<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>KafeGue.com &#187; iskandaria</title>
	<atom:link href="http://kafegue.com/author/admin/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kafegue.com</link>
	<description>Seputar Blogging - Teknologi Informasi - Info-Info Ringan</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Feb 2012 13:19:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Melepaskan Diri dari Belenggu Keyword Density</title>
		<link>http://kafegue.com/melepaskan-diri-dari-belenggu-keyword-density/</link>
		<comments>http://kafegue.com/melepaskan-diri-dari-belenggu-keyword-density/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 11:41:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iskandaria</dc:creator>
				<category><![CDATA[tips seo]]></category>
		<category><![CDATA[blogging]]></category>
		<category><![CDATA[kata kunci]]></category>
		<category><![CDATA[kepadatan]]></category>
		<category><![CDATA[keyword density]]></category>
		<category><![CDATA[SEO]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kafegue.com/?p=7239</guid>
		<description><![CDATA[Apakah Anda termasuk seorang narablog yang masih suka menerka-nerka jumlah keyword (kata kunci) yang ingin dibidik pada postingan Anda? Apakah Anda masih suka memikirkan penyebaran keyword, baik itu di awal, di tengah, maupun di akhir postingan Anda? Jika ya, berarti Anda masih belum bebas. Belum merdeka. Anda masih menjadi &#8220;budak&#8221; dari apa yang dinamakan sebagai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="ibu">
<div class="mak">
<p class="juhka"><span class="drop">A</span>pakah Anda termasuk seorang narablog yang masih suka menerka-nerka jumlah keyword (kata kunci) yang ingin dibidik pada postingan Anda? Apakah Anda masih suka memikirkan penyebaran keyword, baik itu di awal, di tengah, maupun di akhir postingan Anda? Jika ya, berarti Anda masih belum bebas. Belum merdeka. Anda masih menjadi &#8220;budak&#8221; dari apa yang dinamakan sebagai <em>keyword density</em> (tingkat kepadatan kata kunci utama yang ingin dibidik).</p>
<p>Ini tidak berlaku jika Anda sedang mengikuti kontes <abbr title="Search Engine Optimization">SEO</abbr>. Nah, jika begitu kondisinya, saya masih bisa memaklumi jika Anda masih memikirkan hal tersebut. Namun jika hanya sebuah postingan biasa (walaupun itu Anda targetkan untuk menjaring pengunjung dari mesin pencari), tapi Anda masih juga memikirkan hal tersebut, maka berarti Anda masih diperbudak oleh salah satu teori konyol <abbr title="Search Engine Optimization">SEO</abbr> yang bisa mematikan kreativitas menulis.</p>
</div>
<div class="lan">
<p><img class="aligncenter" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2012/02/keyword-density.jpg" alt="keyword density" width="416" height="285"/></p>
<p class="c15">Sumber gambar: <a href="http://www.dhanaptc.com/seo/pengetian-keyword-density">www.dhanaptc.com</a></p>
</div>
</div>
<div class="ibu">
<div class="pan">
<p>Terlalu memikirkan &#8216;keyword density&#8217; bisa membunuh aliran ide yang seharusnya keluar secara alami. Anda hanya akan sibuk memikirkan keyword atau kata kunci utama yang ingin dibidik. Akibatnya, kemampuan menulis Anda yang sebenarnya bisa tersumbat oleh katup &#8216;keyword density&#8217; tersebut. Bayangkan saja misalnya ketika Anda sedang <a class="c8" href="http://kafe28.blogspot.com/2009/04/membidik-keyword-yang-sedikit.html" title="tips">membidik keyword</a> berupa “<a href="http://kafegue.com/cara-cepat-menghapus-cache-dan-cookies-di-google-chrome/" title="tips">Cara Menghapus Cache dan Cookies di Google Chrome</a>”. Atau “<a href="http://kafegue.com/8-pemain-sepakbola-terkaya-di-dunia/" title="info">Pemain Sepakbola Terkaya di Dunia</a>”. Lalu Anda pun berusaha menyisipkan kata kunci berupa kalimat tersebut beberapa kali di dalam isi postingan Anda. Entah itu di awal, di tengah, maupun di akhir. Apakah tulisan Anda kemudian tidak akan menjadi aneh? ^_^</p>
<p class="tgh">—–0000000—–</p>
</div>
<div class="juh">
<p>Bertahun-tahun ngeblog, tapi masih juga belum bisa melepaskan diri dari mitos &#8216;keyword density&#8217;, itu bisa dibilang sebagai sebuah <em>kemandegan</em>. Anda tidak akan pernah bisa berkembang, terutama kemampuan menulis Anda. Hari gini masih percaya dengan teori &#8216;keyword density&#8217;? Ah, mungkin Anda beralasan bahwa itu banyak direkomendasikan oleh pakar <abbr title="Search Engine Optimization">SEO</abbr>. Saya pribadi mungkin tidak sependapat dengan sejumlah teori/trik <abbr title="Search Engine Optimization">SEO</abbr> yang banyak direkomendasikan.</p>
<p>Okelah kalau memang beberapa trik <abbr title="Search Engine Optimization">SEO</abbr> tersebut lahir dari hasil pengalaman pribadi maupun survei yang bisa dibuktikan kebenarannya. Namun khusus masalah &#8216;keyword density&#8217; (kepadatan kata kunci), harusnya para pakar <abbr title="Search Engine Optimization">SEO</abbr> memberi penekanan, bahwa hal itu cuma salah satu faktor pendukung yang tidak wajib atau tidak harus dipenuhi. Harusnya para pakar <abbr title="Search Engine Optimization">SEO</abbr> juga menekankan, bahwa ada sejumlah faktor lain yang jauh lebih penting.</p>
</div>
</div>
<div class="ibu">
<div class="pan">
<p>Saya sendiri (khusus di blog ini) sudah tidak lagi memikirkan masalah &#8216;keyword density&#8217;. Mau berapa persen <em>kek</em> jumlahnya, mau ada di awal, di tengah, ataupun di akhir postingan, saya <strong>sudah tidak peduli</strong> lagi. Jadi, saya berusaha mengalir secara alami saja ketika menulis di blog ini, walaupun sebagian tulisan/postingan yang saya buat tetap diupayakan untuk bisa menjaring pengunjung dari mesin pencari.</p>
<p>Ya. Saya tetap memikirkan masalah <abbr title="Search Engine Optimization">SEO</abbr> (agar blog ini bisa terus berkembang dari sisi natural trafik atau kunjungan alaminya). Namun khusus untuk kepadatan kata kunci di setiap postingan, saya sudah tidak peduli lagi. Biarlah algoritma mesin pencari bekerja dengan mekanisme cerdasnya. Saya cuma bisa mengupayakan agar tulisan/<a href="http://kafegue.com/konten-pilar-si-penjaga-aliran-trafik-blog/" title="konten pilar">konten blog</a> ini tersaji senatural mungkin. Kalaupun ada satu dua yang terkesan dipaksakan dalam penulisannya, mungkin itu ketidaksengajaan saya atau itu ketika saya masih memikirkan masalah kepadatan <a href="http://kafegue.com/hasil-riset-kata-kunci-blogger-kutu-kupret-yang-mencengangkan-di-serp-google/" title="riset saya">kata kunci</a> tersebut.</p>
</div>
<div class="juh">
<p><img class="aligncenter" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2012/02/KeywordDensity.jpg" alt="keyword density" width="650" height="357"/></p>
<p class="c15">Sumber gambar: <a href="http://sgraymackenzie.com/no-more-keyword-densit/">www.sgraymackenzie.com</a></p>
</div>
</div>
<div class="ibu">
<div class="nam">
<p>Satu hal yang mungkin agak dilupakan oleh banyak pakar <abbr title="Search Engine Optimization">SEO</abbr> maupun para narablog yang masih memikirkan masalah &#8216;keyword density&#8217; yaitu bagian isi komentar pada halaman posting. Ya. Bukankah teks pada isi komentar juga bisa mempengaruhi &#8216;keyword density&#8217;? Maksud saya, teks pada bagian isi komentar juga akan diindeks oleh mesin pencari. Tidak percaya? Silakan buktikan sendiri saja. Kecuali kalau website/blog tersebut memang tidak membuka respon pembaca lewat komentar.</p>
<p>Nah, dari kondisi/fakta tersebut saja, kita sebenarnya tidak bisa mengontrol &#8216;keyword density&#8217;. Jadi, mengapa harus bersusah payah memikirkannya? Mulailah melepaskan diri dari belenggu yang bisa mematikan kreativitas menulis ini. Jangan biarkan diri Anda diperbudak olehnya.</p>
</div>
<div class="lanwa">
<p class="ttp"><span class="dropwa">S</span>atu lagi, tidak pernahkah Anda berpikir, bahwa ketika tulisan/postingan Anda enak dibaca, mengalir secara alami, dan tertata rapi, maka bisa jadi akan banyak pembaca yang merekomendasikan tulisan Anda. Entah itu berwujud <em>backlink</em> atau bentuk-bentuk promosi lainnya. Efek ini mungkin akan bersifat berantai dan secara tidak langsung bisa mendukung peringkat halaman postingan Anda yang banyak direkomendasikan tersebut.</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kafegue.com/melepaskan-diri-dari-belenggu-keyword-density/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keyword di Paragraf Pertama dan Terakhir, Masih Ampuhkah untuk SEO WordPress?</title>
		<link>http://kafegue.com/keyword-di-paragraf-pertama-dan-terakhir-masih-ampuhkah-untuk-seo-wordpress/</link>
		<comments>http://kafegue.com/keyword-di-paragraf-pertama-dan-terakhir-masih-ampuhkah-untuk-seo-wordpress/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Jan 2012 17:47:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iskandaria</dc:creator>
				<category><![CDATA[tips seo]]></category>
		<category><![CDATA[kata kunci]]></category>
		<category><![CDATA[keyword]]></category>
		<category><![CDATA[meta deskripsi]]></category>
		<category><![CDATA[paragraf]]></category>
		<category><![CDATA[SEO]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kafegue.com/?p=7177</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya ini adalah salah satu teknik SEO usang yang menurut saya sudah tidak perlu lagi terlalu diikuti (secara kaku). Selain itu, tentu saja ini bisa membunuh/mematikan seni menulis itu sendiri. Alih-alih menulis dengan bebas dan mengalir secara alami, yang ada malah tulisan aneh, dipaksakan, dan sama sekali jauh dari kata alami. Jujur saja, saya paling [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tambi">
<p class="juhka"><span class="drop">S</span>ebenarnya ini adalah salah satu <strong>teknik <abbr title="Search Engine Optimization">SEO</abbr> usang</strong> yang menurut saya sudah tidak perlu lagi terlalu diikuti (secara kaku). Selain itu, tentu saja ini bisa membunuh/mematikan seni menulis itu sendiri. Alih-alih menulis dengan bebas dan mengalir secara alami, yang ada malah tulisan aneh, dipaksakan, dan sama sekali jauh dari kata alami.</p>
<p>Jujur saja, saya paling malas membaca (apalagi mengomentari) postingan blog yang memiliki ciri-ciri seperti itu. Dari membaca sepintas kalimat di awal dan di akhir paragraf saja, sudah bisa tergambar, bahwa sang narablog/penulis masih memegang trik usang yang entah sampai kapan akan tetap diyakini keampuhannya. Padahal (khusus bagi para pengguna WordPress <em>self hosting</em>), cukup dengan mengisi keterangan meta deskripsi saja, sebenarnya kita tidak perlu memaksakan diri mengisi awal paragraf maupun akhir paragraf dengan kata kunci (<em><a href="http://kafegue.com/melepaskan-diri-dari-belenggu-keyword-density/">keyword</a></em>) yang kita bidik.</p>
<p>Ya. Percayalah dengan kekuatan <strong>meta deskripsi</strong> yang telah Anda isi, terutama jika Anda menggunakan plugin <abbr title="Search Engine Optimization">SEO</abbr>. Sejauh ini, berdasarkan pengamatan dan survei kecil-kecilan saya, google (sebagai mesin pencari yang paling populer dan paling banyak dijadikan lahan optimasi) masih lebih mengutamakan mengindeks penggalan keterangan yang kita isikan pada bagian meta deskripsi.</p>
<p>Itu dengan kondisi/kasus jika pengguna menggunakan kata kunci yang masih berkaitan erat dengan judul postingan yang kita tulis dan kata kunci tersebut ada di dalam penggalan meta deskripsi.</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2012/01/meta-description.jpg" alt="meta deskripsi" width="484" height="337"/></p>
<p class="c15">Sumber gambar: <a href="http://www.ppcforhire.com/blog/2010/03/seo-basics-meta-description/">www.ppcforhire.com</a></p>
<p>Artinya, keterangan meta deskripsi masih lebih diutamakan untuk diindeks daripada penggalan kalimat/teks pada awal paragraf maupun akhir paragraf. Ini jika mengacu pada kasus/kondisi yang telah saya jelaskan di atas.</p>
<p>Jadi, sebenarnya Anda tak perlu memaksakan memasukkan kata kunci yang ingin dibidik pada awal paragraf pertama maupun terakhir. Saya katakan itu mubazir dan tidak perlu. Mengalirlah secara alami ketika hendak membuka maupun menutup tulisan/postingan Anda.</p>
<p>Saya dulu sempat termakan oleh “mitos” atau anjuran para “pakar SEO” yang hampir selalu merekomendasikan untuk menjejali/memasukkan kata kunci di awal serta di akhir postingan. Namun akhirnya saya sadar sendiri, bahwa hal itu tidaklah selalu tepat dan efektif. Terlebih ketika saya mulai merasakan kekuatan pengisian meta deskripsi yang tepat, seperti yang pernah saya kupas dalam postingan berjudul <a href="http://kafegue.com/trik-menulis-meta-deskripsi-agar-lebih-deskriptif-dan-berguna-di-hasil-pencarian/">Trik Menulis Meta Deskripsi</a> agar Lebih Menarik dan Berguna di Hasil Pencarian (kafegue.com).</p>
<p>Nah, kasusnya mungkin agak berbeda jika Anda menggunakan <abbr title="Content Management System">CMS</abbr> yang belum memungkinkan kita untuk menyetting meta deskripsi secara otomatis. Seperti di bloggger/blogspot. Namun solusi ampuhnya yaitu membuat keterangan meta deskripsi secara manual. Kalaupun Anda malas membuatnya, cukup masuk akal jika akhirnya Anda memasukkan kata kunci yang ingin dibidik pada awal paragraf maupun di akhirnya.</p>
<p>Jadi, kritikan dan saran saya di tulisan ini lebih saya tujukan bagi rekan-rekan yang sudah menggunakan WordPress <em>self-hosting</em> dan terutama bagi yang sudah menggunakan plugin <abbr title="Search Engine Optimization">SEO</abbr>. Anda harus yakin dengan kekuatan meta deskripsi dan penyajian alur tulisan yang mengalir secara alami.</p>
<p>Mungkin Anda menganggap hal ini sepele. Tapi bisa jadi, 2 faktor tersebut bisa menaikkan kunjungan ke blog Anda secara lebih baik atau signifikan (jka benar-benar Anda optimalkan atau usahakan sebaik mungkin).</p>
<p>Terkait hal ini, saya sebenarnya mengamati perkembangan rangking alexa beberapa blog rekan sesama narablog/blogger yang sampai saat ini masih saja termakan oleh beberapa trik <abbr title="Search Engine Optimization">SEO</abbr> usang. Saya lihat rangking alexa blog mereka cenderung stagnan, padahal saya lihat mereka sudah mati-matian menjejali berbagai postingan mereka dengan kata kunci yang dibidik, terutama di awal, di tengah, maupun di akhir. Termasuk mengakali tampilannya dengan huruf tebal, huruf miring, maupun bergaris bawah.</p>
<p>Sayangnya, mereka tetap saja tidak mau meninggalkan trik yang sudah basi dan usang tersebut, walaupun mungkin menyadari bahwa itu kurang efektif.</p>
<p>Ada komentar soal ini?</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kafegue.com/keyword-di-paragraf-pertama-dan-terakhir-masih-ampuhkah-untuk-seo-wordpress/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>45</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Komunitas Pengguna Linux di Facebook</title>
		<link>http://kafegue.com/komunitas-pengguna-linux-di-facebook/</link>
		<comments>http://kafegue.com/komunitas-pengguna-linux-di-facebook/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jan 2012 17:09:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iskandaria</dc:creator>
				<category><![CDATA[seputar linux]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[grup]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[open source]]></category>
		<category><![CDATA[pengguna linux]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kafegue.com/?p=7106</guid>
		<description><![CDATA[Facebook adalah situs jejaring sosial terfavorit saya saat ini. Bukan tanpa alasan saya menjadikannya sebagai terfavorit. Awalnya saya bergabung ke Facebook sekadar untuk mempermudah komunikasi dan bertukar informasi dengan para kenalan saya (yang memang benar-benar sudah bertemu di dunia nyata serta memiliki satu lingkaran hubungan yang sama). Namun pada perkembangannya, akhirnya saya menemukan sesuatu yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="ibu">
<div class="pat">
<p class="juhka"><span class="drop">F</span>acebook adalah situs jejaring sosial terfavorit saya saat ini. Bukan tanpa alasan saya menjadikannya sebagai terfavorit. Awalnya saya bergabung ke Facebook sekadar untuk mempermudah komunikasi dan bertukar informasi dengan para kenalan saya (yang memang benar-benar sudah bertemu di dunia nyata serta memiliki satu lingkaran hubungan yang sama).</p>
</div>
</div>
<div class="ibu">
<div class="pantu">
<p>Namun pada perkembangannya, akhirnya saya menemukan sesuatu yang bisa membuat saya lebih bergairah di Facebook. Ternyata di Facebook saya menemukan begitu banyak grup (komunitas) yang sengaja dibentuk berdasarkan kesamaan minat. Sampai saat ini, ada sekitar 10 grup yang saya ikuti di Facebook (dari berbagai bidang). Namun hanya pada beberapa grup tertentu saya bisa dibilang cukup aktif. Sisanya, saya hanya sebagai anggota pasif yang sesekali saja menunjukkan aktivitas/eksistensi.</p>
<p>Nah, salah satu grup yang cukup saya minati belakangan ini di Facebook yaitu grup yang bernama <strong><a href="http://www.facebook.com/groups/ayobelajarlinux/" title="halaman grupnya">Ayo Belajar Linux</a></strong>. Grup ini kalau saya tidak salah digagas/dibentuk oleh Pak <a href="http://www.facebook.com/goesspoerr" title="halaman profil">Agus Purnomo</a>, seorang “pendekar” <em>BlankOn</em> (salah satu distribusi Linux lokal karya anak bangsa). Beliau saya kenal sangat gigih dalam memasyarakatkan penggunaan piranti lunak yang legal, bebas dan berkode sumber terbuka (istilahnya, <em>free and open-source software</em>). Alias <abbr title="Free and Open-Source Software">FOSS</abbr>.</p>
</div>
<div class="juh">
<p>Sehubungan dengan itu, grup &#8220;Ayo Belajar Linux&#8221; tidak hanya dibatasi untuk para pengguna Linux semata. Anda yang belum pernah menggunakan Linux juga boleh bergabung di grup tersebut. Terlebih bagi Anda yang baru mencoba Linux, sekadar ingin tahu, atau memang tertarik dengan Linux berserta dunia <em>open-source</em> secara umum.</p>
<p>Saya sendiri belum lama bergabung di grup tersebut. Kira-kira baru sekitar sebulan. Awal menemukan grup tersebut secara tidak sengaja lewat sebuah <em>timeline</em> yang ada di sisi kanan atas halaman Facebook. Langsung saja <em>timeline</em>-nya saya klik dan terbukalah sebuah halaman grup/komunitas pengguna Linux yang diberi nama “Ayo Belajar Linux”. Setelah itu, saya langsung meminta bergabung kepada admin. Tak berselang lama kemudian, permohonan saya pun diterima.</p>
</div>
</div>
<div class="ibu">
<div class="tga">
<p><img class="aligncenter" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2012/01/BELAJAR-LINUX.jpg" alt="grup linux fb" width="750" height="435"/></p>
</div>
</div>
<div class="ibu">
<div class="juh">
<h3>Kesan dan pengalaman saya selama beraktivitas di grup Ayo Belajar Linux</h3>
<p>Kondisi aktivitas di grup Ayo Belajar Linux sangat mencerminkan keberagaman latar belakang maupun karakter manusia secara umum. Di situ, jenis <em>thread</em>/status yang muncul pun sangat beragam. Baik itu berupa pertanyaan, opini, tutorial, tips, dokumentasi, ataupun sekadar <em>sharing</em> foto-foto desktop komputer para anggota yang menggunakan Linux. Nah, poin terakhir itulah yang kadang memberi warna tersendiri :)</p>
<p>Linux memang sangat mudah di<em>oprek</em> (dikustomisasi). Bahkan bisa habis-habisan diutak-atik. Oleh sebab itu, tak jarang saya menemukan <em>thread</em>/status para anggota yang memamerkan tampilan screenshot desktop Linux mereka (hasil <em>oprekan</em> mereka tentunya). Ini salah satu contoh &#8216;narsis&#8217; yang positif menurut saya :)</p>
<p>Fenomena menarik lainnya yaitu dari sisi tingkat keragaman pertanyaan yang sering diajukan oleh para anggota grup. Mulai dari pertanyaan sepele/remeh yang bisa dengan mudah ditemukan jawabannya dengan melakukan <em>searching</em> di mesin pencari (istilahnya cukup dengan modal &#8216;googling&#8217;), hingga ke pertanyaan kelas berat yang tidak sembarangan pengguna Linux bisa menjawabnya. Alias cuma pengguna Linux yang sudah agak berpengalaman yang kemungkinan mampu menjawabnya.</p>
<p class="tgh">&#8212;&#8211;0000000&#8212;&#8211;</p>
</div>
<div class="juh">
<div class="stu">
<p>Namun kurang seru rasanya jika sebuah grup/komunitas tidak ada diskusi. Nah, terkadang saya juga menemukan diskusi menarik di grup Ayo Belajar Linux. Topiknya bisa beragam. Tergantung <em>thread</em> utama yang dikomentari. Pernah juga ada sebuah diskusi panjang yang bisa saya anggap sangat berbobot. Waktu itu membahas masalah kendala migrasi ke Linux dan software <em>open-source</em> pada perusahaan/instansi yang sebelumnya menggunakan sistem operasi Windows.</p>
</div>
<div class="pandua">
<p>Diskusi waktu itu lumayan banyak memberi saya wawasan. Betapa tidak, sebagian <em>thread</em> berisi pengalaman/kisah nyata mereka yang terlibat dalam usaha migrasi ke software <em>open-source</em>, kendala-kendala yang dihadapi, dan termasuk kisah nyata mereka yang telah berhasil melakukan migrasi.</p>
</div>
<div class="pandua">
<p>Di luar itu, saya merasa diri saya masih perlu banyak belajar soal seluk-beluk Linux. Bahkan saya sempat merasa minder ketika menemukan cukup banyak anggota grup Ayo Belajar Linux yang tenyata sudah lumayan mengerti berbagai permasalahan yang ditemukan pada dunia Linux dan <em>open-source</em> secara umum (beserta solusinya).</p>
</div>
<div class="stu">
<p>Ya, intinya saya memperoleh banyak wawasan dan ilmu baru setelah bergabung di grup Ayo Belajar Linux. Tentunya juga bisa sekaligus menjadi sarana untuk <em>sharing</em> pengetahuan maupun pengalaman saya selama menggunakan Linux. Hal ini jika ada topik/<em>thread</em> yang kira-kira bisa saya tanggapi.</p>
</div>
</div>
</div>
<div class="ibu">
<div class="juh">
<h3>Tertarik Bergabung di grup Ayo Belajar Linux?</h3>
<p>Caranya mudah saja jika Anda sudah punya akun di Facebook. Silakan kunjungi halaman grupnya di <strong><a href="http://www.facebook.com/groups/ayobelajarlinux/" title="halaman grupnya">Ayo Belajar Linux</a></strong>. Setelah itu, cukup klik tombol permintaan untuk bergabung. Mudah-mudahan admin bisa menerima karena grup tersebut bersifat terbuka.</p>
<p>Selamat bergabung dan maju terus dunia <em>open-source</em> Indonesia. Go go go!</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kafegue.com/komunitas-pengguna-linux-di-facebook/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cara Install Gambas3 di Linux Mint Edisi Debian (LMDE)</title>
		<link>http://kafegue.com/cara-install-gambas3-di-linux-mint-edisi-debian-lmde/</link>
		<comments>http://kafegue.com/cara-install-gambas3-di-linux-mint-edisi-debian-lmde/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jan 2012 17:46:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iskandaria</dc:creator>
				<category><![CDATA[tips linux]]></category>
		<category><![CDATA[basic]]></category>
		<category><![CDATA[gambas3]]></category>
		<category><![CDATA[install gambas3]]></category>
		<category><![CDATA[linux]]></category>
		<category><![CDATA[linux mint debian]]></category>
		<category><![CDATA[lmde]]></category>
		<category><![CDATA[open source]]></category>
		<category><![CDATA[tutorial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kafegue.com/?p=7042</guid>
		<description><![CDATA[Gambas adalah sebuah Integrated Development Environment (IDE) untuk membuat atau membangun aplikasi berbasis GUI di platform Linux. Kalau saya ibaratkan, Gambas ini bisa dibilang sebagai Visual Basic-nya Linux. Betapa tidak, selain sama-sama berbasiskan bahasa pemrograman Basic dan berorientasi visual + object, desain antarmuka (interface) Gambas juga mirip dengan Microsoft Visual Basic. Begitu pula sintaks kode [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="ibu">
<div class="mak">
<p class="juhka"><span class="drop">G</span>ambas adalah sebuah <em>Integrated Development Environment</em> (IDE) untuk membuat atau membangun aplikasi berbasis <abbr class="trg" title="Graphical User Interface">GUI</abbr> di platform Linux. Kalau saya ibaratkan, Gambas ini bisa dibilang sebagai Visual Basic-nya Linux. Betapa tidak, selain sama-sama berbasiskan bahasa pemrograman Basic dan berorientasi visual + object, desain antarmuka (<em>interface</em>) Gambas juga mirip dengan Microsoft Visual Basic. Begitu pula sintaks kode programnya, walaupun tidak sama persis.</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2012/01/LogoGambas3.jpg" alt="logo gambas3" width="640" height="142"/></p>
</div>
<div class="lan">
<p>Bagi Anda yang sebelumnya sudah cukup mahir menggunakan Visual Basic di sistem operasi Windows dan ingin mencari alternatif penggantinya di Linux, maka Gambas adalah pilihan yang paling tepat.</p>
<p>Selengkapnya tentang Gambas, bisa Anda baca melalui <a href="http://gambas.sourceforge.net/en/main.html">keterangan di situs resminya</a> (gambas.sourceforge.net).</p>
<p>Saya sendiri baru mulai belajar menggunakan Gambas untuk membuat aplikasi berbasis bahasa Basic di Linux. Rasanya cukup menyenangkan ketika menggunakan <abbr title="Integrated Development Environment">IDE</abbr> yang bersifat <em>free</em> dan <em>open-source</em> ini. Proses pengetikan kode program di Gambas ini bisa lebih cepat dan otomatis daripada ketika saya meng-<em>coding</em> di Visual Basic. Begitu pula komponen-komponen (objek) yang tersedia. Di Gambas, saya menemukan komponen default yang lebih variatif dan lebih banyak daripada yang ada di Visual Basic (VB 6.0). Penggunaannya juga relatif lebih nyaman daripada di Visual Basic.</p>
</div>
</div>
<div class="ibu">
<div class="pan">
<p>Versi Gambas terkini saat tulisan ini saya publish yaitu versi 3 (Gambas3). Versi terbaru ini belum tersedia pada repository <a href="http://kafegue.com/review-linux-mint-debian-edition-lmde-201109-versi-gnome/" title="review">Linux Mint Edisi Debian</a>. Untuk bisa memasang/menginstalnya di <abbr title="Linux Mint Debian Edition">LMDE</abbr>, Anda harus menambahkan repository Gambas3 yang berasal dari repo Ubuntu. Namun bukan dengan cara menambahkan lewat perintah <code>sudo add-apt-repository</code> bla bla bla. Kalaupun Anda tambahkan secara paksa dengan perintah tersebut melalui terminal, tetap saja tidak akan berfungsi (berdasarkan pengalaman saya).</p>
<p>Bahkan ketika Anda coba meng-<em>compile</em> dan menginstall Gambas3 secara manual (lewat file hasil ekstraknya), Anda berpotensi mengalami kegagalan pada langkah terakhir (pada perintah <code>make</code> atau <code>make install</code>). Ini berdasarkan pengalaman saya sendiri.</p>
<p>Jadi bagaimana solusinya? Cukup tambahkan alamat sumber repo Gambas3 pada direktori <code>/etc/apt/sources.list</code> <abbr title="Linux Mint Debian Edition">LMDE</abbr> Anda.</p>
</div>
<div class="juhwa">
<p>Berikut ini tampilan Gambas3 pada Linux Mint Debian (LMDE) saya.</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2012/01/newpro.jpg" alt="sources list" width="640" height="445"/></p>
</div>
</div>
<div class="ibu">
<div class="pat">
<p><strong>Langkah-langkahnya sebagai berikut</strong>:</p>
<ol>
<li>Buka terminal, lalu inputkan perintah ini diikuti menekan tombol <kbd>enter</kbd>.
<pre>gksu gedit /etc/apt/sources.list</pre>
<p>Jika <abbr title="Linux Mint Debian Edition">LMDE</abbr> yang Anda gunakan memakai desktop Xfce, ganti saja perintah &#8216;gedit&#8217; dengan nama <em>text-editor</em> default dari desktop Xfce yang ada pada <abbr title="Linux Mint Debian Edition">LMDE</abbr> Anda. Misalnya dengan &#8216;leafpad&#8217;, sehingga perintahnya menjadi:</p>
<pre>gksu leafpad /etc/apt/sources.list</pre>
</li>
<li>Masukkan password root <abbr title="Linux Mint Debian Edition">LMDE</abbr> Anda pada kotak dialog yang muncul, lalu tekan <kbd>enter</kbd> atau klik tombol <button>OK</button>.</li>
<li>
<p>Pada kotak gedit/leafpad yang terbuka kemudian, masukkan <em>sources-list</em> baru dari Gambas3 (yang berasal dari kanal PPA Ubuntu). Nah, pada tahap ini, saya sendiri menggunakan kanal PPA dari <a href="http://kafegue.com/cara-install-driver-vga-sis-di-linux-ubuntu-11-04/" title="cara install driver vga sis">Ubuntu 11.04</a> <em>Natty Narwhal</em>, berhubung <abbr title="Linux Mint Debian Edition">LMDE</abbr> yang saya gunakan dirilis sebelum rilis <a href="http://kafegue.com/review-ubuntu-11-10-oneiric-ocelot-final-release/" title="review">Ubuntu 11.10 Oneiric Ocelot</a>. Dalam hal ini, <em>copy</em> dan <em>paste</em>-kan list repository berikut ini pada baris terakhir di dalam kotak/jendela gedit yang muncul.</p>
<pre>
deb http://ppa.launchpad.net/nemh/gambas3/ubuntu natty main
deb-src http://ppa.launchpad.net/nemh/gambas3/ubuntu natty main
</pre>
<p>Lebih jelasnya, lihat gambar berikut.</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2012/01/sources-list.png" alt="sources list" width="614" height="404"/></p>
<p>Jika Anda ingin eksperimen dengan repo dari Ubuntu Oneiric, silakan ganti keterangan “natty” pada kedua list di atas dengan keterangan “oneiric”. Tapi saya tidak menjamin penggunaan repo Oneiric bisa berhasil. Jadi, coba gunakan repo natty saja.</p>
</li>
<li>Klik tombol <button>Save</button> di bawah bar menu kotak gedit atau tekan <kbd>Ctrl</kbd> + <kbd>S</kbd> pada keyboard Anda untuk menyimpan hasil penambahan list di atas. Lalu tutuplah kotak gedit tersebut</li>
<li>
<p>Pada terminal yang masih terbuka, lakukan pembaruan (<em>update</em>) paket-paket aplikasi dan sekaligus penginstalan Gambas3 lewat sebaris perintah berikut ini.</p>
<pre>sudo apt-get update &#038;&#038; sudo apt-get install gambas3</pre>
<p>Lalu masukkan password root Anda dan tekan enter. Tunggulah proses pembaruan	paketnya selesai. Jika nantinya ada konfirmasi untuk menginstal Gambas3, ketik saja Y, lalu tekan enter kembali (untuk mulai menginstal/memasang Gambas3 pada komputer Anda).</p>
</li>
<li>Silakan cek/temukan hasil instalasi Gambas3 melalui <em>launcher</em> menu Linux Mint Debian Anda, tepatnya pada sub menu (kategori) Programming.</li>
</ol>
<p>Selamat mencoba dan semoga berhasil.</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kafegue.com/cara-install-gambas3-di-linux-mint-edisi-debian-lmde/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seandainya Youtube Ditutup</title>
		<link>http://kafegue.com/seandainya-youtube-ditutup/</link>
		<comments>http://kafegue.com/seandainya-youtube-ditutup/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jan 2012 11:14:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iskandaria</dc:creator>
				<category><![CDATA[seputar internet]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>
		<category><![CDATA[online]]></category>
		<category><![CDATA[pembajakan]]></category>
		<category><![CDATA[pipa]]></category>
		<category><![CDATA[sopa]]></category>
		<category><![CDATA[youtube]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kafegue.com/?p=6945</guid>
		<description><![CDATA[Ya. Mari kita berandai-andai sejenak. Anda boleh mengaitkan ini dengan kisruh SOPA &#38; PIPA yang belakangan ini mencuat hangat di dunia maya, terutama di situs-situs jejaring sosial. Anda pun bebas juga untuk tidak mengaitkannya dengan hal tersebut. ~ Youtube di mata saya ~ Youtube (yang notabene merupakan salah satu situs file-sharing terbesar di jagat maya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="ibu">
<div class="mak">
<p><img class="aligncenter" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2012/01/yutub1.jpg" alt="video youtube" width="600" height="476" /></p>
</div>
<div class="lan">
<p class="juhka"><span class="drop">Y</span>a. Mari kita berandai-andai sejenak. Anda boleh mengaitkan ini dengan kisruh SOPA &amp; PIPA yang belakangan ini mencuat hangat di dunia maya, terutama di situs-situs jejaring sosial. Anda pun bebas juga untuk tidak mengaitkannya dengan hal tersebut.</p>
</div>
<div class="ibu">
<div class="mak">
<h3 class="tgh">~ Youtube di mata saya ~</h3>
<p class="mari">Youtube (yang notabene merupakan salah satu situs <em>file-sharing</em> terbesar di jagat maya saat ini) bagi saya adalah sebuah kekayaan maha luas dari keajaiban yang bernama Internet. Ya. Internet telah mengubah segalanya dan Youtube adalah salah satu keajaiban dunia maya. Youtube telah memberikan khasanah tak terhingga bagi masyakarat sejagat. Ibarat sebuah perpustakaan online atau perpustakaan digital yang maha lengkap, di Youtube Anda bisa menemukan hampir segalanya.</p>
<p class="mari">Mau cari video tutorial, dokumenter, liputan, review produk, demo teknologi terbaru, trailer film, hasil wawancara artis, video klip lagu dari berbagai artis, video lucu yang bisa bikin <em>ngakak</em> guling-guling, video narsis <del datetime="2012-01-25T11:28:59+00:00"><em>nggak</em> penting</del>, dan bahkan video &#8216;esek-esek&#8217; yang bersifat semi porno. Semuanya ada di youtube.</p>
<p class="mari">Bukan cuma itu, di Youtube Anda pun bisa menemukan begitu banyak sisi lain seorang <em>public-figur</em> atau artis. Misalnya saja ketika Anda ingin mencari informasi tentang artis tertentu yang Anda sukai. Anda cukup mengetikkan nama sang artis di kotak pencarian, lalu menekan tombol <kbd>enter</kbd> pada keyboard. Maka tak lama kemudian akan bermunculan-lah sejumlah video siap tonton (plus siap unduh) terkait nama sang artis.</p>
<p class="mari">Youtube tak ubahnya sebuah ensiklopedia maha luas &amp; lengkap berbentuk multimedia. Dengannya, Anda bisa menambah wawasan, pengetahuan, pemahaman, keyakinan, ataupun sekadar memperoleh hiburan. Semuanya tergantung kebutuhan Anda. Dan untuk mendapatkan itu, untungnya sampai saat ini, Anda tak perlu membayar sepeser pun. Kecuali biaya untuk mengakses Internet :)</p>
</div>
<div class="lan">
<p><img class="alignnone" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2012/01/yutub3.jpg" alt="sidebar youtube" width="307" height="668" /></p>
</div>
<div class="kosong"></div>
<div class="juhnan">
<h3 class="terang">Saya penggemar Youtube, Anda bagaimana?</h3>
<p>Tak perlu malu atau gengsi mengakui kalau Anda pun suka menikmati layanan <em>video-streaming</em> dari Youtube. Bahkan tak perlu pula malu mengakui kalau Anda suka mengunduh video-video yang ada di situ. Lalu, bagaimana kalau ternyata video yang Anda unduh adalah video <em>illegal</em> yang ternyata tidak diizinkan oleh pemilik aslinya untuk dinikmati/diperoleh secara gratis?</p>
<p>Nah, kalau masalah ini, bolehkah saya sedikit membela diri? Anggap sajalah saya ini hobi mengoleksi video-video yang ternyata sebagian besar adalah <em>illegal</em> (yang jelas bukan berupa film/movie, soalnya saya bukan tergolong pengoleksi film). Anggap saja semua itu saya peroleh secara gratis dari Youtube melalui mekanisme pengunduhan (dengan memanfaatkan teknologi yang memungkinkan video di Youtube bisa diunduh, disimpan di hard-disk, dan kemudian dinikmati secara <em>offline</em>).</p>
<p>Namun yang jelas, saya tidak menggandakan video-video yang telah saya unduh secara gratis tersebut. Tak pula saya perjualbelikan (untuk kepentingan komersil). Jadi, cuma untuk koleksi pribadi saya. Apakah saya salah atau melanggar hukum? Sebentar. Anda pun tak harus menjawab pertanyaan konyol saya tersebut :) Mungkin ada yang beranggapan, apa bedanya kalau begitu dengan mengoleksi software bajakan atau software <em>illegal</em>? He..he..</p>
</div>
<div class="ibu">
<div class="makdua">
<p>Tanpa berusaha membela diri, sebenarnya semua itu bisa terjadi karena ada yang mengunggahnya ke dunia maya, tanpa sadar atau bahkan menyadari bahwa perbuatannya itu termasuk melanggar hukum. Katakanlah apa yang diunggahnya ke Youtube itu ternyata tidak diizinkan oleh pemilik/penciptanya untuk dibagikan secara gratis atau disebarluaskan ke khalayak umum. Katakanlah juga, bahwa pihak yang terkait dengan konten yang diunggah tersebut ternyata berkeberatan jika konten itu disebarluaskan.</p>
<p class="tekan">Lalu siapa yang salah kalau begitu? <em>Content provider</em>-kah? Dalam hal ini pihak pemilik Youtube yang menyediakan layanan berbagi video secara gratis? Atau anggota/member yang mengunggah? Atau malah pengguna pasif yang hanya menikmati layanan <em>video-streaming</em> tersebut? Atau mungkin juga pengguna pasif yang hanya mengunduh (tanpa pernah mengunggah).</p>
<p>Bukahkah di Youtube ada semacam <a title="TOS Youtube" href="http://www.youtube.com/t/terms"><em>Term of Services</em></a> (TOS) yang mengatur masalah konten yang akan diunggah? Bukankah juga ada aturan mengenai <a title="Privacy Policy Youtube" href="http://www.youtube.com/t/privacy_at_youtube"><em>Privacy Policy</em></a>? Entahlah. Saya bukan member Youtube dan oleh sebab itu saya belum pernah mengunggah video ke situs video-sharing tersebut (sampai sejauh ini). Saya yakin, pihak Youtube sebagai <em>content provider</em> pun tidak menutup mata dan telinga terhadap masalah pelanggaran hak cipta atau kekayaan intelektual. Termasuk masalah pelanggaran <abbr title="Term of Services">TOS</abbr> mengenai materi konten video yang diunggah.</p>
<p><img class="alignright" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2012/01/tos.jpg" alt="video youtube" width="320" height="240" /><span class="gde">&#8220;Kalau begitu, bagaimana sebaiknya?&#8221;</span></p>
</div>
<div class="luhdua">
<p>Tak jarang saya menemukan video yang ternyata sudah dihapus. Entah oleh pemiliknya, pengunggahnya, ataupun oleh pihak Youtube sendiri. Tapi berapa banyak perbandingannya dengan video-video <em>illegal</em> yang masih bebas berkeliaran dan siap dinikmati secara <em>illegal</em> pula? Lagi-lagi saya juga tidak bisa menjawabnya.</p>
<p>Di sisi lain, saya juga sangat mengerti dengan perasaan pihak-pihak yang merasa dirugikan oleh keberadaan situs-situs <em>file-sharing</em> semacam Youtube. Betapa tidak, pemilik Youtube tentunya mengambil banyak keuntungan dari iklan-iklan yang berseliweran di situs mereka. Namun di sisi yang tidak mengenakkan, para pemilik hak cipta tidak mendapatkan apa-apa (barang sepeser pun) dari konten mereka yang dinikmati secara gratis melalui Youtube.</p>
<p>Bukankah itu <strong>sangat menyakitkan?</strong> Pastinya! Ini tak jauh beda dengan para pemilik blog/website yang hobi membajak konten dari media lain, lalu mendapatkan trafik/kunjungan berlimpah, dan akhirnya malah memperoleh keuntungan besar dari iklan-iklan yang terpasang di situs mereka. Lalu di sisi lain, para pemilik/pencipta konten aslinya malah tidak kebagian apa-apa. Mereka juga mungkin tidak merelakan konten ciptaan mereka dibajak tanpa kredit atau apresiasi yang layak.</p>
</div>
</div>
<div class="ibu">
<div class="luhdua">
<p>Opsi terburuk dan terparah adalah menutup situs-situs <em>file-sharing</em> semacam Youtube (yang memungkinkan terjadinya pembajakan secara online dan masif). Terkait hal ini, situs megaupload.com baru-baru ini telah menjadi korban/target. Termasuk sejumlah situs <em>file-sharing</em> lainnya yang ditengarai menjadi biang keladi atau bahkan dituding sebagai bagian dari konspirasi besar untuk pembajakan secara online (melalui media Internet).</p>
<p>Lalu siapa target/korban berikutnya? Youtube? Itu adalah kemungkinan terburuk. Kalaupun tidak, siap-siap saja jika nantinya layanan <em> free video-streaming</em> dari Youtube tidak akan bisa dinikmati secara gratis lagi. Hmm, terdengar menyeramkan? ha..ha..ha.. Ini cuma kemungkinan yang bisa jadi <em>hoax</em> belaka. Apa jadinya jika Youtube terpaksa memberlakukan hal itu, misalnya karena demi membayar royalti dari pemilik konten asli.</p>
</div>
<div class="namdua">
<p>Kemungkinan lain, bisa saja nantinya kita tidak akan bisa lagi mengunduh video yang ada di Youtube. Mungkin berbagai <em>tools</em> yang biasanya menjadi senjata ampuh pengunduh video Youtube akan ditarik, dinonaktifkan, atau bahkan pembuatnya ditangkap karena dianggap telah mendalangi terjadinya pembajakan online secara massal.</p>
<p>Tapi berharaplah semua itu tidak akan terjadi. Pengguna akhir (<em>end-user</em>) pun tak patut disalahkan begitu saja jika punya hobi mengoleksi konten <em>illegal</em> dari Internet. Harus ada solusi yang bisa menjadi jalan tengah terbaik terkait masalah pembajakan secara online ini.</p>
<p>Tulisan ini pun sekadar opini dari beberapa sisi yang bisa saya kuak. Jika Anda punya pendapat tersendiri, silakan tulis komentar Anda tentang masalah ini.
</p></div>
</div>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kafegue.com/seandainya-youtube-ditutup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>48</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ebook Tutorial Libre Office Writer Gratis Berbahasa Indonesia</title>
		<link>http://kafegue.com/ebook-tutorial-libre-office-writer-gratis-berbahasa-indonesia/</link>
		<comments>http://kafegue.com/ebook-tutorial-libre-office-writer-gratis-berbahasa-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jan 2012 19:56:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iskandaria</dc:creator>
				<category><![CDATA[seputar linux]]></category>
		<category><![CDATA[download]]></category>
		<category><![CDATA[ebook]]></category>
		<category><![CDATA[free]]></category>
		<category><![CDATA[gratis]]></category>
		<category><![CDATA[libre office]]></category>
		<category><![CDATA[linux]]></category>
		<category><![CDATA[open source]]></category>
		<category><![CDATA[tutorial]]></category>
		<category><![CDATA[writer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kafegue.com/?p=6863</guid>
		<description><![CDATA[Ebook Gratis Tutorial Libre Office Writer Berbahasa Indonesia LibreOffice adalah paket aplikasi perkantoran yang bersifat free dan bisa saya katakan lumayan lengkap. Di dalamnya sudah ada aplikasi layaknya Microsoft Word, Excel, Power Point, maupun Access. Total ada 7 aplikasi dalam satu bundel paket LibreOffice. Saya sendiri sudah mulai merasa nyaman menggunakan aplikasi office yang bersifat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="derlib"><img class="libreder" src="http://kafegue.com/wp-includes/images/libre-tas.png" alt="libreoffice-writer" width="1280" height="161"/></div>
<div class="bumud">
<p class="judul">Ebook Gratis Tutorial Libre Office Writer Berbahasa Indonesia</p>
<p>LibreOffice adalah paket aplikasi perkantoran yang bersifat <em>free</em> dan bisa saya katakan lumayan lengkap. Di dalamnya sudah ada aplikasi layaknya Microsoft Word, Excel, Power Point, maupun Access. Total ada 7 aplikasi dalam satu bundel paket <a href="http://www.libreoffice.org/download/" title="situs resmi">LibreOffice</a>. Saya sendiri sudah mulai merasa nyaman menggunakan aplikasi office yang bersifat <em>free</em> ini. Hitung-hitung, mulai berusaha mengurangi ketergantungan terhadap software yang selama bertahun-tahun akrab saya gunakan, yaitu Microsoft Office (software berbayar yang termasuk salah satu software paling banyak dibajak).</p>
<p>Terlebih sejak sistem operasi Windows di laptop saya harus diinstall ulang (menyebabkan sejumlah aplikasi dan software yang telah terinstall harus lenyap). Mulai sejak itu dan mulai sejak saya mengenal Linux, saya mulai mencoba beralih ke LibreOffice. Terlebih ketika saya mulai mencintai penggunaan software yang bersifat <em>free</em> (tanpa harus membayar lisensi dan tanpa harus terbebani oleh masalah pelanggaran hak cipta). Ya, jujur saja, saya mulai menyukai LibreOffice, walaupun terkadang masih ada keinginan untuk kembali menginstall Microsoft Office bajakan &#038; kembali menggunakannya :)</p>
<p>Namun sejauh ini, saya tetap enjoy dengan LibreOffice. Mungkin memang masih ada sejumlah kekurangan yang ditemukan pada software <em>open-source</em> ini. Tapi berhubung pekerjaan sehari-hari saya tidak terlalu banyak menuntut hal-hal rumit atau hal spesifik, LibreOffice sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan saya. Toh, dari sisi fitur dan tampilan, tidak banyak berbeda dengan Microsoft Office. Apalagi pihak pengembang aplikasi ini terus berupaya menyempurnakan kekurangan yang ada. Ini dibuktikan dengan beberapa kali rilis LibreOffice terbaru. Saat tulisan ini saya publish, sudah dirilis LibreOffice versi 3.4.5</p>
<p>Di sisi lain, saya tidak menampik masih ada kendala bagi mereka yang bekerja di perkantoran yang masih menggunakan Microsoft Office sebagai aplikasi office utamanya. Saya sendiri bukan tergolong pekerja kantoran.</p>
<p>Ok. Sudah cukup basa-basi pengantarnya.</p>
<p>Silakan langsung unduh (download) ebook gratis tutorial LibreOffice berbahasa Indonesia, terutama LibreOffice Writer. Bagi para mahasiswa yang hendak menyusun Tugas Akhir (termasuk skripsi), ebook ini sangat cocok sebagai panduan. Tentunya juga bisa digunakan untuk Anda yang sekadar ingin mempelajari dasar-dasar pengetikan di LibreOffice Writer.</p>
<p>Jadi, ebook ini bersifat fleksibel. Tidak hanya bagi para mahasiswa yang sering bergulat dengan tugas, laporan, makalah, maupun paper ilmiah.</p>
<p>Untuk mengunduhnya, silakan klik tautan berikut ini:<br />
<a href="http://bogor.linux.or.id/files/tutorial/CerdasMenyusunTugasAkhirdenganLibreOfficeWriterCC.pdf" title="link download">Cerdas Menyusun Tugas Akhir dengan LibreOffice Writer</a> (bogor.linux.or.id).</p>
<p>Jika isi tautan di atas error atau sedang bermasalah, Anda bisa unduh melalui tautan berikut: <a href="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2012/01/CerdasMenyusunTugasAkhirdenganLibreOfficeWriter.pdf">Menyusun Tugas Akhir dengan LibreOffice Writer</a> (kafegue.com)</p>
<p>Silakan baca dulu lisensi ebooknya sebelum Anda mulai melangkah ke materi pokoknya.</p>
<p>Selamat belajar.</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kafegue.com/ebook-tutorial-libre-office-writer-gratis-berbahasa-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenapa Harus Takut Kehilangan Pembaca Blog Anda?</title>
		<link>http://kafegue.com/kenapa-harus-takut-kehilangan-pembaca-blog-anda/</link>
		<comments>http://kafegue.com/kenapa-harus-takut-kehilangan-pembaca-blog-anda/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Dec 2011 18:51:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iskandaria</dc:creator>
				<category><![CDATA[seputar blogging]]></category>
		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>
		<category><![CDATA[pembaca blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kafegue.com/?p=6759</guid>
		<description><![CDATA[Hal ini ada hubungannya dengan kecenderungan saya yang belakangan ini hampir selalu mempublish postingan seputar Linux (terhitung sejak 12 Oktober 2011). Beberapa teman sesama blogger (narablog) pun akhirnya merespon hal ini lewat komentarnya. Sebenarnya saya sendiri sudah sadar akan resiko atau konsekuensi ini. Terlebih lagi, topik seputar Linux &#8216;mungkin&#8217; masih kalah dari sisi pangsa pasar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="ketam">
<p class="juhka"><span class="drop">H</span>al ini ada hubungannya dengan kecenderungan saya yang belakangan ini hampir selalu mempublish postingan seputar Linux (terhitung sejak 12 Oktober 2011). Beberapa teman sesama blogger (narablog) pun akhirnya merespon hal ini lewat komentarnya. Sebenarnya saya sendiri sudah sadar akan resiko atau konsekuensi ini. Terlebih lagi, topik seputar Linux &#8216;mungkin&#8217; masih kalah dari sisi pangsa pasar (pembaca) yang membutuhkan atau meminatinya, terutama jika dibandingkan dengan topik seputar sistem operasi Windows.</p>
<p>Dari situ pulalah, saya tidak heran jika sebagian besar postingan tentang <a href="http://kafegue.com/zorin-os-distro-linux-untuk-pengguna-pemula/" title="review">Linux</a> (di blog ini) ternyata lebih sedikit komentarnya daripada postingan selain tentang Linux (walaupun ada juga yang banyak mengundang komentar). Tapi, sedikit komentar tidak selalu berarti bahwa sedikit pula yang membaca/membuka postingan <a href="http://kafegue.com/artikel/seputar-linux/">seputar Linux</a> tersebut.</p>
<p>Lagipula, buat apa saya menulis sesuatu yang hanya berorientasi pada jumlah komentar? Buat apa saya takut menulis topik yang kemungkinan masih dianggap sedikit peminatnya? Masalah nanti jadi sepi komentar atau malah akan membuat sebagian pengunjung jadi berpaling, itu sudah resiko. Tapi ada satu hal yang menarik. Fakta statistik blog ini berbicara, bahwa JUMLAH PENGUNJUNG UNIK menunjukkan grafik meningkat.</p>
<p><img alt="statistik-kafegue" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2011/12/stat12.png" class="aligncenter" width="519" height="402" /></p>
<p>Bukan berarti bahwa saya cuma mementingkan trafik. Tapi cuma ingin membuktikan, bahwa perubahan kecenderungan topik postingan belum tentu akan menurunkan jumlah kunjungan. Dasar logikanya, kemungkinan blog ini malah berhasil menjaring pengunjung-pengunjung baru yang lebih banyak jumlahnya daripada pengunjung lama. Hal ini ditandai dengan meningkatnya jumlah PENGUNJUNG UNIK blog ini dari bulan ke bulan (lihat kembali &#8216;<a href="http://kafegue.com/fungsi-dan-manfaat-screenshoot-pada-posting-blog/" title="fungsinya">screenshot</a>&#8216; di atas, terutama data dari bulan Oktober 2011 hingga Desember 2011, di mana saya mulai fokus memposting topik tentang Linux sejak 12 Oktober 2011).</p>
<p>Ternyata pengunjung uniknya malah bertambah, bukan?</p>
<p>Apakah itu berarti saya mengutamakan pengunjung baru dan mencampakkan yang lama? Ah, saya bukanlah seorang penulis blog yang selalu harus berusaha mengikat pengunjung lama atau pembaca lama. Kalau memang merasa konten blog ini sudah tidak sesuai minat Anda sekalian, silakan berpaling pada blog-blog lain.</p>
<p><a href="http://amilus.wordpress.com/2010/06/10/kaburlah-kabur/"><img alt="kabur" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2011/12/kabur.jpg" class="alignleft" width="400" height="284" /></a></p>
<hr />
<p class="cik">Kalau memang cuma ingin menjaga agar yang biasa berkomentar tetap rutin berkomentar, menurut saya bukan itu esensi yang ingin kita capai dari aktivitas ngeblog. Ngeblog cuma untuk silaturahmi lewat saling berkomentar? Sesempit itukah tujuan kita ngeblog? Tentu tidak, bukan?</p>
<hr />
<p>Jadi, semoga Anda tidak terkekang oleh dalih menjaga silaturahmi, menjaga agar komentator setia tidak berpaling, atau dalih takut kehilangan pembaca setia. Lagipula, merasa punya pembaca setia adalah salah satu tanda “kesombongan” seorang blogger. Sulit sekali membuktikan hal itu. Saya sendiri pun tidak merasa harus menjaga agar “pembaca setia” blog ini tetap rajin berkunjung ke sini. Sebab saya merasa blog ini belum tentu punya pembaca setia. Bisa jadi, yang ada hanyalah pembaca &#8216;temporer&#8217; atau mereka yang cuma singgah sebentar dan kemudian tidak pernah kembali lagi. Kalaupun ada yang kembali lagi, mungkin saja intensitas atau frekuensinya tidak terlalu sering.</p>
<h3>Ngeblog = Berbagi?</h3>
<p>Jika tujuan Anda semata-mata karena ingin berbagi (pada orang lain), maka ketika tulisan/postingan Anda ternyata sepi pembaca atau sepi komentar, Anda mungkin akan merasa kecewa.</p>
<p>Begitu pula jika tujuan Anda cuma karena ingin memperoleh trafik/kunjungan. Lalu, harus bagaimana? Bagi saya, ngeblog bukan cuma masalah berbagi. Bukan pula cuma soal trafik. Ada banyak lagi hal lain dalam ngeblog (yang mungkin luput dari perhatian kita). Misalnya nilai dokumentasi pribadi, nilai pengembangan diri, nilai aktualisasi diri, dan nilai kepuasan batin.</p>
<p>Di sisi lain, ngeblog pada dasarnya juga bisa menjadi lahan eksperimen yang sangat luas. Kalau tidak melakukan A atau B, kemungkinan besar Anda tidak akan pernah tahu akibatnya.</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kafegue.com/kenapa-harus-takut-kehilangan-pembaca-blog-anda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>69</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengatasi Logout Saat Memutar Video di Ubuntu dan Linux Mint</title>
		<link>http://kafegue.com/mengatasi-logout-saat-memutar-video-di-ubuntu-dan-linux-mint/</link>
		<comments>http://kafegue.com/mengatasi-logout-saat-memutar-video-di-ubuntu-dan-linux-mint/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Dec 2011 04:37:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iskandaria</dc:creator>
				<category><![CDATA[tips linux]]></category>
		<category><![CDATA[gnome mplayer]]></category>
		<category><![CDATA[linux mint]]></category>
		<category><![CDATA[logout]]></category>
		<category><![CDATA[memutar video]]></category>
		<category><![CDATA[movie player]]></category>
		<category><![CDATA[smplayer]]></category>
		<category><![CDATA[totem movie player]]></category>
		<category><![CDATA[ubuntu]]></category>
		<category><![CDATA[vga sis]]></category>
		<category><![CDATA[video player]]></category>
		<category><![CDATA[vlc]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kafegue.com/?p=6694</guid>
		<description><![CDATA[Tips ini khusus untuk pengguna komputer yang chipset VGA-nya berjenis SiS dan kebetulan digunakan untuk menjalankan sistem operasi Linux, terutama distro Ubuntu, Linux Mint, Zorin OS, dan keluarga Debian lainnya. Selain masalah resolusi layar yang belum tentu sesuai aslinya usai menginstal Linux, pengguna VGA SiS ternyata masih menghadapi satu masalah yang mungkin cukup menjengkelkan, yaitu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="hitam">
<div class="abu">
<p class="buka"><span class="drop">T</span>ips ini khusus untuk pengguna komputer yang chipset <abbr title="Video Graphics Accelerator">VGA</abbr>-nya berjenis <a href="http://www.sis.com/default.aspx?region=en-global&#038;m=72" title="situs resminya"><abbr title="Silicon Integrated Systems">SiS</abbr></a> dan kebetulan digunakan untuk menjalankan sistem operasi Linux, terutama distro <a class="c8" href="http://kafegue.com/cara-install-xampp-di-linux-ubuntu/">Ubuntu</a>, <a href="http://kafegue.com/review-linux-mint-debian-edition-lmde-201109-versi-gnome/" title="ulasan">Linux Mint</a>, <a href="http://kafegue.com/zorin-os-distro-linux-untuk-pengguna-pemula/" title="review">Zorin OS</a>, dan keluarga Debian lainnya. Selain masalah resolusi layar yang belum tentu sesuai aslinya usai menginstal Linux, pengguna <a href="http://kafegue.com/cara-instal-driver-vga-sis-di-ubuntu-11-10/" title="tutorial install drivernya">VGA SiS</a> ternyata masih menghadapi satu masalah yang mungkin cukup menjengkelkan, yaitu tidak bisa memutar video secara sempurna.</p>
<p>Biasanya yang umum terjadi yaitu sistem akan <em>log-out</em> secara otomatis begitu pengguna mulai memutar video menggunakan aplikasi &#8216;video player&#8217; (misalnya <em>Totem Movie Player</em>, <em>Gnome Mplayer</em>, <em>VLC Media Player</em>, dan <em>SMPlayer</em>). Umumnya ini terjadi pada <a class="c8" href="http://kafegue.com/cara-install-driver-vga-sis-di-linux-ubuntu-11-04/" title="tutorial install driver sis">Ubuntu 11.04</a> dan <a href="http://kafegue.com/review-ubuntu-11-10-oneiric-ocelot-final-release/" title="review">11.10</a> (termasuk distro yang berbasis pada keduanya).</p>
<p>Nah, jika dihadapkan pada kondisi demikian, sebenarnya Anda bisa mengatasinya dengan mudah. Cukup melakukan sedikit perubahan setting pada &#8216;type video output&#8217; maupun &#8216;audio output&#8217; di salah satu menu aplikasi pemutar videonya. Caranya yaitu:</p>
</div>
<div class="hijaumuda">
<h3>Jika Menggunakan Totem Movie Player</h3>
<p>&#8216;Totem Movie Player&#8217; adalah aplikasi default pemutar video pada Ubuntu dan juga <a class="c8" href="http://kafegue.com/cara-install-kernel-686-pae-di-linux-mint-debian-edition-lmde-201109/">Linux Mint</a>. Aplikasi video player ini menggunakan plugin <em>Gstreamer</em> sebagai &#8216;codec&#8217;-nya. Jika Anda sudah menginstalnya pada Ubuntu dan kebetulan VGA komputer yang Anda gunakan berjenis SiS, kemungkinan besar Anda masih akan menghadapi masalah (yaitu akan mengalami &#8216;logout&#8217; ketika membuka video menggunakan aplikasi ini).</p>
<p>Solusi ampuhnya:</p>
<ol>
<li>Buka Terminal (Ctrl+Alt+T), lalu ketikkan sebaris perintah berikut ini dan diikuti menekan tombol <kbd>Enter</kbd>.
<pre class="cantik">gstreamer-properties</pre>
<p>Gunanya yaitu untuk membuka jendela menu &#8216;properties&#8217; pada plugin gstreamer.</p>
</li>
<li>
<p>Nah, beberapa detik usai Anda mengeksekusi perintah di atas, akan terbuka/muncul sebuah jendela baru untuk pengaturan properties gstreamer-nya. Atur/setting-lah pada sub menu Video-nya, tepatnya pada bagian &#8216;Default Output&#8217; pluginnya menjadi <em>X Window System (No Xv)</em>. Seperti gambar di bawah ini.</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2011/12/gstreamer-properties.jpg" alt="gstreamer-properties" width="744" height="519" /></p>
</li>
<li>Lalu klik tombol <button>Close</button> dan tutuplah Terminalnya. Setelah itu, Anda bisa mengetes keberhasilan trik ini dengan cara membuka video melalui aplikasi &#8216;Totem Movie Player&#8217;. Mudah-mudahan tidak akan terjadi &#8216;logout&#8217; lagi.</li>
</ol>
</div>
<div class="pink">
<h3>Jika Menggunakan Gnome Mplayer</h3>
<p>Aplikasi pemutar video ini sudah &#8216;built-in&#8217; pada <a href="http://kafegue.com/cara-install-netbeans-7-0-1-di-linux-mint-11-dan-lmde/" title="install netbeans">Linux Mint</a>, namun tidak/belum terinstal secara &#8216;default&#8217; pada Ubuntu. Jika Anda lebih suka menggunakan aplikasi ini dan mengalami masalah berupa &#8216;log-out&#8217; atau &#8216;restart&#8217; otomatis ketika membuka video melaluinya, solusinya cukup mudah, yaitu:</p>
<ol>
<li>Coba buka aplikasi &#8216;Gnome Mplayer&#8217; ini. Jangan buka melalui klik kanan pada file video atau audio. Jadi harus Anda buka secara langsung melalui &#8216;start-menu&#8217; aplikasi.</li>
<li>
<p>Lalu buka/klik sub menu Edit &gt; Preferences pada bar menu-nya.</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2011/12/gnome-mplayer.jpg" alt="preferences menu" width="515" height="331" /></p>
</li>
<li>
<p>Atur atau setting-lah bagian &#8216;Video Ouput&#8217; dan &#8216;Audio Output&#8217;-nya menjadi seperti yang terlihat pada screenshot berikut.</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2011/12/gnome-mplayer-output.png" alt="output menu" width="576" height="545" /></p>
<p>Untuk mengubah/menyettingnya, cukup klik &#8216;dropdown-list&#8217; menu-nya. Jadi, &#8216;Video Output&#8217;-nya harus Anda ubah menjadi <strong>X11</strong>, sedangkan untuk &#8216;Audio Output&#8217;-nya boleh Anda pilih antara <strong>ALSA</strong> dan <strong>Pulseaudio</strong>. Saya lebih menyarankan memilih ALSA saja. Namun jika audio yang keluar terdengar bermasalah atau malah tidak terdengar sama sekali, coba pilih Pulseaudio untuk &#8216;Audio Output&#8217;-nya.</p>
</li>
<li>Setelah itu, klik tombol <button>Close</button> dan coba tes hasilnya dengan memutar video menggunakan Gnome Mplayer ini. Semoga tidak terjadi &#8216;log-out&#8217; lagi.</li>
</ol>
</div>
<div class="pastel">
<h3>Jika menggunakan VLC Media Player</h3>
<p>&#8216;VLC Media Player&#8217; ini sudah terinstal secara &#8216;default&#8217; pada <a href="http://kafegue.com/bleachbit-aplikasi-penghapus-file-sampah-di-ubuntu-dan-linux-mint/" title="aplikasi cleaner">Linux Mint</a> dan Zorin OS. Sedangkan pada Ubuntu belum ada. Namun tak menutup kemungkinan sebagian pengguna Ubuntu menginstal aplikasi pemutar video yang sangat populer ini. Nah, jika chipset VGA yang digunakan adalah SiS, biasanya masalah &#8216;log-out&#8217; otomatis juga terjadi ketika pengguna membuka video melalui aplikasi VLC ini.</p>
<p>Solusinya:</p>
<ol>
<li>Buka aplikasi &#8216;VLC Media Player&#8217; secara langsung melalui &#8216;start-menu&#8217;.</li>
<li>
<p>Klik sub menu Tools &gt; Preferences (pada bar menu-nya).</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2011/12/vlc-output.jpg" alt="output vlc" width="644" height="493" /></p>
</li>
<li>
<p>Klik sub menu &#8216;Audio&#8217; dan pilihlah &#8216;ALSA audio output&#8217; pada output-nya (boleh juga pilih Pulseaudio jika mengalami masalah pada sound video yang diputar nantinya).</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2011/12/alsa-vlc.jpg" alt="output alsa" width="657" height="462" /></p>
</li>
<li>
<p>Klik sub menu &#8216;Video&#8217;, lalu pilih &#8216;X11 video output&#8217; pada tipe output-nya.</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2011/12/x11-vlc.jpg" alt="output x11" width="657" height="462" /></p>
</li>
<li>Klik tombol <button>Save</button> untuk menyimpan hasil pengaturan baru tersebut.</li>
<li>Tutup kembali jendela aplikasi VLC yang sudah Anda setting ulang tersebut. Lalu coba buka salah satu video melaluinya (dengan opsi klik kanan di file video yang ingin Anda putar). Mudah-mudahan tidak mengalami &#8216;log-out&#8217; lagi.</li>
</ol>
<h3>Jika Menggunakan SMPlayer</h3>
<p>Solusinya sama saja dengan pengaturan menu Audio Output &amp; Video Output pada Gnome MPLayer dan VLC di atas. Intinya, setting-lah tipe &#8216;video output&#8217;-nya dengan opsi X11. Itu yang paling penting. Caranya melalui sub menu Options > Preferences (di bar menunya).</p>
</div>
<div class="penutup">Selamat mencoba dan semoga berhasil. Semua tips di atas sukses saya ujicobakan pada laptop pribadi saya yang menggunakan <a class="tih" href="http://forum.kompas.com/computer-corner/806-memilih-vga-card-yang-sesuai.html" title="tips memilihnya">VGA card</a> SiS.</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kafegue.com/mengatasi-logout-saat-memutar-video-di-ubuntu-dan-linux-mint/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>44</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Zorin OS, Distro Linux untuk Pengguna Pemula</title>
		<link>http://kafegue.com/zorin-os-distro-linux-untuk-pengguna-pemula/</link>
		<comments>http://kafegue.com/zorin-os-distro-linux-untuk-pengguna-pemula/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Nov 2011 02:12:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iskandaria</dc:creator>
				<category><![CDATA[seputar linux]]></category>
		<category><![CDATA[distro linux]]></category>
		<category><![CDATA[linux]]></category>
		<category><![CDATA[open source]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[zorin os]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kafegue.com/?p=6578</guid>
		<description><![CDATA[Jika sebelumnya saya pernah merekomendasikan Linux Mint untuk pengguna pemula Linux, maka sekarang saya berani merekomendasikan Zorin OS sebagai alternatif lainnya. Mengapa? Ada beberapa hal yang membuat Zorin OS layak dijadikan pilihan bagi mereka yang baru mulai &#8216;mencicipi&#8217; Linux, terutama jika sebelumnya sudah terbiasa dengan Microsoft Windows. Sebenarnya Zorin OS merupakan distro Linux (varian Linux) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="ibu">
<div class="mak">
<p class="juhka"><span class="drop">J</span>ika sebelumnya saya pernah merekomendasikan Linux Mint untuk pengguna pemula Linux, maka sekarang saya berani merekomendasikan Zorin OS sebagai alternatif lainnya. Mengapa? Ada beberapa hal yang membuat Zorin OS layak dijadikan pilihan bagi mereka yang baru mulai &#8216;mencicipi&#8217; Linux, terutama jika sebelumnya sudah terbiasa dengan Microsoft Windows.</p>
</div>
<div class="lan">
<p><img alt="logo zorin os" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2011/11/zorin-logo.jpg" class="alignnone" width="379" height="81" /></p>
<p class="krek2">Sebenarnya Zorin OS merupakan distro Linux (varian Linux) turunan <a href="http://kafegue.com/review-ubuntu-11-10-oneiric-ocelot-final-release/" title="review">Ubuntu</a>, yang notabene adalah salah satu distro terpopuler sejak beberapa tahun terakhir ini. Lalu, apa sih bedanya dengan Ubuntu? Apa yang membuat Zorin OS layak dipilih oleh pengguna pemula daripada Ubuntu?</p>
</div>
<div class="ibu">
<div class="pat">
<h3 class="ctr">8 Hal yang Membedakan Zorin OS dengan Ubuntu:</h3>
<ol>
<li class="wan"><span class="rufsar">1. Sudah &#8216;built-in&#8217; dengan codec multimedia.</span>
<p class="krek">Ya, di dalam paket ISO instalasi Zorin OS ini sudah dilengkapi dengan &#8216;Ubuntu<br />
restricted extras&#8217;. Paket tersebut berisi beberapa plugin/ekstensi untuk memutar berbagai format file audio maupun video. Contohnya beberapa varian &#8216;Gstreamer&#8217;. Bahkan juga sudah ditambahkan dengan Adobe Flash plugin. Jadi, Anda tak perlu khawatir lagi ketika ingin memutar lagu, video, maupun file animasi berupa flash. Nah, kalau di Ubuntu, Anda masih harus berjuang lagi untuk menginstal paket codec multimedia ini :)</p>
</li>
<li class="tu"><span class="rufsar">2. Sudah &#8216;include&#8217; dengan Microsoft Truetype Corefonts.</span>
<p class="krek">Artinya, Zorin OS ini sudah dilengkapi dengan koleksi fonts standar dari Microsotf. Misalnya Andale, Arial, Verdana, Georgia, Times New Roman, Courier New, <a class="jau" href="http://kafegue.com/mengenal-trebuchet-ms-font-sans-serif-yang-jarang-digunakan-pada-web/">Trebuchet MS</a>, Comic Sans MS, dan Webdings. Jadi, Anda tak perlu khawatir jika tampilan font pada website atau pada aplikasi Office yang Anda buka tidak sebagus atau seperti yang biasa tampil di Windows.</p>
<p><img alt="msttcorefonts" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2011/11/zorin-msttcorefonts.jpg" width="640" height="440" /></p>
</li>
<li class="tri"><span class="rufsar">3. Sudah dilengkapi dengan aplikasi Wine.</span>
<p class="krek">Wine bisa diibaratkan sebagai jembatan atau media perantara untuk menjalankan aplikasi berbasis Windows di Linux. Misalnya Anda ingin menginstal <em>Macromedia Dreamweaver</em> di Linux. Maka Anda cukup menjalankan file .exe installernya, lalu tinggal melakukan langkah-langkah instalasi seperti yang biasa Anda lakukan di Windows. Jadi dengan Wine ini, kita bisa menginstal aplikasi berbasis Windows di Linux (walaupun ada beberapa aplikasi yang masih gagal diinstal berdasarkan pengalaman saya menggunakannya).</p>
<p class="krek">Enaknya, paket Wine di Zorin OS ini sudah pula dilengkapi dengan &#8216;PlayOnLinux&#8217; dan &#8216;Winericks&#8217; (untuk mempermudah Anda melakukan konfigurasi atau pengaturan dalam menggunakan Wine).</p>
</li>
<li class="wan"><span class="rufsar">4. Sudah dilengkapi dengan GIMP.</span>
<p class="krek">GIMP adalah aplikasi untuk mengedit gambar di Linux. Bisa dibilang sebagai Photoshop-nya Linux. Nah, jika Anda baru menginstal Ubuntu, Anda tidak akan menemukan aplikasi ini dalam default aplikasi Grafisnya. Jadi, Anda masih harus menginstalnya melalui Ubuntu Software Center. Beda dengan Zorin OS ini yang sudah &#8216;built-in&#8217; dengan GIMP. Anda tinggal pakai saja (tak perlu repot-repot instal lagi).</p>
</li>
<li class="tu"><span class="rufsar">5. Sudah dilengkapi dengan GParted dan Ubuntu-Tweak.</span>
<p class="krek">Gparted adalah aplikasi untuk melakukan segala pekerjaan terkait dengan &#8216;partitioning&#8217; atau pembagian <a class="jau" href="http://kafegue.com/cara-mengubah-nama-partisi-windows-xp-menggunakan-gparted-via-ubuntu/" title="tips">partisi</a>. Termasuk pengeditan partisi yang ada. Sedangkan <a class="jau" href="http://kafegue.com/cara-menghapus-file-sampah-di-ubuntu/" title="tutorial">Ubuntu-Tweak</a> berfungsi untuk melakukan pembersihan sistem dari file-file sampah. Selain itu, juga bisa untuk melakukan kustomisasi Linux Anda. Nah, kedua fitur/aplikasi in belum &#8216;include&#8217; pada Ubuntu, sedangkan pada Zorin OS sudah bisa langsung Anda gunakan.</p>
<p><img class="alignnone" alt="gparted" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2011/11/About GParted.jpg" width="243" height="152" /><img class="alignnone" alt="ubuntu-tweak" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2011/11/Ubuntu Tweak.jpg" width="227" height="152" /></p>
</li>
<li class="tri"><span class="rufsar">6. Sudah dilengkapi aplikasi FireWall.</span>
<p class="krek">Aplikasi ini harus Anda aktifkan dulu melalui sub menu &#8216;System&#8217; > &#8216;Administration&#8217;. Untuk cara penggunaannya, silakan cari tutorialnya di Internet :)</p>
</li>
<li class="wan"><span class="rufsar">7. Sangat enak untuk dikustomisasi.</span>
<p class="krek">Ada beberapa utilitas atau fitur pendukung kustomisasi yang bisa sangat memanjakan Anda pada Zorin OS ini. Di antara fitur tersebut yaitu:</p>
<ul>
<li class="tih">Zorin OS Look Changer.
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 667px"><img alt="look-canger" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2011/11/Look Changer.jpg" width="657" height="332" /><p class="wp-caption-text">look-changer</p></div>
<p>Seperti yang Anda lihat pada screenshot-nya di atas, Anda bisa memilih tampilan menu utama, apakah mau seperti Windows 7, Gnome (Linux), atau Windows XP.</p>
</li>
<li class="tih">GnoMenu Settings.
<p>Menu ini bisa Anda akses dengan cara melakukan klik kanan pada tombol menu utama Zorin OS (yang ada di sudut kiri bawah), tepatnya yang berupa huruf Z di dalam bulatan itu. Setelah melakukan klik kanan di situ, coba pilih &#8216;Properties&#8217;. Maka akan muncul jendela menu untuk melakukan kustomisasi tema seperti di bawah ini.</p>
<p><img alt="gnomenu-settings" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2011/11/GnoMenu-Settings.jpg" width="531" height="594" /></p>
<p>Ada total 15 tema yang bisa Anda pilih sesuai selera untuk tampilan menu utama Zorin OS ini. Inilah salah satu fitur yang paling saya sukai dari Zorin OS. Membuat saya tidak mudah jenuh dengan tampilan yang itu-itu saja ^_^ Mayoritas tema yang disediakan juga keren-keren menurut saya.</p>
</li>
</ul>
</li>
<li class="tu"><span class="rufsar">8. Sudah dilengkapi VLC Media Player &#038; OpenShot Video Editor.</span>
<p class="krek">VLC merupakan salah satu aplikasi pemutar video yang paling populer. Di antara kelebihannya yaitu mendukung lebih banyak format video dan sudah dilengkapi dengan fitur effect serta equalizer. Nah, kalau OpenShot Video Editor tentu Anda sudah tahu jika hanya membaca nama aplikasinya. Ya, gunanya yaitu untuk melakukan editing video.</p>
</li>
</ol>
<p>Itulah beberapa poin yang membedakan Zorin OS dengan Ubuntu. Jadi kesimpulannya, Zorin OS sudah dilengkapi dengan berbagai aplikasi siap pakai yang belum dimasukkan sebagai default aplikasi pada Ubuntu. Dalam hal ini, Zorin OS mirip dengan <a href="http://linuxmint.com/">Linux Mint</a> (salah satu distro Linux turunan Ubuntu yang juga mengusung konsep &#8216;out off the box&#8217;). Bedanya, jumlah aplikasi default multimedia di Zorin OS tidak sebanyak yang terdapat di Linux Mint, terutama aplikasi pemutar videonya. Namun dengan &#8216;Totem Movie Player&#8217; dan&#8217; VLC&#8217; saja sebenarnya sudah mencukupi.</p>
</div>
<div class="ibu">
<h3>Zorin OS = Ubuntu Rasa Windows 7 ?</h3>
<div class="juh">
<p>Dalam beberapa hal, tampilan antarmuka (&#8216;interface&#8217;) Zorin OS memang agak meniru/mengadopsi Windows 7. Misalnya pada menu utama yang ada di sudut kiri bawah.</p>
<p><img alt="menu zorin os" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2011/11/menu-zorin.jpg" class="alignnone" width="500" height="604" /></p>
</div>
<div class="juh">
<p>Begitu pula tampilan &#8216;tooltip&#8217; saat kita mengarahkan pointer mouse di atas task jendela aplikasi yang sedang aktif (pada panel bawahnya). Lihatlah tampilan &#8216;tooltip&#8217; berikut ini.</p>
<p><img alt="tooltip" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2011/11/cradle-tooltip.jpg" class="alignnone" width="650" height="342" /></p>
<p>Mirip dengan di Windows 7, bukan? Ya, walaupun masih belum sehalus di Windows 7 dan di <a href="http://kafegue.com/menjajal-dekstop-plasma-kde-4-7-di-ubuntu-11-04/" title="review">desktop KDE versi 4.7</a>.</p>
<p>Di luar kedua hal itu, tampilan jendela aplikasi pada Zorin OS masih belum bisa menyamai keindahan Desktop &#8216;Aero&#8217; milik Windows 7-nya Microsoft. Tidak ada sesuatu yang istimewa dari desain/tampilan jendela aplikasi di Zorin OS, kecuali efek &#8216;shadow&#8217;-nya (efek berbayang). Begitu pula pada jendela &#8216;pop-up&#8217;-nya.</p></div>
</div>
<h3>Tampilan File Manager</h3>
<p>Aplikasi file manager Zorin OS ini menggunakan Naulitus Elementary 2.32.2.</p>
<p><img alt="home" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2011/11/home-zorin.jpg" class="alignnone" width="640" height="440" /></p>
<h3>Kurang suka dengan Google Chrome sebagai peramban default-nya?</h3>
<p>Jangan khawatir. Anda tinggal buka menu &#8216;Internet Browser Manager&#8217; di kategori Internet. Lalu tinggal klik tombol Install untuk memasangnya pada komputer Anda. Tentu saja komputer Anda harus terhubung dengan Internet. Sebelumnya Anda perlu memasukkan password root terlebih dahulu.</p>
<p><img alt="internet manager" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2011/11/Internet Browser Manager.jpg" class="alignnone" width="642" height="247" /></p>
<h3>Manajemen Paket Aplikasi dan Pembaruan Sistem.</h3>
<p>Untuk poin ini, Zorin OS tidak ada bedanya dengan Ubuntu. Repositori aplikasinya masih menggunakan repositori Ubuntu. Misalnya pada Zorin OS versi 5.2 yang merupakan turunan dari <a href="http://kafegue.com/cara-install-driver-vga-sis-di-linux-ubuntu-11-04/">Ubuntu 11.04 Natty Narwhal</a>. Reponya bersumber pada repo Natty Narwhal. Bahkan keterangan sistemnya juga jelas-jelas masih berupa Ubuntu 11.04 (lihat pada screenshot di bawah ini).</p>
<p><img alt="sistem zorin os" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2011/11/System Zorin.jpg" class="alignnone" width="606" height="234" /></p>
<p>Hmm, kenapa tidak diubah saja ya menjadi Zorin OS? Kesannya, pengembang Zorin OS masih kurang berani keluar dari kotak atau membuat perbedaan yang tegas. Coba lihat Linux Mint yang jelas-jelas berani mengubah keterangan nama sistem atau nama kodenya.</p>
<p>Oya, untuk menginstal atau meremove aplikasi di Zorin OS, Anda bisa melakukannya melalui 3 cara, yaitu:</p>
<ol>
<li>Melalui &#8216;Ubuntu Software Center&#8217;.</li>
<li>Melalui &#8216;Synaptic Package Manager&#8217;.</li>
<li>Melalui &#8216;Update Manager&#8217;.</li>
</ol>
<p>Ketiga utilitas tersebut sama persis dengan yang ada pada Ubuntu. Kalau untuk sekadar memperbarui sistem maupun daftar paket aplikasi, Anda bisa lakukan lewat Terminal saja. Begitu pula jika ingin mengupgrade versi semua aplikasi. Dengan sebaris perintah &#8216;sakti&#8217; berupa <code>sudo apt-get update &#038;&#038; sudo apt-get upgrade</code> saja sudah terselesaikan.</p>
<h3>Kustomisasi Lebih Lanjut melalui Compiz.</h3>
<p>Zorin OS ini juga sudah dilengkapi dengan aplikasi &#8216;Compiz&#8217; untuk mempercantik tampilan desktop Anda, terutama untuk memberi efek-efek menarik nan atraktif. Dijamin para pengguna Windows akan &#8216;ngiri&#8217; melihatnya ^_^ Sayangnya, saya tidak bisa memanfaatkannya (berhubung &#8216;VGA card&#8217; yang saya miliki tidak mendukung) :(</p>
<div class="ibu">
<h3>Pilih Mana, Zorin OS 5.2 atau 3.2 LTS?</h3>
<div class="juh">
<p>Saya sengaja mengunduh dan memasang kedua versi terkini Zorin OS tersebut (agar bisa mengetahui perbedaan nyata antara keduanya). Hasilnya:</p>
<p>&#8216;VLC Media Player&#8217; pada Zorin OS 5.2 terkadang masih suka &#8216;hang&#8217; saat memutar video tertentu. Ini tidak saya alami ketika menggunakan VLC bawaan Zorin OS 3.2 <abbr title="Long Term Support">LTS</abbr>. Begitu pula &#8216;Totem Movie Player&#8217;. Kasusnya sama (lebih stabil di Zorin OS 3.2 <abbr title="Long Term Support">LTS</abbr>).</p>
<p>&#8216;RhythmBox&#8217; menjadi aplikasi default pemutar audio di Zorin OS 3.2 <abbr title="Long Term Support">LTS</abbr>, sedangkan pada Zorin OS 5.2 sudah diganti dengan Banshe. Saya pribadi lebih menyukai &#8216;Banshe&#8217; ketimbang &#8216;RhythmBox&#8217;</p>
<p>.</p></div>
<div class="juh">
<p>Jadi, jika ingin performa yang lebih stabil, lebih baik Anda pilih Zorin OS versi 3.2 <abbr title="Long Term Support">LTS</abbr> (yang notabene merupakan turunan dari Ubuntu 10.04 Lucid Lynx). Lagipula, masa dukungnya lebih lama, yakni sampai bulan April 2013. Sedangkan dukungan terhadap Zorin OS 5.2 lebih singkat, yaitu hingga Oktober 2012. Namun jika ingin yang lebih &#8216;up-to-date&#8217;, silakan pilih versi 5.2.</p>
<p>Dari sisi kernel, Zorin OS 3.2 menggunakan kernel 2.6.32 generic, sedangkan Zorin OS 5.2 menggunakan kernel Linux 2.6.38-12-generic. Mana yang terbaik? Sulit menjawabnya.</p></div>
</div>
<p><img alt="desktop" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2011/11/zorin-desktop.jpg" width="750" height="469" /></p>
<h3>Kesimpulan</h3>
<div class="pastel">
<p class="marnol"><strong>Zorin OS</strong> adalah distro Linux yang jelas-jelas diperuntukkan bagi pengguna pemula, tepatnya bagi mereka yang ingin mudah beradaptasi dengan Linux (setelah sekian lama terbiasa dengan Windows). Anda serius ingin pindah ke Linux dari Windows? Atau sekadar ingin lebih serius mencoba Linux? Zorin OS adalah pilihan yang tepat untuk itu (selain <a href="http://kafegue.com/review-linux-mint-debian-edition-lmde-201109-versi-gnome/" title="review">Linux Mint</a>).</p>
<p>Dengan default aplikasi yang lumayan lengkap, tampilan menawan, keleluasaan kustomisasi, kemudahan instalasi paket-paket software, serta antarmuka yang sangat ramah dan mudah digunakan, rasanya distro ini akan menjadi pesaing <a href="http://kafegue.com/cara-install-kernel-686-pae-di-linux-mint-debian-edition-lmde-201109/">Linux Mint</a> untuk target pemula.</p>
<p>Lalu apa kekurangannya? Kalau menurut saya cuma masih tanggung saja dalam membuat pembedaan dengan Ubuntu sebagai induknya. Terutama dari sisi nama manajer paket dan nama sistemnya. Misalnya keterangan pada list menu di &#8216;boot-loader&#8217; GRUB (yang jelas-jelas masih tertulis Ubuntu).</p>
</div>
<div class="batas"></div>
<div class="ibu">
<p>Sebagai penutup, Anda bisa melihat langsung demo desktop Zorin OS yang sengaja diduelkan dengan Windows 7 pada video berikut ini. Selamat menikmati.</p>
<div class="mak">
<object class="deo"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/QHCDU-CUoaQ?version=3&amp;feature=player_detailpage" /><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><embed src="http://www.youtube.com/v/QHCDU-CUoaQ?version=3&amp;feature=player_detailpage" type="application/x-shockwave-flash" allowfullscreen="true" allowscriptaccess="always" /></object></div>
<div class="lan">
<h4>Referensi</h4>
<ul>
<li><a href="http://distrowatch.com/table.php?distribution=zorin">Profil Zorin OS di Distrowatch.com</a></li>
<li><a href="http://www.zorin-os.com/">Situs resmi pengembang Zorin OS</a>.</li>
<li><a href="http://www.zorin-os.com/tour.html">Penjelasan fitur secara lengkap</a>.</li>
<li><a href="http://www.zorin-os.com/gallery.html">Galeri screenshot</a>.</li>
<li><a href="http://www.zorin-os.com/free.html">Halaman unduh/download Zorin OS versi 5.2</a></li>
<li><a href="http://zorin-os.com/3free.html">Halaman unduh Zorin OS versi 3.2 LTS</a></li>
</ul>
<h4 class="tass">Tautan Cepat &#038; Menu Utama</h4>
<ul>
<li class="tautan"><a title='lompat ke atas' href='#single-body'>Atas &#8593;</a></li>
<li class="tautan"><a href='http://kafegue.com/'>Depan</a></li>
<li class="tautan"><a href='http://kafegue.com/about/'>Profil</a></li>
<li class="tautan"><a title='daftar isi' href='http://kafegue.com/arsip-blog/'>Arsip</a></li>
<li class="tautan"><a href='http://kafegue.com/kontak-saya/'>Kontak</a></li>
<li class="tautan"><a title='lompat ke kotak komentar' href='#comments'>Komentar</a></li>
<li class="tautan"><a title='lompat ke footer' href='#footer'>Bawah &#8595;</a></li>
</ul>
</div>
</div>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kafegue.com/zorin-os-distro-linux-untuk-pengguna-pemula/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>58</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Review Sabayon Linux 7 LXDE</title>
		<link>http://kafegue.com/review-sabayon-linux-7-lxde/</link>
		<comments>http://kafegue.com/review-sabayon-linux-7-lxde/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Nov 2011 19:57:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iskandaria</dc:creator>
				<category><![CDATA[seputar linux]]></category>
		<category><![CDATA[experimental]]></category>
		<category><![CDATA[linux]]></category>
		<category><![CDATA[open source]]></category>
		<category><![CDATA[review linux]]></category>
		<category><![CDATA[sabayon 7]]></category>
		<category><![CDATA[sabayon linux]]></category>
		<category><![CDATA[sabayon lxde]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kafegue.com/?p=6465</guid>
		<description><![CDATA[Bulan November 2011 ini seakan menjadi ajang &#8216;perang&#8217; antar berbagai distributor Linux ternama. Masing-masing mengeluarkan rilis terbaru mereka. Sebagai pencinta Linux, saya tak mau ketinggalan mengikuti perkembangan ini. Rasanya sangat mengasyikkan bisa &#8216;mencicipi&#8217; berbagai distro Linux dengan masing-masing keunikannya. Nah, berhubung saya belum pernah mencoba Sabayon dan kebetulan ada rilis terbarunya di bulan November 2011 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="ibu">
<div class="ibu">
<div class="juhru">
<p class="juhka"><span class="drop">B</span>ulan November 2011 ini seakan menjadi ajang &#8216;perang&#8217; antar berbagai distributor Linux ternama. Masing-masing mengeluarkan rilis terbaru mereka. Sebagai pencinta Linux, saya tak mau ketinggalan mengikuti perkembangan ini. Rasanya sangat mengasyikkan bisa &#8216;mencicipi&#8217; berbagai distro Linux dengan masing-masing keunikannya.</p>
<p class="krek">Nah, berhubung saya belum pernah mencoba Sabayon dan kebetulan ada rilis terbarunya di bulan November 2011 ini, saya pun mengunduh paket ISO-nya. Rilis Sabayon Linux di bulan ini tergolong rilis &#8216;experimental&#8217;. Saya menafsirkannya sebagai rilis terbaru dari sisi &#8216;Desktop Environment&#8217; yang digunakan (setelah sebelumnya pihak pengembang merilis Sabayon Linux 7 edisi <a href="http://kafegue.com/menjajal-dekstop-plasma-kde-4-7-di-ubuntu-11-04/" title="review KDE 4.7">KDE</a> dan Gnome).</p>
<p class="krek">Pada rilis lanjutan Sabayon Linux 7 ini, pengembang menyertakan 3 paket desktop yang berbeda, yaitu <em>Enlightenment</em>, <em>LXDE</em>, dan <em>Awesome</em>. Dua di antaranya sudah saya unduh file ISO-nya. Namun sayangnya, saya mengalami kegagalan saat hendak menginstalnya via &#8216;Live USB&#8217;. Bagaimana mau menginstalnya, menu instalasi saja gagal/tidak tampil. Saya malah cuma disuguhkan tampilan terminal virtual usai proses &#8216;booting&#8217; via kernelnya. Saya sudah coba &#8216;googling&#8217; sana-sini mencari solusinya. Ternyata banyak juga yang mengalami hal serupa. Apakah ini sebuah &#8216;bug&#8217; serius? Kemungkinan besar iya.</p>
</div>
<div class="juh">
<p class="krek2">Sampai review ini saya tulis pun, saya belum menemukan solusi yang pas mengenai &#8216;bug&#8217; tersebut. Ya sudah. Sementara ini saya cuma bisa menjalankan Sabayon Linux 7 ini melalui mesin virtual, tepatnya menggunakan aplikasi <em>VirtualBox</em> pada <a href="http://kafegue.com/review-linux-mint-debian-edition-lmde-201109-versi-gnome/" title="review">Linux Mint Debian Edition (LMDE) 2011.09</a>. Aneh juga, pada saat dijalankan via VirtualBox, Sabayon Linux 7 ini berjalan mulus tanpa masalah sedikit pun.</p>
<p class="krek2">Baiklah, saya mulai saya tinjauan/review seputar Sabayon Linux 7 versi LXDE.</p>
<p class="krek2">Saya mulai dari tampilan &#8216;boot-menu&#8217; usai proses &#8216;booting&#8217; dijalankan. Saya memilih list teratas untuk menjalankan Sabayon Linux 7 <a href="http://lxde.org/" title="penjelasan detail">LXDE</a> ini secara live melalui mesin virtual.</p>
<p><img alt="boot-menu" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2011/11/boot-menu.jpg" class="alignright" width="480" height="359" /></p>
<p class="krek2">Proses selanjutnya adalah &#8216;booting&#8217; ke sistem utama untuk memasuki mode grafis. Waktu yang dibutuhkan cukup lama menurut saya. Kira-kira sekitar 1-2 menitan. Poin ini merupakan salah satu nilai minus dari Sabayon Linux 7 edisi LXDE ini. Sebelum mencoba di mesin virtual, saya sudah mencobanya via Live USB. Ternyata waktu &#8216;booting&#8217;-nya juga cukup lama (usai memilih opsi &#8216;Start Sabayon 7 LXDE&#8217;).</p>
</div>
</div>
<div class="bubu">
<div class="ibu">
<p>Selanjutnya, ketika proses &#8216;booting&#8217; tuntas, akan tersaji mode grafis berupa tampilan dekstop utamanya. Dengan walpaper berwarna biru segar (plus efek sorotan lampu), dekstop Sabayon Linux 7 LXDE ini cukup cantik.</p>
<p><img alt="dekstop sabayon" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2011/11/sabayon-dekstop.jpg" class="alignleft" width="642" height="482" /></p>
<p>Terlihat cukup simpel karena cuma ada sebuah panel (di bagian bawah) dan beberapa &#8216;icon-shortcuts menu&#8217;. Plus keberadaaan menu utama (&#8216;launcher&#8217;) yang akan muncul ketika kita mengklik icon di sudut kiri bawah panelnya.</p>
</div>
</div>
<div class="bubu">
<div class="ibu">
<p>Mari kita telusuri/lihat satu per satu sub menu pada &#8216;launcher&#8217; atau menu utama Sabayon Linux 7 LXDE ini.</p>
<div class="juh">
<p>Accessories</p>
<p><img alt="menu sabayon" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2011/11/menu-sabayon.jpg" class="alignleft" width="467" height="290" /></p>
</div>
<div class="juh">
<p>Sound &#038; Video</p>
<p><img alt="menu multimedia" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2011/11/sound-video-sabayon.jpg" class="alignleft" width="302" height="302" /></p>
</div>
</div>
<div class="batas"></div>
<div class="ibu">
<div class="juh">
<p>Internet</p>
<p><img alt="menu internet" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2011/11/internet-menu.jpg" class="aligncenter" width="612" height="300" /></p>
</div>
<div class="juh">
<p>Office</p>
<p><img alt="menu office" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2011/11/office-sabayon.jpg" class="aligncenter" width="539" height="282" /></p>
</div>
</div>
<div class="batas"></div>
<div class="ibu">
<div class="juh">
<p>System-tools</p>
<p><img alt="menu sistem" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2011/11/sistem-tools.jpg" class="aligncenter" width="587" height="297" /></p>
</div>
<div class="juh">
<p>Preferences</p>
<p><img alt="menu preferences" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2011/11/preferences-sabayon.jpg" class="aligncenter" width="533" height="289" /></p>
</div>
</div>
<p>Adapaun fungsi sub menu “Run” di bawahnya yaitu sebagai kotak pencarian aplikasi yang hendak dibuka. Mirip seperti menu serupa di Windows.</p></div>
<h3>Default Aplikasi Office</h3>
<p>Pada salah satu <a href="http://kafegue.com/5-kemampuan-teknis-yang-perlu-dikuasai-dalam-membuat-screenshot/" title="dasar pembuatan screenshot">&#8216;screenshot&#8217;</a> di atas, Anda tentu sudah melihat daftar aplikasi office yang sudah &#8216;built-in&#8217; pada Sabayon Linux 7 LXDE ini. Masing-masing adalah:</p>
<ul>
<li>Abiword (identik dengan Microsoft Word dan OpenOffice/LibreOffice),</li>
<li>Gnumeric (tak jauh beda dengan Microsoft Exel), dan</li>
<li>ePDFViewer (serupa dengan Adobe Reader).</li>
</ul>
<p>Mari kita lihat tampilan AbiWord dan Gnumeric.</p>
<p><img alt="aplikasi abiword" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2011/11/abiword.jpg" class="aligncenter" width="650" height="440" /></p>
<p class="c15">aplikasi AbiWord</p>
<p><img alt="aplikasi gnumeric" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2011/11/gnumeric.jpg" class="aligncenter" width="650" height="398" /></p>
<p class="c15">aplikasi Gnumeric</p>
<h3>Fitur Kustomisasi</h3>
<p>Sabayon Linux 7 LXDE ini ternyata menggunakan &#8216;Openbox&#8217; sebagai window managernya dan &#8216;PCManFM&#8217; sebagai file manager. Ada sejumlah fitur yang bisa Anda manfaatkan untuk mengustomisasi tampilan Sabayon ini, di antaranya:</p>
<p>Openbox Configuration Manager.</p>
<p><img alt="konfigurasi" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2011/11/configuration-sabayon.jpg" class="aligncenter" width="601" height="557" /></p>
<p>Desktop Preferences.</p>
<p><img alt="dekstop-preferences" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2011/11/desktop-preferences.jpg" class="aligncenter" width="509" height="337" /></p>
<p>Walpaper-list.</p>
<p><img alt="walpapers" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2011/11/walpapers-sabayon.jpg" class="aligncenter" width="650" height="478" /></p>
<h3>Tampilan File Manager</h3>
<p>Menggunakan PCManFM, tampilan file manager pada Sabayon Linux 7 LXDE ini tampak cukup elegan dan mendukung aksesibilitas dengan baik. Namun yang menarik yaitu tampilan icon foldernya yang sama persis dengan icon folder di Windows 7 ^_^</p>
<p><img alt="file-manager" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2011/11/file-manager-sabayon.jpg" class="aligncenter" width="640" height="473" /></p>
<p>Apakah ini pertanda bahwa pengembang Sabayon Linux 7 LXDE ingin merangkul pengguna Windows agar mudah beradaptasi dengan Linux? Bisa jadi.</p>
<h3>Pengelolaan dan Pembaruan Paket</h3>
<p>Untuk memperbarui sistem dan memasang paket-paket software aplikasi, Anda bisa melakukannya lewat menu &#8216;Entropy Store&#8217;. Mungkin bisa saya samakan dengan utilitas &#8216;Update Manager&#8217; (pada <a href="http://kafegue.com/review-ubuntu-11-10-oneiric-ocelot-final-release/" title="ulasan">Ubuntu</a> dan <a href="http://kafegue.com/cara-install-kernel-686-pae-di-linux-mint-debian-edition-lmde-201109/" title="install kernel 686">Linux Mint</a>). Cara menggunakannya juga tidak sulit. Anda tinggal mengklik tombol <button>updates</button> dan <button>install</button>.</p>
<p>Contoh tampilan &#8216;Entropy Store&#8217; bisa Anda lihat pada dua &#8216;screenshot&#8217; berikut.</p>
<p><img alt="entropy-store" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2011/11/entropy2.jpg" class="aligncenter" width="693" height="248" /></p>
<p><img alt="advanced-menu" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2011/11/advanced-sulfur.jpg" class="aligncenter" width="650" height="552" /></p>
<p>Screenshot kedua adalah opsi &#8216;advanced&#8217;, di mana akan ditampilkan tombol-tombol &#038; fitur tambahan untuk pengguna yang sudah agak berpengalaman.</p>
<h3>Tampilan Terminal</h3>
<p>Saya coba melakukan pembaruan paket/sistem melalui LXTerminal pada Sabayon Linux 7 LXDE ini. Perintahnya agak berbeda dengan yang biasa saya lakukan pada Linux berbasis Debian. Lihat perbedaannya pada gambar terminal di bawah ini.</p>
<p><img alt="terminal" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2011/11/sabayon-terminal.png" class="aligncenter" width="655" height="410" /></p>
<p>Ya. Ternyata perintah pembaruannya yaitu berupa <code>sudo equo update</code>.</p>
<div class="bubu">
<div class="ibu">
<div class="mak">
<h3 class="pet">Beberapa Kelebihan Sabayon Linux 7 LXDE</h3>
<ol>
<li>
<p>Hemat &#8216;resource&#8217; memori.</p>
<p class="krek3">Hal ini sudah saya buktikan ketika coba membuka 4 buah aplikasi secara bersamaan (yaitu File Manager, Midori Web-browser, xnoise Media Player, dan AbiWord). Penggunaan total memorinya cuma sekitar 197 MB. Padahal jika dilakukan pada dekstop berbasis Gnome, hampir mustahil rasanya bisa mencapai pemakaian memori sekecil itu.</p>
</li>
<li>
<p>Sudah &#8216;built-in&#8217; dengan Microsoft TTF Corefonts.</p>
<p class="krek3">Saya sengaja mengecek direktori lokasi font yang terinstall secara default. Ternyata hasilnya seperti &#8216;screenhot&#8217; berikut ini.</p>
<p><img alt="corefonts" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2011/11/corefonts.png" class="aligncenter" width="642" height="475" /></p>
</li>
<li>
<p>Sudah menggenerate file <code>xorg.conf</code> secara otomatis.</p>
<p class="krek3">Berbeda dengan beberapa distro Linux yang pernah saya coba, ternyata Sabayon Linux 7 LXDE ini sudah menggenerate file <code>xorg.conf</code> dan langsung ditempatkan pada lokasi/direktori /etc/X11.</p>
<p><img alt="xorg-file" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2011/11/xorg-sabayon.jpg" class="aligncenter" width="639" height="459" /></p>
<p class="krek3">Apa manfaat file <code>xorg.conf</code>? Mungkin ada yang bertanya demikian. Di antara manfaat file <code>xorg.conf</code> ini yaitu untuk pengenalan hardware komputer tempat Sabayon Linux 7 ini terpasang atau berjalan. Lebih tepatnya yaitu sebagai perantara/media antara driver dan hardware komputer kita.</p>
</li>
<li>
<p>Sudah mendukung resolusi 1280&#215;800 ketika berjalan di VirtualBox.</p>
<p class="krek3">Buktinya yaitu ketika saya memilih opsi &#8216;switch to fullscreen&#8217; ketika menjalankan Sabayon Linux 7 ini melalui VirtualBox, ternyata memang benar-benar bisa tampil &#8216;fullscreen&#8217; sesuai resolusi asli laptop saya (yang berukuran 1280&#215;800). Lihat screenshot ini sebagai buktinya.</p>
<p><img alt="display" src="http://kafegue.com/wp-content/uploads/2011/11/display-sabayon.jpg" class="aligncenter" width="485" height="179" /></p>
</li>
<li>
<p>Sudah mampu mendeteksi chipset <a href="http://kafegue.com/cara-instal-driver-vga-sis-di-ubuntu-11-10/" title="cara install di ubuntu">VGA SiS</a>.</p>
<p class="krek3">Ini kabar gembira bagi para pengguna VGA SiS yang hampir selalu bermasalah dengan resolusi layar monitor mereka (yang tidak maksimal) begitu menjalankan Linux. Ketika saya menjalankan melalui Live USB, ternyata tampilan Sabayon Linux 7 LXDE ini sangat tajam (dari sisi resolusi di monitor). Menandakan bahwa resolusi asli laptop saya sudah terdeteksi dengan baik.</p>
</li>
</ol>
</div>
<div class="lan">
<h3 class="ctr">~ Kesimpulan ~</h3>
<p class="krek4">Jika Anda lebih menginginkan distro Linux yang ringan, dengan tampilan yang cukup elegan &#038; paket-paket aplikasi standar yang tidak terlalu mengecewakan &#8212; maka Sabayon Linux 7 edisi LXDE ini adalah pilihan yang cukup baik.</p>
<p class="krek4">Tentu saja saya tidak bisa menjamin Anda akan berhasil menjalankannya via Live USB. Entahlah jika menggunakan media Live CD.</p>
<h3 class="ctr">Tautan cepat &#038; Menu Utama:</h3>
<ul class="galuh">
<li><a title='lompat ke atas' href='#single-body'>Atas &#8593;</a></li>
<li><a href='http://kafegue.com/'>Depan</a></li>
<li><a href='http://kafegue.com/about/'>Profil</a></li>
<li><a title='daftar isi' href='http://kafegue.com/arsip-blog/'>Arsip</a></li>
<li><a href='http://kafegue.com/kontak-saya/'>Kontak</a></li>
<li><a title='lompat ke kotak komentar' href='#comments'>Komentar</a></li>
<li><a title='lompat ke footer' href='#footer'>Bawah &#8595;</a></li>
</ul>
<h3 class="ctr">Daftar Referensi &#038; Link Download</h3>
<ul class="galuh">
<li><a href="http://distrowatch.com/?newsid=06979" title="news">Distribution Release: Sabayon Linux 7 &#8220;Experimental&#8221;</a> (distrowatch.com)</li>
<li><a href="http://www.sabayon.org/release/press-release-sabayon-linux-7-experimental-releases" title="catatan rilis">Press Release: Sabayon Linux 7 Experimental Releases</a> (sabayon.org)</li>
<li><a href="https://packages.sabayon.org/">Daftar paket aplikasi siap download</a> (packages.sabayon.org)</li>
</ul>
</div>
</div>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kafegue.com/review-sabayon-linux-7-lxde/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

