diskusi yang intens?
Tautan Cepat »» Beri Komentar | Baca Ulang Posting
Baca Komentar | Daftar Posting Terbaru
Tambah KafeGue di Facebook
Ikuti KafeGue di Twitter
Menu Lainnya »» Atas » Beranda » Arsip » Profil » Kontak » Bawah
Langganan KafeGue.com melalui Email
Langganan melalui Pembaca RSS




Firefox 3.6.8 | Windows XP
Blog Saya Di Jadikan Sebagai Alat Diskusi Sesama Blogger
WordPress 3.0.5
[...] komentar pada blog pada dasarnya adalah media yang sangat baik untuk menumbuhkan budaya berdiskusi. Sayangnya, saya belum banyak melihat media ini dimanfaatkan secara optimal oleh sebagian narablog. [...]
WordPress 3.0.4
[...] Diskusi via Kolom Komentar Blog, Sudahkah Membudaya di Indonesia? [...]
Firefox 3.6.8 | Windows XP
Klo saya Setuju Dengan Mas Andi ..:D
komentar blog umumnya sebagai say hello dan mengutarakan pendapat tentang postingan saja. ada beberapa yang mengajak diskusi di sebuah kolom komentar yaitu dengan membalikan dan mengajukan sebuah pertanyaan.namun biasanya itu antar penulis dan si bertanya itu, itupun dengan catatan yang bertanya balik lagi :) kecuali ada plugin komentarnya.
Firefox 3.6 | Windows XP
kalau ditanya sudah membudaya rasanya belum semua. tapi bukan berarti tidak ada. ada tapi sedikit. salah satunya di blog ini.
Chromium 8.0.552.215 | Ubuntu 10.10
@ajundi14, tapi tidak semua posting blog ini mengandung diskusi di dalamnya mas. Bahkan beberapa sengaja saya tutup kolom komentarnya :P
Firefox 3.6 | Windows XP
@iskandaria, saya kira tidak masalah, lagian untuk alasan tertentu yang hampir semua pengunjung blog ini dapat memahami. sepengathuan saya, sampai saat ini belum ada yang protes. :D
Google Chrome 10.0.602.0 | Windows XP
@ajundi14, syukurlah kalo belum ada yang protes. Tapi siapa tau aja ada yang kesel diam-diam..hehehe
Firefox 3.6.12 | Windows XP
mungkin penyebab jarangnya diskusi dalam fasilitas komentar karena banyak blogger (khususnya saya) jarang berkunjung kembali ke sebuah halaman tertentu setelah meninggalkan komentar.
Google Chrome 9.0.597.0 | GNU/Linux
@imadewira, setuju Bli. Itu salah satu penyebabnya. Bisa jadi juga karena tidak ada fitur notifikasi via email untuk komentar balasan. Terutama jika blognya belum begitu familiar di mata yang meninggalkan komentar.
WordPress 3.0.2
[...] Anda terlalu semangat mempublish tulisan baru. Sayang sekali pula jika kemungkinan untuk munculnya diskusi menarik akhirnya turut berkurang drastis, cuma karena pembaca merasa tulisan tersebut sudah kurang fresh [...]
Firefox 3.6.12 | Windows XP
cukup menarik.
kalau ditanya sudahkah diskusi via komentar blog membudaya di Indonesia?
saya rasa belum. tapi sudah mulai ada dan tidak sedikit.
ini juga tergantung dari si pemilik blog sendiri, sepintar dan semau apa dia mengarahkan pembacanya untuk berdiskusi.
menurut saya, faktor lain yang menyebabkan sulitnya membudayakan diskusi di kolom komentar adalah karena konten si penulis terlalu lengkap. jadi yang mau komentar jadi bingung dan minder mau komentar apaan. jadinya ya cuma kasi komentar “nice info” untuk sekedar memberitahukan kepada si pemilik blog kalau dia berkunjung dan (mungkin) membaca artikel tersebut.
dan faktor terakhir yang menyebabkan sulitnya membudayakan diskusi di kolom komentar adalah karena sebelumnya telah terjadi diskusi yang intens dan menyeluruh. jadi pengunjung-pengunjung terakhir seperti saya ini jadi bingung mau kasi komentar apaan. soalnya semua sudah dibahas di komentar-komentar sebelumnya.
Google Chrome 10.0.602.0 | Windows XP
@dimasangga, benar sekali analisanya mas. Saya setuju. Saya mungkin cukup sering terobsesi menulis selengkap dan sesempurna mungkin, sehingga bisa saja banyak pembaca jadi mati
gayakutu dibuatnya…hi..hi..hi..Google Chrome 8.0.552.215 | Windows XP
di blog saya beberapa kali terjadi diskusi tp intensitasnya masih kecil.. soalnya biasanya saya langsung dilanjutkan melalui email ataupun ym mas..
maaf OOT : saya pake chrome kok kotak blogroll di bawah mepet kanan ya mas. apakah memang disengaja?
Google Chrome 9.0.597.0 | GNU/Linux
@tomi, itu memang saya sengaja kok mas. Tampilan di browser lainnya juga mepet ke kanan kayak gitu. Tujuan saya cuma untuk memberi ruang kosong di bawah menu daftar posting pilihan, biar nggak terlalu kelihatan sumpek.
Oh, kalo diskusi via email atau YM saya masih jarang melakukannya mas. Kalo lewat email paling cuma untuk hal-hal yang agak privat sifatnya.
Google Chrome 8.0.552.215 | Windows XP
@iskandaria, kalo secara intens sih belum ada, karena memang komentar blog umumnya sebagai say hello dan mengutarakan pendapat tentang postingan saja. ada beberapa yang mengajak diskusi di sebuah kolom komentar yaitu dengan membalikan dan mengajukan sebuah pertanyaan.namun biasanya itu antar penulis dan si bertanya itu, itupun dengan catatan yang bertanya balik lagi :) kecuali ada plugin komentarnya.
kalo saya lihat memang bisa di bilang baru beberapa yang mengunakan kolom komentar sebagai tempat diskusi. dan mereka medah ke di kenali :D #nahloh siapa ja tuh?
Google Chrome 6.0.472.53 | Windows XP
@iskandaria,
ooh saya kira tidak disengaja. soalnya kan jadi tampilan nya agak aneh menurut saya mas :D
kalau saya mgkn karena keterbatasan koneksi dan waktu jg, makanya lebih sering menggunakan media YM atau email mas karena bs melalui hp.
WordPress 3.0.2
[...] tulisannya yang berjudul “Diskusi via Kolom Komentar Blog, Sudahkah Membudaya di Indonesia?”, Narablog Iskandaria membuat saya merenungkan kembali sesuatu yang de’ javu, untuk apa [...]
Firefox 3.6.12 | Windows XP
Saya suka berdiskusi lewat kolom komentar. Setidaknya wawasan/pengetahuan menjadi bertambah.
Chromium 7.0.517.44 | Ubuntu 10.04
dari diskusi kolom komentar, kadang saya menemukan ide untuk menulis artikel selanjutnya di blog. kadang juga memacu untuk mengetahui lebih lanjut tentang suatu masalha, walau pun lebih sering saya mencarinya lewat google, tidak meneruskan diskusi yang ada
Google Chrome 9.0.597.0 | GNU/Linux
@alief, saya juag cukup sering mengalami begitu mas. Ide-ide yang muncul dari komentar rekan-rekan atau tanggapan saya sendiri sudah cukup untuk menjadi bahan penulis posting baru.
Firefox 3.6.12 | Windows XP
DIskusi melalui kolom komentar itu seru juga, karena di situ banyak pengunujung yang mengamati alur diskusi, dan tentunya bagi yang merasa ‘berkompeten’ akan ikut menyumbangkan pemikirannya.
Maka dari itu, blogger yang membudayakan hal ini sebaiknya menyediakan fasilitas pemberitahuan lewat email untuk setiap balasan komentar yang ditorehkan di blognya. Ini untuk mengetahui kelanjutan diskusi tersebut.
Blog yang berbasis WP dan smisalnya sudah banyak menerapkan hal itu, namun masih ada juga yang belum.
Google Chrome 9.0.597.0 | GNU/Linux
@Erdien, nah. Dapet satu tambahan poin lagi nih saya dari Pak Erdien. Yang merasa ‘berkompeten‘. Itu dia poinnya.
Saya sendiri cukup gatal untuk berkomentar jika topik atau materi postingnya saya kuasai atau sesuai minat saya. Kecuali kalo postingnya tergolong posting lawas atau pemilik blognya udah nggak aktif lagi.
Setuju. Fasilitas notifikasi lewat email sangat berguna bagi saya. Kadang saya lupa pernah meninggalkan komentar di blog mana atau di posting yang mana. Dari situ, adanya fitur notifikasi via email jadi sangat membantu.
Blog saya ini menggunakan fasilitas notifikasi otomatis dari plugin ‘WP Thread Comment’.
Firefox 3.6.12 | Windows XP
@iskandaria,
saya jadi merasa tersentil. hahaha
Google Chrome 9.0.587.0 | Windows XP
@dimasangga, hahahaaaa..
Firefox 3.5.5 | Windows 7
Diskusi via komentar blog untuk blogger di Indonesia menurut saya kebanyakan pada blog-blog yang mempunyai kontent yang bersifat subyektif, pendapat pribadi narablog sehingga memancing narablog lain untuk meninggalkan komentar dan saling berdsikusi.
Lainnya hanya sekedar say hello, lapor kalau sudah berkunjung dan meminta berkunjung balik. tanpa mengomentari isi dari tulisan yang diangkat (tapi biasanya di buku tamu seperti cbox)
Saya sendiri selama kontennya masih dalam kapasitas saya untuk mampu berkomentar, pasti saya akan ikut berdiskusi disana. Tapi kalau tidak pada kapasitas saya mungkin cuma sekedar menyimak dan say hello tadi, hehe…
Google Chrome 9.0.597.0 | GNU/Linux
@dHaNy, setuju sekali mas dengan pendapat Anda. Rata-rata yang mengundang komentar agak serius dan nyambung memang pada tulisan hasil buah pikiran sang penulis. Mungkin karena terasa lebih manusiawi saja. Kita serasa membaca sesuatu yang dekat dengan alam pikir dan perasaan kita sendiri. Termasuk yang dekat dengan kehidupan sehari-hari kita.
Opera 10.63 | Windows Vista
Sebenarnya tergantung juga keperluan dan pertimbangan pembaca blog. Jika diskusi menjadi manarik mengapa tidak. Tapi tergantung juga pada pemilik blog, bagaimana menyediakan sistem diskusi yang apik dan memudahkan diskusi itu sendiri untuk terjadi.
Firefox 3.6.12 | Windows XP
@Cahya, setuju dgn mas Bli Cahya, tergantung narablognya apa bisa menghidupkan diskusi di blognya. Istilahnya jadi moderator lah gitu :D Kalau saya kayaknya musti banyak belajar nih :)
Chromium 7.0.517.44 | Ubuntu 10.10
@Darin, aha. Saya dapat pencerahan baru nih dari komentar mas Darin. Yups. Bagaimana sang pemilik blog bisa menjadi moderator yang baik (untuk menghidupkan diskusi di area komentar blognya). Itu tantangan yang menarik :)
Tapi ini sulit terjadi jika sang pemilik blog lebih sering menanggapi komentar yang masuk secara singkat atau sekedarnya. Kecuali komentar yang mau ditanggapi memang tidak butuh tanggapan terlalu mendalam atau detail.
Opera 10.63 | Windows Vista
@Darin, iya saya juga belaar dari Mas Darin dan Mas Is :).
Chromium 7.0.517.44 | Ubuntu 10.10
@Cahya, nah, soal sistem diskusi yang apik saya masih belum begitu jelas maksudnya mas. Mungkin bisa dijabarkan lebih lanjut?
Kalau masalah memudahkan diskusi itu sendiri untuk terjadi, saya cukup paham. Mungkin maksudnya bagaimana ia menanggapi setiap komentar yang masuk dan memancing agar diskusi bisa terjadi. Misalnya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan, argumen berbeda, analisis berbeda, fakta berbeda, atau sekadar sharing pengalaman pribadinya terkait topik atau isi komentar yang masuk.
Opera 10.63 | Windows Vista
@iskandaria, diskusi yang baik? Entahlah, di blog saya jarang berdiskusi dengan pembaca, maklum blog saya ada banyak dan lebih suka menulis daripada menanggapi, he he :lol:.
Mungkinkah diskusi yang nyaman, menggairahkan, atau kalau meminjam istilah Dani Iswara – diskusi yang memperkaya konten itu sendiri :).
Google Chrome 9.0.597.0 | GNU/Linux
@Cahya, mas Cahya kayaknya emang lebih suka nulis posting. Produktif banget saya lihat. Mungkin karena itu juga jarang terjadi diskusi yang intens. Soalnya postingan yang berpotensi memancing diskusi sudah tertimpa beberapa posting baru setelahnya ;)
Diskusi yang memperkaya konten itulah yang saya sukai juga. Bli Dani beberapa kali melakukannya di blog saya ini (kami terlibat diskusi yang cukup intens dan mendalam).
Firefox 3.6 | Windows XP
selama saya ngeblog saya jarang dan hampir tidak pernah melihat kolom komentar dijadikan ajang diskusi, mungkin karena adanya “komentar sebisa mungkin nyambung sesuai tema postingan” intinya jangan sampai komentar OOT, mungkin bermula dr itu para komentator agak takut buat bertanya yg atau membahas yang diluar topik, tp terkadang keterbatasan user itu yang menghambat terjadinya diskusi di kolom komentar, kebanyakan hanya berkunjung balik, serta sekedar komentar saja tanpa balik lagi
Chromium 7.0.517.44 | Ubuntu 10.10
@Rizky2009, benar juga sih kalau itu salah satu penyebabnya. Bagi saya sendiri, komentar yang agak di luar topik sebenarnya tidak masalah, asalkan bisa sedikit dikaitkan dengan tulisan di atasnya. Halah, tetap aja di luar topik ya kalo gitu.
Atau bisa jadi sang pemilik blog terkesan agak GALAK, sehingga bikin trauma atau takut bagi yang ingin komen..hahaha
Google Chrome 8.0.552.215 | Windows XP
Secara umum, untuk saat ini blogger Indonesia masih mengejar kuantitas daripada kualitas komentar blog. Butuh waktu buat melangkah ke arah pencerdasan diskusi.
Beda halnya kalau komen di kolom fesbuk, mereka bisa betah berbalas komen hanya untuk membahas topik seputar ‘lendir’. Yaa… inilah yang saya tangkap.
Chromium 7.0.517.44 | Ubuntu 10.10
@Agus Siswoyo, saya juga melihat seperti itu sih mas. Mungkin pengaruh beberapa tips blogging yang di antaranya berisi anjuran untuk banyak-banyak blogwalking dan meninggalkan komentar untuk memperoleh kunjungan melimpah. Padahal efek blogwalking atau ‘blog commenting’ tidak terlalu signifikan sebenarnya (dalam menyumbang trafik).
Kecuali kalau mayoritas komentar yang kita tinggalkan dinilai menarik atau bermutu bagi yang membacanya, sehingga ia tertarik untuk mengetahui isi blog kita (mengklik link yang kita tingalkan).
Wah, kalo komen membahas masalah ‘lendir’ di FB, saya belum pernah nemu tuh mas. Emangnya bener-bener ada yach. Baru tau saya ;)
Google Chrome 8.0.552.215 | Windows XP
@iskandaria, wah, banyak mas. ketika membahas agama pada alergi. giliran ngomongin paha mulus, dada montok dan wilayah seputar selangkangan mereka pada ngumpul kayak lagi nongkrong di warkop. hehehe…
Google Chrome 9.0.597.0 | GNU/Linux
@Agus Siswoyo, wakakaaaak..
Firefox 3.6.12 | Windows XP
@iskandaria,
kwkwkwwkwk….!!
salam kenal ya,, mas..
dari blogger yang mud mudtan heheh:P
Firefox 4.0b7 | Windows XP
Diskusi via kolom komentar blog memang prakteknya belum banyak terjadi dan membudaya di kalangan blogger, Mas Is. Hanya terjadi pada beberapa blog tertentu saja, contohnya di blog ini.
Satu catatan dari saya terkait diskusi ini, saya sering menjumpai blogger yang sering tak nyambung antara opininya pada saat menulis posting dan menanggapi komentar di blognya dengan cara dia berkomentar di blog orang lain.
Yang sering terjadi saya justru sering menjumpai komentar yang tanpa dipikir lebih dalam apa dampaknya komentar tersebut pada pengunjung yang lain. Ini yang rawan konflik dan menyebabkan diskusi bisa berkembang menjadi diskusi tak sehat dan perang urat syaraf antar blogger.
Contohnya, salah satu komentar pada artikel Mas Is yang sebelumnya membahas tentang permasalahan komentar pada blogspot telah membuat kawan blogger saya berang karena kata-katanya yang terdengar tak sejuk dibacanya.
Chromium 7.0.517.44 | Ubuntu 10.10
@Joko Sutarto, kadang saya juga menemukan yang seperti itu Pak (yang sering tak nyambung antara opininya pada saat menulis posting dan menanggapi komentar di blognya dengan cara dia berkomentar di blog orang lain).
Komentar yang bernada spontanitas kadang bisa memicu konflik atau ketidaknyamanan. Saya sendiri, mungkin agak sering berkomentar dengan gaya ceplas ceplos ketika di blog orang lain. Itu saya lakukan pada kondisi tertentu saja sih sebenarnya. Contohnya ketika saya merasa enjoy dengan gaya tulisan/postingnya, sehingga saya pun terbawa ikutan nyeplos :P
Komentar yang masuk pun kadang ikut mempengaruhi gaya komentar yang akan saya tulis. Kalau gayanya nyeplos, saya biasanya akan ikutan nyeplos. Kalau rada formal, saya kadang juga terpengaruh.
Yang penting bagi saya tidak berusaha berpura-pura saja dalam menulis komentar. Soalnya, kadang saya merasa ingin menjaga image atau menimbulkan kesan tertentu lewat komentar yang terkesan dibuat-buat terlihat bijaksana. Tapi saya kok merasa kurang nyaman aja kalau begitu. Terkesan tidak jujur atau terlalu takut bicara blak-blakan.
Firefox 4.0b3 | Windows XP
terkadang mas, kalo memang menarik untuk dijadikan bahan diskusi ya lanjutkan dengan bolak-balik ke blog yang bersangkutan jika ga ada notifikasi lewat email untuk cek apa komentar kita di respon atau ngga
Chromium 7.0.517.44 | Ubuntu 10.10
@Abdul Hakim, saya juga begitu mas. Seringkali bolak-balik untuk mengecek apakah komentar saya sudah ditanggapi atau belum, terutama kalau tidak ada notifikasi lewat email.
Firefox 3.6.12 | Windows 7
Wah.. ini menarik tulisannya mas Is.
Saya sendiri di awal blogging inilah yang saya impikan. Dan saya termasuk blogger yang getol dulu mengkritik tradisi BW buang kentut. Dan karena belum ada yang mengkritik tradisi tersebut, maka diskusi jadi marak di blogernas. Kontroversi muncul.
Apalagi sekarang dengan konten agama, wah… sampai-sampai saya pun kadang2 panas dingin juga dalam diskusinya haha… mas Is sudah tahu ya situasinya.
Tapi sejauh ini sptnya, kalau sudut pandang berbeda, apapun biadangnya saya rasa bisa mengundang diskusi. Tapi kalau mainstream memang agak tipis. Soalnya yang komentar cendrung tidak terpancing untuk diskusi.
Dan saya sendiri justru banyak dapat ide secara berantai gara-gara diksusi dan perdebatan tsb. Terus dan terus sambung bersambung. Makin di tulis yang komentar makin terpancing dan saya pun tambah terpancing lagi. Haha..spt perburuan inspirasi gitu.
Chromium 7.0.517.44 | Ubuntu 10.10
@erianto anas,
mas Anas setahu saya pernah mendapat gelar sebagai PROFESOR KENTUT kan? hahahahaaaa..
Yups. Saya sudah familiar banget dengan kritikan mas Anas soal komentar kentut saat blogwalking. Yang pasti bikin gerah dan kebakaran jengggot buat yang disindir begitu.
Tulisan kontroversial memang hampir selalu akan mengundang diskusi yang menarik. Dulu pernah ada sebuah blog yang getol banget menulis serial kritikan untuk salah satu penjual ebook di internet. Sang penjual ebook tergolong punya banyak pengikut/fans yang selalu memujanya sebagai inspirator bisnis online (yang berjasa mencetak banyak internet marketer di Indonesia).
Saya waktu itu menjadi salah satu pembaca setia blog yang doyan mengkritik secara blak-blakan tersebut. Seru banget waktu itu. Yang pro dan yang kontra saling gontok-gontokan…hahaha
Kalau blogernas, saya nggak heran lagi kontennya banyak mengundang diskusi panas dingin. Asal siap mental saja lah :)
Ide tulisan memang bisa banyak sekali kita peroleh lewat diskusi yang masuk. Saya pun beberapa kali menulis posting berkat ide yang saya peroleh lewat kolom komentar. Bahkan beberapa komentar yang pernah masuk saya jadikan pembahasan utama di posting, dimana komentar tersebut saya kutip di awal tulisan.
Firefox 3.6.12 | Windows XP
diskusi melalui kolom komentar sepertinya belum menjadi kebiasaan mas..kolom komentar sebagian besar hanya sebagai tempat buang angin dan setor muka…
memang ada beberapa blog yang ada diskusi antar user di kolom komentar,tapi ketika diskusi sudah memanas yang sering terjadi adalah pemilik blog tidak mau argumennya di kalahkan kemudian mengahapus komentar yang tidak sejalan dan akhirnya memoderasi kolom komentarnya…
dia tidak menyadari kalau diskusi bukan mencari salah atau benar,kalau mencari salah atau benar tidak usah lewat diskui,pergi ke pangadilan saja…
dan juga jangan mencari menang atau kalah di forum diskusi,kalau mau mencari menang atau kalah mendingan pergi ke Palestina saja,perang lawan lawan zionis,biar ketahuan menang atau kalahnya…
Chromium 7.0.517.44 | Ubuntu 10.10
@agoest, sayang sekali kalau ada pemilik blog yang kayak gitu. Kesannya kurang siap dengan pendapat yang berbeda. Padahal kalau ia mau berdiskusi lebih lanjut, mungkin saja akan ketemu titik temunya. Setidaknya bisa mencapai kompromi.
Toh, tujuan diskusi kan memang bukan untuk menyamakan persepsi atau pendapat, melainkan untuk mencapai kompromi atau membuka jalur-jalur pemahaman serta pengetahuan baru. Nah, dari situ diharapkan tidak akan terjadi salah penafsiran atau salah paham (yang bisa memicu konflik atau adu emosi).
Intinya, diskusi itu untuk melakukan pendalaman atau penggalian terkait topik yang dibahas.
Firefox 3.6.12 | Windows XP
tergantung topik yang diangkat blog tersebut, kalo memang lagi in dan layak di diskusikan sepertinya akan terjadi diskusi yang panjang di sana, dan saya lihat di blog mas Is ini hampir setiap postnya terjadi diskusi hangat..salut.
Firefox 3.6.12 | Windows 7
@Ahmad JO, kalau memang ada yang didiskusikan pasti kita akan ikut nimbrung. :D
Chromium 7.0.517.44 | Ubuntu 10.10
@Ahmad JO, topik yang sedang hangat memang sangat berpotensi mengundang respon atau diskusi. Sayangnya, blog ini tidak berorientasi pada topik yang hangat atau sedang in. Tapi itu tidak membuat saya jadi tidak bisa kreatif dalam memancing diskusi.
Makasih atas apresiasinya mas. Diskusi yang pernah terjadi pada blog ini juga tidak bisa dilepaskan dari peran beberapa rekan yang sudi berbagi opini, pengetahuan, maupun pengalamannya terkait topik yang sedang saya bahas.
Safari 5.0.2 | Mac OS X 10.6.5
Sebagai wadah respon, kotak komentar bisa sebagai sekadar penyalur apresiasi (“Bagus”, “Boleh juga…”, atau “Kapan nih bleh nyoba?”), dan bisa juga sebuah jawaban afirmatif maupun negatif terhadap artikel — dan inilah yang disebut diskusi. Lantas dasar itu semua apa? Silaturahmi. Dengan dasar itu pula maka “pertamax” sempat menjadi mode di blog, memindahkan kebiasaan forum. :D
Google Chrome 8.0.552.215 | Windows XP
@Antyo Rentjoko, Saat ini orang lebih suka yang instan. Sehingga widget seperti “facebook like” dan “Tweet Button” itu menjadi semakin ngetrend. Cukup degan sekali klik sudah bisa memberikan apresiasi.
Chromium 7.0.517.44 | Ubuntu 10.10
@ardianzzz, orang sudah semakin malas juga kalau begitu kan? hahaha. Pada akhirnya, memberi apresiasi pun cukup dengan simbol tertentu.
Chromium 7.0.517.44 | Ubuntu 10.10
@Antyo Rentjoko, ah. Ini beneran Pamah Tyo kan? Surprise banget nih. Kapan-kapan saya mau baca tulisan Paman Tyo soal topik yang saya bahas di atas. Mungkin Paman Tyo bisa lebih menarik dalam menyajikannya.
Soal mode pertamax, sampai sekarang pun saya masih menemukannya di blog. Sebenarnya tren tersebut sudah basi atau tidak bisa dibilang keren lagi. Harus ada tren baru yang lebih inovatif dan segar.
Chromium 9.0.595.0 | Ubuntu 10.04
Kolom komentar lebih sering digunakan sebagai ajak unjuk diri saja, artinya hanya sebagai bukti bahwa dia sudah berkunjung kesebuah blog. Sudah ada yang berdiskusi intents di kolom komentar, tetapi belum menjadi kebiasaan :D
Chromium 7.0.517.44 | Ubuntu 10.10
@Aldy, syukurlah sudah ada yang pernah berdiskusi secara intens di blog Pak Aldy. Setidaknya, sudah pernah ada yang sudi berbagi pendapat, pengetahuan, maupun pengalamannya terkait topik yang sedang Pak Aldy bahas.
Jika ada yang terkesan setor muka atau berbalas kunjung, cukup dimaklumi saja. Kecuali jika ada yang numpang promosi produknya via kolom komentar. Itu mah harus bayar fee dulu ke pemilik blog :lol: