Alasan Saya Tidak Berkomentar pada Sebuah Posting Blog
Tidak meninggalkan komentar jangan selalu diartikan bahwa saya tidak berkunjung ke blog Anda. Mohon dibedakan antara tidak berkomentar dengan tidak berkunjung. Anda tidak bisa langsung memvonis atau langsung beranggapan bahwa saya tidak berkunjung balik (dengan hanya menilai berdasarkan tidak adanya komentar balik dari saya).
Jadi, please deh. Bagi yang sudah berkali-kali meninggalkan komentar pada blog ini, tapi tidak saya komentari balik pada postingan blognya, saya mohon pemakluman Anda. Ada beberapa hal yang membuat saya tidak berkomentar pada sebuah/beberapa posting blog. Dan itu mungkin termasuk posting yang ada di blog Anda. Di antara penyebabnya :
- Saya sudah merasa cukup dengan hanya membaca. Penyebabnya bisa karena :
- tulisan Anda sudah sempurna (tidak perlu ditambahkan atau dikritisi lagi).
- tulisan Anda murni berupa berita/news (tanpa adanya unsur opini pribadi).
- pengetahuan dan wawasan saya sangat terbatas soal topik/materi yang Anda tulis.
- Saya bingung mau komentar apa. Penyebabnya :
- tulisan Anda berisi topik yang masih awam bagi saya.
- tulisan Anda terlalu sederhana dan terkesan tergesa-gesa diselesaikan.
- tulisan Anda terlalu berat untuk saya cerna (boro-boro mau berkomentar).
- Saya merasa ‘pusing’ duluan sebelum menyimak tulisan Anda. Penyebabnya karena tipografi pada posting blog Anda tergolong buruk. Misalnya :
- ukuran font kekecilan (saya kadang agak malas menggunakan Ctrl + + pada keyboard).
- jenis font agak sulit terbaca di mata saya.
- jarak spasi antar baris terlalu rapat.
- banyak paragraf yang terkesan menumpuk (terlalu panjang).
- isi posting terkesan hambar dan monoton (cuma berisi kumpulan blok-blok paragraf, terutama justify-alignment).
- terlalu banyak cetak tebal, huruf berwarna, garis bawah, atau cetak miring.
- terlalu banyak berisi link otomatis.
- menggunakan kombinasi warna latar dan warna font yang kurang serasi.
- Isi tulisan Anda sudah sangat basi. Penyebabnya :
- materi tulisan sudah terlalu sering diangkat/ditulis.
- anda sama sekali tidak menambahkan dengan opini dan atau pengalaman pribadi Anda.
- materi tulisan Anda sudah tidak relevan dengan kondisi saat ini.
Cukup 4 poin saja yang membuat saya tidak meninggalkan komentar pada sebuah posting blog. Tidak ada alasan karena postingnya kepanjangan atau terlalu pendek. Panjang-pendek sebuah tulisan tidak akan menghalangi saya untuk berkomentar (sepanjang topik atau materinya menarik untuk saya komentari).
Jadi, mohon dimaklumi jika saya dianggap ‘tidak berkunjung balik’. Bisa jadi saya sering berkunjung ke blog Anda, tapi tidak atau jarang meninggalkan komentar. Bukan karena saya egois atau sombong, tapi kemungkinan besar karena salah satu dari 4 penyebab di atas
Ada yang punya alasan sama dengan saya?
Quick Link >>> Beri Komentar | Baca Ulang Posting
SETUJUUUUU….
@KOMENG,
saya juga sering malas membaca kalau typografinya kurang, kebanyakan blogger belum memprioritaskan typografi mereka hanya masih sering desain pada tampilannya. saya juga sependpat dengan mas is kalau narablog malas membaca karena font size terlalu kecil, jarak antar spasi terlalu mepet. Untuk masalah typografi sudah dijelaskan secara detail oleh ardian trimurti.
saya jarang berkomentar kalau blognya berisi tutorial, karena mau berkomentar bingung takutnya out off topic
@Gus Ikhwan,
Masalah tipografi sepertinya tidak semata ‘kesalahan’ para narablog, tapi juga para pembuat theme/template. Saya tidak tahu alasan mengapa para pembuat theme/template masih banyak yang kurang memperhatikan tipografi, khususnya pada area posting (konten).
@iskandaria, Wow,. orang2 yang menyimpan Unek2 keluar semua sepertinya disini.
satrya sih simple aja Mas Is,. semua yang Mas Is sebutkan di atas memang sangat benar dan mengundang rasa malas. Tapi yang lebih bikin malas apabila link blognya di direct seperti ke ad.fly atau situs shotener link , ketika masuk link tersebut si pemilik situs dapet $$$ jadi loading 2 kali deh.
Oia,. buat satrya sih,. mau seperti apa blognya, yg penting satrya dan orang tersebut bisa menjalin sebuah hubungan kekerabatan. Walaupun cuma saling berkomentar.
Masalah typography itu bukan hal yg penting,. karena satrya tahu tidak semua orang mengerti apa itu typography. bahkan satrya pun masih belajar. Entah font atau background satrya sudah bagus apa belum,.satrya sendiri hanya memandang dari pandangan satrya saja.
Asal menurut satrya bagus,. yudh
Untuk materi tulisan sih,.Fine2 aja,. saya suka dgn blognya mas Ardi yg byk membahas typo, blognya Gus , banyak wawancara dgn blogger/developer berpenglaman, blognya kang Yudiono banyak membahasa mengenai tips menulis.
Walaupun terkesan Basi,atau sering diangkat atau terkesan membosankan. Tapi pasti di setiap artikelnya ada ilmu dan makan baru.
Maaf kepanjangan,. tapi sepertinya ini hal yg mesti di angkat lebih jauh lagi mas Is.,
Ternyata banyak yg tidak sepaham dengan gaya blogging saya.
Seru nih topiknya :2thumbup
@satrya,
Mengenai basi, sebenarnya bukan pada topik sih, tapi lebih kepada materi. Toh itu pun subyektif kan? Topik blogging, tips wordpress, atau bahkan bisnis online pun sebenarnya sudah banyak ditulis kan? Tapi saya tidak bosan atau belum jenuh sampai saat ini. Tapi dengan catatan, materi/isinya mengandung sesuatu yang ‘baru’ menurut saya. Makna ‘baru’ di sini bisa pula dikemas dengan gaya berbeda, walau topiknya sama atau sudah banyak diangkat.
Jadi tidak ada masalah dengan topik yang sudah banyak ditulis atau banyak diangkat. Biar tidak salah paham saja Sat
Oya, blog saya ini pastinya belum bisa memikat para pengunjungnya. Soalnya tidak punya karakter yang kuat seperti halnya blog Mas Ardian, mas Adi Rismaka, bli Dani, dan Kang Yudiono. Blog Satrya malah lebih berkarakter daripada blog saya ini yang terkesan tidak jelas dan lebih banyak unsur curhat dan opininya ^_^
@iskandaria,
tenang Mas IS tidak ada salah paham diantara kita :hammer
Yang pasti, buat satrya nge-blog makin seru dengan banyaknya perbedaan., makin penasaran juga sebenarnya blog yang baik, bagus dan bersahaja *halah*
itu kaya gmn.
Bingung mau nulis apa lagi,. bales komentar jam 1 pagi,. orang2 pada tidur ini malah blogwalking :cd
@Gus Ikhwan,
Saya jadi tidak enak sama gus ikhwan. Saya memang jarang sekali meninggalkan komentar di blog gus, tapi saya tetap baca hampir setiap tulisan yang diposting. (trims karena telah memberikan full rss feed, sehingga saya bisa membaca di sela-sela kesibukan saya).
@rismaka,
Saya juga hampir membaca setiap postingan di blog Gus Ihkwan, tapi tidak semuanya saya komentari. Seringnya karena saya bingung mau kasih komentar apa
@iskandaria, iya mas is, kenapa ya blog desainer (masih) sering menggunakan arial dan biasanya ukurannya 11. Dan kenapa blog desainer masih urung dalam memperhatikan tipografi dan kenapa mereka sering menonjolkan desain interfacenya saja?
@rismaka, saya juga jarang berkomentar di blognya mas rismaka tapi saya sering membacanya saya jarang berkomentar karena sering takut kalau OOT,
sama halnya di blognya bli dani saya sering membaca terkadang saya juga save page buat saya koleksi dan sering membacanya via offline, mau berklomentar di blognya bli dani dan mas rismaka masih mikir-mikir karena semua komentar yang ada di blognya mas rismaka dan bli dani sangatlah berkualitas
@Gus Ikhwan,
Betul banget Gus. Saya lihat kebanyakan memang cuma terkesan lebih menonjolkan desain antarmuka. Jarang sekali yang memberi perhatian secara teliti pada tipografi, padahal tipografi yang baik dan tepat itu sangat menunjang keterbacaan. Bukankah pengunjung website tidak cuma ingin melihat tampilan antarmuka, tapi juga (lebih banyak) bersinggungan dengan masalah tipografi?
So, yang menilai tipografi itu tidak penting sepertinya belum paham mengenai makna tipografi :p
@iskandaria, user datang dari mesin pencari mestinya kan mereka mencari informasi yang mereka butuhkan bukan melihat desainnya saja?
kenapa kita tidak mengirimkan surat ke foundernya ya dan mengkritiknya, barangkali mereka akan menerimanya
Ya, pengalamannya hampir sama juga dengan Mas Is, saya sering bertandang ke blog blog lain dan melakukan hal yang serupa…
Jika tulisannya bisa saya komentari ya saya tulis komentar, jika tidak ya saya sekedar baca-baca saja..
Itu untuk alasan pertama & kedua.
Sedangkan alasan ketiga & keempat, kalau terjadi hal yang demikian saya nggak bakal lama-lama deh di blog mereka langsung aja… :ngacir2
@Rudy Azhar,
Pengalaman Bang Rudy tentu banyak juga dirasakan oleh narablog lainnya. Oya, bagaimana tampilan blog ini pada IE 8? Saya tidak pernah membuka blog saya ini via IE soalnya.
@iskandaria, blog kafegue nggak masalah dilihat dari peramban mana saja Mas, saya udah coba untuk beberapa peramban termasuk IE6… :thumbup:
@Rudy Azhar,
Makasih atas informasinya Bang. Mungkin efek dari validasi yang saya lakukan kalau begitu
Alasan saya sih tidak sebanyak itu mas Is. Tapi memang saya kadang mengalami kebingungan ingin berkomentar apa. Dalam kondisi demikian, kunjungan saya kira sudah cukup.
Tapi ada satu permintaan nih mas. Khusus di blog saya, jika mas Is menjumpai tampilan yg termasuk butir-3 di atas, tolong bantu koreksinya ya mas. Barangkali saja saya mampu memperbaiki.
@suarakelana,
Blog Pak Hery (suarakelana.com) cukup nyaman dibaca jika dizoom 3 kali menggunakan Ctrl + +. Namun jika tidak dizoom, bagi saya pribadi agak sulit dibaca. Entah karena warna huruf yang kurang hitam atau warna latar posting yang agak buram.
Solusinya, mungkin ukuran font bisa diperbesar menjadi 16px. Saya lihat ukurannya 13px. Solusi tambahan, mungkin warna latar postingnya bisa dipilih yang lebih cerah (tidak harus putih). Googling saja dengan keyword “html color code”. Untuk mengedit kode warna latar, bisa via file
style.cssdi dashboard atau pada CPanel (wp-content – theme – nama theme yg dipakai- style.css)Coba cari kode warna
#d9d9d9, lalu ganti dengan kode warna latar yang lebih cerah. Lebih jelasnya, coba cari kode berikut ini pada filestyle.css:body {background: #d9d9d9 url('http://www.suarakelana.com/wp-content/themes/arjuna-x/./images/pageBG.png') repeat-x 0 0;font-family:Arial, Helvetica, Verdana, sans-serif;font-size:13px;line-height:normal;}Untuk mempermudah pencarian kodenya, gunakan shortcut Ctrl + F, lalu pastekan kode di atas pada kolom pencarian.
Semoga berhasil Pak.
@iskandaria, makasih mas Is, nanti saya coba. Pernah saya mencoba ganti warna huruf agar lebih hitam, tapi gagal. Sepertinya salah caranya.
@suarakelana,
Tidak harus mengganti warna huruf sih Pak. Solusinya bisa dengan memperbesar ukuran huruf (menjadi 16px) dan atau mengganti warna latar blog dan latar posting menjadi warna yang sedikit lebih cerah.
Saya punya tambahan alasan sendiri, yang paling mengganggu bagi saya loading superlelet(banyak images, banyak javascript, iklan popup), capthca yang rumit, harus daftar…
@aldy,
Ya, terutama masalah kode capthca yang terlalu sulit dibaca (saking terlalu nyeni).
@iskandaria, Kode capthca yang sekarang digunakan blogspot terasa lebih familiar.
@aldy,
Kalau yang itu, bukan hanya malas berkomentar, tapi malas berkunjung lagi
@Pak aldy, Saya pengen bikin yang harus daftar untuk berkomentar…
serius..
@ardianzzz,
Maksudnya pasti serius cuma bercanda kan mas?
@iskandaria,
Ha, tidak juga… Terdapat banyak sekali keuntungan — dari sisi usabilitas — dengan sistem tersebut.
Kolom komentar lebih aman dari spam dan komentar yang tidak diinginkan — dan komentator yang tidak diinginkan tentunya.
Kemungkinan memberi keleluasaan lebih pada pemberi komentar, misalnya penambahan gambar atau video. Nilai plus untuk usabilitas.
Kemungkinan diskusi yang lebih baik, karena tidak semua pengunjung bebas memberi komentar. Sistem registrasi juga memungkinkan kita mengetahui bahwa user adalah manusia, tidak perlu lagi kuis antispam, recapthca atau moderasi komentar yang tidak perlu.
Mungkin akan berpengaruh terhadap jumlah komentar, tetapi sepertinya tidak berpengaruh pada jumlah pembaca/pengunjung.
Saya pikir sama saja. Tidak semua pengunjung blog kita memberikan komentar. Contoh, kita mendapatkan 100 visitor unik per hari, apakah berarti kita mendapatkan 100 komentar per hari? tidak juga.
@ardianzzz,
Ya..ya..ya.. Ada benarnya juga sih. Sistem daftar dulu dan lalu login dulu sebelum komentar sangat baik untuk mendukung kualitas diskusi yang akan muncul. Setahu saya, sistem seperti itu lebih sering diterapkan pada situs forum dan situs komunitas yang menganut sistem member. Dulu saya pernah aktif di salah satu situs review konsumen, dimana untuk memposting tulisan dan mengomentari posting member serta membalas komentar harus login dulu.
Kalau untuk diterapkan pada blog, saya masih jarang menemukan.
@iskandaria, Hehe, ya… dan Pengalaman saya Kebanyakan mesin message boar/forum tidak menawarkan User eXperience yang baik… ribet…
Link — tenang, ini bukan spam…
@ardianzzz, Kalau materinya bagus dan memang layak, update rutin, kenapa tidak?
Jangan materinya curhat, updatenya belang jerapah, komen saja kudu daftar. Cuapek bok!
@Aldy,
Setuju..setujuuuu..
Kenapa tidak coba kontak pengelolanya dan nyatakan kesulitan kita sebagai pengguna?
@dani,
Maksudnya mengontak via email ya bli? Itu salah satu kemalasan saya. Saya seringnya lebih suka mengkritik atau memberi masukan langsung via kolom komentar. Cuma karena beberapa faktor di atas, mau komentar saja sudah malas :p
@dani,
Idem sama mas iskandar. Saya juga terlalu malas untuk itu. Selagi saya tidak punya kepentingan khusus terhadap konten blog yang dimaksud, saya biarkan saja seperti itu.
Kecuali saya benar-benar tertarik dengan isi postingnya, atau pribadinya, mungkin saya masih bisa berbaik hati meluangkan waktu saya untuk memberikan masukan atau bahkan solusi kepada narablog yang bersangkutan.
Kalau kritik, hmm… beberapa narablog memang sudah mengecap saya sebagai tukang kritik
So, ga usah terlalu diambil pusing lah perihal kritikan tersebut.
@rismaka, budaya kita mungkin memang berbeda. Di luar negeri sana malah langsung tunjuk hidung. Blog yang dikritik dibahas sama-sama.
@dani,
Blog saya ini pun beberapa kali memperoleh kritikan langsung dari mas Adi. Tapi materi kritikannya sangat membangun. Makasih banyak buat mas Adi Rismaka. Tanpa beberapa kritikan dan masukannya, mungkin sampai sekarang saya belum menyadari beberapa poin yang menjadi kekurangan.
@Mas dani,
Wow, di luar negeri blog punya hidung?
Ah ya, itulah keuntungan dalam sebuah komunitas. Yang paling saya sukai adalah Drawar. Terdapat forum khusus untuk kritik web di sana…
@ardianzzz,
Andai saja di Indonesia ada forum sejenis itu. Saya pasti akan terlibat sebagai salah satu member aktif di dalamnya…
@ardianzzz, tidak ada tentang development di drawar ya. baiklah. berarti tidak masuk hitungan. :p
@ganda, Wkwkwk… Drawar kayaknya khusus buat webdesainer saja…
@ardianzzz, tag line itu gak nahan. design and development. ternyata gak nemu satupun. S*ck!!! kalau memang gak niat buat development ya gak usah dibuat tagline nya.
@ganda, Hey sabar…
Developement mungkin dalam segmentasi tertentu. Mungkin front end developement, usability developement, design developement, dan yang terpenting sekarang communication developement.
@ardian, kalau sudah mengusung tema web, biasanya sudah berarti web design dan web development. nah, web development nya ini yang tidak ada. Erm, usability user interface ya? Saya pernah tahu ada web yang sangat bagus untuk dibaca. Dan tentu saja, tidak terbatas untuk user interface web, aplikasi desktop juga.
@ganda, Lah, mana webnya? gak dibagi-bagi?
@ardianzzz, hey sabar.
biarkan saya mengingatnya dan mencarinya di arsip bookmark saya.
seringnya karena masalah captcha, bikin ruwet kalo menurut saya sih
salam kenal mas
mas iskandar,
Satu lagi mas, yang menghalangi saya untuk berkomentar, yaitu CAPTCHA.
Saya sangat setuju dengan mas aldy. Setuju banget kalau CAPTCHA dalam bentuk gambar itu sangat mengganggu, sangat membuat boros, dan sangat tidak manusiawi.
Pernah saya tertarik dengan blog seseorang, tapi sayangnya beliau ini memasang CAPTCHA sebagai antispam. Saya juga sudah menyarankan untuk melepasnya, tapi ternyata beliau ini lebih sayang membuang tenaga untuk menghapus spam yang masuk daripada sayang kepada narablog yang bertandang. Ya sudah lah, saya ga mau berkomentar lagi di blog tsb. Toh masih banyak blog lain yang bisa saya
sampahkomentar-in.@rismaka, tapi Captcha kan masih efektif menangkal spam? Mungkin tidak/kurang ‘usable’, tapi toh tidak ‘dilarang’ sepenuhnya oleh WCAG 2.0.
@dani,
Kalau hanya sekadar perhitungan rumit siy tidak masalah. Tapi seringkali CAPTCHA yang hadir adalah berbentuk sebuah gambar, yang kita sendiri harus mengerutkan dahi dan menajamkan mata untuk dapat membaca huruf yang muncul. Begitu huruf yang diketik salah, yang terjadi adalah “reload” halaman yang tentunya tidak bagus bagi pengguna fakir seperti saya.
Mengenai tidak dilarangnya penggunaan CAPTCHA oleh WCAG 2.0, hal ini mungkin disebabkan masih banyaknya pengguna dengan bandwidth melimpah ruah, serta juga banyaknya pengguna yang super sabar yang masih hidup di muka bumi ini. Untuk pengguna minoritas, ya masalahmu deritamu. Emang Gue Pikirin
@rismaka,
Untuk CAPTCHA sebenarnya tidak masalah bagi saya jika wujudya masih bisa terbaca dengan mudah seperti halnya kode CAPTCHA pada blogspot. Nah, yang bermasalah bagi penglihatan itu yang menggunakan tampilan visual terlalu ‘nyeni’. Apakah itu salah pembuat pluginnya? Bisa jadi. Saya kira CAPTCHA standar seperti di blogspot bisa menjadi acuan yang baik.
@iskandaria, Saya sih lebih tidak suka reCAPTCHA…
@ardianzzz,
Saya suka reCAPTCHA.
@Cahya, Haha… Saya tidak suka reCAPTCHA nya Feacebook..
:-Þ
@rismaka, Captcha bergambar yang aksesibel juga ada rekomendasinya.
@dani, tapi yang bikin terkadang malas sih captcha huruf apalagi levelnya hard, kalau masih easy sih masih mudah dibaca?
@Gus Ikhwan,
Anggaplah pengelolanya tidak tahu/sadar akan hal itu. Pun tidak membaca tulisan sejenis ini. Pengguna bisa memberi kritik membangun. Lain masalah jika pengelolanya TIDAK MAU TAHU.
Banyak amat penyebabnya ya?!
Kalo saya nggak berkomentar paling karena memang dirasa cukup untuk membacanya atau karena artikelnya di luar kompetensi
Apakah tifografi blog Sundagasik membuat Mas Is pusing pula?
@Erdien,
Penyebabnya kan tidak semuanya Pak, tapi salah satu saja kok. Mengenai tipografi blog sundagasik, saya belum bisa menilai nih Pak, soalnya beberapa kali saya akses kok gagak terus yach. Loadingnya lama banget. Mungkin masalah pada server hostingan atau faktor lain. Kalau nanti sudah berhasil saya akses, ntar saya coba nilai tipografinya Pak.
Aduh blogku kayaknya kena nih,,, bagaimana yahh, dari dulu mau rubah font, tapi sudah utak-atik tetap tidak bisa, bahkan jadinya berantakan,,, bahkan sudah dua kali install ulang themesnya gara-gara utak-atik mau rubah font,,,,,
Tapi postingan mas Is, setidaknya gambaran umum kenapa orang tidak berkomentar, padahal buat saya komentar adalah salah satu motivasi
@ago,
Mungkin bisa coba ganti dengan theme lain yang lebih nyaman di mata mas? Khususnya untuk area posting/konten.
Beberapa alasan diatas juga menjadi alasan saya juga untuk tidak berkomentar di blog teman-teman. Tapi, alasan terkuat saya memang karena tidak ada yang perlu disimpulkan atau ditanyakan.
Tapi, untuk balas mengunjungi. Insya Allah saya selalu mengunjungi. Apalagi kalau ada form buat menjadi subcriber pasti saya mendaftar untuk mendapatkan update terbaru tanpa mengunjungi blognya.
O iya, nanti diangkat juga mas Is mengenai pentingnya form subcribe.
@Agung Prasetyo,
Saya malah sengaja tidak memasang form subscribe semenjak ganti desain jadi satu kolom mas. Tapi mungkin nanti akan saya pertimbangkan untuk dipasang kembali.
Oya, mas Agung punya blog baru ternyata ya.
Selain sebagian faktor yang dipaparkan Is diatas, yang memang membuat saya tidak berkomentar ialah, background hitam dari theme blog yang saya kunjungi – jangankan memberi komentar membacanya sudah malas kalau backgroundnya hitam dan kedua kendala tidak memudahkan pengunjung untuk posting jika blognya WP harus daftar dulu atau jika Blogspot harus mempunyai acc di Blogspot, open id dan sebagainya.
@Abi,
Latar gelap dengan huruf terang memang juga cukup sering bikin saya malas baca postingannya bi. Kecuali warna latarnya bukan hitam pekat, tapi agak keabu-abuan. Untuk di blogspot, kondisi tanpa opsi name dan URL memang jadi penghalang untuk berkomentar.
Saya mungkin termasuk yang jarang tidak meninggalkan komentar jika sudah terlanjur berkunjung.
Untuk yang poin nomor 3, saya biasanya akan mempertimbangkan untuk tidak berkunjung kembali ke blog tersebut. Atau berhenti langganan RSS jika sebelumnya terlanjur berlangganan dari blog tersebut.
@imadewira,
Saya sebenarnya selalu berusaha meninggalkan komentar jika sudah terlanjur berkunjung, terutama jika ada satu posting yang menarik untuk saya komentari dan pemiliknya masih aktif. Untuk mengakali poin 3, saya juga jadi malas untuk berkunjung lagi.
Wah betul sekali, topik yang sudah basi memang tidak rame. Tapi, perlu di ingat tidak semua orang tahu tentang semua hal. Kalau istilahnya ada “NEWBIE” bener tidak?
@Jamal,
Kalau istilah saya sih masih awam tentang pengetahuan/topik tertentu mas. Kalau newbie agak kabur maknanya :p
Nggak ada tulisan yang basi mas, kalau orang baru pernah membaca pasti tetap dianggap baru, apalagi namanya motivasi dan bisnis, mutar2 disitu aja mas, cuma di poles dikit
@Maksum Priangga,
Basi di sini maksud saya lebih kepada materi artikelnya mas. Bukan pada topiknya. Jadi itu tantangan buat kita sebagai penulis blog untuk bisa mengemas materi tulisan agar tidak terkesan basi atau cuma mengulang-ulang sesuatu yang sudah sering dikupas dengan model/gaya yang sama
hmmm salut tetap konsisten dengan apa yang ditulis dari jaman saya mengenal mas Iskandar di situs pintu beberapa waktu yang lalu hingga saat ini, bravo mas… salam kangen… h.e.he.
@Yudishtira,
Hehe. Tulisan ini cuma klarifikasi saja mas. Soalnya masih ada blogger yang beranggapan bahwa saya tidak berkunjung ke blognya cuma karena saya tidak meninggalkan komentar. Oya, maaf nih belum pernah komentar di blog mas Yudish. Ntar akan saya usahakan kalo nemu tulisan yang bisa saya komentari. Salam kangen kembali, termasuk buat semua alumni PintuNet.
*Cekikikan*
@Remaja Helda,
Sayah suka gaya Om Is. Two thumbs up!
@Remaja Helda,
Lucu banget ya kayaknya Hel :ngakaks
@iskandaria, Btw, Om, di atas Helda baca ada yang minta pendapat Om Is. Sayah boleh juga ta’? Hehehe. Kalo tampilan blog Helda sesuai poin yang ke-3, minta sarannya dong, Om? Boleh ya. Boleh ya.
#hope
@Remaja Helda,
Boleh banget dong. Ok deh. Tapi ini mungkin masih kurang obyektif ya.
Area posting blog Helda ukuran font/hurufnya masih kurang gede dikit. Saya lihat ukurannya 12px Arial. Kalo bisa sih dijadikan 13px saja minimalnya. Lebih dari 13px lebih nyaman dibaca. Soalnya font Arial kurang nyaman dibaca jika ukurannya di bawah 13px (menurut saya).
Kodenya ada pada file
<style media="screen" style="display:none" type="text/css" style="display:none">yang isinya :body{font:12px Arial,Tahoma,Verdana,Sans-serifs;background:url(''http://helda.info/wp-content/themes/nguakakaka/)Trus, line-height (jarak spasi antar baris) di area posting juga masih kurang renggang. Saya lihat ukurannya 18px. Mungkin bisa diperbesar jadi 19px atau 20px saja, biar lebih lega saat membaca tulisan dalam paragraf.
Kodenya juga ada pada file
<style media="screen" style="display:none" type="text/css" style="display:none">yang isinya :.entry_body{padding:10px 10px 30px 10px;margin:0px 0px 40px 0px;line-height:18px;background:url('http://helda.info/wp-content/themes/nguakakaka/images/break.png')Itu aja kekurangan utama tampilan konten di blog Helda, khususnya dari sisi tipografi. Mungkin pembaca lain punya masukan?
@iskandaria, saya dikasih saran juga donk Mas. :malu2
@Rudy Azhar,
Kayaknya nggak perlu deh
@iskandaria, saya kasih saran donk mas~
Saya sangat suka blog Anda dan posting Anda, tapi saya terlalu lelah, sibuk, atau salah satu dari sejumlah hal yang tidak dapat dikontrol. Saya akan komentar berikutnya jika saya datang kembali untuk membaca
@dJumTKS Weblog,
Tidak perlu memaksakan diri untuk meninggalkan komentar Pak (jika memang sibuk atau kurang punya waktu). Jadi cukup baca-baca saja saya sudah senang. Blog ini masih banyak kekurangan dari sisi penyajian konten/tulisannya. Tapi terima kasih atas apresiasinya Pak.
topik yang menarik, sangat mengundang orang-orang berdiskusi. Bagi saia simpel, kalo mau komentar ya komentar.. kalo enggak ya enggak
*kang Is, sudikah mengganti url ;hosting murah…’ dengan url blog dengan keyword ‘duit online’?
Terima kasih
@Id-Mac,
Sudah saya ganti ya mas urlnya dengan url home dan dengan keyword ‘duit online’ :p
baiklah, saya maklumi… hehehehehe…
saya juga kadang gitu kok, kalau ada topik
yg awam buat saya ya saya gak tinggalin komentar
Saya juga kadang-kadang nggak komen karena sulit masuk ke bagian komentar diblog tersebut, kalau saya semaksimal mungkin saya meninggalkan komentar
@Ardy Pratama,
Makasih atas pemaklumannya mas
@Mawardi,
Sulit masuk ke bagian komentar? Mungkin karena ada tembok penghalang ya.
“Nice artikel, inspiring ditunggu artikel – artikel selanjutnya, sukses selalu, Tuhan memberkati anda, Trim’s
”
@Yohan Wibisono,
Amiin..
Saya juga sering BW tanpa meninggalkan komeng, biasanya itu saya lakukan karena saya sulit mencerna artikel, dan dilaur jangkauan saya Mas Is…
Apalagi artikel yang ditulis dengan bahasa yang sangat baku, dengan menggunakan padanan2 yang terkadang membuat saya galau *halah* seperti markah, tetaut, wisaya…. liuer dah Mas Is..
Terus terang membaca artikel di blognya Mas Is ini nyaman kok…kyknya saya harus menerapkan beberapa tips tipo yang benar ya Mas..
@Planet Orange, seperti blog siapa ya? :hoax2
he..he..he…
@Planet Orange,
Makasih mas kalau emang nyaman dibaca. Mengenai tipo, simpel saja kok tipsnya kalau mengacu pada paparan poin ke-3 dalam tulisan saya di atas
@Rudy Azhar,
Jangan disebutin lah. Jadi nggak enak ntar (ama blog tetangga) :p
@iskandaria,
Pembelaan ini maksud Mas Is? Hihihi…tidak! Saya sedang ada tugas penulisan ilmiah & beberapa tugas menulis lain (bisa dilihat di dot net saya). Bahasa Indonesia saya masih kacau di bidang itu. Jadi, tidak terkait ke diskusi ini.
Kebetulan mampir. Sekalian komentar ah…
[Semoga Mas Ade tidak baca ini].
Saya setuju dengan Mas Aan. Tulisan baku kadang terlalu sulit dicerna. Saya pun masih sering tertawa membaca tulisan sendiri di blog saya. Terilhami oleh Mas AdeMalsasa.co.cc, saya sering menyunting kesalahan ejaan & tatabahasa di blog tidak penting saya itu
Kok tidak ada notifikasi via surel ya? Atau masuk kotak spam. Nanti saya cek dulu.
@dani,
Tulisan saya di atas juga tergolong pembelaan diri dok..hihi. Tepatnya klarifikasi saja, biar tidak muncul kesalahpahaman. Tulisan baku sepertinya harus didefinisikan lagi lebih jelas. Baku itu seperti apa tepatnya. Kira-kira begitulah.
Mengenai notifikasi yang tidak ada, saya juga kurang tahu ya.
@iskandaria,
Kebanyakan istilah Internet & komputer berbahasa Indonesia yang kita pakai saat ini juga belum resmi ada di KBBI. Walau sudah ada Inpres-nya. Di Wikipedia-ID pun beberapa istilah masih ditawar, ditimbang, bahkan dibuatkan konsensus demi konsistensi pemakaiannya di Wikipedia.
Salut buat beliau-beliau pemerhati bahasa Indonesia itu (bahtera.org, Ivan Lanin dkk., para sastrawan, penyair, penulis kata baku, dll.). Saya hanya tinggal pakai saja suara terbanyak.
tanpa ataupun dengan berkomentar sebenarnya tidak masalah, yang jelas analitycs tetap mencatat sebagai kunjungan kok
Salam hangat mas is dari cikarang
@Blogger Cikarang,
Salam hangat kembali mas. Mendengar nama cikarang, saya jadi teringat dengan mas Pandu, rekan sesama member waktu masih aktif di situs konsumen PintuNet dot com
sy baru tau aturan ky gini
boleh juga, asyik juga tipsnya mas.. cicipin dulu yach
:2thumbup
Saya orang yang paling moderat soal berbalas komentar, Mas Iskandaria. Nggak pernah pusing kalo ada yang saya komentari tapi nggak komentar balik. Saya sendiri juga nggak menerapkan komentar balik pada komentator di blog saya. Alasannya hampir sama.
Nggak ada aturan harus selalu berkomentar balik, kok. Jadi tenang saja. Saya nggak pernah ngecap orang lain
@isnuansa,
Syukurlah kalau begitu Mbak. Andai saja semua blogger punya prinsip kayak gitu ^_^
hemmm… tambah lebar aja tampilan blog ini…he..he..he…
@Rudy Azhar,
Lagi utak-atik Bang. Masih ujicoba..
@Rudy Azhar, Itu namanya perluasan kaplingan Mas
wah trims banget mas kunjungannya ke blog kecil saya dan telah berkomentar….salam kenal ya
:sungkem
Mas Is, apakah blog ini masih dalam tahap pengembangan?
oia boleh kasih saran dan kritikan nggak terhadap blog saya sendiri masalah point ke 3 ?
@Gus Ikhwan,
Iya Gus. Beberapa hari terakhir saya memang melakukan editing pada theme. Mengenai saran dan kritikan, nanti deh ya..
.wah, ternyata banyak penyebabnya ya…
.jadi mikir nih, blog saya termasuk salah satu dari kriteria yang mana yaa???? :sup2:
.btw, blog ini kesannya enak banget buat nongkrong yak. apakah karena minimalisme-nya atow space-nya….
.salam kenal kang~ :sungkem
@vos©ot,
Salam kenal balik deh. Makasih atas kunjungannya.
Belakangan saya memang berusaha menyederhanakan tampilan blog ini dengan mengurangi beberapa fitur/navigasi. Syukurlah kalau dinilai bikin nyaman
Wah, blog saya kena juga nie kayaknya…
Hehehe…
Semoga penjelasan mas iskandar diatas bisa menjadi acuan bagi saya untuk memperbaiki blog yang saya miliki…
Makasi infonya mas…
@Gede Lumbung,
Kembali kasih mas :shakehand2
Wah..disini saya dapat ilmu terapan untuk membangun blog yang baik. Terima kasih mas Is. :thanks2
. Salam kenal
4 Poin di atas saya jadikan acuan.
@Tamba Budiarsana,
Salam kenal kembali mas. Syukurlah jika ada secuil inspirasi yang didapat dari tulisan saya.
selamat pagi…
terus terang saya tipikal yg selalu meninggalkan komentar jika sedang “jalan2″ dirumah orang, selama Server disini tidak men-restric comment yg saya isi pasti saya akan meninggalkan jejak, maklum masih tergantung sama proxy server soalnya
Ya saya ngerti kok kenapa seseorang tidak berkomentar atas sebuah postingan
uraiannya cukup jelas. dan ini sebenernya buat kita evaluasi agar membuat postingan lebih mengundang orang untuk berkomentar..
@Itik Bali,
Makasih atas pengertiannya tik. Kesimpulan kamu juga pas banget tuh. Tapi kadang kita juga cuma berniat sekadar menulis, tanpa pengen dikomentarin
jadi harus mempunyai topik atau materi yang menarik untuk bisa mas komentari
sementara mempunyai topik dan materi yg menarik setiap orang berbeda..
@Lendra Andrian,
Ya, menarik itu kan subyektif. Toh setiap orang punya minat yang berbeda terkait dengan topik/materi posting. Nggak mungkin bisa sama semua kan? Thx.
asli jadi tertampar (kesindir) abis2an..
hahahahahaha
jadi bahan evaluasi tersendiri nih setelah baca artikel ini.
bertamu di tempat para pendekar ini, puas untuk tambah ilmu ,maklum masih awam.salam kenal mas is dan para pendekar lainnya.
@akubosanmenjadipegawai, selamat tersindir mas..hahaha
@maria, saya pendekar apa ya kalo boleh tau?
Ooo, ternyata ada syarat dan ketentuan juga ya buat dapet komentar dari mas is. Jadi tau deh saya
.
@abdoorahman,
Bukan syarat dan ketentuan sih, tapi kondisi yang biasanya membuat saya tidak berkomentar. Beda kan?
Salam kenal dulu mas Is ….
Jujur saja mas, saya ke sini krn nyasar. Ketika membaca komentar mas di blog Om rame, saya temukan komentar anda berbeda dari yg lainnya. Lalu saya klik link yg mas tinggalkan. Maka mendaratlah saya dihalaman ini lalu lgs menyantapnya. Dan saya temukan konten mas lain dari yang lain. Baik tampilan, ukuran font dan sistem navigasi.
Dan lebih-lebih: cara berpikir dan gaya penyajian mas. Saya merasakan sosok seorang yg punya ilmu, tegas, tanpa tedeng aling-aling. Saya salut!
Soal materi tulisan, tidak ada yang saya bantah. Karena memang beginilah seharusnya seorang blogger sejati menulis. Bukan “membungkuk-bungkuk” agar pengunjung setia berkunjung. Tapi saya terkejut, ternyata sangat banyak pengunjung setia blog ini. Ini membuktikan bahwa mereka ke sini memang tertarik dengan konten, bukan untuk “berbasa-basi.”
Sekali lagi mas Is: saya salut!
Salam hangat saya. erianto anas.
@blogernas,
Waduh mas, segitunya memuji saya dan blog ini. Tapi makasih atas apresiasinya. Saya memang selalu berupaya menulis sebaik mungkin, meski masih tidak bisa dibilang berbobot. Begitu pula mengenai tampilan. Saya memang berusaha mendesain tampilan blog ini serapi dan senyaman mungkin bagi pengunjung. Itu semua tidak lepas juga dari beberapa masukan dari rekan-rekan.
Salam hangat juga mas dan salam kenal. Makasih atas kunjungan dan komentarnya di sini.
Komentar bagi saya adalah apresiasi dari kawan blogger, kecuali ya seperti yang sobat Iskandar sebutan di atas qe3 Kagetnya ada juga komentator setia yang isinya itu-itu saja. Palagi ketika main ke blog kawan, dia nulis komment juga sama persis titik-koma, paragraf dan baris seperti nulis koment di postingan saya. Ah pasti sobat Is dan kawan yang lain pernah mendapat tamu yang demikian qe3
Yo wis lah, siklus alamiah yang akan berjalan: yang lurus dan serius serta jujur ya tetap dikunjungi sedangkan blog berisi artikel + mentar kopi-paste, lambat laun ditinggalkan kawan blogger qe3 Salam…
@inung gunarba,
Saya dulu pernah beberapa kali mengalami komentar yang isinya sama persis (alias kopi-paste). Bahkan pernah saya kritik dalam sebuah posting khusus. Judulnya komentar copy-paste, sudah mentokkah upaya branding anda?
Ya, akhirnya kembali lagi pada seleksi alam. Yang menanam kebaikan dan kejujuran akan menuai hasil yang baik pula. Begitu pula sebaliknya.