Blogazine, Resiko, dan Tantangan Penerapannya
Tak terasa, sudah ada sekitar 30-an halaman blog ini yang saya kustomisasi tampilannya (sampai tulisan ini saya terbitkan). Sejauh ini, saya baru menggunakan trik custom CSS pada halaman posting (agar desain/tampilannya berbeda dari halaman lain).
Pada dasarnya, yang saya praktekkan itu dinamakan sebagai konsep blogazine, di mana setiap halaman posting memiliki desain yang berbeda (tidak sama). Sebenarnya saya ingin sekali menjadikan blog ini bisa full blogazine. Tapi apa daya, saya agak terlambat mengenal blogazine dan berhubung jumlah postingan di blog ini juga sudah cukup banyak setelah saya mulai mempraktekkan konsep blogazine (custom-post).
Mungkin suatu saat saya akan mencicil untuk mengustom desain halaman-halaman yang belum sempat saya bedakan tampilannya. Mimpi saya adalah menjadikan blog ini bisa full blogazine, walaupun saya tahu itu pasti perlu waktu yang tidak bisa sekejab. Ok. Sekarang kita mulai masuk ke topik utama, yaitu masalah tantangan & resiko penerapan konsep blogazine di ranah blog.

Pengguna awam bisa kebingungan dengan inkonsistensi tampilan setiap halaman?
Menurut opini para pakar desain user interface, konsistensi tampilan merupakan poin penting yang harus diperhatikan dalam merancang sebuah layout atau sebuah sistem informasi. Termasuk di dalamnya berupa halaman-halaman web. Nah, kalau begitu, konsep blogazine bertentangan dong? Namun menurut pendapat Dani Iswara (salah satu narablog pemerhati masalah web usability dan aksesibilitas), inkonsistensi tampilan itu sebenarnya adalah sebuah konsistensi juga. Maksudnya, konsisten dalam menampilkan desain yang berbeda-beda antar halaman :)
Bukankah itu juga sebuah konsistensi? Silakan berbingung ria jika ini terdengar terlalu filosofis. Lebih lanjut tentang hal ini, coba baca tulisan Blogazine, Usability, dan Accessibility di Dani Iswara .com.
Lalu, ada pula pendapat yang menganalogikan konsep blogazine dengan desain halaman-halaman majalah (yang notabene juga berbeda-beda). Lho, beda dong antara web dan majalah. Mungkin ada yang menyanggah demikian.
Tapi di luar semua itu, yang jelas penerapan konsep blogazine akan memberikan pengalaman baru bagi para pengguna Internet. Pengalaman baru ini bisa saja membuat ia kebingungan dan meraba-raba sesaat. Loh, kok rasanya saya lagi masuk ke website lainnya pas klik halaman ini. Lah, kok jadi beda gini ya tampilan halamannya? Ke mana sih perginya web yang barusan saya buka?
Hahaha.
Pengalaman baru yang cukup menyenangkan, bukan? Atau malah menyebalkan? :)
Nah, dari bingung, pastinya si pengguna akan berusaha beradaptasi. Saya juga kurang tahu persis apa yang dilakukan oleh pengguna awam jika mengunjungi sebuah web atau blog yang menggunakan konsep blogazine. Hemat saya, biarkan saja pengguna/pengunjung beradaptasi dengan caranya sendiri. Yang terpenting, kita tetap menyediakan navigasi bagi mereka untuk bisa menelusuri halaman-halaman lain di web/blog kita.
Pembaca bisa kebingungan mengikuti alur tulisan atau alur paragraf?
Ini jika kondisinya ia dihadapkan pada desain postingan yang menggunakan sistem grid atau multi-kolom. Saya sendiri sudah beberapa kali menggunakan desain berupa grid atau multi-kolom di sejumlah postingan blog ini. Semuanya baru sebatas tahap eksperimen.
Adakah pengunjung atau pembaca yang sempat merasa kebingungan dengan desain postingan model multi-kolom begini? Ternyata ada saudara-saudara! :) Siapakah dia? Ha..ha..ha.. Silakan temukan sendiri jawabannya pada deretan komentar yang masuk di postingan tentang Melepaskan Diri dari Keyword Density. Buat mas XXX, maaf ya kalau saya jadikan bahan studi kasus. Tapi saya sangat berterima kasih atas kejujuran Anda. Dengan begitu, saya bisa sadar kekurangan desain postingan yang saya sajikan.
Apakah itu berarti bahwa postingan yang menggunakan sistem grid atau multi-kolom itu buruk untuk diterapkan pada halaman web?
Menurut saya tergantung dan relatif sih. Memang, halaman web punya keterbatasan ruang, terutama pada tinggi halaman. Tak seperti majalah atau koran (media cetak). Tentunya bukan sebuah pengalaman yang menyenangkan ketika pengguna harus bolak-balik melakukan scrolling halaman (untuk melanjutkan ke paragraf berikutnya yang terletak di sisi kanan).


Oleh sebab itu, penyaji konten yang menggunakan konsep grid atau multi-kolom mesti pintar-pintar mengakalinya. Saya sendiri sudah melakukan beberapa trik agar pembaca bisa mudah mengikuti alur tulisan atau alur paragraf pada postingan yang menggunakan multi-kolom atau konsep grid.
Di antaranya menggunakan warna latar berbeda (agar pembaca tahu ke mana arah/alur tulisan). Contohnya pada tulisan saya tentang Youtube Ditutup. Kadang juga saya memberi garis pembatas. Selain itu, terkadang pula saya memberi penanda di akhir paragraf tertentu, dengan harapan agar pembaca tak perlu melanjutkan pembacaan ke paragraf di bawahnya. Jadi, dengan penanda tersebut, saya mengarahkan pembaca untuk melanjutkan bacaan ke paragraf/kolom yang ada di sisi kanannya.
Tapi ternyata trik tersebut tidak selalu sukses atau sesuai harapan saya :) Buktinya masih ada yang kebingungan dan malah meneruskan bacaan ke paragraf di bawahnya. Lalu ia melakukan scrolling lagi ke atas untuk membaca paragraf/kolom di sisi kanan, padahal alurnya bukan begitu…he he he.
Inilah tantangan yang menurut saya cukup berat bagi penyaji konten blog/web yang menggunakan desain grid atau multi-kolom. Kuncinya adalah mengusahakan agar pembaca tidak perlu direpotkan dengan bolak-balik melakukan scroll halaman. Sebab membaca halaman web tentunya tidak seperti membaca media cetak yang tidak dibatasi oleh ruang.
Kalaupun itu sudah diantisipasi, tetap saja masih berpotensi membingungkan pengguna/pembaca. Ya, seperti yang saya bilang sebelumnya (masalah alur tulisan atau alur paragraf). Saya rasa ini sangat wajar, mengingat mindset pengguna Internet yang sudah terlalu didoktrin (secara tidak sengaja) dengan sajian paragraf satu kolom.
Namun apakah mereka juga tidak terbiasa dengan desain grid atau multi-kolom ketika sedang membaca majalah dan koran? Bukankah konsep blogazine di sini cuma memindahkan konsep desain majalah tersebut ke halaman-halaman web? Jadi, sebenarnya bukan sesuatu yang terlalu asing atau baru.
Membutuhkan waktu lebih lama dari biasanya untuk mempersiapkan sebuah posting baru?
Hal ini memang tak bisa saya pungkiri. Logikanya, kalau kita tidak menggunakan konsep blogazine atau custom-post, maka setelah menulis materi tulisan, kita bisa langsung mempublikasikannya. Nah, beda kalau kita pakai konsep blogazine. Kita tentunya harus mempersiapkan konsep desain halaman tersebut dan juga menulis/mengetikkan kode-kode CSS maupun HTML-nya. Pastinya itu butuh waktu, walau belum tentu memakan waktu lama.
Tapi ini sudah resiko dan kita harus siap jika memang sudah memutuskan terjun ke blogazine atau sudah mantap dengan konsep custom-post. Sebenarnya yang paling dibutuhkan hanyalah NIAT atau TEKAD. Masalah waktu, itu bisa kita atur/kendalikan. Semuanya juga pasti butuh waktu, bukan? Lagipula, waktu yang kita alokasikan untuk membuat konsep desain atau mengetikkan kode-kodenya akan terbayar ketika kita sudah melihat hasilnya. Anda senang. Pembaca/pengunjung pun juga bisa senang (karena mereka mendapatkan pengalaman browsing yang baru dan kemungkinan akan menyenangkan..hehehe). Sok kepedeaan ya? ^_^
Mungkin tantangan inilah yang membuat sebagian narablog gugur atau menyerah duluan (dan termasuk menyerah di tengah jalan), padahal ia sudah mulai menerapkan/mempraktekkan konsep blogazine di blognya. Saya pribadi lebih melihatnya dari sisi niat yang kurang kuat atau tekad yang masih kurang teguh. Kemungkinan lain, ia masih moody atau sekadar ‘latah’.
Di awal-awal saja semangat ingin menerapkan konsep blogazine atau custom-post. Namun akhirnya keok juga..he..he..he.. (mudah-mudahan saya tidak seperti itu alias tetap bisa konsisten).
Jadi, kuatkan tekad dan niat dulu agar Anda bisa konsisten mempraktekkan konsep blogazine. Jangan hancurkan apa yang sudah Anda mulai atau tancapkan di awal. Inilah ujian atau tantangan blogazine yang sesungguhnya. Kuncinya kalau menurut saya yaitu bagaimana kita berusaha menikmati apa yang kita lakukan. Kalau sudah jadi beban, kemungkinan besar Anda tidak akan bisa konsisten nantinya.
Jadi, jangan salahkan jika ada sebagian blogger/narablog yang masih menilai blogazine itu cuma ‘tren’ atau bersifat ‘musiman’. Padahal sejatinya itu adalah sebuah konsep ngeblog yang tidak biasa di ranah blogging.
Punya pendapat lain soal ini? Apa tantangan lain dari penerapan blogazine menurut Anda?
Tautan Cepat »» Beri Komentar | Baca Ulang Posting
Baca Komentar | Daftar Posting Terbaru
Tambah KafeGue di Facebook
Ikuti KafeGue di Twitter
Menu Lainnya »» Atas » Beranda » Arsip » Profil » Kontak » Bawah
Langganan KafeGue.com melalui Email
Langganan melalui Pembaca RSS



Google Chrome 17.0.963.78 | Windows 7
Wow, aku suka desain blogazine yg konsepnya seperti majalah. Seperti blog ini juga jadi kelihatan menarik dan seolah-olah kita sedang membaca majalah juga meski online. Kalau kita ingin “sesuatu” atau Inovasi yang baru, ya sudah sewajarnya kt mempelajari dan mencoba konsep ini jg ya mas meskipun butuh tambahan waktu dibanding custom blog, setidaknya bs menjadi inspirasi bagi yang lainnya juga.
[Balas]
Firefox 6.0 | Windows XP
kalo trus mikirin tantangannya berat,kapan kita bisa majubang?hehe saya walau agak lama tetap akan make konsep ini :D soalnya bikin saya nyaman aja
[Balas]
Firefox 10.0.2 | Ubuntu
yang penting share, setuju. Yang penting berani mulai aja dulu. Kalau desain-desain blogazine di blog ypsrandy sih udah kelas tinggi tuh rata-rata. Saya mah masih jauuuuh ^^
[Balas]
Firefox 5.0 | Windows XP
iskandaria, walah bang kelas tinggi dari mana?-__- saya mah masih pemula dalam konsep ini
[Balas]
Google Chrome 17.0.963.78 | GNU/Linux
yang penting share, hahahaha.
[Balas]
Firefox 8.0.1 | Windows 7
masih belum berani nyoba konsep blogazine seperti ini mas,, saya aja kalo mbuat artikel itu lama banget.. apalagi kalo ditambah yang ginian, berapa lama nanti, hehe..
[Balas]
Google Chrome 17.0.963.56 | GNU/Linux
Dery, haha. Untung saya tidak butuh waktu lama untuk nulis satu postingan.
[Balas]
Firefox 10.0.2 | Windows XP
Ow memanfaatkan custom post type nya wp toh, sip2 :) selamat berkreasi deh buat penyuka blogzine :) saya penikmat nya aja :) cukup memakan waktu, tidak cocok sepertinya untuk saya :)
Semoga tidak bosan dan tidak menjadi kesenangan sesaat saja.
[Balas]
Google Chrome 17.0.963.56 | GNU/Linux
Izul Chaniago, amiin ^^
[Balas]
Opera Mini 4.4.27419 | J2ME/MIDP Device
Mas Is, maksud saya pekerjaan didunia maya.
Andai kata Mas Is juga seorang web designer yang, misal memiliki client yang harus dipenuhi permintaanya. Jangankan buat blogazine, buat update blogpun udah ngga ada ada waktu. Awalnya, saya pikir membagi waktu itu mudah, namun sayangnya permintaan yang aneh-aneh itu membuat kita “tidak punya waktu lagi”.
Jadi mungkin lebih ke fokus utama kita, apakah fokus ke blog, atau fokus ke pekerjaan. Dan yang saya tahu, untuk membuat sesuatau yang berkualitas, kita harus fokus ke salah satunya. Dan sayangnya lagi, saya ngga memiliki kemampuan super untuk fokus ke dua hal sekaligus. Belum lagi waktu yang harus dicurahkan untuk kehidupan nyata, itupun saya belum punya Istri, anak atau pekerjaan tetap.
And well, kedepanya seperti apa, saya sendiri ngga tahu.
Saya berani ngomong gini juga kerena, apa yang saya tahu adalah, orang-orang yang memiliki pekerjaan lain, sudah jarang update blog mereka. Malah ada yang hampir tutup.
Terlepas dari itu, saya acungi jempol 4 buat penganut blogazine atas kreatifitasnya, tetap pertahan jika memang ini adalah yang baik dimasa depan.
[Balas]
Google Chrome 17.0.963.46 | GNU/Linux
Indam, justru kalau belum punya anak istri, malah lebih enak ngatur waktunya kalau menurut saya. Kita cuma fokus dengan diri sendiri (karena nggak ada istri atau anak yang harus kita perhatikan). Tapi ya balik lagi ke masalah prioritas. Bagi saya sendiri, saat ini ngeblog bukan prioritas utama karena saya masih punya prioritas lain yang lebih utama. Toh, frekuensi update blog ini juga tidak terlalu sering dan blog ini bukan tergolog blog berita yang harus sering update. Maka dari itu, saya coba menekuni blogazine, walaupun awalnya sekedar coba-coba. Tapi lama-lama ya jadi asyik juga.
Kalau saya bandingkan antara sebelum mempraktekkan blogazine dan setelah menekuninya, frekuensi update blog saya nggak banyak berubah. Kalaupun ada masa/jangka waktu yang lama saya tidak update, itu lebih karena tidak punya ide atau saya memang lagi sibuk offline. Jadi, saya tetap memprioritaskan hal lain daripada ngeblog. Ngeblog cuma jadi hobi atau sarana buat saya mengembangkan diri. Kalau masalah monetisasi pun belum seberapa sampai saat ini.
Masalah kualitas, desain kustom yang saya hasilkan sampai saat ini juga saya rasa belum ada yang layak dibilang berkualitas. Setidaknya dibilang unik pun belum ada. Cuma saya berusaha menyajikan secara rapi saja (dengan komposisi warna yang kira-kira pas).
Yach, pada akhirnya semua kembali ke masalah prioritas, pembagian/manajemen waktu, dan juga niat. Waktu yang kita miliki sama-sama 24 jam. Nggak ada yang punya lebih banyak dari itu. Apalagi saya juga sambil kuliah dan tak jarang juga menyita waktu.
[Balas]
Firefox 8.0.1 | Windows XP
saya mungkin baru di blogazine,itu pun saya kenal blogazine waktu jalan2 ke blog nya mas hendro(amdhas),di situ komplit tutorial blogazine,
dan saya sedikit demi sedikit telah mencoba nya,dan menurut saya blogazine itu emang penuh tantangan..dan yg paling menantang banget ,pas bikin postingan
dengan kolom2 grid ato multi kolom.soal nya di situ kita mesti tau
dan musti bisa mengarahkan dan memberitahukan pengunjung mulai ngebaca nya dari mana..dan akhir nya dimana,dan itu lah hal yg paling rumit dan yg paling susah bgt selama ini saya bikin blogazine.
saya setuju banget dengan mas is..
“sebagian blogger/narablog yang masih menilai blogazine itu cuma ‘tren’ atau bersifat ‘musiman’. Padahal sejatinya itu adalah sebuah konsep ngeblog yang tidak biasa di ranah blogging.”
Mantap mas…
[Balas]
Google Chrome 17.0.963.46 | GNU/Linux
andre pandet, sip deh. Saya malah lebih baru lagi di dunia blogazine. Dari sisi desain, bikinan saya juga masih jauh banget kalau dibandingkan dengan kamu Ndre. Tapi yang namanya belajar, kan nggak harus langsung bisa bagus yach. Lama-lama juga makin terasah kalau sering mencoba/eksperimen.
[Balas]
Firefox 8.0.1 | Windows XP
iskandaria,
sama2 belajar kita nya mas..hehe..
kan udah bagus dan rapi desain nya mas is…
tapi saya salut sama mas iskandar…
coba dari awal di blog ini
udah di terapin konsep blogazine..
wew..pasti mantap nih…
blog nya ringan gak lemot..
sangat cocok buat blogazine..
dan yg paling saya suka ..
pemilihan font,warna dan ukuran font nya..
adem banget klw lagi baca – baca di sini..
emang cafe banget..
[Balas]
Google Chrome 17.0.963.46 | GNU/Linux
andre pandet, wahahaa. Makasih banyak atas pujiannya. Soal desain yang rapi, itu memang jadi prioritas utama saya dulu. Jadi biarkan desainya standar atau ala kadarnya, tetap akan saya usahakan rapi dan enak buat dibaca atau dilihat (misalnya dari sisi komposisi warna dan pemilihan font beserta segala tetek bengeknya). Soal loading yang cepat, itu juga saya usahakan dari ilmu/pengetahuan yang sudah saya peroleh tentang cara mempercepat loading, khususnya di WordPress. Syukurlah jika dirasa ringan loadingnya. Tapi saya akan tetap terus meningkatkan kecepatannya semaksimal mungkin.
[Balas]
Firefox 10.0 | Ubuntu
menurut saya blogzine tak jauh2 dari design. ada beberapa pembaca yang pembosan, membaca sana sini yang terlihat tampilan monoton. Ide yang bagus untuk membuat blogzine, hanya saja tulisan harus panjang lebar agar lebih menarik. kalau saja postingan ini pendek, pastinya tampilan akan berbeda dan kurang ‘menggigit’ :D
[Balas]
Google Chrome 17.0.963.46 | GNU/Linux
Kaget, oh, menurut mas Kaget harus panjang lebar yach ternyata. Tapi mungkin karena desain halaman ini saya bikin sederhana saja, jadinya kalau pendek mungkin akan terasa biasa. Kecuali kalau desainnya saya bikin unik atau tampak ‘wah’, mungkin kalau pendek pun tak masalah. Sayangnya, saya belum terlalu mampu untuk membuat desain halaman yang unik atau ‘wah’.
[Balas]
Firefox 11.0 | Windows 7 x64 Edition
Mas Iskandar :
Mungkin suatu saat nanti cara membuat blogazine ini perlu di bagi pakai, karena aku tertarik dengan konsepnya.
Kelambatan dalam pembuatan layout, saya sependapat dengan mas Hendro, tergantung kebiasaan dan penguasaan HTML dan CSS.
Ada alasan tambahan kalau postingnya kadang-kadang lambat.
[Balas]
Google Chrome 17.0.963.46 | GNU/Linux
Pak Aldy, untuk membuat blogazine di WordPress, sedikit gambaran mengenai caranya bisa dibaca pada:
Cara Membuat Tampilan Postingan Yang Berbeda-beda (m-alwi.com)
Custom CSS Per Post Tanpa Plugin (m-alwi.com)
Intinya, kita membuat style baru dan menaruhnya pada kolom custom CSS yang ada di bawah post-editor WP di dashboard (kalau sudah memasang kode untuk menampilkan textarea custom CSS di file function.php pada theme yang kita gunakan). Saya sendiri menggunakan cara tersebut Pak. Jadi nantinya, style baru yang telah kita buat otomatis akan ditaruh di antara tag
<head>dan</head>berupa CSS internal.[Balas]
Firefox 9.0.1 | Windows 7
iskandaria, Terima kasih informasinya mas. Mudah-mudahan bisa dimplementasikan secepatnya. Hey, ntar ada yang bilang ngekor…, biarin ;)
[Balas]
Google Chrome 17.0.963.46 | GNU/Linux
die, cuek aja Pak kalau ada yg bilang gitu. Lah, apa sih yang nggak ngekor di dunia ini. Ngeblog kan juga ngekor :)
[Balas]
BlackBerry | BlackBerry
die, Aku rasa sudah kodrat manusia… Yang baik mesti diikuti, bukan begitu Pak? :-)
Sungguh banyak sekali mamfaat yg bisa kita dapatkan dalam menerapkan blogazine, selain pemahaman terhadap HTML, CSS, javascript, dan PHP… Ilmu “ngedit” photo di Photoshop atau Gimp juga ikut berkembang Pak…
[Balas]
Google Chrome 17.0.963.46 | GNU/Linux
Padly, like this :)
[Balas]
Google Chrome 16.0.912.63 | Windows XP
Kalau saya sih sebenernya lebih suka mas tampilan blogazine, selain pada beberapa faktor bisa mendukung tingkat keterbacaan, tampilan kustom terlihat menarik dan Stand out the crowd gitu, meskipun ada hal – hal negatif yang diakibatkan dari tampilan blogazine itu sendiri. Tapi kalo menurut saya apabila digunakan pada artikel – artikel pilar atau artikel pilihan akan sangat bagus sehingga terlihat menarik :)
[Balas]
Google Chrome 17.0.963.46 | GNU/Linux
Graha Nurdian, setuju kalau ini sangat bagus diterapkan pada artikel/postingan pilar. Bahkan juga mungkin bisa menambah pageviews.
[Balas]
Firefox 10.0.1 | Windows XP
Menurut saya blogazine itu hanya awalnya yang rumit mas IS..klo sudah terbiasa dan paham maka akan mudah melayout. Ane bukan blogger fulltime, ane kerja dan pulang sore. Libur hari sabtu, minggu. Tapi ane tetap yakin bahwa klo sudah niat pasti bisa.
Melayout tidak perlu waktu lama kalau terbiasa, contoh yang real aryandhani, andre dan kim. coba contohnya andre bisa cepat melayout posting.
Nah, semua hal itu butuh proses, selama kita punya tekad untuk bisa pasti bisa. Klo ga ada niat percuma. contohnya ga usah jauh2..pertama kali kita kenal facebook aja pasti kita sudah kebingungan tapi lama2 pasti bisa karena kita suka dan menikmatinya [tidak di bawa beban]
Yang tidak di terapkan baru pertama menggunakan blogazine biasanya bloggernya mau yang langsung wah. Padahal ga seperti itu, memulai dari kosong adalah hal terpenting.
Untuk grid:
Ini masalahnya adalah jarak, antara kolom agar tidak berdempetan dalam arti ada white space. Dan biasanya layar tinggi itu 700px ke atas. Jadi buat grid sebaiknya jangan terlalu tinggi. Supaya pembaca tidak scroll lagi ke atas..walaupun scroll tapi tidak terlalu jauh. jadi pembaca bisa tetap mengikuti alur.
Banyak manfaat dari membuat blogazine. So..semoga kafegue tetap mempertahankan.
[Balas]
Google Chrome 17.0.963.46 | GNU/Linux
amdhas, betul banget bang. Ala bisa karena biasa sepertinya cocok juga dianalogikan untuk mereka yang sudah bisa mendesain layout dengan cepat, walaupun tingkat kerumitannya agak tinggi. Saya sendiri, makin sering praktek blogazine, rasanya makin enteng saat mau bikin layout maupun memikirkan kode-kodenya. Waktu merancang desain dan menyesaikannya jadi makin cepat juga.
Masalah pentingnya white-space, yups, ini poin mendasar yang memang sudah seharusnya diperhatikan, terutama kalau gridnya kita kasih warna latar berbeda. Nah, kadang saya menemukan tepi paragraf yang terlalu mepet dengan pembatasnya. Jadinya kurang enak dilihat maupun dibaca. Setidaknya kasih jarak kira-kira 1/2 cm aja udah cukup bagus sih sebenarnya.
Soal manfaat blogazine, jelas banyak banget dan itu sudah mulai saya rasakan sampai saat ini. Salah satunya, blogazine membuat saya mulai melek soal responsivitas. Selain itu, blogazine juga memperkenalkan saya dengan konsep grid atau multikolom. Lalu juga pseudo element. Pokoknya banyak banget ilmu baru di dunia web programming yang saya peroleh sejak mulai mempraktekkan blogazine (khususnya HTML dan CSS). Dan masih banyak juga ilmu/teknik mendesain yang belum saya praktekkan. Insya Allah blog ini akan tetap konsisten dengan konsep blogazine.
Tentunya ini juga berkat dukungan bang Hendro dan kawan-kawan yang senantiasa berbagi ilmu serta motivasi.
[Balas]
Google Chrome 17.0.963.46 | Windows 7
Siapa mister XXX tersebut? Jangan-jangan saya nih mas Is hahaha LOL :D
Kalo gitu hebat dong, saya selevel sama Vin Diesel hehe. Tapi waktu itu memang sempat dibuat bingung, ini bacanya arahnya kemana :D
Ya, menurut saya konsep blogazine ini cocok banget buat blogger yang demen ngutak-ngatik tampilan. Soalnya disini menuntut kreativitas yang nggak biasa. Bayangin, udah mumet2 nulis terus harus mikirin lagi gimana lay-outnya.. wah kalau saya jujur aja angkat tangan tinggi2. Mending gambar2 komik deh :D
Bagi blogger2 yang lain, camkan baik2 petuah Mas Is di akhir2 paragraf. Jangan jadikan konsep ini sebagai beban. Enjoy and playful, itulah kuncinya *tos*! :D
[Balas]
Google Chrome 17.0.963.46 | GNU/Linux
Darin, selain cocok bagi yang demen ngutak-ngatik tampilan, juga cocok bagi yang pengen mengasah skill coding HTML dan CSS (plus JavaScript dan PHP-nya). Blogazine bagi saya bukan sekedar utak-atik tampilan (karena itu lebih menjurus ke arah desainer semata), namun juga bagaimana kita bisa mengembangkan pemahaman dan kemampuan memrogram web. Misalnya gimana biar bisa responsive (menyesuaikan dengan lebar layar pengguna) walaupun kita setting pakai desain multi-kolom. Bayangkan kalau itu tidak kita antisipasi, maka ketika halaman kustom tersebut diakses dari layar monitor yang sempit (misalnya 800px ke bawah), maka sudah bisa dipastikan, tampilannya akan kurang enak dilihat. Kecuali kalau pakai plugin mobile. Tapi saya memilih mencopot plugin mobile tersebut dan sekarang menggunakan konsep responsive saja.
Selain itu, sebenarnya masih banyak lagi efek lain yang lahir ketika kita menerapkan konsep blogazine. Mudah-mudahan nanti bisa saya tuliskan dalam postingan khusus Mas (biar komentar balasan ini nggak kepanjangan) ^^
*Tos juga*
[Balas]
Google Chrome 17.0.963.46 | Windows XP
Andaikata pekerjaan mas is hanya ngeblog, saya berani menjamin mas Is akan tetap konsisten. Tapi jika pekerjaan mas bukan hanya ngeblog, saya berani manjamin blogazine hanya tren.
Dan saya cukup beruntung karena tidak menerapkan konsep blogazine/custom post :)
[Balas]
Google Chrome 17.0.963.46 | GNU/Linux
Indam, pekerjaan saya bukan hanya ngeblog, tapi sejauh ini saya tetap bisa konsisten karena saya sudah punya niat dan juga mulai menikmati apa yang saya lakukan. Masalah waktu, itu bisa diatur/dikendalikan. Rata-rata saya hanya butuh waktu kurang dari sehari untuk mempersiapkan desain kustom. Itupun saya cicil (jika ada waktu senggang). Jadi, sejauh ini tidak ada masalah dengan waktu bagi saya.
[Balas]
Firefox 9.0.1 | Windows 7
makin mantabs saja mas tampilan blognya
[Balas]
BlackBerry 8900 | BlackBerry 8900
Oh iya! Sedikit tambahan, sebaiknya buat pengguna blogazine juga menggunakan
script keyboard navigationagar lebih memudahkan pengunjung berpindah kehalaman sebelum/berikut-nya, selain juga mendukung kebergunaan dan keteraksesan…[Balas]
Google Chrome 17.0.963.46 | GNU/Linux
Padly, sepertinya itu lebih dikhususkan bagi yang kebetulan tidak bisa menggunakan mouse/tetikus ya Mas. Atau bisa juga bagi pengguna yang lebih terbiasa menggunakan keyboard untuk menavigasi halaman web. Pernah baca sih soal itu. Sepertinya bagus juga untuk diterapkan.
[Balas]
Firefox 10.0.1 | Windows 7
Diantara yang bingung dan belum faham itu termasuk saya :D
Tentang konsep ini caranya saja sy blm tw, dan dalam mengikuti alur tulisan jg masih gragap2 mata ngalor-ngidul liat sambungannya hahaha . . . Tapi tambah keyen kok mas :)
[Balas]
Firefox 11.0 | Windows 7
Jujur saja saya sangat awam dengan konsep blogazine, dan juga pengin punya blogazine. Tapi daripada menyerah di tengah jalan, lebih baik menyerah duluan. Nah lho? brati menyerah sebelum bertanding donk? Bukan seperti itu maksdunya, ibaratnya manusa boleh optimistis, tapi juga harus realistis. Saya menyadari masih sangat awam dengan custom css dan bahasa HTML, jadi saya memilih menjadi penikmat blogazine saja.
Mengenai tanggapan postingan di atas, saya juga sangat setuju. Sejauh postingan mas Iskandaria yang saya baca, saya masih sangat bisa mengikuti alurnya dan merasa enjoy ketika melahap tulisan mas Iskandaria dan beberapa blogger yang menerapkan blogazine. Karena tiap positngan unik tampilannya, jadi pengin kembali lagi untuk mengikuti konsep seperti apa lagi yang akan diterapkan pada postingan selanjutnya.
[Balas]
Google Chrome 17.0.963.46 | GNU/Linux
zholieh, basic/dasar untuk mulai menerapkan blogazine memang pemahaman HTML dan CSS dulu sih. Setidaknya tahu/paham apa itu selector CSS, tag HTML, ID, class, dan bagaimana cara mengubah atribut/property dan value-nya. Serta bagaimana membuat style baru dari yang sudah ada. Kalau sudah punya pemahaman yang cukup baik pada beberapa poin tersebut, kita sudah bisa memulai blogazine. Nantinya pemahaman kita justru akan makin bertambah kuat karena kita didorong untuk terus mempelajari ilmu-ilmu baru dan juga langsung mempraktekkanya.
Makasih atas apresiasinya.
[Balas]
Chromium 16.0.912.63 | GNU/Linux
Kalau yang sudah paham dengan responsive, cukup kecilkan saja browser anda :D *Jawaban yang simple kan?
Sementara untuk lamanya waktu posting, aku rasa tidak masalah kalau narablog-nya pandai menulis -aku sampai sekarang tidak terlalu pede untuk menulis-, dan punya daya khayal (dalam makna positif) tingkat tinggi. ::D
[Balas]
Google Chrome 17.0.963.46 | GNU/Linux
Padly, yups, kalau kebetulan bingung dengan alur konten yang saya kustom di blog ini, pengunjung bisa mengecilkan lebar browser mereka, setidaknya maksimal 800px atau sampai ada perubahan lay-out :)
[Balas]
Google Chrome 16.0.912.77 | Windows XP
Saya sependapat dengan paragraf di akhir mas is, banyak narablog menyebut blogazine itu adalah tren dan itu salah besar, Blogazine adalah KONSEP bukan TREN,
soal masalah penyesuaian gird atau multi kolom ini memang untuk yg pertama kali tahu blogazine pasti akan merasa kebingungan, bener kata mas is sebagai penyaji konten seharusnya kira bisa membawa alur bacaan yg mudah dibaca dan yg pasti blogazine jangan sampai ketinggalan, MERDEKA….
[Balas]
Google Chrome 17.0.963.46 | GNU/Linux
dhenycahyoe, mereka menyebut tren mungkin karena melihat sebagian blogger yang tidak konsisten menerapkan konsep blogazine di blognya. Jadi, akhirnya timbullah anggapan/penilaian tersebut. Nah, bukan salah mereka sepenuhnya juga kalau begitu. Kalau bagi saya sih, mau dibilang tren atau apa kek, yang penting bagaimana saya tetap bisa berkreasi sambil terus belajar dan mempraktekkan apa yang sudah saya pelajari. Merdeka juga deh!
[Balas]
Firefox 4.0.1 | Windows 7
ane juga kadang bingung gan baca blo konsep blogzine…
palagi klo dibaca pake monitor 19 in setting full hd,
ha ha ha… like sponge bob anyway…
mari kita rayakan hari kebalikaaaan….
[Balas]
Firefox 3.6.13 | Ubuntu 10.10
Saya biasanya memanfaatkan
text-align. Misalnya, untuk mengarahkan pembaca menuju ke kanan, buat kolom sebelah kiri dengan formattext-align:left. Meskipun sederhana tapi itu cukup efektif untuk memaksa mata orang lain untuk melenceng ke kanan. Misalnya ada di salah satu posting Saya: http://lie-out.blogspot.com/2012/02/something-new-and-awesome-on-smashing.html[Balas]
Firefox 3.6.13 | Ubuntu 10.10
Maaf, salah, bukan
text-align:lefttapitext-align:rightuntuk kolom kiri dantext-align:leftuntuk kolom kanan.[Balas]
Google Chrome 17.0.963.46 | GNU/Linux
Taufik Nurrohman, trik tersebut belum pernah saya coba sih. Sepertinya bagus juga untuk kondisi tertentu. Kapan-kapan mungkin akan saya cobain mas. Makasih atas inputnya.
[Balas]